- Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045
- Penulis: Martin Suryajaya
- Penerbit: Anagram
- Tahun terbit: Agustus 2020
- Jumlah halaman: 216 halaman
Sebagai pembaca buku sastra Indonesia, sudah sepatutnya bagi saya untuk menghargai usaha Sulaiman H. dalam mengumpulkan puisi-puisi dari para penyair obskur dalam rentang waktu 100 tahun Indonesia (1945-2045). Usaha Sulaiman H. tersebut kemudian dibukukan menjadi sebuah buku antologi puisi berjudul Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 (2020).
Mari kita definisikan dahulu arti dari kata “obskur”. Dalam KBBI Edisi XIII (2045), obskur artinya adalah “tidak jelas; samar-samar: ia adalah seorang penyair — karena kiprahnya tidak diketahui banyak orang”. Jadi, bisa dibilang buku yang kerap disebut 3T ini memuat berbagai puisi dari para penyair yang kiprahnya tidak diketahui banyak orang.
Dalam tulisannya yang berjudul Dari Dapur Penyunting, Sulaiman H. menyatakan bahwa sedikit sekali karya penyair lokal terutama dari tempat-tempat gelap yang terbit dalam antologi puisi bergengsi (hlm. 13). Sulaiman H. juga menambahkan bahwa: “Ini tentunya suatu kelalaian kita dalam mengangkat harkat dan martabat penyair-penyair yang kurang beruntung dalam sejarah perpuisian di tanah air.”
Sudah cukup bagi kita sebagai pembaca sastra Indonesia untuk memberi panggung kepada nama-nama penyair kondang seperti Chairil Anwar, WC Rendra, Gemi Mohawk, Dea Imut, dan nama-nama penyair kondang lainnya. Sekarang sudah saatnya kita mengapresiasi puisi-puisi karya para penyair obskur yang terkumpul dalam buku antologi puisi 3T ini.
Pembaca yang Terkecoh
Apa yang saya ceritakan sebelumnya pada hakikatnya adalah fiksi. Sulaiman H. adalah fiksi. Buku 3T ini sebenarnya adalah karya Martin Suryajaya dan dieditori oleh Hamzah Muhammad. Ya, antologi puisi yang ada pada buku 3T ini adalah karya Martin Suryajaya.
Nama-nama penyair yang ada pada buku 3T ini sejatinya adalah kumpulan sosok imajiner ciptaan Martin Suryajaya. Oleh karena itu, buku 3T ini juga bisa dibilang menjadi buku antologi puisi pertama di Indonesia yang di dalamnya terdapat banyak heteronim.
Pembaca mungkin juga akan dibingungkan mengenai jenis sastra dari buku ini. Di dalam buku ini terdapat prakata dari Sulaiman H. selaku penyunting, biografi penyair, cerita ketika penyunting menemukan karya dari penyair obskur yang bersangkutan, dan contoh puisi dari penyair yang bersangkutan. Selain itu, buku ini juga memiliki epilog yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. yang ditulis oleh Laura Putri Lasmi yang (lagi-lagi) fiksi.
Dalam wawancaranya bersama Gunawan Budi Susanto, Martin Suryajaya menyatakan bahwa buku 3T ini ada yang menganggapnya sebagai novel alih-alih buku puisi, ada juga yang menganggapnya sebagai naskah drama, dan ada juga yang menganggapnya sebagai “bukan puisi, bukan pula novel”. Ketika saya membaca buku ini, batas nyata dan fiksi menjadi terasa kabur—hal yang sejatinya saya apresiasi dari buku ini.
Orang Kaya Berpuisi
Ketika saya membaca tentang seorang penyair bernama Gladys Suwandhi (1969-2010), saya melihat bahwa Sulaiman H. di sini menceritakan tentang Gladys Suwandhi sebagai seseorang yang sangat makmur yang menulis puisi. Sulaiman H. juga menceritakan tentang besarnya potensi Gladys menjadi seorang penyair terkenal dengan segala modal yang dimiliki.
Gladys diceritakan sebagai seseorang yang kaya yang lahir di Cekoslowakia dan berasal dari sebuah keluarga diplomat. Gladys menikah dan menjadi ibu rumah tangga dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat makmur.
Buku puisinya yang berjudul Karangan Bunga di Ruang Tamu (1995) adalah satu-satunya karya penyair perempuan ini. Namun, bisa dibilang Gladys salah memilih penerbit untuk menerbitkan puisinya. Hal itu karena Gladys menyerahkan penerbitan buku puisinya itu ke penerbit yang terbiasa menerbitkan buku-buku resep masakan (hlm. 75).
Ketika menyunting karya Gladys ini, Sulaiman H. memiliki pertanyaan yang mungkin beberapa pembaca pernah terpikirkan: seperti apakah rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga kaya di dekade 1990-an? Bagaimana bisa seorang yang kaya dengan pergaulan yang agaknya luas menulis sajak-sajak yang seutuhnya mendekam dalam rumah?
Proposal Yayasan Pancaroba
Bagi saya, salah satu “penyair”—kalau boleh disebut demikian—yang mencolok di buku ini adalah Yayasan Pancaroba. Yayasan Pancaroba adalah sebuah perkumpulan penyair dan pegiat sastra yang diinisiasi pada 2015 oleh Noto Suroto, Mas Kumambang, dan Godi Suwarna Pragolapati (hlm. 137).
Yayasan yang bermarkas di Sewon, Bantul, Yogyakarta ini bergerak di bidang advokasi sastra. Yayasan ini memiliki misi yakni memastikan agar sastrawan se-Indonesia mudah mendapat rezeki dan terhindar dari berbagai nasib yang kurang baik.
Untuk tujuan itu, Yayasan Pancaroba konsisten memproduksi proposal, antara lain berupa permohonan dukungan pendanaan, pembiayaan residensi, dan sejenisnya. Yayasan ini bubar pada 2020 setelah terjerat utang akibat kekacauan administrasi kegiatan Temu Penyair yang sedianya akan mereka selenggarakan setahun sebelumnya.
Uniknya, ada orang iseng yang menata surat-surat Yayasan Pancaroba itu ke dalam format sajak dan menerbitkannya di sebuah zine garda-depan dari Salatiga. Menurut Sulaiman H., zine yang dimaksud tersebut hanya terbit sekali dalam bentuk tulisan tangan yang difotokopi dengan tidak rapi.
Izinkanlah kami memperkenalkan diri.
Yayasan Pancaroba adalah sebuah LSM
yang bergerak di bidang advokasi sastra.
Kami memastikan hak-hak sastrawan,
khususnya penyair, terpenuhi seutuhnya.
Telah ada banyak penyair berhimpun
dalam organisasi kami.
— Yayasan Pancaroba, dalam Tolong Kami, Sampoerna Foundation (2019)
Kritik terhadap Sulaiman H.
Dalam epilog di buku 3T ini, pembaca akan disajikan tulisan Laura Putri Lasmi yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. (2045). Dalam tulisannya itu, Laura Putri Lasmi banyak membahas karakter dari Sulaiman H. sebagai seorang arsiparis/sejarawan ketimbang membahas kualitas sastrawi para penyair obskur yang dikumpulkannya (hlm. 200).
Salah satu kritik dari Laura Putri Lasmi adalah tentang kurangnya penyair perempuan yang hadir di buku 3T ini. Baginya, jaringan internet seharusnya mempermudah Sulaiman H. dalam menemukan banyak penyair perempuan, baik yang profesional maupun yang sesekali menulis puisi di waktu senggang (hlm. 201).
Selain itu, Laura Putri Lasmi juga mengkritik bahwa lokasi penyair obskur yang ada di dalam buku 3T ini masih terfokus di Pulau Jawa (hlm. 206). Baginya, Provinsi-provinsi seperti Bali, NTB, NTT, dan provinsi lain di luar Pulau Jawa juga terdapat para penyair obskur. Laura Putri Lasmi di sini menganggap bahwa Sulaiman H. malas dalam mencari informasi secara lebih dalam (hlm. 208).
Sebagai penutup, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa ia kasihan dengan Sulaiman H. ini (hlm. 215). Baginya, Sulaiman H. di sini terlihat seperti orang yang sedikit terganggu kesehatannya, baik fisik maupun psikis. Mengetahui hal itu, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa “belum terlambat untuk berobat” (hlm. 216). Kalimat “Maaf, baru bisa segini.” adalah kalimat penutup terbaik yang pernah saya temukan dalam sebuah buku, dan itu terdapat pada tulisan Laura Putri Lasmi tersebut. [T]
Penulis: Farhan M. Adyatma
Editor: Adnyana Ole





























