28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 1, 2026
in Esai
Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Sumber foto Wikipedia

Lebih dari Sekadar Matematikawan

Ketika nama Srinivasa Ramanujan disebut, dunia segera mengingatnya sebagai jenius matematika. Rumus-rumusnya melampaui zamannya, bahkan hingga kini masih ditemukan relevansinya dalam sains modern. Namun jika kita berhenti pada label “matematikawan”, kita mungkin kehilangan dimensi yang lebih dalam dari hidupnya.

Ramanujan bukan hanya seorang ilmuwan. Ia adalah seorang pencari. Dan dalam perspektif Sanatana Dharma, pencarian itu memiliki nama: jalan Brahmana.

Brahmana: Antara Kelahiran dan Kesadaran

Dalam kamus Sanskrit klasik karya Monier Monier-Williams, istilah brāhmaṇa tidak hanya merujuk pada varna, tetapi juga pada seseorang yang “berhubungan dengan Brahman”—realitas tertinggi. Ia bisa berarti:

  • penjaga pengetahuan suci,
  • pencari kebenaran,
  • atau orang yang hidup dalam kebijaksanaan.

Dalam Sanatana Dharma, pengertian ini menjadi lebih dalam. Brahmana tidak semata ditentukan oleh kelahiran, tetapi oleh guna (kualitas batin) dan karma (tindakan hidup). Seorang Brahmana sejati adalah mereka yang:

  • tenang,
  • jujur,
  • menguasai diri,
  • dan hidup dalam pengetahuan.

Pengetahuan dalam pemahaman ini bukan sekedar pengetahuan tentang agama semata, namun menyangkut seluruh aspek kehidupan, seperti seni, sains dan sebagainya.

Dengan demikian, Brahmana bukan sekadar identitas sosial, tetapi tingkat kesadaran.

Ramanujan: Brahmana secara Kelahiran

Secara historis, Ramanujan memang lahir dalam keluarga Brahmana Tamil. Ia dibesarkan dalam tradisi religius yang kuat. Ibunya sangat devosional, dan Ramanujan sendiri memiliki keyakinan mendalam kepada Dewi Namagiri.

Keyakinan ini bukan sekadar simbol budaya. Dalam banyak kesaksiannya, Ramanujan menyatakan bahwa inspirasi matematikanya datang melalui intuisi yang ia kaitkan dengan sumber ilahi. Bagi sebagian orang modern, ini mungkin terdengar tidak ilmiah. Namun dalam konteks tradisi India, ini adalah bentuk pengalaman batin yang sah.

Angka sebagai Jalan Pengetahuan

Yang membuat Ramanujan unik adalah cara ia menempuh jalan pengetahuan. Ia tidak mengikuti metode akademik formal. Ia tidak memulai dari teori, lalu membangun pembuktian. Ia justru sering “melihat” hasil terlebih dahulu.

Di sinilah letak paradoksnya:

  • matematika adalah bidang paling rasional,
  • tetapi Ramanujan mendekatinya secara intuitif.

Jika dalam tradisi spiritual dikenal jnana yoga—jalan pengetahuan menuju kebenaran—maka Ramanujan seolah menjalani jnana yoga melalui angka. Rumus-rumusnya bukan sekadar hasil berpikir, tetapi seperti hasil kontemplasi.

Ia menulis di mana saja:

  • di buku,
  • di kertas bekas,
  • bahkan di tanah.

Seolah-olah medium tidak penting. Yang penting adalah arus pengetahuan yang harus mengalir.

Brahmana sebagai Kualitas Batin

Dalam teks-teks seperti Bhagavad Gita, kualitas Brahmana dijelaskan secara jelas: ketenangan, pengendalian diri, kemurnian, kesabaran, dan kebijaksanaan. Jika kita melihat kehidupan Ramanujan, kita menemukan resonansi yang menarik.

Ia hidup sederhana.
Ia tidak mengejar kekayaan.
Ia setia pada pencariannya, meskipun hidupnya penuh kesulitan.

Ia bukan tipe intelektual yang sibuk berdebat atau membuktikan superioritas. Ia lebih seperti seseorang yang mendengarkan sesuatu dari dalam, lalu menuliskannya dengan jujur.

Dalam pengertian ini, Ramanujan mendekati gambaran Brahmana sebagai:

pencari kebenaran yang hidup dalam kesunyian.

Benturan dengan Dunia Modern

Ketika Ramanujan bertemu dengan dunia Barat—melalui G. H. Hardy—terjadi benturan dua cara mengetahui:

  • intuisi vs logika,
  • pengalaman batin vs metode ilmiah.

Hardy menuntut pembuktian. Ramanujan memberi hasil.

Namun yang menarik, Hardy tidak menolak Ramanujan. Ia justru mengakui keunikannya. Di sinilah dialog antara dua dunia terjadi. Ramanujan tidak sepenuhnya berubah, dan Hardy tidak sepenuhnya menyerah. Mereka bertemu di tengah: pada penghormatan terhadap kebenaran.

Kesunyian sebagai Laku

Salah satu aspek paling menyentuh dari hidup Ramanujan adalah kesunyian. Ia tidak hidup dalam sorotan sejak awal. Ia tidak memiliki fasilitas. Ia bahkan sering hidup dalam kekurangan.

Namun ia tidak berhenti.

Kesunyian itu bukan kekosongan. Ia adalah ruang di mana pencarian berlangsung. Dalam banyak tradisi spiritual, kesunyian justru menjadi kondisi ideal untuk menemukan kebenaran. Ramanujan tidak secara sadar mencari kesunyian, tetapi hidup membawanya ke sana.

Dan di sanalah ia bertumbuh.

Melampaui Label Brahmana

Apakah Ramanujan seorang Brahmana?
Secara kelahiran, ya.
Secara kualitas, ia mendekati.

Namun mungkin pertanyaan itu sendiri tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita pelajari darinya.

Ramanujan menunjukkan bahwa:

  • pengetahuan tidak selalu datang dari sistem,
  • kebenaran tidak selalu mengikuti metode,
  • dan pencarian bisa terjadi dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dalam pengertian ini, “Brahmana” bukanlah label, tetapi proses menjadi.

Jalan yang Sunyi, Makna yang Dalam

Ramanujan tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai tokoh spiritual. Ia tidak mengajar filsafat. Ia tidak mendirikan ajaran. Namun hidupnya sendiri menjadi refleksi yang kuat.

Ia menunjukkan bahwa:

  • seseorang bisa mendekati kebenaran tanpa banyak bicara,
  • seseorang bisa menjalani laku tanpa menyebutnya laku,
  • dan seseorang bisa menjadi “Brahmana” tanpa perlu mengklaimnya.

Dalam dunia yang sering menilai dari luar, kisah Ramanujan mengingatkan kita untuk melihat ke dalam.

Di balik kesederhanaan, di balik coretan-coretan yang tampak biasa,
terdapat pencarian yang sangat dalam—sunyi, jujur, dan setia.

Dan di situlah makna Brahmana yang sesungguhnya. [T]

Tags: indiamatematika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setiap Lebaran, Saya Serasa Datang ke Ruang Interogasi

Next Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co