25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 1, 2026
in Esai
Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Sumber foto Wikipedia

Lebih dari Sekadar Matematikawan

Ketika nama Srinivasa Ramanujan disebut, dunia segera mengingatnya sebagai jenius matematika. Rumus-rumusnya melampaui zamannya, bahkan hingga kini masih ditemukan relevansinya dalam sains modern. Namun jika kita berhenti pada label “matematikawan”, kita mungkin kehilangan dimensi yang lebih dalam dari hidupnya.

Ramanujan bukan hanya seorang ilmuwan. Ia adalah seorang pencari. Dan dalam perspektif Sanatana Dharma, pencarian itu memiliki nama: jalan Brahmana.

Brahmana: Antara Kelahiran dan Kesadaran

Dalam kamus Sanskrit klasik karya Monier Monier-Williams, istilah brāhmaṇa tidak hanya merujuk pada varna, tetapi juga pada seseorang yang “berhubungan dengan Brahman”—realitas tertinggi. Ia bisa berarti:

  • penjaga pengetahuan suci,
  • pencari kebenaran,
  • atau orang yang hidup dalam kebijaksanaan.

Dalam Sanatana Dharma, pengertian ini menjadi lebih dalam. Brahmana tidak semata ditentukan oleh kelahiran, tetapi oleh guna (kualitas batin) dan karma (tindakan hidup). Seorang Brahmana sejati adalah mereka yang:

  • tenang,
  • jujur,
  • menguasai diri,
  • dan hidup dalam pengetahuan.

Pengetahuan dalam pemahaman ini bukan sekedar pengetahuan tentang agama semata, namun menyangkut seluruh aspek kehidupan, seperti seni, sains dan sebagainya.

Dengan demikian, Brahmana bukan sekadar identitas sosial, tetapi tingkat kesadaran.

Ramanujan: Brahmana secara Kelahiran

Secara historis, Ramanujan memang lahir dalam keluarga Brahmana Tamil. Ia dibesarkan dalam tradisi religius yang kuat. Ibunya sangat devosional, dan Ramanujan sendiri memiliki keyakinan mendalam kepada Dewi Namagiri.

Keyakinan ini bukan sekadar simbol budaya. Dalam banyak kesaksiannya, Ramanujan menyatakan bahwa inspirasi matematikanya datang melalui intuisi yang ia kaitkan dengan sumber ilahi. Bagi sebagian orang modern, ini mungkin terdengar tidak ilmiah. Namun dalam konteks tradisi India, ini adalah bentuk pengalaman batin yang sah.

Angka sebagai Jalan Pengetahuan

Yang membuat Ramanujan unik adalah cara ia menempuh jalan pengetahuan. Ia tidak mengikuti metode akademik formal. Ia tidak memulai dari teori, lalu membangun pembuktian. Ia justru sering “melihat” hasil terlebih dahulu.

Di sinilah letak paradoksnya:

  • matematika adalah bidang paling rasional,
  • tetapi Ramanujan mendekatinya secara intuitif.

Jika dalam tradisi spiritual dikenal jnana yoga—jalan pengetahuan menuju kebenaran—maka Ramanujan seolah menjalani jnana yoga melalui angka. Rumus-rumusnya bukan sekadar hasil berpikir, tetapi seperti hasil kontemplasi.

Ia menulis di mana saja:

  • di buku,
  • di kertas bekas,
  • bahkan di tanah.

Seolah-olah medium tidak penting. Yang penting adalah arus pengetahuan yang harus mengalir.

Brahmana sebagai Kualitas Batin

Dalam teks-teks seperti Bhagavad Gita, kualitas Brahmana dijelaskan secara jelas: ketenangan, pengendalian diri, kemurnian, kesabaran, dan kebijaksanaan. Jika kita melihat kehidupan Ramanujan, kita menemukan resonansi yang menarik.

Ia hidup sederhana.
Ia tidak mengejar kekayaan.
Ia setia pada pencariannya, meskipun hidupnya penuh kesulitan.

Ia bukan tipe intelektual yang sibuk berdebat atau membuktikan superioritas. Ia lebih seperti seseorang yang mendengarkan sesuatu dari dalam, lalu menuliskannya dengan jujur.

Dalam pengertian ini, Ramanujan mendekati gambaran Brahmana sebagai:

pencari kebenaran yang hidup dalam kesunyian.

Benturan dengan Dunia Modern

Ketika Ramanujan bertemu dengan dunia Barat—melalui G. H. Hardy—terjadi benturan dua cara mengetahui:

  • intuisi vs logika,
  • pengalaman batin vs metode ilmiah.

Hardy menuntut pembuktian. Ramanujan memberi hasil.

Namun yang menarik, Hardy tidak menolak Ramanujan. Ia justru mengakui keunikannya. Di sinilah dialog antara dua dunia terjadi. Ramanujan tidak sepenuhnya berubah, dan Hardy tidak sepenuhnya menyerah. Mereka bertemu di tengah: pada penghormatan terhadap kebenaran.

Kesunyian sebagai Laku

Salah satu aspek paling menyentuh dari hidup Ramanujan adalah kesunyian. Ia tidak hidup dalam sorotan sejak awal. Ia tidak memiliki fasilitas. Ia bahkan sering hidup dalam kekurangan.

Namun ia tidak berhenti.

Kesunyian itu bukan kekosongan. Ia adalah ruang di mana pencarian berlangsung. Dalam banyak tradisi spiritual, kesunyian justru menjadi kondisi ideal untuk menemukan kebenaran. Ramanujan tidak secara sadar mencari kesunyian, tetapi hidup membawanya ke sana.

Dan di sanalah ia bertumbuh.

Melampaui Label Brahmana

Apakah Ramanujan seorang Brahmana?
Secara kelahiran, ya.
Secara kualitas, ia mendekati.

Namun mungkin pertanyaan itu sendiri tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita pelajari darinya.

Ramanujan menunjukkan bahwa:

  • pengetahuan tidak selalu datang dari sistem,
  • kebenaran tidak selalu mengikuti metode,
  • dan pencarian bisa terjadi dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dalam pengertian ini, “Brahmana” bukanlah label, tetapi proses menjadi.

Jalan yang Sunyi, Makna yang Dalam

Ramanujan tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai tokoh spiritual. Ia tidak mengajar filsafat. Ia tidak mendirikan ajaran. Namun hidupnya sendiri menjadi refleksi yang kuat.

Ia menunjukkan bahwa:

  • seseorang bisa mendekati kebenaran tanpa banyak bicara,
  • seseorang bisa menjalani laku tanpa menyebutnya laku,
  • dan seseorang bisa menjadi “Brahmana” tanpa perlu mengklaimnya.

Dalam dunia yang sering menilai dari luar, kisah Ramanujan mengingatkan kita untuk melihat ke dalam.

Di balik kesederhanaan, di balik coretan-coretan yang tampak biasa,
terdapat pencarian yang sangat dalam—sunyi, jujur, dan setia.

Dan di situlah makna Brahmana yang sesungguhnya. [T]

Tags: indiamatematika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setiap Lebaran, Saya Serasa Datang ke Ruang Interogasi

Next Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co