25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Farhan M. Adyatma by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
in Ulas Buku
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Buku ‘Terdepan, Terluar, Tertinggal’ | Foto: Farhan M. Adyatma

  • Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045
  • Penulis: Martin Suryajaya
  • Penerbit: Anagram
  • Tahun terbit: Agustus 2020
  • Jumlah halaman: 216 halaman

Sebagai pembaca buku sastra Indonesia, sudah sepatutnya bagi saya untuk menghargai usaha Sulaiman H. dalam mengumpulkan puisi-puisi dari para penyair obskur dalam rentang waktu 100 tahun Indonesia (1945-2045). Usaha Sulaiman H. tersebut kemudian dibukukan menjadi sebuah buku antologi puisi berjudul Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 (2020).

Mari kita definisikan dahulu arti dari kata “obskur”. Dalam KBBI Edisi XIII (2045), obskur artinya adalah “tidak jelas; samar-samar: ia adalah seorang penyair — karena kiprahnya tidak diketahui banyak orang”. Jadi, bisa dibilang buku yang kerap disebut 3T ini memuat berbagai puisi dari para penyair yang kiprahnya tidak diketahui banyak orang.

Dalam tulisannya yang berjudul Dari Dapur Penyunting, Sulaiman H. menyatakan bahwa sedikit sekali karya penyair lokal terutama dari tempat-tempat gelap yang terbit dalam antologi puisi bergengsi (hlm. 13). Sulaiman H. juga menambahkan bahwa: “Ini tentunya suatu kelalaian kita dalam mengangkat harkat dan martabat penyair-penyair yang kurang beruntung dalam sejarah perpuisian di tanah air.”

Sudah cukup bagi kita sebagai pembaca sastra Indonesia untuk memberi panggung kepada nama-nama penyair kondang seperti Chairil Anwar, WC Rendra, Gemi Mohawk, Dea Imut, dan nama-nama penyair kondang lainnya. Sekarang sudah saatnya kita mengapresiasi puisi-puisi karya para penyair obskur yang terkumpul dalam buku antologi puisi 3T ini.

Pembaca yang Terkecoh

Apa yang saya ceritakan sebelumnya pada hakikatnya adalah fiksi. Sulaiman H. adalah fiksi. Buku 3T ini sebenarnya adalah karya Martin Suryajaya dan dieditori oleh Hamzah Muhammad. Ya, antologi puisi yang ada pada buku 3T ini adalah karya Martin Suryajaya. 

Nama-nama penyair yang ada pada buku 3T ini sejatinya adalah kumpulan sosok imajiner ciptaan Martin Suryajaya. Oleh karena itu, buku 3T ini juga bisa dibilang menjadi buku antologi puisi pertama di Indonesia yang di dalamnya terdapat banyak heteronim. 

Pembaca mungkin juga akan dibingungkan mengenai jenis sastra dari buku ini. Di dalam buku ini terdapat prakata dari Sulaiman H. selaku penyunting, biografi penyair, cerita ketika penyunting menemukan karya dari penyair obskur yang bersangkutan, dan contoh puisi dari penyair yang bersangkutan. Selain itu, buku ini juga memiliki epilog yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. yang ditulis oleh Laura Putri Lasmi yang (lagi-lagi) fiksi.

Dalam wawancaranya bersama Gunawan Budi Susanto, Martin Suryajaya menyatakan bahwa buku 3T ini ada yang menganggapnya sebagai novel alih-alih buku puisi, ada juga yang menganggapnya sebagai naskah drama, dan ada juga yang menganggapnya sebagai “bukan puisi, bukan pula novel”. Ketika saya membaca buku ini, batas nyata dan fiksi menjadi terasa kabur—hal yang sejatinya saya apresiasi dari buku ini.

Orang Kaya Berpuisi

Ketika saya membaca tentang seorang penyair bernama Gladys Suwandhi (1969-2010), saya melihat bahwa Sulaiman H. di sini menceritakan tentang Gladys Suwandhi sebagai seseorang yang sangat makmur yang menulis puisi. Sulaiman H. juga menceritakan tentang besarnya potensi Gladys menjadi seorang penyair terkenal dengan segala modal yang dimiliki.

Gladys diceritakan sebagai seseorang yang kaya yang lahir di Cekoslowakia dan berasal dari sebuah keluarga diplomat. Gladys menikah dan menjadi ibu rumah tangga dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat makmur.

Buku puisinya yang berjudul Karangan Bunga di Ruang Tamu (1995) adalah satu-satunya karya penyair perempuan ini. Namun, bisa dibilang Gladys salah memilih penerbit untuk menerbitkan puisinya. Hal itu karena Gladys menyerahkan penerbitan buku puisinya itu ke penerbit yang terbiasa menerbitkan buku-buku resep masakan (hlm. 75).

Ketika menyunting karya Gladys ini, Sulaiman H. memiliki pertanyaan yang mungkin beberapa pembaca pernah terpikirkan: seperti apakah rasanya menjadi seorang ibu rumah tangga kaya di dekade 1990-an? Bagaimana bisa seorang yang kaya dengan pergaulan yang agaknya luas menulis sajak-sajak yang seutuhnya mendekam dalam rumah?

Proposal Yayasan Pancaroba

Bagi saya, salah satu “penyair”—kalau boleh disebut demikian—yang mencolok di buku ini adalah Yayasan Pancaroba. Yayasan Pancaroba adalah sebuah perkumpulan penyair dan pegiat sastra yang diinisiasi pada 2015 oleh Noto Suroto, Mas Kumambang, dan Godi Suwarna Pragolapati (hlm. 137). 

Yayasan yang bermarkas di Sewon, Bantul, Yogyakarta ini bergerak di bidang advokasi sastra. Yayasan ini memiliki misi yakni memastikan agar sastrawan se-Indonesia mudah mendapat rezeki dan terhindar dari berbagai nasib yang kurang baik. 

Untuk tujuan itu, Yayasan Pancaroba konsisten memproduksi proposal, antara lain berupa permohonan dukungan pendanaan, pembiayaan residensi, dan sejenisnya. Yayasan ini bubar pada 2020 setelah terjerat utang akibat kekacauan administrasi kegiatan Temu Penyair yang sedianya akan mereka selenggarakan setahun sebelumnya.

Uniknya, ada orang iseng yang menata surat-surat Yayasan Pancaroba itu ke dalam format sajak dan menerbitkannya di sebuah zine garda-depan dari Salatiga. Menurut Sulaiman H., zine yang dimaksud tersebut hanya terbit sekali dalam bentuk tulisan tangan yang difotokopi dengan tidak rapi.

Izinkanlah kami memperkenalkan diri.
Yayasan Pancaroba adalah sebuah LSM
yang bergerak di bidang advokasi sastra.
Kami memastikan hak-hak sastrawan,
khususnya penyair, terpenuhi seutuhnya.
Telah ada banyak penyair berhimpun
dalam organisasi kami.


— Yayasan Pancaroba, dalam Tolong Kami, Sampoerna Foundation (2019)

Kritik terhadap Sulaiman H.

Dalam epilog di buku 3T ini, pembaca akan disajikan tulisan Laura Putri Lasmi yang berjudul Logika Falus, Peta Buta Sastra, dan Ambisi Kanon Sulaiman H. (2045). Dalam tulisannya itu, Laura Putri Lasmi banyak membahas karakter dari Sulaiman H. sebagai seorang arsiparis/sejarawan ketimbang membahas kualitas sastrawi para penyair obskur yang dikumpulkannya (hlm. 200).

Salah satu kritik dari Laura Putri Lasmi adalah tentang kurangnya penyair perempuan yang hadir di buku 3T ini. Baginya, jaringan internet seharusnya mempermudah Sulaiman H. dalam menemukan banyak penyair perempuan, baik yang profesional maupun yang sesekali menulis puisi di waktu senggang (hlm. 201).

Selain itu, Laura Putri Lasmi juga mengkritik bahwa lokasi penyair obskur yang ada di dalam buku 3T ini masih terfokus di Pulau Jawa (hlm. 206). Baginya, Provinsi-provinsi seperti Bali, NTB, NTT, dan provinsi lain di luar Pulau Jawa juga terdapat para penyair obskur. Laura Putri Lasmi di sini menganggap bahwa Sulaiman H. malas dalam mencari informasi secara lebih dalam (hlm. 208).

Sebagai penutup, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa ia kasihan dengan Sulaiman H. ini (hlm. 215). Baginya, Sulaiman H. di sini terlihat seperti orang yang sedikit terganggu kesehatannya, baik fisik maupun psikis. Mengetahui hal itu, Laura Putri Lasmi menyatakan bahwa “belum terlambat untuk berobat” (hlm. 216). Kalimat “Maaf, baru bisa segini.” adalah kalimat penutup terbaik yang pernah saya temukan dalam sebuah buku, dan itu terdapat pada tulisan Laura Putri Lasmi tersebut. [T]

Penulis: Farhan M. Adyatma
Editor: Adnyana Ole

Tags: buku puisisastraSastra IndonesiaUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

Next Post

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Farhan M. Adyatma

Farhan M. Adyatma

Penulis lepas asal Malang, tulisannya berfokus pada isu sejarah, politik, dan budaya populer. Tulisannya tersiar di beberapa media online. IG @farhan.m.adyatma

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails
Next Post
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co