2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
March 10, 2026
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

OPERATION Epic Fury sudah berjalan sebelas hari. Lebih dari 1.700 orang tewas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh dalam serangan pembukaan 28 Februari 2026. Sebuah sekolah dasar di Minab dihantam yang mengakibatkan168 anak tewas. Kini diselidiki Human Rights Watch sebagai kemungkinan kejahatan perang. Selat Hormuz praktis ditutup. Harga minyak Brent menembus $119 per barel. Putra Khamenei, Mojtaba, ditunjuk sebagai pengganti ayahnya.

Dan di mana Tiongkok dan Rusia, dua negara yang selama ini mengklaim diri sebagai penyeimbang hegemoni Amerika Serikat?

Moskow mengeluarkan kecaman. Beijing menyerukan penghentian operasi militer. Keduanya meminta sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Selesai. Tidak ada mobilisasi militer. Tidak ada ultimatum. Tidak ada konsekuensi nyata bagi Washington. Sebelas hari berlalu, dan yang berubah hanyalah jumlah korban.

Ini bukan persoalan taktis. Ini adalah bukti bahwa tatanan multipolar yang selama satu dekade digembar-gemborkan oleh poros Moskow-Beijing-Teheran tidak pernah benar-benar ada.

Multipolaritas yang Tidak Pernah Ada

Mari kita periksa faktanya. Rusia dan Iran menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada Januari 2025. Tiongkok dan Iran memiliki perjanjian kerja sama 25 tahun. Ketiganya rutin menggelar latihan militer bersama, terakhir di Samudra Hindia pada akhir Februari, hanya beberapa hari sebelum serangan dimulai. Para pemimpin ketiga negara bahkan berkumpul di Beijing pada September 2025 dalam parade militer yang dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan bersama.

Semua itu ternyata tidak berarti apa-apa ketika bom benar-benar jatuh.

Rusia tidak punya kapasitas untuk bertindak. Perang Ukraina telah menguras habis sumber daya militernya. Putin sendiri bahkan tidak mengeluarkan pernyataan langsung, hanya Kementerian Luar Negerinya yang bicara. Ini bukan sekadar kehati-hatian diplomatik; ini adalah ketidakmampuan struktural. Rusia sedang memprioritaskan negosiasi dengan AS soal Ukraina, dan tidak akan mengorbankan posisi itu demi Teheran.

Yang lebih problematis: Moskow justru diuntungkan oleh perang ini. Lonjakan harga minyak global langsung mengalir ke kas negara Rusia yang bergantung pada ekspor energi untuk membiayai perangnya di Ukraina. Penderitaan Iran menjadi keuntungan ekonomi bagi sekutunya sendiri: sebuah kontradiksi yang sulit dibantah.

Beijing: Solidaritas Tanpa Ongkos

Kasus Tiongkok lebih menarik karena lebih kalkulatif. Beijing memiliki kepentingan material yang besar di Iran. Hampir seluruh ekspor minyak Iran berakhir di Tiongkok; sekitar 13% total impor minyak mentah via lautnya. Infrastruktur Belt and Road di Bandar Abbas terancam. Tiongkok sampai harus membatasi ekspor diesel dan gasolin domestik serta melarang ekspor rare earth untuk keperluan militer.

Tetapi semua respons itu bersifat protektif, bukan solidaristik. Beijing melindungi dirinya sendiri, bukan membela Teheran.

Mengapa? Karena ada kalkulasi yang lebih besar. KTT Trump-Xi dijadwalkan dalam waktu dekat. Perang dagang tarif sedang memanas. Tiongkok tidak akan mempertaruhkan ratusan miliar dolar hubungan dagangnya dengan Amerika demi Iran. Seorang analis dari National University of Singapore, Ja Ian Chong, mengatakan dengan tepat: Iran memang mitra lama Tiongkok, tetapi posisinya “jauh dan bukan sesuatu yang eksistensial” bagi Beijing.

Ini mengungkapkan sesuatu yang fundamental: multipolaritas versi Tiongkok hanya beroperasi di ruang yang aman; forum PBB, deklarasi bersama, retorika diplomatik. Ketika situasi menuntut tindakan nyata yang berisiko konfrontasi dengan Washington, Beijing mundur. Prinsip non-intervensi yang selama ini dijunjung tinggi berubah fungsi menjadi alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Ada yang berargumen bahwa Tiongkok dan Rusia sesungguhnya sudah “membantu” — melalui transfer teknologi sebelum perang, tekanan di DK PBB, dan embargo rare earth. Argumen ini justru memperjelas masalahnya. Memasok senjata sebelum perang lalu diam ketika perang tiba bukan solidaritas; itu investasi yang ditinggalkan. Pre-war enablement bukan wartime support.

Konsekuensinya serius. Jika dua anggota tetap DK PBB tidak mampu melindungi mitra strategis terdekat mereka, negara yang memiliki arsenal rudal balistik dan jaringan proksi regional, siapa lagi yang akan percaya pada jaminan keamanan multipolar? Semakin Tiongkok dan Rusia tidak bertindak, semakin lemah daya tarik tatanan alternatif yang mereka tawarkan. Secara paradoks, kelumpuhan mereka justru memperkuat posisi unilateralisme AS.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Pelajaran bagi Indonesia sangat konkret. Pertama, perang Iran langsung mengguncang posisi diplomatik Jakarta. Pemerintahan Prabowo telah menangguhkan partisipasi dalam Board of Peace bentukan Trump. Menlu Sugiono menyatakan semua diskusi “on hold.” Presiden Prabowo menawarkan mediasi ke Teheran dan tidak ada yang merespons. Dilema ini memperlihatkan betapa rapuhnya posisi Indonesia ketika mencoba berdiri di antara Washington dan krisis global.

Kedua, di tingkat ASEAN, respons kawasan memperlihatkan pola yang sudah terlalu familiar. Pernyataan bersama ASEAN memang menunjukkan keberanian tidak biasa: secara eksplisit menyatakan perang diinisiasi AS dan Israel. Tetapi di balik itu, Malaysia mengutuk keras sementara Filipina dan Singapura jauh lebih hati-hati. Fragmentasi ini bukan hal baru, tetapi dalam konteks krisis sebesar ini, ia menjadi semakin sulit dimaklumi.

Ketiga, dan ini yang paling langsung mengancam: pengalihan fokus militer AS ke Iran telah menurunkan sekitar 30% sortie pesawat pengintai Amerika di Laut China Selatan. Perang Iran bukan peristiwa yang jauh dari kita, ia langsung menggerus kehadiran militer AS di kawasan yang menjadi perhatian utama keamanan Indonesia.

Perang Iran 2026 membuktikan bahwa jaminan keamanan dari kekuatan besar mana pun, baik Barat maupun non-Barat, pada dasarnya bersyarat dan bisa ditarik kapan saja. Indonesia tidak bisa mendasarkan strategi keamanannya pada asumsi bahwa akan ada pihak lain yang melindungi kepentingannya. Yang dibutuhkan adalah apa yang saya sebut “kedaulatan strategis yang realistis”: penguatan kapasitas diplomatik sendiri, diversifikasi kemitraan, dan ketahanan energi domestik.

Tragedi Iran seharusnya bukan tontonan. Ia adalah peringatan. [T]

Penulis: Elpeni Fitrah
Editor: Adnyana Ole

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Tags: hubungan internasionalhukum internasionalperangperang Iransolidaritas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Marwah yang Tak Terbeli

Next Post

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Tak Disangka Tak Terduga, Dari Kisah Gowaksa, “Wit Kawit” Antar ST Taruna Dharma Castra Juara I Kasanga Fest 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co