25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
March 22, 2026
in Esai
Lebaran Tanpa Kampung Halaman di Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

LEBARAN di Denpasar, Bali, tidak datang dengan gegap gempita. Tidak ada iring-iringan kendaraan yang padat sejak subuh, tidak ada suara petasan bersahutan. Jalanan justru terasa lebih lengang dari biasanya. Di beberapa tempat, suara takbir terdengar pelan dari masjid, mengalun tanpa pengeras suara yang berlebihan.

Di sebuah rumah kontrakan di kawasan Denpasar Barat, Rahmat, 32 tahun, sudah bangun sejak pukul lima pagi. Ia menyeduh kopi sachet, lalu menatap layar ponselnya yang sejak tadi menampilkan wajah ibunya di kampung, di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Tahun ini belum bisa pulang lagi,” katanya pelan.

Di layar itu, sang ibu tersenyum. Di belakangnya, tampak ruang tamu sederhana dengan toples kue Lebaran yang sudah dibuka. Tidak ada percakapan panjang. Hanya saling melihat, seolah mencoba menutup jarak yang tidak mungkin ditempuh hari itu.

Hari itu adalah Idul Fitri, tapi bagi Rahmat dan banyak perantau lain di Bali, Lebaran tidak lagi identik dengan pulang.

Rahmat bekerja di sebuah laundry kecil yang melayani hotel dan vila. Sejak pandemi mereda, pekerjaannya kembali ramai. Libur panjang seperti Lebaran justru menjadi masa sibuk.

“Kalau saya pulang, siapa yang jaga?” ujarnya.

Biaya transportasi yang mahal juga jadi alasan lain. Tapi lama-lama, alasan itu tidak lagi terasa utama. Ada sesuatu yang berubah diam-diam.

“Saya sudah delapan tahun di Bali. Kadang malah bingung, pulang itu ke mana,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.

Cerita seperti Rahmat bukan hal baru. Di Bali, ribuan perantau dari Jawa, Lombok, hingga Sulawesi hidup dan bekerja, mengisi sektor-sektor yang membuat pulau ini tetap bergerak. Saat Lebaran tiba, tidak semua dari mereka berkemas. Sebagian tetap tinggal.

Di lapangan umum tidak jauh dari tempat tinggalnya, Rahmat salat Id bersama puluhan orang lain. Mereka datang dengan pakaian terbaik yang mereka punya, sebagian mengenakan baju koko yang mungkin hanya dipakai setahun sekali.

Setelah salat, mereka tidak langsung pulang. Ada yang saling bersalaman lebih lama dari biasanya. Ada yang bertukar cerita singkat, menanyakan kabar keluarga di kampung. Ada juga yang langsung mengajak, “Nanti mampir ke rumah, ya.”

Ajakan itu sederhana, tapi penting. Karena di sinilah Lebaran menemukan bentuknya yang lain. Bukan lagi tentang berkumpul dengan keluarga besar, tapi tentang menciptakan keluarga kecil dari orang-orang yang sama-sama jauh dari rumah.

Di beberapa sudut Bali, ruang-ruang semacam itu sudah lama ada. Komunitas Muslim tumbuh dan bertahan, menjadi tempat singgah bagi mereka yang datang dari berbagai daerah.

Di Loloan, sebuah kampung tua di Negara, Jembrana, Lebaran terasa lebih riuh. Anak-anak berlarian dengan baju baru, dapur-dapur memasak sejak pagi, dan pintu-pintu rumah terbuka untuk siapa saja.

Sementara di Denpasar dan Badung, suasananya lebih sederhana. Tapi kehangatan itu tetap ada, hanya dalam skala yang lebih kecil.

“Di sini kita saling cari,” kata Siti, 27 tahun, pekerja toko oleh-oleh asal Lombok. “Kalau tidak sama teman-teman, ya Lebaran bisa terasa kosong sekali,” imbuh dia.

Tahun ini, Siti juga tidak pulang. Ia memilih untuk tetap di Bali. Tapi siang itu, ia mengundang tiga temannya ke kamar kosnya yang sempit. Mereka makan ketupat dan opor yang dimasak bersama sejak malam sebelumnya. Tidak mewah. Tapi cukup.

Meski begitu, tidak semua bisa digantikan. Rindu tetap datang, seringkali tanpa aba-aba. Ia muncul saat melihat foto keluarga di grup WhatsApp. Saat mendengar suara takbir dari video yang dikirim saudara. Atau saat mencium aroma masakan yang mengingatkan pada rumah.

“Kalau malam Lebaran itu biasanya yang paling terasa. Pas sudah sepi, baru kepikiran,” ujar Rahmat.

Ia tidak menangis. Tidak juga mengeluh. Tapi ada jeda dalam kalimatnya, seperti ada sesuatu yang sengaja tidak diucapkan. Bagi banyak perantau, rindu bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Ia cukup diterima.

Menjadi Muslim di Bali juga berarti merayakan Lebaran dalam versi yang lebih tenang. Tidak ada keramaian berlebihan, tidak ada tekanan sosial untuk tampil sempurna. Bahkan takbiran pun berlangsung lebih singkat dan tertib.

Namun justru di situlah, bagi sebagian orang, makna Lebaran terasa lebih utuh. Lebih dekat ke diri sendiri.

“Di sini lebih khusyuk. Tidak banyak keriuhan,” kata Siti.

Tanpa hiruk pikuk, Lebaran menjadi ruang untuk benar-benar berhenti sejenak. Mengingat apa yang sudah dilalui, dan apa yang ingin diperbaiki.

Menjelang sore, Denpasar kembali seperti hari biasa. Motor lalu lalang, warung-warung buka, dan aktivitas berjalan seperti semula. Jika tidak tahu, orang mungkin tidak akan menyangka hari itu adalah Lebaran.

Tapi bagi Rahmat dan Siti, hari itu tetap istimewa. Bukan karena kemeriahannya, tapi karena pilihan yang mereka jalani. Mereka tidak pulang. Tapi bukan berarti mereka kehilangan.

Di pulau ini, pelan-pelan, mereka belajar bahwa rumah tidak selalu berada di tempat kita dilahirkan. Kadang, ia tumbuh di tempat yang kita pilih untuk bertahan. Dan di Bali, di antara kontrakan sempit, masjid kecil, dan meja makan sederhana, sebagian perantau sedang melakukan hal itu. Membangun rumah, tanpa benar-benar pulang. [T]

Tags: IdulfitriIslamIslam di BaliLebaranMuslimmuslim bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Umpan | Cerpen Putri Harya

Next Post

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Tidak Semua Orang Baik-Baik Saja Saat Lebaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co