7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 1, 2026
in Esai
Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Sumber foto Wikipedia

Lebih dari Sekadar Matematikawan

Ketika nama Srinivasa Ramanujan disebut, dunia segera mengingatnya sebagai jenius matematika. Rumus-rumusnya melampaui zamannya, bahkan hingga kini masih ditemukan relevansinya dalam sains modern. Namun jika kita berhenti pada label “matematikawan”, kita mungkin kehilangan dimensi yang lebih dalam dari hidupnya.

Ramanujan bukan hanya seorang ilmuwan. Ia adalah seorang pencari. Dan dalam perspektif Sanatana Dharma, pencarian itu memiliki nama: jalan Brahmana.

Brahmana: Antara Kelahiran dan Kesadaran

Dalam kamus Sanskrit klasik karya Monier Monier-Williams, istilah brāhmaṇa tidak hanya merujuk pada varna, tetapi juga pada seseorang yang “berhubungan dengan Brahman”—realitas tertinggi. Ia bisa berarti:

  • penjaga pengetahuan suci,
  • pencari kebenaran,
  • atau orang yang hidup dalam kebijaksanaan.

Dalam Sanatana Dharma, pengertian ini menjadi lebih dalam. Brahmana tidak semata ditentukan oleh kelahiran, tetapi oleh guna (kualitas batin) dan karma (tindakan hidup). Seorang Brahmana sejati adalah mereka yang:

  • tenang,
  • jujur,
  • menguasai diri,
  • dan hidup dalam pengetahuan.

Pengetahuan dalam pemahaman ini bukan sekedar pengetahuan tentang agama semata, namun menyangkut seluruh aspek kehidupan, seperti seni, sains dan sebagainya.

Dengan demikian, Brahmana bukan sekadar identitas sosial, tetapi tingkat kesadaran.

Ramanujan: Brahmana secara Kelahiran

Secara historis, Ramanujan memang lahir dalam keluarga Brahmana Tamil. Ia dibesarkan dalam tradisi religius yang kuat. Ibunya sangat devosional, dan Ramanujan sendiri memiliki keyakinan mendalam kepada Dewi Namagiri.

Keyakinan ini bukan sekadar simbol budaya. Dalam banyak kesaksiannya, Ramanujan menyatakan bahwa inspirasi matematikanya datang melalui intuisi yang ia kaitkan dengan sumber ilahi. Bagi sebagian orang modern, ini mungkin terdengar tidak ilmiah. Namun dalam konteks tradisi India, ini adalah bentuk pengalaman batin yang sah.

Angka sebagai Jalan Pengetahuan

Yang membuat Ramanujan unik adalah cara ia menempuh jalan pengetahuan. Ia tidak mengikuti metode akademik formal. Ia tidak memulai dari teori, lalu membangun pembuktian. Ia justru sering “melihat” hasil terlebih dahulu.

Di sinilah letak paradoksnya:

  • matematika adalah bidang paling rasional,
  • tetapi Ramanujan mendekatinya secara intuitif.

Jika dalam tradisi spiritual dikenal jnana yoga—jalan pengetahuan menuju kebenaran—maka Ramanujan seolah menjalani jnana yoga melalui angka. Rumus-rumusnya bukan sekadar hasil berpikir, tetapi seperti hasil kontemplasi.

Ia menulis di mana saja:

  • di buku,
  • di kertas bekas,
  • bahkan di tanah.

Seolah-olah medium tidak penting. Yang penting adalah arus pengetahuan yang harus mengalir.

Brahmana sebagai Kualitas Batin

Dalam teks-teks seperti Bhagavad Gita, kualitas Brahmana dijelaskan secara jelas: ketenangan, pengendalian diri, kemurnian, kesabaran, dan kebijaksanaan. Jika kita melihat kehidupan Ramanujan, kita menemukan resonansi yang menarik.

Ia hidup sederhana.
Ia tidak mengejar kekayaan.
Ia setia pada pencariannya, meskipun hidupnya penuh kesulitan.

Ia bukan tipe intelektual yang sibuk berdebat atau membuktikan superioritas. Ia lebih seperti seseorang yang mendengarkan sesuatu dari dalam, lalu menuliskannya dengan jujur.

Dalam pengertian ini, Ramanujan mendekati gambaran Brahmana sebagai:

pencari kebenaran yang hidup dalam kesunyian.

Benturan dengan Dunia Modern

Ketika Ramanujan bertemu dengan dunia Barat—melalui G. H. Hardy—terjadi benturan dua cara mengetahui:

  • intuisi vs logika,
  • pengalaman batin vs metode ilmiah.

Hardy menuntut pembuktian. Ramanujan memberi hasil.

Namun yang menarik, Hardy tidak menolak Ramanujan. Ia justru mengakui keunikannya. Di sinilah dialog antara dua dunia terjadi. Ramanujan tidak sepenuhnya berubah, dan Hardy tidak sepenuhnya menyerah. Mereka bertemu di tengah: pada penghormatan terhadap kebenaran.

Kesunyian sebagai Laku

Salah satu aspek paling menyentuh dari hidup Ramanujan adalah kesunyian. Ia tidak hidup dalam sorotan sejak awal. Ia tidak memiliki fasilitas. Ia bahkan sering hidup dalam kekurangan.

Namun ia tidak berhenti.

Kesunyian itu bukan kekosongan. Ia adalah ruang di mana pencarian berlangsung. Dalam banyak tradisi spiritual, kesunyian justru menjadi kondisi ideal untuk menemukan kebenaran. Ramanujan tidak secara sadar mencari kesunyian, tetapi hidup membawanya ke sana.

Dan di sanalah ia bertumbuh.

Melampaui Label Brahmana

Apakah Ramanujan seorang Brahmana?
Secara kelahiran, ya.
Secara kualitas, ia mendekati.

Namun mungkin pertanyaan itu sendiri tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita pelajari darinya.

Ramanujan menunjukkan bahwa:

  • pengetahuan tidak selalu datang dari sistem,
  • kebenaran tidak selalu mengikuti metode,
  • dan pencarian bisa terjadi dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dalam pengertian ini, “Brahmana” bukanlah label, tetapi proses menjadi.

Jalan yang Sunyi, Makna yang Dalam

Ramanujan tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai tokoh spiritual. Ia tidak mengajar filsafat. Ia tidak mendirikan ajaran. Namun hidupnya sendiri menjadi refleksi yang kuat.

Ia menunjukkan bahwa:

  • seseorang bisa mendekati kebenaran tanpa banyak bicara,
  • seseorang bisa menjalani laku tanpa menyebutnya laku,
  • dan seseorang bisa menjadi “Brahmana” tanpa perlu mengklaimnya.

Dalam dunia yang sering menilai dari luar, kisah Ramanujan mengingatkan kita untuk melihat ke dalam.

Di balik kesederhanaan, di balik coretan-coretan yang tampak biasa,
terdapat pencarian yang sangat dalam—sunyi, jujur, dan setia.

Dan di situlah makna Brahmana yang sesungguhnya. [T]

Tags: indiamatematika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setiap Lebaran, Saya Serasa Datang ke Ruang Interogasi

Next Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co