DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendominasi jalanan―bahkan nyaris menguasainya. Di antara deru yang menyemut itu, saya terkantuk-kantuk di bangku belakang mobil yang membawa saya menuju Pacet, Mojokerto―tempat yang oleh kendaraan L dan W itu tuju. “Biasa, libur panjang. Orang Surabaya pada ke Pacet,” ujar istri saya menjelaskan.
Pacet. Kata ini yang sendari tadi keluar dari mulut istri saya. Tentu saja saya belum pernah sakali pun ke sana. Karena itu saya tak punya bayangan apa pun tentangnya. Tapi saya tahu, tempat itu merupakan tujuan banyak orang Surabaya di akhir pekan atau hari libur.
Dan saya tidak mengada-ada. Setiap akhir pekan, Surabaya seperti kota yang sedang melarikan diri dari dirinya sendiri. Kota yang ramai ini bisa menjadi lengang ketika akhir pekan (Sabtu-Minggu) tiba. Sejak Sabtu pagi, jalan-jalan menuju arah selatan biasanya selalu dipenuhi kendaraan. Mobil keluarga, sepeda motor, hingga rombongan pesepeda beriringan meninggalkan kota. Mereka bergerak menuju tempat-tempat yang menjanjikan sesuatu yang semakin langka di Surabaya, yakni udara sejuk, sungai-sungai jernih, undak-undakan sawah, pepohonan, dan kesempatan untuk mendengar suara selain klakson dan deru kendaraan atau mencium sesuatu selain bau selokan dan sampah yang menggunung.
Saya berangkat pagi hari dari Surabaya. Tapi kota itu sudah panas bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Beton-aspal memantulkan cahaya dengan ganas. Gedung-gedung berkaca tumbuh semakin rapat setiap tahun, sementara pohon-pohon tampak semakin tersisih ke pinggir. Surabaya memang bangga menjadi kota modern, kota industri, kota jasa, kota perdagangan. Namun di balik semua kebanggaan itu, ada sesuatu yang menyusut―dan perlahan menghilang―yaitu ruang untuk bernapas. Barangkali itulah sebabnya mengapa setiap akhir pekan ribuan orang berbondong-bondong menuju Pacet. Mereka ingin mencari apa yang tidak lagi bisa diberikan oleh kotanya sendiri.
Menjelang siang, setelah melewati banyak kelokan menanjak yang membuat kepala saya gliyengan, juga para calo villa “sotime”―yang berdiri di pinggir jalan menawarkan jasa penginapan kepada pengguna jalan, terutama pasangan yang mengendarai sepeda motor di jalur utama menuju wisata Air Panas Padusan, tepatnya di sepanjang Jalan Raya RA Kartini, Dusun Made, hingga ke Jalan Air Panas, Desa Padusan―dan bangunan-bangunan baru Koperasi Merah Putih yang teronggok kesepian di lereng-lereng bukit terpencil, akhirnya saya sampai di tujuan: kawasan wisata Air Panas Padusan, Pacet, Mojokerto, yang berada di ketiak Gunung Welirang―yang masih menghasilkan belerang.
Tetapi, perjalanan menuju Desa Padusan terasa seperti perpindahan alam yang kontras. Jalan mulai menanjak. Hutan pinus bermunculan di sisi kanan dan kiri. Udara berubah pelan-pelan. Jendela mobil yang semula tertutup rapat karena panas mulai dibuka. Aroma tanah basah dan dedaunan masuk menggantikan bau aspal dan asap kendaraan. Dari sini saya sadar bahwa warga Surabaya rela berkendara hampir dua jam di jalan sempit-berkelok-menanjak hanya untuk mendapatkan udara segar yang seharusnya menjadi kebutuhan paling dasar manusia.
Sampai di sini, saya kira, Pacet telah menjadi semacam katup penyelamat bagi masyarakat urban Surabaya. Bukan sekadar tujuan wisata, melainkan tempat pelarian. Di sini orang-orang datang membawa kelelahan yang samar. Mereka membawa stres pekerjaan, target penjualan, rapat daring yang tak ada habisnya, serta kehidupan kota yang menuntut manusia untuk terus produktif bahkan ketika tubuhnya sudah meminta berhenti.
Kota besar sering kali membanggakan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan investasi. Namun ukuran keberhasilan kota jarang dihitung dari pertanyaan apakah warganya betah tinggal di sana tanpa perlu melarikan diri setiap akhir pekan? Jika setiap hari kerja dihabiskan dalam panas, kemacetan, dan tekanan hidup yang membuat orang tergesa-gesa mencari pegunungan begitu hari libur tiba, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi dari cara kota itu dibangun.

Sementara itu, di wilayah Pacet, tepatnya di kawasan Padusan, ada sederet pemandian air panas yang menjadi destinasi favorit wisatawan untuk relaksasi dan terapi. Dikelilingi hutan tropis dan udara pegunungan yang sejuk, kawasan ini menjadi tempat ideal untuk melepas penat dari rutinitas harian. Di sana ada Pemandian Air Panas Padusan, De’Qoem Qoem, JACUZZI Pool Cafe & Karaoke, Whirphool Kolam Rendam Air Panas, FOREST ONSEN Hot Water Bath Pacet, The Full Hot Spring & Resort, dan lainnya. Semuanya menawarkan narasi relaksasi dengan air panas alami—sebuah kekayaan alam yang membuat Surabaya berusaha mati-matian untuk meraihnya.
Kabut tipis mulai turun dari lereng Welirang. Di kawasan ini, pemandian air panas bukanlah hal baru. Sejak lama orang datang ke Pacet untuk berendam. Namun kini wajah wisata Padusan berubah. Resort, vila, kafe, dan berbagai fasilitas baru bermunculan mengikuti arus kebutuhan wisatawan kota.
Saya memilih berendam di The Full Hot Spring & Resort. Tubuh yang sejak pagi duduk di kendaraan perlahan rileks ketika menyentuh air panas 39 derajat Celsius. Uap tipis mengepul dari permukaan kolam. Di kejauhan, pinus-pinus berdiri diam diselimuti kabut. Suasana itu menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di kota metropolitan.
Namun, bahkan di tempat yang tenang ini, jejak kota tetap mengikuti. Beberapa pengunjung sibuk mengatur sudut kamera sebelum masuk kolam. Ada yang menghabiskan lebih banyak waktu memotret daripada menikmati air panas. Sebagian lain terlihat lebih fokus mengunggah foto ke media sosial ketimbang menikmati pemandangan di hadapannya. Rasanya seperti melihat warga kota membawa kebisingannya sendiri ke tengah pegunungan yang menenangkan. Ah, rupanya kita hidup pada masa ketika relaksasi pun sering kali berubah menjadi pertunjukan. Masih banyak orang yang datang untuk mencari ketenangan sekaligus ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka sedang tenang. Saya tersenyum sendiri.
“Dari mana, Mas?” suara itu membuyarkan lamunan saya. Seorang bapak tambun paruh-baya baru saja menceburkan diri di samping kiri saya. Sejenak saya terpaku sebelum akhirnya menjawab dari Surabaya. Dia mengaku dari Gresik. Namanya Herman. Setiap akhir pekan bersama keluarganya dia rutin berendam air panas di sini. “Supaya sendi-sendi tidak kaku,” ia menjelaskan tujuannya beremdam air panas. Saya mengaguk saja. Lalu memandangi wajahnya yang mulai memerah terkena air panas. Usianya mungkin mendekati enam puluh tahun. Perutnya sedikit membuncit. Rambutnya mulai menipis. Ia tampak seperti kebanyakan bapak-bapak yang saya temui di kota-kota industri sekitar Surabaya: bekerja puluhan tahun, membesarkan anak, membayar cicilan rumah, lalu perlahan menyadari tubuh mereka tak lagi setangguh dulu.
Herman mungkin datang untuk menghangatkan sendi-sendinya. Tetapi saya curiga, yang ingin ia pulihkan bukan hanya lutut atau punggungnya. Ada kelelahan yang lebih panjang dari sekadar pegal-pegal fisik. Kelelahan karena bertahun-tahun hidup dalam ritme kawasan metropolitan yang terus bergerak tanpa banyak memberi kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat.
Saya membayangkan Senin pagi yang akan dihadapi Herman. Jalanan padat. Jam kerja yang panjang. Dering telepon. Tagihan bulanan. Urusan keluarga. Semua itu akan kembali menunggunya setelah ia meninggalkan Pacet. Barangkali karena itulah ia terus datang ke tempat ini. Bukan karena air panasnya semata, melainkan karena di sini ia bisa mencuri jeda yang sulit ditemukan di tempat lain.
Herman bukan pengecualian. Ia justru representasi dari ribuan orang yang setiap akhir pekan memenuhi jalur menuju Pacet. Mereka adalah generasi yang menikmati hasil pembangunan ekonomi sekaligus menanggung konsekuensinya. Mereka memiliki kendaraan pribadi, daya beli untuk berwisata, dan akses menuju berbagai tempat rekreasi. Namun pada saat yang sama mereka hidup dalam lingkungan yang semakin padat, semakin panas, dan semakin melelahkan. Kota-kota metropolitan dibangun untuk menciptakan kenyamanan hidup, tetapi justru menghasilkan kebutuhan untuk sesekali melarikan diri darinya. Herman dan ribuan pengunjung lain datang ke Pacet karena kota tempat mereka bekerja tidak lagi mampu menyediakan apa yang mereka cari.
Di tempat kami—saya dan Herman—berendam, pengunjung semakin ramai. Kebanyak lansia dan paruh baya. Ada pemuda, tapi tak banyak. Ada anak-anak, tapi tak berendam di kolam air panas. Mereka berenang dan bersenang-senang di kolam air dingin.

Orang-orang seperti Herman rela berkali-kali kembali ke Pacet karena alasan klasik: Perjalanannya tak cukup jauh sementara harga yang harus dibayar tak terlalu mahal. Meski mungkin ia tak tahu bahwa di balik keindahan lembah Pacet, di kaki Arjuno-Welirang-Anjasamoro, tempat ini juga rawan menjadi lokasi pembuangan korban kejahatan dan rawan kecelakaan. Bahkan tak sedikit orang menyebutnya Lembah Mayat.
Wilayah Pacet, Mojokerto, berada di lembah yang diapit empat gunung besar: Penanggungan, Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro. Kawasan lereng Gunung Welirang memang menawarkan pariwisata alam yang indah—terkenal melalui jalur Cangar-Pacet—tetapi juga menyimpan kerawanan bencana seperti longsor dan banjir bandang. Bencana pernah terjadi di pemandian air panas Padusan, Pacet, Desember 2002, yang menewaskan 26 orang dan Februari 2004 dengan korban tewas 17 orang.
Di Padusan dan di beberapa desa sekitarnya ada 23 objek wisata berupa pemandian air panas, tempat arung jeram, air terjun, bumi perkemahan, dan area kegiatan alam terbuka. Namun, petaka tahun 2002 dan 2004 membuktikan, pengembangan pariwisata yang tidak terkendali memicu alih fungsi lahan yang membahayakan keselamatan masyarakat. Hutan di lereng pegunungan seluas hampir 50.000 hektar dibabat tanpa sisa.
Saya memandang kabut yang bergerak perlahan di antara pepohonan. Di kejauhan terdengar suara kendaraan yang masih berdatangan. Nanti sore mereka akan kembali ke Surabaya. Selasa pagi mereka akan kembali menghadapi rapat, target, kemacetan, dan suhu kota yang terasa semakin panas setiap tahun.
Saya rasa Pacet tidak dapat menyelesaikan masalah itu. Ia hanya memberi jeda. Semacam ruang tunggu bagi orang-orang yang lelah hidup di kota yang terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, tetapi sering lupa menyediakan ketenangan bagi warganya. Dan selama Surabaya terus berkembang tanpa cukup ruang hijau, tanpa cukup tempat untuk bernapas, serta tanpa cukup keheningan untuk ditinggali, arus manusia menuju Pacet setiap akhir pekan tampaknya akan terus berlangsung. Sebab, terkadang, bagi beberapa orang, tujuan sebuah perjalanan bukanlah upaya mencari tempat baru. Melainkan usaha untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang di kota yang kita tinggali.
Ketika saya meninggalkan kolam rendam, Herman masih duduk di sudut yang sama. Ia tampak menikmati hangat air yang mengepul perlahan di bawah kabut Welirang. Besok atau lusa ia akan kembali ke rutinitasnya. Mungkin beberapa minggu lagi ia akan datang lagi ke Pacet, seperti yang sudah berkali-kali ia lakukan sebelumnya.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini sebenarnya bukan tentang Herman seorang. Ia hanya satu wajah dari ribuan wajah lain yang setiap akhir pekan bergerak dari Surabaya, Gresik, atau Sidoarjo menuju lereng-lereng pegunungan Mojokerto. Mereka datang dengan alasan yang berbeda-beda, tetapi membawa kebutuhan yang sama: mencari ruang untuk bernapas.[T]
Reprter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole






























