25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Reda Subagio by Reda Subagio
March 22, 2026
in Esai
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang.

Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahagiaan yang seolah wajib dirasakan bersama. Di meja makan, ketupat tersaji. Di ruang tamu, tawa berusaha dihidupkan. Di grup keluarga, ucapan berseliweran tanpa henti. Semua tampak utuh, seperti tradisi yang tak pernah retak.

Namun, ada yang sering luput kita dengar, suara-suara kecil di dalam diri, yang justru paling berisik saat Lebaran tiba. Banyak orang kelelahan, tetapi tidak tahu harus mengaku kepada siapa.

Lebaran bukan hanya peristiwa spiritual, melainkan juga peristiwa sosial. Dan seperti semua peristiwa sosial, ia membawa ekspektasi. Kita diharapkan hadir, tersenyum, menjawab pertanyaan, dan yang paling sering, menjelaskan hidup kita kepada orang lain. “Kapan menikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya sudah berapa”?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar ringan bagi yang bertanya. Bahkan sering dibungkus dengan tawa. Tetapi bagi yang ditanya, tidak selalu demikian. Ada yang menjawab sambil tersenyum. Ada yang menghindar, ada juga yang pulang dengan perasaan lebih sepi dari sebelumnya.

Di momen seperti ini, keluarga bisa berubah menjadi ruang yang ambigu. Ia adalah tempat paling dekat, tetapi sekaligus bisa menjadi sumber tekanan paling besar. Tidak semua orang siap membuka hidupnya seperti buku yang bebas dibaca.

Di Bali, Lebaran punya cerita yang berbeda. Tidak semua orang memiliki kampung halaman untuk pulang. Banyak yang hidup sebagai perantau permanen, membangun kehidupan jauh dari akar asalnya. Ada yang memilih tinggal. Ada yang tidak punya pilihan selain tinggal.

Mereka tetap merayakan. Salat Id di lapangan kota, berkunjung ke teman, atau sekadar mengirim pesan kepada keluarga yang jauh. Tetapi ada ruang kosong yang tidak selalu bisa diisi. Lebaran tanpa pulang bukan hanya soal jarak. Ia adalah soal rasa yang menggantung.

Dan di situlah kesepian sering tumbuh, diam-diam. Ada juga yang pulang, tetapi tidak benar-benar merasa kembali. Rumah yang dulu akrab, kini terasa berbeda. Orang tua menua. Saudara berubah. Lingkungan tidak lagi sama. Bahkan diri sendiri pun sudah tidak seperti dulu.

Lebaran, dalam situasi ini, bukan lagi sekadar perayaan, melainkan pertemuan antara masa lalu dan kenyataan hari ini. Tidak selalu mudah menjembatani keduanya. Kadang yang muncul bukan kehangatan, melainkan kecanggungan yang sulit dijelaskan.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang jarang kita akui. Lebaran bisa melelahkan secara emosional.Bukan karena kita tidak bersyukur, atau bukan karena kita tidak menghargai tradisi. Tetapi karena menjadi baik-baik saja di depan banyak orang membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Kita mengatur ekspresi. Menyaring jawaban. Menahan reaksi. Semua dilakukan demi menjaga suasana tetap nyaman. Namun, siapa yang menjaga kita.

Psikiater Bali Mental Health Clinic (BMHC), dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), pernah menjelaskan bahwa momen hari raya kerap memicu tekanan psikologis, terutama karena meningkatnya interaksi sosial dan ekspektasi dari lingkungan terdekat.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan personal yang dianggap biasa justru bisa menjadi pemicu kecemasan bagi sebagian orang, apalagi jika individu tersebut sedang berada dalam fase hidup yang tidak stabil.

Kesehatan mental sering kali menjadi topik yang terasa jauh dari perayaan seperti Lebaran. Padahal justru di momen inilah ia diuji. Ketika interaksi sosial meningkat, ekspektasi meninggi, dan ruang pribadi menyempit.

Tidak semua orang punya energi yang sama untuk menghadapi itu. Ada yang butuh jeda, butuh diam, dan ada juga yang butuh ruang untuk tidak menjawab apa pun.

Dan itu seharusnya tidak dianggap aneh. Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, tetapi cara kita memaknainya. Silaturahmi tidak harus selalu berarti membuka semua hal. Kebersamaan tidak harus memaksa semua orang merasa sama. Dan kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai.

Kadang, kebahagiaan justru datang dari hal-hal kecil, duduk tenang, berbincang tanpa tekanan, atau sekadar didengarkan tanpa dihakimi. Lebaran seharusnya memberi ruang, bukan mengambilnya.

Kita juga bisa mulai dari hal sederhana, berhenti menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi, atau setidaknya belajar membaca situasi. Tidak semua orang siap berbagi, dan tidak seemua cerita ingin diceritakan.

Menghormati batasan orang lain adalah bagian dari memuliakan hubungan. Bukankah itu juga inti dari saling memaafkan?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa sempurna kita terlihat di mata orang lain. Ia adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tentang memberi ruang bagi luka yang belum selesai. Dan tentang mengakui bahwa kita tidak selalu harus kuat. Di antara takbir yang menggema dan tangan-tangan yang saling berjabat, mungkin ada satu doa yang jarang diucapkan, tetapi diam-diam dipanjatkan; semoga kita tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga saling memahami. Karena di hari yang penuh perayaan ini, tidak semua orang benar-benar baik-baik saja. Dan itu tidak apa-apa. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Next Post

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks ---Membaca Kembali 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co