31 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
in Cerpen
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak menyedihkan untuk anak SD yang percaya bahwa cinta pertama harus berlangsung selamanya.

Aku sedih untuk Ayah. Tapi aku sedih juga untuk Ibu. Rasa sedih ini datang bersamaan dengan kekhawatiran, apakah Ayah bahagia walaupun ia tidak berakhir bersama cinta pertamanya? Begitu juga dengan Ibu, apakah ia sedih karena ternyata ia bukan cinta pertama Ayah?

Seakan-akan seluruh pikiranku diterjemahkan ke wajahku. Bibi-bibiku malah semakin menggebu-gebu menceritakannya. Seakan-akan ini adalah sinetron terkini yang sedang tayang di salah satu saluran TV swasta yang tidak boleh aku lewatkan. Aku hanya menganga dan membiarkan kisah cinta pertama itu melaju lancar ke telingaku.

Ayah  mencintai seorang wanita di seberang lautan. Ayah, dengan vespa merahnya melaju dari Bali Utara ke Kota Mataram, Lombok. Jika kulihat di google map, membutuhkan kurang lebih 8-12 jam. Ya, kuyakin dengan senyumnya yang tampan

mengendarai vespa itu dari utara ke selatan. Melewati dua bukit hijau, dari Singaraja yang panas, menembus Bedugul yang dingin, lalu Denpasar yang pengap, membelah Selat Lombok, terapung selama 4 jam di kapal ferry yang terlihat usang, dan melanjutkan perjalanan ke Kota Mataram yang terik. Jika kubayangkan saja kepalaku pening. Belum

lagi jika kupikirkan ia diterpa hujan sepanjang jalan. Apakah jaketnya cukup hangat?

Ketika aku mulai dewasa, melewati masa remaja, kisah itu masih berlalu lalang di telingaku. Perihal cinta pertama yang mengarungi samudra. Terkadang aku merenung, perlukah aku mengetahui semua ini? Seharusnya aku berlagak acuh tak acuh saja, karena toh semua ini sudah berlalu dan Ayah saat ini terlihat bahagia bersama Ibu. Tetapi aku, yang berada pada usia di mana cinta adalah segalanya tidak bisa tenang. Aku yang berpikir bahwa semua cinta harus diperjuangkan, mengalami patah hati yang berkelanjutan.

“Lalu, mengapa mereka tidak akhirnya bersama?” tanyaku memberanikan diri.

Aku pikir aku akan mendengarkan jawaban yang klise. Orang ketiga contohnya. Tetapi alasannya jauh lebih ke realita.

“Karena ayahmu tidak punya TV,” kata bibiku santai sambil terus memainkan kartu domino di tangannya. Ya, mereka membicarakan kisah cinta orang tuaku sesantai itu. Itu adalah kisah cinta yang akan membuat William Shakespeare pun menangis.

Kala itu, Ayah masih fresh graduate dan belum memiliki pekerjaan tetap. Lulusan Sastra Inggris dari kampus di Malang yang nun jauh di sana. Pada tahun 1980-an, ia dipandang tidak keren. Oleh ayah wanita itu, ia ditolak. Tidak direstui cintanya. Karena ketulusan saja tanpa materi tidaklah pernah cukup bagi seorang calon ayah mertua. Ayahku kalah. Ia terluka

dan pulang ke Bali Utara tanpa apa-apa. Hanya duka yang tak berkesudahan. Cerita itu ditutup oleh bibiku dengan kartu domino terakhir di meja itu, selesai pula kisah cinta pertama Ayah yang suci. Lebih tepatnya tamat. Kandas. Yah, setidaknya cinta Ayah tidak bertepuk sebelah tangan.

Aku tidak sanggup membayangkan kekalahan Ayah. Karena di meja makan, Ayah adalah juara. Apapun yang ia ceritakan selalu berakhir dengan kebanggaan. Tetapi, bukan tentang cinta pertamanya. Ia tidak pernah menceritakannya. Sedikitpun. Bahkan wanita itu, si cantik dari Kota Mataram itu tidak pernah sedikit pun keluar dari bibirnya. Sedikitpun tak muncul di salah satu cerita serunya. Aku sering bertepuk tangan mendengar ceritanya lalu pikiranku berkelana. Apakah ayahku benar-benar bahagia saat ini? Apakah ia

kadang-kadang masih teringat tentang cinta pertamanya?

Lalu aku memandang Ibu, yang tersenyum bahagia mendengarkan cerita laki-laki ini lagi. Yang entah sudah berapa kali ia ceritakan di bulan ini. Sambil mengupas mangga ranum di tangannya, ia membumbui cerita-cerita Ayah dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ceritanya semakin hidup. Ini semua adalah kebahagiaan kecil kami yang tak tergantikan. Yang butuh waktu seumur hidup untuk dikenang.

Aku dengar, wanita itu menikah dan tinggal di Bali Utara. Di satu tanah yang sama dengan keluarga kami. Setiap kami mengunjungi tempat yang ramai, aku berharap mereka takkan bertemu. Aku ingin cinta yang telah kandas ini tidak muncul tunas baru.

Terkadang aku masih melihat sosok Ayah yang terluka karena TV yang tidak ia miliki di zaman itu. Saat ini, Ayah adalah seorang wirausaha yang cukup sukses di kota kami.

Ayah membuka kursus bahasa Inggris pertama di kota ini, yang pariwisatanya sedang berkembang di pulau ini. Kelas-kelasnya tak pernah kosong. Orang-orang membludak mendaftar. Ke mana pun kami pergi, ada saja yang mengenalnya. Jika kutanya siapa, jawabannya selalu sama

“Sepertinya murid ayah dulu!” Bahkan saking miripnya wajahku dengan ayahku, orang-orang selalu berkata, “Oh pasti ayahmu guru bahasa Inggris saya dulu ya!”

Ya, seterkenal itu ia di kota kecil ini, hingga ia bisa membeli berapa TV pun yang ia mau. Ya, ia membelinya. Ia membeli setiap TV keluaran terbaru. TV yang besar memenuhi ruang keluarga kami. Tetapi Ibu memiliki prinsip satu rumah satu TV, untuk menghindari anggota keluarga yang sibuk di kamar masing-masing. Alhasil Ayah banyak menyumbang TV ke rumah Kakek dan Nenek dan saudara-saudara lainnya. Seperti ketiban TV nomplok.

Semakin aku dewasa, jika aku ngobrol dengan Ayah dan teringat kisah cinta pertama sialan itu lagi, pikiranku kembali berkelana.

“Berani-beraninya ia menolak ayahku yang tampan!” “Terkutuklah ia yang mencederai hati ayahku!”

Dan semua sumpah serapah yang tidak perlu.

Hingga suatu hari ibuku berkata, “Lihat, laki-laki itu. Itu adalah suami dari wanita cinta pertama Ayah!”.

Aku terkesiap mendengar celetukan Ibu dan gelagapan menoleh ke arah yang dituju. Penasaran, seperti apa wajah laki-laki itu. Dan apakah wanita itu juga ada bersamanya.

Sikap Ibu tidak seperti yang aku bayangkan. Dibandingkan istri yang terluka karena melihat mantan pacar suaminya seperti di sinetron-sinetron, lagaknya lebih seperti adik perempuan yang tidak terima kakak laki-lakinya diputus cinta.

“Berani-beraninya ia menolak cinta suamiku!” kata Ibu kepadaku.

Aku berpikir, bukannya cintanya tidak direstui ya? Versi mana lagi ini. Tetapi aku pura-pura tidak tahu.

“Bagaimana ceritanya, Bu?” tanyaku polos.

Lalu keluarlah segala uneg-uneg yang selama ini Ibu pendam. Di sinilah kami, mengutuk bersama.

Mungkin cinta pertama ayahku memang bukan ibuku. Memang Ibu tahu semua itu. Mungkin pernikahan ini tidak diawali dengan cinta yang manis seperti di film, tetapi bukankah menjadi cinta terakhir adalah yang terbaik? [T]

  • Selamat ulang tahun ajikku sayang. Cinta pertamamu boleh kandas, tetapi, cinta terakhirmu sempurna. Aku mencintai mu. I will see you when I see you.

Tabanan, 16 January 2026

Penulis: Ayu Ugie Pratiwi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Next Post

Radio Tua Kakek Panjul

Ayu Ugie Pratiwi

Ayu Ugie Pratiwi

Lahir di Singaraja, tinggal di Tabanan. IG: @ayuugiepratiwi

Related Posts

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails
Next Post
Radio Tua Kakek Panjul

Radio Tua Kakek Panjul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co