13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam serangan pembukaan 28 Februari 2026. Sebuah sekolah dasar di Minab dihantam yang mengakibatkan168 anak tewas. Kini diselidiki Human Rights Watch sebagai kemungkinan kejahatan perang. Selat Hormuz praktis ditutup. Harga minyak Brent menembus $119 per barel. Putra Khamenei, Mojtaba, ditunjuk sebagai pengganti ayahnya.

Dan di mana Tiongkok dan Rusia, dua negara yang selama ini mengklaim diri sebagai penyeimbang hegemoni Amerika Serikat?

Moskow mengeluarkan kecaman. Beijing menyerukan penghentian operasi militer. Keduanya meminta sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Selesai. Tidak ada mobilisasi militer. Tidak ada ultimatum. Tidak ada konsekuensi nyata bagi Washington. Sebelas hari berlalu, dan yang berubah hanyalah jumlah korban.

Ini bukan persoalan taktis. Ini adalah bukti bahwa tatanan multipolar yang selama satu dekade digembar-gemborkan oleh poros Moskow-Beijing-Teheran tidak pernah benar-benar ada.

Multipolaritas yang Tidak Pernah Ada

Mari kita periksa faktanya. Rusia dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada Januari 2025. Tiongkok dan Iran memiliki perjanjian kerja sama 25 tahun. Ketiganya rutin menggelar latihan militer bersama, terakhir di Samudra Hindia pada akhir Februari, hanya beberapa hari sebelum serangan dimulai. Para pemimpin ketiga negara bahkan berkumpul di Beijing pada September 2025 dalam parade militer yang dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan bersama.

Semua itu ternyata tidak berarti apa-apa ketika bom benar-benar jatuh.

Rusia tidak punya kapasitas untuk bertindak. Perang Ukraina telah menguras habis sumber daya militernya. Putin sendiri bahkan tidak mengeluarkan pernyataan langsung, hanya Kementerian Luar Negerinya yang bicara. Ini bukan sekadar kehati-hatian diplomatik; ini adalah ketidakmampuan struktural. Rusia sedang memprioritaskan negosiasi dengan AS soal Ukraina, dan tidak akan mengorbankan posisi itu demi Teheran.

Yang lebih problematis: Moskow justru diuntungkan oleh perang ini. Lonjakan harga minyak global langsung mengalir ke kas negara Rusia yang bergantung pada ekspor energi untuk membiayai perangnya di Ukraina. Penderitaan Iran menjadi keuntungan ekonomi bagi sekutunya sendiri: sebuah kontradiksi yang sulit dibantah.

Beijing: Solidaritas Tanpa Ongkos

Kasus Tiongkok lebih menarik karena lebih kalkulatif. Beijing memiliki kepentingan material yang besar di Iran. Hampir seluruh ekspor minyak Iran berakhir di Tiongkok; sekitar 13% total impor minyak mentah via lautnya. Infrastruktur Belt and Road di Bandar Abbas terancam. Tiongkok sampai harus membatasi ekspor diesel dan gasolin domestik serta melarang ekspor rare earth untuk keperluan militer.

Tetapi semua respons itu bersifat protektif, bukan solidaristik. Beijing melindungi dirinya sendiri, bukan membela Teheran.

Mengapa? Karena ada kalkulasi yang lebih besar. KTT Trump-Xi dijadwalkan dalam waktu dekat. Perang dagang tarif sedang memanas. Tiongkok tidak akan mempertaruhkan ratusan miliar dolar hubungan dagangnya dengan Amerika demi Iran. Seorang analis dari National University of Singapore, Ja Ian Chong, mengatakan dengan tepat: Iran memang mitra lama Tiongkok, tetapi posisinya “jauh dan bukan sesuatu yang eksistensial” bagi Beijing.

Ini mengungkapkan sesuatu yang fundamental: multipolaritas versi Tiongkok hanya beroperasi di ruang yang aman; forum PBB, deklarasi bersama, retorika diplomatik. Ketika situasi menuntut tindakan nyata yang berisiko konfrontasi dengan Washington, Beijing mundur. Prinsip non-intervensi yang selama ini dijunjung tinggi berubah fungsi menjadi alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Ada yang berargumen bahwa Tiongkok dan Rusia sesungguhnya sudah “membantu” — melalui transfer teknologi sebelum perang, tekanan di DK PBB, dan embargo rare earth. Argumen ini justru memperjelas masalahnya. Memasok senjata sebelum perang lalu diam ketika perang tiba bukan solidaritas; itu investasi yang ditinggalkan. Pre-war enablement bukan wartime support.

Konsekuensinya serius. Jika dua anggota tetap DK PBB tidak mampu melindungi mitra strategis terdekat mereka, negara yang memiliki arsenal rudal balistik dan jaringan proksi regional, siapa lagi yang akan percaya pada jaminan keamanan multipolar? Semakin Tiongkok dan Rusia tidak bertindak, semakin lemah daya tarik tatanan alternatif yang mereka tawarkan. Secara paradoks, kelumpuhan mereka justru memperkuat posisi unilateralisme AS.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Pelajaran bagi Indonesia sangat konkret. Pertama, perang Iran langsung mengguncang posisi diplomatik Jakarta. Pemerintahan Prabowo telah menangguhkan partisipasi dalam Board of Peace bentukan Trump. Menlu Sugiono menyatakan semua diskusi “on hold.” Presiden Prabowo menawarkan mediasi ke Teheran dan tidak ada yang merespons. Dilema ini memperlihatkan betapa rapuhnya posisi Indonesia ketika mencoba berdiri di antara Washington dan krisis global.

Kedua, di tingkat ASEAN, respons kawasan memperlihatkan pola yang sudah terlalu familiar. Pernyataan bersama ASEAN memang menunjukkan keberanian tidak biasa: secara eksplisit menyatakan perang diinisiasi AS dan Israel. Tetapi di balik itu, Malaysia mengutuk keras sementara Filipina dan Singapura jauh lebih hati-hati. Fragmentasi ini bukan hal baru, tetapi dalam konteks krisis sebesar ini, ia menjadi semakin sulit dimaklumi.

Ketiga, dan ini yang paling langsung mengancam: pengalihan fokus militer AS ke Iran telah menurunkan sekitar 30% sortie pesawat pengintai Amerika di Laut China Selatan. Perang Iran bukan peristiwa yang jauh dari kita, ia langsung menggerus kehadiran militer AS di kawasan yang menjadi perhatian utama keamanan Indonesia.

Perang Iran 2026 membuktikan bahwa jaminan keamanan dari kekuatan besar mana pun, baik Barat maupun non-Barat, pada dasarnya bersyarat dan bisa ditarik kapan saja. Indonesia tidak bisa mendasarkan strategi keamanannya pada asumsi bahwa akan ada pihak lain yang melindungi kepentingannya. Yang dibutuhkan adalah apa yang saya sebut “kedaulatan strategis yang realistis”: penguatan kapasitas diplomatik sendiri, diversifikasi kemitraan, dan ketahanan energi domestik.

Tragedi Iran seharusnya bukan tontonan. Ia adalah peringatan. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: hubungan internasionalhukum internasionalperangperang Iransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Marwah yang Tak Terbeli

Next Post

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co