25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Reda Subagio by Reda Subagio
March 22, 2026
in Esai
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang.

Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahagiaan yang seolah wajib dirasakan bersama. Di meja makan, ketupat tersaji. Di ruang tamu, tawa berusaha dihidupkan. Di grup keluarga, ucapan berseliweran tanpa henti. Semua tampak utuh, seperti tradisi yang tak pernah retak.

Namun, ada yang sering luput kita dengar, suara-suara kecil di dalam diri, yang justru paling berisik saat Lebaran tiba. Banyak orang kelelahan, tetapi tidak tahu harus mengaku kepada siapa.

Lebaran bukan hanya peristiwa spiritual, melainkan juga peristiwa sosial. Dan seperti semua peristiwa sosial, ia membawa ekspektasi. Kita diharapkan hadir, tersenyum, menjawab pertanyaan, dan yang paling sering, menjelaskan hidup kita kepada orang lain. “Kapan menikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, “Gajinya sudah berapa”?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar ringan bagi yang bertanya. Bahkan sering dibungkus dengan tawa. Tetapi bagi yang ditanya, tidak selalu demikian. Ada yang menjawab sambil tersenyum. Ada yang menghindar, ada juga yang pulang dengan perasaan lebih sepi dari sebelumnya.

Di momen seperti ini, keluarga bisa berubah menjadi ruang yang ambigu. Ia adalah tempat paling dekat, tetapi sekaligus bisa menjadi sumber tekanan paling besar. Tidak semua orang siap membuka hidupnya seperti buku yang bebas dibaca.

Di Bali, Lebaran punya cerita yang berbeda. Tidak semua orang memiliki kampung halaman untuk pulang. Banyak yang hidup sebagai perantau permanen, membangun kehidupan jauh dari akar asalnya. Ada yang memilih tinggal. Ada yang tidak punya pilihan selain tinggal.

Mereka tetap merayakan. Salat Id di lapangan kota, berkunjung ke teman, atau sekadar mengirim pesan kepada keluarga yang jauh. Tetapi ada ruang kosong yang tidak selalu bisa diisi. Lebaran tanpa pulang bukan hanya soal jarak. Ia adalah soal rasa yang menggantung.

Dan di situlah kesepian sering tumbuh, diam-diam. Ada juga yang pulang, tetapi tidak benar-benar merasa kembali. Rumah yang dulu akrab, kini terasa berbeda. Orang tua menua. Saudara berubah. Lingkungan tidak lagi sama. Bahkan diri sendiri pun sudah tidak seperti dulu.

Lebaran, dalam situasi ini, bukan lagi sekadar perayaan, melainkan pertemuan antara masa lalu dan kenyataan hari ini. Tidak selalu mudah menjembatani keduanya. Kadang yang muncul bukan kehangatan, melainkan kecanggungan yang sulit dijelaskan.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang jarang kita akui. Lebaran bisa melelahkan secara emosional.Bukan karena kita tidak bersyukur, atau bukan karena kita tidak menghargai tradisi. Tetapi karena menjadi baik-baik saja di depan banyak orang membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Kita mengatur ekspresi. Menyaring jawaban. Menahan reaksi. Semua dilakukan demi menjaga suasana tetap nyaman. Namun, siapa yang menjaga kita.

Psikiater Bali Mental Health Clinic (BMHC), dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), pernah menjelaskan bahwa momen hari raya kerap memicu tekanan psikologis, terutama karena meningkatnya interaksi sosial dan ekspektasi dari lingkungan terdekat.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan personal yang dianggap biasa justru bisa menjadi pemicu kecemasan bagi sebagian orang, apalagi jika individu tersebut sedang berada dalam fase hidup yang tidak stabil.

Kesehatan mental sering kali menjadi topik yang terasa jauh dari perayaan seperti Lebaran. Padahal justru di momen inilah ia diuji. Ketika interaksi sosial meningkat, ekspektasi meninggi, dan ruang pribadi menyempit.

Tidak semua orang punya energi yang sama untuk menghadapi itu. Ada yang butuh jeda, butuh diam, dan ada juga yang butuh ruang untuk tidak menjawab apa pun.

Dan itu seharusnya tidak dianggap aneh. Mungkin, yang perlu kita ubah bukan tradisinya, tetapi cara kita memaknainya. Silaturahmi tidak harus selalu berarti membuka semua hal. Kebersamaan tidak harus memaksa semua orang merasa sama. Dan kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai.

Kadang, kebahagiaan justru datang dari hal-hal kecil, duduk tenang, berbincang tanpa tekanan, atau sekadar didengarkan tanpa dihakimi. Lebaran seharusnya memberi ruang, bukan mengambilnya.

Kita juga bisa mulai dari hal sederhana, berhenti menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi, atau setidaknya belajar membaca situasi. Tidak semua orang siap berbagi, dan tidak seemua cerita ingin diceritakan.

Menghormati batasan orang lain adalah bagian dari memuliakan hubungan. Bukankah itu juga inti dari saling memaafkan?

Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang seberapa sempurna kita terlihat di mata orang lain. Ia adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tentang memberi ruang bagi luka yang belum selesai. Dan tentang mengakui bahwa kita tidak selalu harus kuat. Di antara takbir yang menggema dan tangan-tangan yang saling berjabat, mungkin ada satu doa yang jarang diucapkan, tetapi diam-diam dipanjatkan; semoga kita tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga saling memahami. Karena di hari yang penuh perayaan ini, tidak semua orang benar-benar baik-baik saja. Dan itu tidak apa-apa. [T]

Penulis: Reda Subagio
Editor: Adnyana Ole

Tags: IdulfitriIslamLebaranMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Next Post

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Reda Subagio

Reda Subagio

Perempuan asal Jakarta yang telah lama bekerja dan menetap di Denpasar-Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks ---Membaca Kembali 'Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co