14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
May 29, 2026
in Cerpen
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih mengandung dingin yang menembus hingga ke tulang. Di tangan kanannya, sebuah tas plastik berisi beberapa lembar koran; di tangan kirinya, bungkusan nasi yang masih hangat, terikat karet warna merah.

Sudah lebih dari dua puluh tahun ia menjadi loper koran. Dulu, ia bisa membawa seratus eksemplar setiap pagi. Tapi sekarang, di zaman layar sentuh dan berita daring, yang tersisa tak sampai dua puluh. Pelanggannya makin tua, sebagian sudah wafat, sebagian pindah, dan sisanya tinggal sedikit yang masih mau membaca berita lewat kertas.

Namun bagi Pak Syukur, membagikan koran bukan sekadar kerja. Itu adalah ritual pagi yang meneguhkan keberadaannya sebuah alasan untuk bangun, bergerak, dan merasa masih berguna. Ia bukan sekadar mengantar berita; ia menyambung hidup, walau sederhana.

Di saku baju lusuhnya, terselip satu lembar foto usang. Foto anaknya, Arman, saat masih berseragam putih abu-abu. Itu satu-satunya foto yang tersisa setelah istrinya meninggal, setelah kontrakan lama mereka terbakar, dan setelah Arman memutuskan pergi entah ke mana.

“Pak, saya mau coba kerja di Jakarta. Bapak jangan khawatir,” kata Arman waktu itu. Ia pergi hanya dengan ransel kecil dan jaket denim, penuh semangat seperti anak muda lain yang yakin nasib bisa ditaklukkan di kota besar.

Awalnya, kabar masih datang, meski jarang: lewat surat, kemudian SMS. Tapi entah sejak kapan, semuanya lenyap. Nomor tak bisa dihubungi. Surat tak lagi berbalas. Pak Syukur tak pernah tahu pasti kenapa. Tapi ia menduga, mungkin karena Arman tak berhasil seperti yang ia harapkan.

“Mungkin dia malu,” gumamnya kadang, sambil menatap lembaran koran yang makin tipis isinya. “Atau mungkin dia hanya sedang cari jalan pulang yang benar.”

Pak Syukur tak pernah mencarinya. Bukan karena tak rindu, tapi karena takut kalau kenyataannya lebih pahit dari harapan. Ia memilih menunggu. Dalam diam. Dalam pagi-pagi yang terus datang tanpa pamit.

Kadang, jika pagi terlalu sunyi dan warung kopi masih tutup, Pak Syukur akan duduk di kursi kayu dekat halte, membuka bekal nasinya, dan memakan perlahan sambil membaca satu lembar koran yang tak laku. Ia membaca berita dengan mata kabur, kadang tak benar-benar paham, tapi tetap dibaca sampai habis. Ia percaya, meski dunia terus berubah, kata-kata di kertas tetap punya ruh.

Suatu pagi Minggu, saat langit mulai terang dan langganannya mulai keluar rumah, Pak Syukur menerima koran seperti biasa dari agen. Tapi ada satu hal berbeda: sebuah amplop putih terselip di dalam tumpukan koran, tanpa nama.

Ia membukanya pelan. Di dalamnya, ada uang seratus ribuan yang dilipat rapi, dan secarik kertas bertulisan tangan:

“Untuk Bapak Loper Koran yang selalu tepat waktu.

Saya pembaca setia, dulu dan sekarang.

Terima kasih sudah menjaga pagi saya tetap hidup.”

– A.

Pak Syukur terdiam. Tangannya gemetar. Ia tak tahu siapa “A.” itu, tapi ucapan terima kasih itu seperti embun bagi hatinya yang sudah mulai mengering. Mungkin ini balasan dari semesta, pikirnya. Mungkin hidup tak selalu harus bertemu untuk saling menyentuh.

Hari-hari berikutnya, surat itu menjadi penghibur. Setiap Minggu, di antara tumpukan koran yang makin sedikit, Pak Syukur selalu berharap menemukan amplop lain. Tapi tidak ada. Sampai suatu pagi, di minggu ketiga bulan itu, ia menemukan lagi satu amplop putih. Isinya kali ini hanya secarik kertas:

“Jika Bapak membaca halaman 5 hari ini,

mungkin Bapak akan menemukan seseorang yang Bapak rindukan.”

Dengan tergesa, Pak Syukur membuka halaman 5. Di sana, sebuah artikel kecil terpajang: “Loper Koran, Pagi yang Tak Pernah Mati.” Di bawahnya, foto dirinya dari belakang sedang mendorong sepeda. Ia tak sadar kapan difoto. Di bawah artikel itu, ada nama penulisnya: Arman Syukur.

Dunia seperti berhenti berputar. Ia baca ulang nama itu, berkali-kali, sambil berbisik, “Anakku…”

Matanya membasah, napasnya tercekat. Ia belum tahu segalanya, tapi ia tahu satu hal: Arman masih hidup. Dan lebih dari itu masih mengingatnya. Lewat tulisan. Lewat berita yang ia sendiri antarkan setiap hari.

Minggu berikutnya, di depan rumah kontrakan yang ia tempati, Seorang pria berdiri diam. Wajahnya lebih tua dari usianya, matanya cekung dan letih. Topi lusuh di tangan, ransel kecil di punggung. Saat ia mengangkat wajah, waktu seakan berhenti.

“Pak…” suaranya lirih. “Ini saya.”

Pak Syukur hanya berdiri, tak berkata. Lalu tertawa kecil, disusul tangis yang tak sempat ia tahan. Ia tak memeluk, hanya menepuk bahu lelaki itu kemudian menanyakan sesuatu yang selama ini ia pendam sendirian.

“Kenapa kamu nggak ada kabar, Man?”

Arman menunduk, Tangannya gemetar sedikit, tapi suaranya jelas. “Karena saya gagal, Pak. Gagal jadi anak yang bisa Bapak banggakan. Dan saya terlalu pengecut untuk pulang sebagai orang yang gagal.”

Pak Syukur menoleh pelan. Matanya lembut seperti teh yang hampir dingin.

“Yang Bapak sesali… bukan karena kamu gagal. Tapi karena kamu memilih gak ada kabar.”

Arman menunduk.

“Maaf pak, Arman pulang tanpa membawa apa-apa tapi saya pulang membawa cerita. Cerita itu yang menyelamatkan saya, Pak. Waktu saya mulai bisa nulis untuk majalah kecil, saya tulis tentang pagi. Tentang orang-orang kecil. Tentang tukang koran. Tentang Bapak…”

Setelah itu, hidup tak berubah drastis. Tapi cukup. Pak Syukur tetap membagikan koran, kini dibantu Arman. Pelanggan mereka justru bertambah. Ada yang ingin beli koran hanya untuk membaca tulisan-tulisan Arman. Ada yang sekadar ingin melihat “ayah dan anak yang bersatu kembali.”

Tulisan Arman menyebar. Ia menulis tentang kesunyian yang setia, tentang bapak-bapak yang bangun sebelum matahari, tentang orang-orang yang tetap berdiri meski tak pernah dipuji. Dan setiap Minggu pagi, di teras kecil yang lapuk, dua orang duduk bersama. Membuka nasi bungkus, menyeruput teh, dan membaca koran bersama. Bukan karena berita dunia. Tapi karena di situlah mereka tahu: beberapa orang tak perlu panggung besar untuk menghidupkan makna. Dan kadang, pulang bukan tentang rumah. Tapi tentang keberanian menoleh ke luka, lalu menuliskannya jadi cahaya.

Kadang, selepas mengantar koran, mereka duduk lebih lama. Arman membacakan berita dengan suara pelan, diselipi komentar-komentar lucu yang membuat Pak Syukur terkekeh meski giginya tinggal separuh. Mereka tidak membicarakan masa lalu terlalu banyak, hanya secukupnya untuk menyentuh tanpa membuka luka. Sisanya, mereka habiskan untuk mengamati pagi anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu menyapu halaman, dan motor-motor melaju tergesa seperti biasa.

Suatu ketika, Arman membawa naskah pendek ke hadapan bapaknya. “Ini tentang kita, Pak. Saya mau kirim ke media. Bukan supaya terkenal, tapi supaya orang tahu, loper koran itu bukan profesi yang punah. Ia hanya bertransformasi. Dari tangan, ke hati.”

Pak Syukur tidak langsung menjawab. Ia membaca perlahan. Beberapa kalimat membuatnya diam lama. Lalu ia mengangguk.

“Kalau tulisan bisa bikin orang berhenti sejenak dari sibuknya, itu lebih dari cukup,” katanya.

Cerita itu dimuat. Judulnya sederhana: “Bungkus Nasi dan Harapan yang Tetap Hangat.” Banyak yang mengirim pesan ke redaksi, mengaku tersentuh. Beberapa loper koran di kota lain bahkan mencetak ulang cerita itu dan menyelipkannya di antara koran mereka. Arman tertawa kecil saat membaca komentar-komentar itu.

“Lihat, Pak. Kata-kata bisa berjalan lebih jauh dari kaki kita.”

Pak Syukur hanya menepuk punggung anaknya pelan. Tak banyak kata. Tapi di matanya, ada bangga yang tak bisa disembunyikan.

Suatu pagi, saat hujan turun rintik, Arman membuka bungkus nasi dan menemukan sepotong telur dadar yang dibentuk seperti hati. Di atasnya, ada tulisan kecil dari warung langganan mereka: “Untuk Bapak dan Anak Koran. Terima kasih sudah menjaga pagi kami.”

Pak Syukur tertawa. “Lihat, Man. Pagi ini kita gak cuma bawa koran. Tapi juga bawa cerita.”

Arman mengangguk. Dan pagi itu, mereka makan lebih lambat dari biasanya. Bukan karena hujan, tapi karena tak ingin hari terlalu cepat berlalu.

Sejak hari itu, mereka berdua jadi seperti berita yang ditunggu. Bukan karena sensasi. Tapi karena konsistensi. Karena di dunia yang serba cepat dan digital, ada dua orang yang tetap menyusuri gang sempit dengan koran di tangan dan harapan di dada.

Dan setiap Minggu pagi, ketika orang-orang membuka halaman lima, ada satu tulisan baru dari Arman. Selalu tentang hal kecil yang kerap luput: penjaga sekolah yang tak pernah absen, penjual bubur yang selalu tersenyum, atau ayah yang tak pernah berhenti menunggu anaknya pulang.

Karena bagi Arman, menulis bukan soal menjadi hebat. Tapi tentang menyampaikan yang sunyi. Dan bagi Pak Syukur, hidup bukan soal besar atau kecilnya langkah. Tapi tentang tetap berjalan, selagi matahari belum padam.

Di satu pagi yang lain, Arman menatap ayahnya yang sedang mengikat plastik koran.

“Pak, apa Bapak pernah benar-benar menyerah?”

Pak Syukur terdiam sebentar. Lalu menjawab, “Pernah. Tapi setiap kali saya hampir menyerah, pagi datang lagi. Dan saya pikir, selama pagi tetap datang, mungkin saya juga harus tetap berjalan.”

Arman mengangguk pelan. Dan di dalam hatinya, ia tahu: ia tak hanya menemukan jalan pulang. Tapi juga menemukan alasan untuk tinggal.

Dan pagi-pagi di sudut kota itu pun terus hidup. Dengan suara ranting yang dipijak pelan, dengan derak sepeda tua, dan dengan dua sosok sederhana yang mengingatkan kita bahwa cerita terbaik sering kali lahir dari hidup yang tak pernah lelah menunggu dan menulis ulang harapan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

Next Post

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
(Bukan) Demokrasi Kita

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  -- [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co