23 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

Dody Widianto by Dody Widianto
May 22, 2026
in Cerpen
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

Ilustrasi: tatkala.co | Canva

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka 5, kau yang hidup hanya berdua dengan ibumu yang renta, dan sekarang kau dilema apakah ingin mengaku pada ibumu? Pada sebuah nyawa yang sekarang telah bersembunyi di rahimmu? Ibumu mulai pikun dan kala perkenalan pertama itu, kau terlalu cepat menentukan pilihan.

Kau dinikahi siri oleh orang asing itu. Tak ada buku nikah. Hanya selembar kertas di atas meterai 10 ribu. Hanya mahar emas 1 gram, yang saat itu jika dirupiahkan sekitar 1,6 juta saja. Kala itu pamanmu tak setuju dan memintamu membuat surat perjanjian kedua. Pamanmu meminta agar kau segera dinikahi resmi dalam rentang waktu yang ditentukan. Secepatnya. Namun, sebuah amplop tebal malah membungkam pamanmu dan bilang semua akan baik-baik saja. Uang kadang bisa membuat manusia berubah pikiran seketika. Lelaki itu menuliskan alamat rumahnya dan juga nomor telepon yang ternyata memang aktif. Ketika itu, keluargamu seolah telah berada dalam pelukan erat drama yang telah dirancangnya.

Kala itu, kalian pernah bersitatap dalam diam. Seolah ada gemuruh tak bernama yang terus bergejolak dalam dada serupa air mendidih. Kau terus memandang orang asing di depanmu dalam takjub yang bahkan kau sendiri belum pernah bertemu. Kau menoleh sedikit ke samping dan sebuah mobil sedan hitam mengilat terparkir di pinggir jalan teras warungmu.

Seseorang datang ke warung kecilmu di jalanan aspal sempit seberang pasar Cublak. Sebuah pasar di perbatasan provinsi yang dikelilingi pohon-pohon pinus. Seseorang berkacamata hitam, dengan sedikit cambang di pipi, kepala yang diikat sorban putih, baju jubah lengan panjang yang sama putihnya. Entah siapa dan ia hanya ingin membeli sesuatu yang sepele: kembang gula. Mulutnya terasa pahit karena mengaku kelelahan dalam acara yang padat di luar kota. Kepalanya terasa sedikit pening, katanya.

Dari kembang gula itu, dari beberapa butir permen, semula kau merasa cinta semanis kembang gula. Namun, saat ini kau merasa segalanya hanyalah khayalan belaka. Kau dilupakan dan cinta terasa sepahit biji mahoni. Apakah kau ingin diam saja? Atau ingin mengakui semuanya? Ia orang besar yang dielu-elukan dan tentu saja (terlihat) suci dari segala dosa. Setidaknya itu jawaban yang sering kaulihat di televisi atau media sosial.

Di depan warung, ketika orang lalu lalang dalam segala kegiatan pasar, kau masih melamun. Bukan tanpa sebab. Kau memikirlan seseorang yang dulu pernah menyinggahi hatimu, menikahimu, lalu menikmati tubuhmu. Kau menuduh dirimu bodoh kala itu. Serupa perempuan yang linglung dan terihipnotis oleh ketampanan orang asing yang bahkan kau pun tak tahu dari mana asalnya.

Kau mengingat-ingat lagi dengan cara apa untuk menyelesaikan masalah ini. Kau lihat beberapa renceng makanan ringan panganan bocah yang menggantung, bergoyang-goyang ke kanan kiri, diterpa angin dingin pegunungan. Kabut pekat perlahan turun dari arah barat. Warna remang putihnya segera menutupi jarak pandang. Orang-orang terus berjalan dalam keinginan masing-masing. Lalu suara tawar menawar dan canda terdengar serupa dengung lebah. Kau terus menggeleng, berpangku tangan di atas etalase kaca yang di dalamnya berisi gula pasir, minyak goreng, teh, kopi, roti kering, keripik tempe, dan makanan ringan lain.

Sebab masalah bertambah ketika temanmu Sruyun datang ke rumahmu. Ia temanmu sejak kecil yang ketika kecil dulu, dan belum mengenal malu, bermain di deras aliran air kali yang jernih di dusun sebelah dalam ketelanjangan. Ia temanmu mencari pakan rumput untuk kambing etawamu di belakang rumah ketika senja tiba. Kala itu, ketika kau menikah di bawah tangan pun, ia datang untuk jadi saksi di pernikahanmu. Namun, masalah bertambah runyam ketika kau tahu, lelaki yang menikahimu siri ternyata milik sah perempuan lain. Ia tak pernah cerita kepadamu tentang hal ini. Dan semula, cinta yang semanis madu, berubah sepahit empedu.

Dan ketika temanmu tahu, kau diam saja sore itu di tebing-tebing bukit pinus yang ditumbuhi rerumputan, kau masih lesu terdiam. Bahkan ketika temanmu merasa iba dan terus melihatmu terduduk bersandar pada satu batang pohon pinus yang tinggi menjulang. Kau meluruskan kaki dan ada yang mengembun di sudut matamu. Orang asing itu datang lagi ke rumahmu sebulan lalu, atas nama nafkah ia datang dengan uang dan tentu saja cinta. Uangnya memang tak seberapa, tetapi sebagai seorang istri kau memang merindukannya. Dan ketika kau sadar ada yang bersemayam dalam rahimmu, pikiramu makin bertambah-tambah. Mampukah kau mengurusi jabang bayimu dan ibumu yang renta bersamaan? Kau memang punya suami, tetapi ia serupa bunglon yang kadang ada dan kadang tidak ada.

Temanmu segera meletakkan karung dan arit hanya demi mendengar keluh kesahmu. Ketika ia tahu jika lelakimu sekarang ini jarang mampir ke rumah. Beralasan sibuk acara di luar kota biarpun kau pernah cerita tentang cikal bakal penerusnya di rahimmu. Dulu ia yang rajin setiap sebulan atau dua bulan datang, kini sering tanpa kabar bak ditelan bumi, bahkan hingga kandunganmu mulai bernyawa dan menyentuh angka bulan empat.

Temanmu di sebelah mengelus rambutmu dan bilang kau harus berani. Apa yang mereka anggap orang suci, kadang tak sebaik yang orang lain kira. Hormat dan kagum pada manusia semestinya biasa saja. Tak usah berlebihan, hingga menganggapnya serupa dewa yang kita tahu kadang mereka gila hormat demi status sosial. Kau tahu, hatimu bertambah-tambah serupa dicucuk duri-duri ketika kau tahu, berita di televisi, istri simpanannya lebih dari enam. Edan. Kau menggeleng. Hipnotis apa yang telah merasukimu kala itu hingga kau menyerahkan rahim suci untuknya dengan mahar dan janji manis serupa kembang gula.

Ketika temanmu menanyakan apakah ada waktu lagi lelaki itu datang ke rumah? Kau menggeleng pelan dan tak yakin. Barangkali hanya doa yang bisa membuatnya kangen dan mau datang ke rumah. Bukankah istrinya banyak? Ia bebas memilih di rumah mana yang ia sukai terlebih dahulu. Ia bebas menemui perempuan mana yang ia rindukan lebih dulu, yang bisa saja tersebar di segala pulau di nusantara. Mana ada yang tahu. Kau menggeleng pelan lagi, seolah kala itu harga wanita 1,6 juta saja. Begitu murahnya. Sekarang kau hanya bisa meratapi keadaanmu yang tak tahu harus bagaimana. Terlalu cepat menentukan pilihan kala itu.

Maka, ketika minggu kedua sejak kau curahkan segala perasaan dan keluh kesahmu ke sahabatmu itu, kau persiapkan segalanya. Lelakimu benar-benar datang dalam cinta. Lelakimu datang dalam nafsu yang memburu ketika melihat perutmu sedikit buncit. Namun, kau ingat pesan temanmu itu. Dalam bujuk rayu, kau meminta tanda tangan, kau rekam semua itu dengan ponsel yang ia tak tahu. Kau bilang hanya ingin meminta dijatah untuk biaya anaknya tiap bulan. Ketika lelakimu melihat 5 juta, dengan cepat ia menandatanganinya. Lalu setelah itu kalian tenggelam di kedalaman palung rindu yang paling dalam, di atas ranjang.

Sejak dua minggu kejadian itu, kau pergi ke rumah sahabatmu. Menceritakan semua kejadian dua minggu lalu sesuai arahannya. Lalu menanyakan di mana rumah pengacara teman Pak De-nya. Ia tahu sangat welas asih pada semua dan kadang tak meminta bayaran bantuan hukum. Warung di rumah biarkan ibunya yang menjaga. Kau telah menitip pada pamanmu untuk merawatnya dan mengawasi warungmu. Sahabatmu itu malah bingung dan bilang mau ke mana untuk menemukan lelakimu? Kau telah mengumpulkan segala data tentang lelakimu, istri-istrinya, juga rumah singgahnya. Untuk ke sana tentu butuh biaya besar. Namun, Pak De tahu keadaanmu, sebuah transfer uang datang untuk ongkos itu dan memulai semuanya.

Kau perlihatkan selembar kertas bermeterai kepada temanmu. Kau kelupas tempelan kertas kecil yang telah ditandatangani lelakimu. Ketikan kata “juta” berganti “milyar”. Dan kau akan meminta pertanggungjawaban. Entah berhasil entah tidak, entah di pengadilan, entah di mana, kau tahu, kau terlalu berharga untuk diremehkan dengan kata nafsu yang dibalut agama. Kelicikan harus dibayar kelicikan sekarang! [T]

Penulis: Dody Widianto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

Next Post

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Dody Widianto

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co