12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam serangan pembukaan 28 Februari 2026. Sebuah sekolah dasar di Minab dihantam yang mengakibatkan168 anak tewas. Kini diselidiki Human Rights Watch sebagai kemungkinan kejahatan perang. Selat Hormuz praktis ditutup. Harga minyak Brent menembus $119 per barel. Putra Khamenei, Mojtaba, ditunjuk sebagai pengganti ayahnya.

Dan di mana Tiongkok dan Rusia, dua negara yang selama ini mengklaim diri sebagai penyeimbang hegemoni Amerika Serikat?

Moskow mengeluarkan kecaman. Beijing menyerukan penghentian operasi militer. Keduanya meminta sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Selesai. Tidak ada mobilisasi militer. Tidak ada ultimatum. Tidak ada konsekuensi nyata bagi Washington. Sebelas hari berlalu, dan yang berubah hanyalah jumlah korban.

Ini bukan persoalan taktis. Ini adalah bukti bahwa tatanan multipolar yang selama satu dekade digembar-gemborkan oleh poros Moskow-Beijing-Teheran tidak pernah benar-benar ada.

Multipolaritas yang Tidak Pernah Ada

Mari kita periksa faktanya. Rusia dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada Januari 2025. Tiongkok dan Iran memiliki perjanjian kerja sama 25 tahun. Ketiganya rutin menggelar latihan militer bersama, terakhir di Samudra Hindia pada akhir Februari, hanya beberapa hari sebelum serangan dimulai. Para pemimpin ketiga negara bahkan berkumpul di Beijing pada September 2025 dalam parade militer yang dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan bersama.

Semua itu ternyata tidak berarti apa-apa ketika bom benar-benar jatuh.

Rusia tidak punya kapasitas untuk bertindak. Perang Ukraina telah menguras habis sumber daya militernya. Putin sendiri bahkan tidak mengeluarkan pernyataan langsung, hanya Kementerian Luar Negerinya yang bicara. Ini bukan sekadar kehati-hatian diplomatik; ini adalah ketidakmampuan struktural. Rusia sedang memprioritaskan negosiasi dengan AS soal Ukraina, dan tidak akan mengorbankan posisi itu demi Teheran.

Yang lebih problematis: Moskow justru diuntungkan oleh perang ini. Lonjakan harga minyak global langsung mengalir ke kas negara Rusia yang bergantung pada ekspor energi untuk membiayai perangnya di Ukraina. Penderitaan Iran menjadi keuntungan ekonomi bagi sekutunya sendiri: sebuah kontradiksi yang sulit dibantah.

Beijing: Solidaritas Tanpa Ongkos

Kasus Tiongkok lebih menarik karena lebih kalkulatif. Beijing memiliki kepentingan material yang besar di Iran. Hampir seluruh ekspor minyak Iran berakhir di Tiongkok; sekitar 13% total impor minyak mentah via lautnya. Infrastruktur Belt and Road di Bandar Abbas terancam. Tiongkok sampai harus membatasi ekspor diesel dan gasolin domestik serta melarang ekspor rare earth untuk keperluan militer.

Tetapi semua respons itu bersifat protektif, bukan solidaristik. Beijing melindungi dirinya sendiri, bukan membela Teheran.

Mengapa? Karena ada kalkulasi yang lebih besar. KTT Trump-Xi dijadwalkan dalam waktu dekat. Perang dagang tarif sedang memanas. Tiongkok tidak akan mempertaruhkan ratusan miliar dolar hubungan dagangnya dengan Amerika demi Iran. Seorang analis dari National University of Singapore, Ja Ian Chong, mengatakan dengan tepat: Iran memang mitra lama Tiongkok, tetapi posisinya “jauh dan bukan sesuatu yang eksistensial” bagi Beijing.

Ini mengungkapkan sesuatu yang fundamental: multipolaritas versi Tiongkok hanya beroperasi di ruang yang aman; forum PBB, deklarasi bersama, retorika diplomatik. Ketika situasi menuntut tindakan nyata yang berisiko konfrontasi dengan Washington, Beijing mundur. Prinsip non-intervensi yang selama ini dijunjung tinggi berubah fungsi menjadi alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Ada yang berargumen bahwa Tiongkok dan Rusia sesungguhnya sudah “membantu” — melalui transfer teknologi sebelum perang, tekanan di DK PBB, dan embargo rare earth. Argumen ini justru memperjelas masalahnya. Memasok senjata sebelum perang lalu diam ketika perang tiba bukan solidaritas; itu investasi yang ditinggalkan. Pre-war enablement bukan wartime support.

Konsekuensinya serius. Jika dua anggota tetap DK PBB tidak mampu melindungi mitra strategis terdekat mereka, negara yang memiliki arsenal rudal balistik dan jaringan proksi regional, siapa lagi yang akan percaya pada jaminan keamanan multipolar? Semakin Tiongkok dan Rusia tidak bertindak, semakin lemah daya tarik tatanan alternatif yang mereka tawarkan. Secara paradoks, kelumpuhan mereka justru memperkuat posisi unilateralisme AS.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Pelajaran bagi Indonesia sangat konkret. Pertama, perang Iran langsung mengguncang posisi diplomatik Jakarta. Pemerintahan Prabowo telah menangguhkan partisipasi dalam Board of Peace bentukan Trump. Menlu Sugiono menyatakan semua diskusi “on hold.” Presiden Prabowo menawarkan mediasi ke Teheran dan tidak ada yang merespons. Dilema ini memperlihatkan betapa rapuhnya posisi Indonesia ketika mencoba berdiri di antara Washington dan krisis global.

Kedua, di tingkat ASEAN, respons kawasan memperlihatkan pola yang sudah terlalu familiar. Pernyataan bersama ASEAN memang menunjukkan keberanian tidak biasa: secara eksplisit menyatakan perang diinisiasi AS dan Israel. Tetapi di balik itu, Malaysia mengutuk keras sementara Filipina dan Singapura jauh lebih hati-hati. Fragmentasi ini bukan hal baru, tetapi dalam konteks krisis sebesar ini, ia menjadi semakin sulit dimaklumi.

Ketiga, dan ini yang paling langsung mengancam: pengalihan fokus militer AS ke Iran telah menurunkan sekitar 30% sortie pesawat pengintai Amerika di Laut China Selatan. Perang Iran bukan peristiwa yang jauh dari kita, ia langsung menggerus kehadiran militer AS di kawasan yang menjadi perhatian utama keamanan Indonesia.

Perang Iran 2026 membuktikan bahwa jaminan keamanan dari kekuatan besar mana pun, baik Barat maupun non-Barat, pada dasarnya bersyarat dan bisa ditarik kapan saja. Indonesia tidak bisa mendasarkan strategi keamanannya pada asumsi bahwa akan ada pihak lain yang melindungi kepentingannya. Yang dibutuhkan adalah apa yang saya sebut “kedaulatan strategis yang realistis”: penguatan kapasitas diplomatik sendiri, diversifikasi kemitraan, dan ketahanan energi domestik.

Tragedi Iran seharusnya bukan tontonan. Ia adalah peringatan. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: hubungan internasionalhukum internasionalperangperang Iransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Marwah yang Tak Terbeli

Next Post

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co