25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marwah yang Tak Terbeli

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam sejarah feodal, kita lihat kekuasaan memang harus tampak mewah. Raja tanpa istana yang megah pasti akan dianggap lemah. Penguasa tanpa simbol keagungan dianggap tidak layak dihormati.

Jadi, model ini memang masuk akal di zamannya. Wibawa dibangun dari adanya jarak. Rakyat diseting untuk harus merasa kecil agar kekuasaan terlihat besar.  Namun saudara, kita tidak lagi hidup di era kerajaan.  Kita hidup di era media sosial di mana, simbol tidak hanya dilihat, tapi juga di-screenshoot, di-capture, di-zoom, di-meme-kan, lalu diviralkan. Pokoknya jadi ke mana-mana.

Menariknya, ada yang viral ruang publik beberapa hari ini, tetiba kata “marwah” kembali dipanggil untuk membenarkan simbol semacam itu. Dalam tradisi Melayu dan Islam, marwah itu bukan main-main. Ini menyangkut tentang menjaga nama baik, menjaga integritas, menjaga keluhuran. Marwah juga dipahami sebagai wibawa, kehormatan, citra kolektif yang harus dijaga melalui representasi yang pantas. 

Tapi di republik algoritma ini, marwah kok mulai terdengar seperti aksesoris. Pengejawantahan marwah tiba-tiba berwujud mesin 3000 cc, jok kulit premium, dan angka 8 miliar rupiah.  Katanya demi menjaga marwah daerah. Apakah marwah memang identik dengan kemegahan?

Media Sosial Panggung Flexing Nasional

Marwah, sedikit berbeda dari martabat. Marwah lebih dekat pada kehormatan sosial, sesuatu yang hidup dalam persepsi kolektif. Ia berkaitan dengan citra, reputasi, dan cara suatu entitas dilihat oleh publik.  Karena itu, marwah memang bisa menyentuh simbol. Hanya saja, tidak otomatis lalu identik dengan kemewahan.

Di sinilah timbul masalahnya. Di zaman saat media sosial yang sudah mendarah daging ini, terciptalah ekonomi simbolik yang brutal. Yang viral di medsos bukan paparan kinerja yang penuh dedikasi. Yang sering viral adalah kemewahan, dan yang mewah adalah yang dianggap sukses.  Gaya hidup semacam ini sering kali lebih cepat menyebar dan lalu menular.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah bicara soal distinction, di mana manusia memakai simbol untuk menunjukkan posisi sosialnya. Di era digital, distinction ini bukan lagi hak kaum elite. Semua orang, termasuk kaum ekonomi sulit, bisa memamerkan simbol apapun yang mereka mau. Simbol yang melekat atau ditampilkan akan menjadi alat diferensiasi sosial.

Di era digital, diferensiasi itu ditampilkan terus menerus tanpa henti. Setiap hari masyarakat disuguhi representasi kemewahan sebagai tanda keberhasilan, tanda kesuksesan dan tanda kebahagiaan. Tak pelak, simbol kemewahan menjadi sangat kuat secara psikologis, karena menjanjikan mobilitas sosial, status, dan pengakuan.  Akibatnya, kembali lagi, marwah mudah tereduksi menjadi performa alias penampilan.

Maka, ketika masyarakat kita sekarang yang merasa hidup selalu dalam tekanan ekonomi, simbol kemewahan kemudian digunakan menjadi semacam pelarian imajinatif. Kita mungkin tidak bergelimang harta, tapi toh kita bisa menonton, dan seolah ikut mengalaminya. Karena cuma bisa menonton, akibatnya kita mungkin mencela kemewahan yang dihadirkan, tapi diam-diam terpesona juga.  Di titik inilah paradoks lahir.

Kita Benci Korupsi, tapi Kita Cinta Hasilnya

Seringkali kita temui di sekitar kita, masyarakat marah pada pejabat korup, lantas menggugat soal integritas. Tapi ketika melihat si kaya raya, jarang bertanya panjang soal asal-usulnya dari mana. Yang dilihat adalah hasil akhirnya yang hanya bikin kepingin.  Dan karena kepingin, jadi terasa ingin melihat terus. 

Ekonom Amerika Thorstein Veblen menyebut ini conspicuous consumption, suatu konsumsi untuk dipamerkan demi status. Semakin langka dan mahal, semakin tinggi daya pikatnya.  Jadi ketika pejabat tampil mewah, dalam benak publik akan muncul dua geliat. Sisi moral menilai seolah hal itu tidak pantas, tapi sisi aspiratif diam-diam punya cita-cita jadi figur yang diumpat itu. Sepertinya banyak dari kita semua ikut bermain dalam drama tanpa babak ini.

Serba sulit, karena memang kita sedang berada dalam situasi yang serba sensitif.  Kepercayaan publik terhadap elite politik itu seperti nilai saham yang sedang turun. Dalam situasi seperti ini, setiap gestur dibaca tajam.  Ketika ekonomi rakyat terasa berat, simbol kemewahan para elite menjadi sensitif bukan karena orang iri, tetapi karena ia terasa tidak empatik.  Lalu jika menyangkut soal kekuasasan, figur pemimpin, dan penguasa, akhirnya menyenggol soal legitimisai. 

Dalam teori legitimasi Max Weber, kekuasaan modern bertumpu pada rasionalitas dan kepercayaan. Bukan aura, bukan kemegahan. Jika legitimasi goyah, kemewahan bukan memperkuat wibawa. Ia justru mempercepat delegitimasi.  Karena di era demokrasi, kekuasaan tidak berdiri di atas jarak, tetapi di atas akuntabilitas.  Jika legitimasi melemah, simbol kemewahan tidak lagi memperkuat. Ia justru bisa memperlebar jarak psikologis antara pemimpin dan yang dipimpin.

Mungkin ini saatnya kita akui bahwa marwah lama yang berbasis kemegahan sudah kehilangan konteksnya. Di zaman krisis, marwah tidak lagi lahir dari jarak. Ia lahir dari kedekatan. Kesederhanaan di sini bukan romantisme, melainkam simbol solidaritas.  Dan ini bukan omong kosong idealis. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu menahan diri justru mendapatkan legitimasi lebih kuat daripada yang tampil superior.

Tentu sebagian kita masih ingat sosok Jenderal Hoegeng yang legendaris, yang teruji kesederhanaannya. Namun tentu saja, banyak juga yang memasang kesederhanaan sebagai kosmetik. Mobilnya sengaja yang biasa saja, tapi rekening luar biasa. Kalau yang begitu, itu bukan marwah baru, tapi personal branding.

Tapi Bukankah Kita Semua Juga Mengagumi Kemewahan?

Nah, ini bagian yang tidak enak. Kita sering berkata perubahan harus dimulai dari elite. Dan benar, karena secara struktural mereka punya daya lebih besar.  Namun elite pun membaca selera publik.  Kalau publik terus memberi panggung pada flexing, politik akan ikut flexing.  Kalau publik berhenti mengidolakan kemewahan sebagai ukuran sukses, simbol akan bergeser. 

Masalahnya, rasa-rasanya kita ini hidup dalam budaya yang kontradiktif. Para penbaca yang budiman, di sini saya boleh dikoreksi bila keliru. Jadi kita mencela korupsi, sekaligus mengagumi kekayaan. Menuntut integritas, tapi mengidolakan dan melanggengkan privilege. Ditambah lagi, media sosial dengan banjir kontennya, memperbesar kontradiksi itu setiap hari.

Jadi, Apakah Marwah Butuh Mesin 8 Miliar?Mari kita jawab blak-blakan saja tanpa retorika. Marwah bukan soal harga kendaraan, pun bukan soal suara sirine saat dikawal voorijder. Marwah adalah soal bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyatnya. Kalau kebijakan adil, transparan, dan berpihak, marwah terbangun bahkan dengan kendaraan sederhana.  Kalau kebijakan sifatnya elitis dan jauh dari rakyat, marwah tidak akan terselamatkan meski dibungkus jok kulit terbaik.

Jadi, kalau kita baca situasi kini, saat masyarakat sedang lelah secara ekonomi, kemewahan bukan lagi bahasa kehormatan, malahan jadi bahasa jarak.  Dan jarak, dalam demokrasi, selalu berbahaya. Jadi sebelum kita bertanya berapa cc mesin yang pantas untuk menjaga marwah, mungkin kita perlu bertanya hal yang lebih mendasar, apakah kehormatan itu datang dari apa yang kita pakai,
atau dari apa yang kita tahan untuk tidak pakai? Kalau marwah masih harus dibuktikan dengan benda, mungkin yang sedang kita jaga bukan kehormatan, melainkan gengsi. Dan gengsi, yang ada hubungannya dengan bensin, cepat sekali habis menguap, apalagi kalau cc nya besar.

Elite dan Tanggung Jawab Etis

Yang sedang kita lihat saat ini adalah sensitivitas moral yang meningkat. Publik lebih peka terhadap tanda-tanda ketidaksetaraan. Dalam situasi seperti ini, simbol kemewahan bisa dibaca bukan sebagai wibawa, tetapi sebagai ketidaksinkronan. Karena ruang publik sedang rapuh, maka tindakan simbolik memiliki bobot etis yang lebih besar. Bagaimana pun, beban moral tetap lebih berat di pundak mereka yang memegang kekuasaan. Sebab mereka memiliki kapasitas untuk memberi contoh, bukan sekadar mengikuti arus simbolik.

Maka marwah, dalam konteks ini, bukan lagi soal tampilan, tetapi soal sensitivitas terhadap keadaan bersama. Marwah yang otentik lahir ketika simbol selaras dengan situasi sosial, ketika gaya hidup selaras dengan empati, dan kebijakan selaras dengan keadilan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

Next Post

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co