23 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

Dody Widianto by Dody Widianto
May 22, 2026
in Cerpen
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

Ilustrasi: tatkala.co | Canva

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka 5, kau yang hidup hanya berdua dengan ibumu yang renta, dan sekarang kau dilema apakah ingin mengaku pada ibumu? Pada sebuah nyawa yang sekarang telah bersembunyi di rahimmu? Ibumu mulai pikun dan kala perkenalan pertama itu, kau terlalu cepat menentukan pilihan.

Kau dinikahi siri oleh orang asing itu. Tak ada buku nikah. Hanya selembar kertas di atas meterai 10 ribu. Hanya mahar emas 1 gram, yang saat itu jika dirupiahkan sekitar 1,6 juta saja. Kala itu pamanmu tak setuju dan memintamu membuat surat perjanjian kedua. Pamanmu meminta agar kau segera dinikahi resmi dalam rentang waktu yang ditentukan. Secepatnya. Namun, sebuah amplop tebal malah membungkam pamanmu dan bilang semua akan baik-baik saja. Uang kadang bisa membuat manusia berubah pikiran seketika. Lelaki itu menuliskan alamat rumahnya dan juga nomor telepon yang ternyata memang aktif. Ketika itu, keluargamu seolah telah berada dalam pelukan erat drama yang telah dirancangnya.

Kala itu, kalian pernah bersitatap dalam diam. Seolah ada gemuruh tak bernama yang terus bergejolak dalam dada serupa air mendidih. Kau terus memandang orang asing di depanmu dalam takjub yang bahkan kau sendiri belum pernah bertemu. Kau menoleh sedikit ke samping dan sebuah mobil sedan hitam mengilat terparkir di pinggir jalan teras warungmu.

Seseorang datang ke warung kecilmu di jalanan aspal sempit seberang pasar Cublak. Sebuah pasar di perbatasan provinsi yang dikelilingi pohon-pohon pinus. Seseorang berkacamata hitam, dengan sedikit cambang di pipi, kepala yang diikat sorban putih, baju jubah lengan panjang yang sama putihnya. Entah siapa dan ia hanya ingin membeli sesuatu yang sepele: kembang gula. Mulutnya terasa pahit karena mengaku kelelahan dalam acara yang padat di luar kota. Kepalanya terasa sedikit pening, katanya.

Dari kembang gula itu, dari beberapa butir permen, semula kau merasa cinta semanis kembang gula. Namun, saat ini kau merasa segalanya hanyalah khayalan belaka. Kau dilupakan dan cinta terasa sepahit biji mahoni. Apakah kau ingin diam saja? Atau ingin mengakui semuanya? Ia orang besar yang dielu-elukan dan tentu saja (terlihat) suci dari segala dosa. Setidaknya itu jawaban yang sering kaulihat di televisi atau media sosial.

Di depan warung, ketika orang lalu lalang dalam segala kegiatan pasar, kau masih melamun. Bukan tanpa sebab. Kau memikirlan seseorang yang dulu pernah menyinggahi hatimu, menikahimu, lalu menikmati tubuhmu. Kau menuduh dirimu bodoh kala itu. Serupa perempuan yang linglung dan terihipnotis oleh ketampanan orang asing yang bahkan kau pun tak tahu dari mana asalnya.

Kau mengingat-ingat lagi dengan cara apa untuk menyelesaikan masalah ini. Kau lihat beberapa renceng makanan ringan panganan bocah yang menggantung, bergoyang-goyang ke kanan kiri, diterpa angin dingin pegunungan. Kabut pekat perlahan turun dari arah barat. Warna remang putihnya segera menutupi jarak pandang. Orang-orang terus berjalan dalam keinginan masing-masing. Lalu suara tawar menawar dan canda terdengar serupa dengung lebah. Kau terus menggeleng, berpangku tangan di atas etalase kaca yang di dalamnya berisi gula pasir, minyak goreng, teh, kopi, roti kering, keripik tempe, dan makanan ringan lain.

Sebab masalah bertambah ketika temanmu Sruyun datang ke rumahmu. Ia temanmu sejak kecil yang ketika kecil dulu, dan belum mengenal malu, bermain di deras aliran air kali yang jernih di dusun sebelah dalam ketelanjangan. Ia temanmu mencari pakan rumput untuk kambing etawamu di belakang rumah ketika senja tiba. Kala itu, ketika kau menikah di bawah tangan pun, ia datang untuk jadi saksi di pernikahanmu. Namun, masalah bertambah runyam ketika kau tahu, lelaki yang menikahimu siri ternyata milik sah perempuan lain. Ia tak pernah cerita kepadamu tentang hal ini. Dan semula, cinta yang semanis madu, berubah sepahit empedu.

Dan ketika temanmu tahu, kau diam saja sore itu di tebing-tebing bukit pinus yang ditumbuhi rerumputan, kau masih lesu terdiam. Bahkan ketika temanmu merasa iba dan terus melihatmu terduduk bersandar pada satu batang pohon pinus yang tinggi menjulang. Kau meluruskan kaki dan ada yang mengembun di sudut matamu. Orang asing itu datang lagi ke rumahmu sebulan lalu, atas nama nafkah ia datang dengan uang dan tentu saja cinta. Uangnya memang tak seberapa, tetapi sebagai seorang istri kau memang merindukannya. Dan ketika kau sadar ada yang bersemayam dalam rahimmu, pikiramu makin bertambah-tambah. Mampukah kau mengurusi jabang bayimu dan ibumu yang renta bersamaan? Kau memang punya suami, tetapi ia serupa bunglon yang kadang ada dan kadang tidak ada.

Temanmu segera meletakkan karung dan arit hanya demi mendengar keluh kesahmu. Ketika ia tahu jika lelakimu sekarang ini jarang mampir ke rumah. Beralasan sibuk acara di luar kota biarpun kau pernah cerita tentang cikal bakal penerusnya di rahimmu. Dulu ia yang rajin setiap sebulan atau dua bulan datang, kini sering tanpa kabar bak ditelan bumi, bahkan hingga kandunganmu mulai bernyawa dan menyentuh angka bulan empat.

Temanmu di sebelah mengelus rambutmu dan bilang kau harus berani. Apa yang mereka anggap orang suci, kadang tak sebaik yang orang lain kira. Hormat dan kagum pada manusia semestinya biasa saja. Tak usah berlebihan, hingga menganggapnya serupa dewa yang kita tahu kadang mereka gila hormat demi status sosial. Kau tahu, hatimu bertambah-tambah serupa dicucuk duri-duri ketika kau tahu, berita di televisi, istri simpanannya lebih dari enam. Edan. Kau menggeleng. Hipnotis apa yang telah merasukimu kala itu hingga kau menyerahkan rahim suci untuknya dengan mahar dan janji manis serupa kembang gula.

Ketika temanmu menanyakan apakah ada waktu lagi lelaki itu datang ke rumah? Kau menggeleng pelan dan tak yakin. Barangkali hanya doa yang bisa membuatnya kangen dan mau datang ke rumah. Bukankah istrinya banyak? Ia bebas memilih di rumah mana yang ia sukai terlebih dahulu. Ia bebas menemui perempuan mana yang ia rindukan lebih dulu, yang bisa saja tersebar di segala pulau di nusantara. Mana ada yang tahu. Kau menggeleng pelan lagi, seolah kala itu harga wanita 1,6 juta saja. Begitu murahnya. Sekarang kau hanya bisa meratapi keadaanmu yang tak tahu harus bagaimana. Terlalu cepat menentukan pilihan kala itu.

Maka, ketika minggu kedua sejak kau curahkan segala perasaan dan keluh kesahmu ke sahabatmu itu, kau persiapkan segalanya. Lelakimu benar-benar datang dalam cinta. Lelakimu datang dalam nafsu yang memburu ketika melihat perutmu sedikit buncit. Namun, kau ingat pesan temanmu itu. Dalam bujuk rayu, kau meminta tanda tangan, kau rekam semua itu dengan ponsel yang ia tak tahu. Kau bilang hanya ingin meminta dijatah untuk biaya anaknya tiap bulan. Ketika lelakimu melihat 5 juta, dengan cepat ia menandatanganinya. Lalu setelah itu kalian tenggelam di kedalaman palung rindu yang paling dalam, di atas ranjang.

Sejak dua minggu kejadian itu, kau pergi ke rumah sahabatmu. Menceritakan semua kejadian dua minggu lalu sesuai arahannya. Lalu menanyakan di mana rumah pengacara teman Pak De-nya. Ia tahu sangat welas asih pada semua dan kadang tak meminta bayaran bantuan hukum. Warung di rumah biarkan ibunya yang menjaga. Kau telah menitip pada pamanmu untuk merawatnya dan mengawasi warungmu. Sahabatmu itu malah bingung dan bilang mau ke mana untuk menemukan lelakimu? Kau telah mengumpulkan segala data tentang lelakimu, istri-istrinya, juga rumah singgahnya. Untuk ke sana tentu butuh biaya besar. Namun, Pak De tahu keadaanmu, sebuah transfer uang datang untuk ongkos itu dan memulai semuanya.

Kau perlihatkan selembar kertas bermeterai kepada temanmu. Kau kelupas tempelan kertas kecil yang telah ditandatangani lelakimu. Ketikan kata “juta” berganti “milyar”. Dan kau akan meminta pertanggungjawaban. Entah berhasil entah tidak, entah di pengadilan, entah di mana, kau tahu, kau terlalu berharga untuk diremehkan dengan kata nafsu yang dibalut agama. Kelicikan harus dibayar kelicikan sekarang! [T]

Penulis: Dody Widianto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Next Post

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Dody Widianto

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026
Ulas Pentas

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

by Chandra Manikan
July 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965
Khas

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]
Ulas Rupa

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

by Angga Wijaya
July 22, 2026
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia
Esai

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co