24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 22, 2026
in Esai
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa lebih lengang dari biasanya. Di beberapa tempat, suara takbir terdengar pelan dari masjid, mengalun tanpa pengeras suara yang berlebihan.

Di sebuah rumah kontrakan di kawasan Denpasar Barat, Rahmat, 32 tahun, sudah bangun sejak pukul lima pagi. Ia menyeduh kopi sachet, lalu menatap layar ponselnya yang sejak tadi menampilkan wajah ibunya di kampung, di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Tahun ini belum bisa pulang lagi,” katanya pelan.

Di layar itu, sang ibu tersenyum. Di belakangnya, tampak ruang tamu sederhana dengan toples kue Lebaran yang sudah dibuka. Tidak ada percakapan panjang. Hanya saling melihat, seolah mencoba menutup jarak yang tidak mungkin ditempuh hari itu.

Hari itu adalah Idul Fitri, tapi bagi Rahmat dan banyak perantau lain di Bali, Lebaran tidak lagi identik dengan pulang.

Rahmat bekerja di sebuah laundry kecil yang melayani hotel dan vila. Sejak pandemi mereda, pekerjaannya kembali ramai. Libur panjang seperti Lebaran justru menjadi masa sibuk.

“Kalau saya pulang, siapa yang jaga?” ujarnya.

Biaya transportasi yang mahal juga jadi alasan lain. Tapi lama-lama, alasan itu tidak lagi terasa utama. Ada sesuatu yang berubah diam-diam.

“Saya sudah delapan tahun di Bali. Kadang malah bingung, pulang itu ke mana,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Cerita seperti Rahmat bukan hal baru. Di Bali, ribuan perantau dari Jawa, Lombok, hingga Sulawesi hidup dan bekerja, mengisi sektor-sektor yang membuat pulau ini tetap bergerak. Saat Lebaran tiba, tidak semua dari mereka berkemas. Sebagian tetap tinggal.

Di lapangan umum tidak jauh dari tempat tinggalnya, Rahmat salat Id bersama puluhan orang lain. Mereka datang dengan pakaian terbaik yang mereka punya, sebagian mengenakan baju koko yang mungkin hanya dipakai setahun sekali.

Setelah salat, mereka tidak langsung pulang. Ada yang saling bersalaman lebih lama dari biasanya. Ada yang bertukar cerita singkat, menanyakan kabar keluarga di kampung. Ada juga yang langsung mengajak, “Nanti mampir ke rumah, ya.”

Ajakan itu sederhana, tapi penting. Karena di sinilah Lebaran menemukan bentuknya yang lain. Bukan lagi tentang berkumpul dengan keluarga besar, tapi tentang menciptakan keluarga kecil dari orang-orang yang sama-sama jauh dari rumah.

Di beberapa sudut Bali, ruang-ruang semacam itu sudah lama ada. Komunitas Muslim tumbuh dan bertahan, menjadi tempat singgah bagi mereka yang datang dari berbagai daerah.

Di Loloan, sebuah kampung tua di Negara, Jembrana, Lebaran terasa lebih riuh. Anak-anak berlarian dengan baju baru, dapur-dapur memasak sejak pagi, dan pintu-pintu rumah terbuka untuk siapa saja.

Sementara di Denpasar dan Badung, suasananya lebih sederhana. Tapi kehangatan itu tetap ada, hanya dalam skala yang lebih kecil.

“Di sini kita saling cari,” kata Siti, 27 tahun, pekerja toko oleh-oleh asal Lombok. “Kalau tidak sama teman-teman, ya Lebaran bisa terasa kosong sekali,” imbuh dia.

Tahun ini, Siti juga tidak pulang. Ia memilih untuk tetap di Bali. Tapi siang itu, ia mengundang tiga temannya ke kamar kosnya yang sempit. Mereka makan ketupat dan opor yang dimasak bersama sejak malam sebelumnya. Tidak mewah. Tapi cukup.

Meski begitu, tidak semua bisa digantikan. Rindu tetap datang, seringkali tanpa aba-aba. Ia muncul saat melihat foto keluarga di grup WhatsApp. Saat mendengar suara takbir dari video yang dikirim saudara. Atau saat mencium aroma masakan yang mengingatkan pada rumah.

“Kalau malam Lebaran itu biasanya yang paling terasa. Pas sudah sepi, baru kepikiran,” ujar Rahmat.

Ia tidak menangis. Tidak juga mengeluh. Tapi ada jeda dalam kalimatnya, seperti ada sesuatu yang sengaja tidak diucapkan. Bagi banyak perantau, rindu bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Ia cukup diterima.

Menjadi Muslim di Bali juga berarti merayakan Lebaran dalam versi yang lebih tenang. Tidak ada keramaian berlebihan, tidak ada tekanan sosial untuk tampil sempurna. Bahkan takbiran pun berlangsung lebih singkat dan tertib.

Namun justru di situlah, bagi sebagian orang, makna Lebaran terasa lebih utuh. Lebih dekat ke diri sendiri.

“Di sini lebih khusyuk. Tidak banyak keriuhan,” kata Siti.

Tanpa hiruk pikuk, Lebaran menjadi ruang untuk benar-benar berhenti sejenak. Mengingat apa yang sudah dilalui, dan apa yang ingin diperbaiki.

Menjelang sore, Denpasar kembali seperti hari biasa. Motor lalu lalang, warung-warung buka, dan aktivitas berjalan seperti semula. Jika tidak tahu, orang mungkin tidak akan menyangka hari itu adalah Lebaran.

Tapi bagi Rahmat dan Siti, hari itu tetap istimewa. Bukan karena kemeriahannya, tapi karena pilihan yang mereka jalani. Mereka tidak pulang. Tapi bukan berarti mereka kehilangan.

Di pulau ini, pelan-pelan, mereka belajar bahwa rumah tidak selalu berada di tempat kita dilahirkan. Kadang, ia tumbuh di tempat yang kita pilih untuk bertahan. Dan di Bali, di antara kontrakan sempit, masjid kecil, dan meja makan sederhana, sebagian perantau sedang melakukan hal itu. Membangun rumah, tanpa benar-benar pulang. [T]

Tags: IdulfitriIslamIslam di BaliLebaranMuslimmuslim bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umpan | Cerpen Putri Harya

Next Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co