16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 1, 2026
in Esai
Ramanujan: Brahmana dalam Sunyi, Pencari Kebenaran Lewat Angka

Sumber foto Wikipedia

Lebih dari Sekadar Matematikawan

Ketika nama Srinivasa Ramanujan disebut, dunia segera mengingatnya sebagai jenius matematika. Rumus-rumusnya melampaui zamannya, bahkan hingga kini masih ditemukan relevansinya dalam sains modern. Namun jika kita berhenti pada label “matematikawan”, kita mungkin kehilangan dimensi yang lebih dalam dari hidupnya.

Ramanujan bukan hanya seorang ilmuwan. Ia adalah seorang pencari. Dan dalam perspektif Sanatana Dharma, pencarian itu memiliki nama: jalan Brahmana.

Brahmana: Antara Kelahiran dan Kesadaran

Dalam kamus Sanskrit klasik karya Monier Monier-Williams, istilah brāhmaṇa tidak hanya merujuk pada varna, tetapi juga pada seseorang yang “berhubungan dengan Brahman”—realitas tertinggi. Ia bisa berarti:

  • penjaga pengetahuan suci,
  • pencari kebenaran,
  • atau orang yang hidup dalam kebijaksanaan.

Dalam Sanatana Dharma, pengertian ini menjadi lebih dalam. Brahmana tidak semata ditentukan oleh kelahiran, tetapi oleh guna (kualitas batin) dan karma (tindakan hidup). Seorang Brahmana sejati adalah mereka yang:

  • tenang,
  • jujur,
  • menguasai diri,
  • dan hidup dalam pengetahuan.

Pengetahuan dalam pemahaman ini bukan sekedar pengetahuan tentang agama semata, namun menyangkut seluruh aspek kehidupan, seperti seni, sains dan sebagainya.

Dengan demikian, Brahmana bukan sekadar identitas sosial, tetapi tingkat kesadaran.

Ramanujan: Brahmana secara Kelahiran

Secara historis, Ramanujan memang lahir dalam keluarga Brahmana Tamil. Ia dibesarkan dalam tradisi religius yang kuat. Ibunya sangat devosional, dan Ramanujan sendiri memiliki keyakinan mendalam kepada Dewi Namagiri.

Keyakinan ini bukan sekadar simbol budaya. Dalam banyak kesaksiannya, Ramanujan menyatakan bahwa inspirasi matematikanya datang melalui intuisi yang ia kaitkan dengan sumber ilahi. Bagi sebagian orang modern, ini mungkin terdengar tidak ilmiah. Namun dalam konteks tradisi India, ini adalah bentuk pengalaman batin yang sah.

Angka sebagai Jalan Pengetahuan

Yang membuat Ramanujan unik adalah cara ia menempuh jalan pengetahuan. Ia tidak mengikuti metode akademik formal. Ia tidak memulai dari teori, lalu membangun pembuktian. Ia justru sering “melihat” hasil terlebih dahulu.

Di sinilah letak paradoksnya:

  • matematika adalah bidang paling rasional,
  • tetapi Ramanujan mendekatinya secara intuitif.

Jika dalam tradisi spiritual dikenal jnana yoga—jalan pengetahuan menuju kebenaran—maka Ramanujan seolah menjalani jnana yoga melalui angka. Rumus-rumusnya bukan sekadar hasil berpikir, tetapi seperti hasil kontemplasi.

Ia menulis di mana saja:

  • di buku,
  • di kertas bekas,
  • bahkan di tanah.

Seolah-olah medium tidak penting. Yang penting adalah arus pengetahuan yang harus mengalir.

Brahmana sebagai Kualitas Batin

Dalam teks-teks seperti Bhagavad Gita, kualitas Brahmana dijelaskan secara jelas: ketenangan, pengendalian diri, kemurnian, kesabaran, dan kebijaksanaan. Jika kita melihat kehidupan Ramanujan, kita menemukan resonansi yang menarik.

Ia hidup sederhana.
Ia tidak mengejar kekayaan.
Ia setia pada pencariannya, meskipun hidupnya penuh kesulitan.

Ia bukan tipe intelektual yang sibuk berdebat atau membuktikan superioritas. Ia lebih seperti seseorang yang mendengarkan sesuatu dari dalam, lalu menuliskannya dengan jujur.

Dalam pengertian ini, Ramanujan mendekati gambaran Brahmana sebagai:

pencari kebenaran yang hidup dalam kesunyian.

Benturan dengan Dunia Modern

Ketika Ramanujan bertemu dengan dunia Barat—melalui G. H. Hardy—terjadi benturan dua cara mengetahui:

  • intuisi vs logika,
  • pengalaman batin vs metode ilmiah.

Hardy menuntut pembuktian. Ramanujan memberi hasil.

Namun yang menarik, Hardy tidak menolak Ramanujan. Ia justru mengakui keunikannya. Di sinilah dialog antara dua dunia terjadi. Ramanujan tidak sepenuhnya berubah, dan Hardy tidak sepenuhnya menyerah. Mereka bertemu di tengah: pada penghormatan terhadap kebenaran.

Kesunyian sebagai Laku

Salah satu aspek paling menyentuh dari hidup Ramanujan adalah kesunyian. Ia tidak hidup dalam sorotan sejak awal. Ia tidak memiliki fasilitas. Ia bahkan sering hidup dalam kekurangan.

Namun ia tidak berhenti.

Kesunyian itu bukan kekosongan. Ia adalah ruang di mana pencarian berlangsung. Dalam banyak tradisi spiritual, kesunyian justru menjadi kondisi ideal untuk menemukan kebenaran. Ramanujan tidak secara sadar mencari kesunyian, tetapi hidup membawanya ke sana.

Dan di sanalah ia bertumbuh.

Melampaui Label Brahmana

Apakah Ramanujan seorang Brahmana?
Secara kelahiran, ya.
Secara kualitas, ia mendekati.

Namun mungkin pertanyaan itu sendiri tidak terlalu penting. Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita pelajari darinya.

Ramanujan menunjukkan bahwa:

  • pengetahuan tidak selalu datang dari sistem,
  • kebenaran tidak selalu mengikuti metode,
  • dan pencarian bisa terjadi dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dalam pengertian ini, “Brahmana” bukanlah label, tetapi proses menjadi.

Jalan yang Sunyi, Makna yang Dalam

Ramanujan tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai tokoh spiritual. Ia tidak mengajar filsafat. Ia tidak mendirikan ajaran. Namun hidupnya sendiri menjadi refleksi yang kuat.

Ia menunjukkan bahwa:

  • seseorang bisa mendekati kebenaran tanpa banyak bicara,
  • seseorang bisa menjalani laku tanpa menyebutnya laku,
  • dan seseorang bisa menjadi “Brahmana” tanpa perlu mengklaimnya.

Dalam dunia yang sering menilai dari luar, kisah Ramanujan mengingatkan kita untuk melihat ke dalam.

Di balik kesederhanaan, di balik coretan-coretan yang tampak biasa,
terdapat pencarian yang sangat dalam—sunyi, jujur, dan setia.

Dan di situlah makna Brahmana yang sesungguhnya. [T]

Tags: indiamatematika
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Setiap Lebaran, Saya Serasa Datang ke Ruang Interogasi

Next Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co