25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marwah yang Tak Terbeli

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam sejarah feodal, kita lihat kekuasaan memang harus tampak mewah. Raja tanpa istana yang megah pasti akan dianggap lemah. Penguasa tanpa simbol keagungan dianggap tidak layak dihormati.

Jadi, model ini memang masuk akal di zamannya. Wibawa dibangun dari adanya jarak. Rakyat diseting untuk harus merasa kecil agar kekuasaan terlihat besar.  Namun saudara, kita tidak lagi hidup di era kerajaan.  Kita hidup di era media sosial di mana, simbol tidak hanya dilihat, tapi juga di-screenshoot, di-capture, di-zoom, di-meme-kan, lalu diviralkan. Pokoknya jadi ke mana-mana.

Menariknya, ada yang viral ruang publik beberapa hari ini, tetiba kata “marwah” kembali dipanggil untuk membenarkan simbol semacam itu. Dalam tradisi Melayu dan Islam, marwah itu bukan main-main. Ini menyangkut tentang menjaga nama baik, menjaga integritas, menjaga keluhuran. Marwah juga dipahami sebagai wibawa, kehormatan, citra kolektif yang harus dijaga melalui representasi yang pantas. 

Tapi di republik algoritma ini, marwah kok mulai terdengar seperti aksesoris. Pengejawantahan marwah tiba-tiba berwujud mesin 3000 cc, jok kulit premium, dan angka 8 miliar rupiah.  Katanya demi menjaga marwah daerah. Apakah marwah memang identik dengan kemegahan?

Media Sosial Panggung Flexing Nasional

Marwah, sedikit berbeda dari martabat. Marwah lebih dekat pada kehormatan sosial, sesuatu yang hidup dalam persepsi kolektif. Ia berkaitan dengan citra, reputasi, dan cara suatu entitas dilihat oleh publik.  Karena itu, marwah memang bisa menyentuh simbol. Hanya saja, tidak otomatis lalu identik dengan kemewahan.

Di sinilah timbul masalahnya. Di zaman saat media sosial yang sudah mendarah daging ini, terciptalah ekonomi simbolik yang brutal. Yang viral di medsos bukan paparan kinerja yang penuh dedikasi. Yang sering viral adalah kemewahan, dan yang mewah adalah yang dianggap sukses.  Gaya hidup semacam ini sering kali lebih cepat menyebar dan lalu menular.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah bicara soal distinction, di mana manusia memakai simbol untuk menunjukkan posisi sosialnya. Di era digital, distinction ini bukan lagi hak kaum elite. Semua orang, termasuk kaum ekonomi sulit, bisa memamerkan simbol apapun yang mereka mau. Simbol yang melekat atau ditampilkan akan menjadi alat diferensiasi sosial.

Di era digital, diferensiasi itu ditampilkan terus menerus tanpa henti. Setiap hari masyarakat disuguhi representasi kemewahan sebagai tanda keberhasilan, tanda kesuksesan dan tanda kebahagiaan. Tak pelak, simbol kemewahan menjadi sangat kuat secara psikologis, karena menjanjikan mobilitas sosial, status, dan pengakuan.  Akibatnya, kembali lagi, marwah mudah tereduksi menjadi performa alias penampilan.

Maka, ketika masyarakat kita sekarang yang merasa hidup selalu dalam tekanan ekonomi, simbol kemewahan kemudian digunakan menjadi semacam pelarian imajinatif. Kita mungkin tidak bergelimang harta, tapi toh kita bisa menonton, dan seolah ikut mengalaminya. Karena cuma bisa menonton, akibatnya kita mungkin mencela kemewahan yang dihadirkan, tapi diam-diam terpesona juga.  Di titik inilah paradoks lahir.

Kita Benci Korupsi, tapi Kita Cinta Hasilnya

Seringkali kita temui di sekitar kita, masyarakat marah pada pejabat korup, lantas menggugat soal integritas. Tapi ketika melihat si kaya raya, jarang bertanya panjang soal asal-usulnya dari mana. Yang dilihat adalah hasil akhirnya yang hanya bikin kepingin.  Dan karena kepingin, jadi terasa ingin melihat terus. 

Ekonom Amerika Thorstein Veblen menyebut ini conspicuous consumption, suatu konsumsi untuk dipamerkan demi status. Semakin langka dan mahal, semakin tinggi daya pikatnya.  Jadi ketika pejabat tampil mewah, dalam benak publik akan muncul dua geliat. Sisi moral menilai seolah hal itu tidak pantas, tapi sisi aspiratif diam-diam punya cita-cita jadi figur yang diumpat itu. Sepertinya banyak dari kita semua ikut bermain dalam drama tanpa babak ini.

Serba sulit, karena memang kita sedang berada dalam situasi yang serba sensitif.  Kepercayaan publik terhadap elite politik itu seperti nilai saham yang sedang turun. Dalam situasi seperti ini, setiap gestur dibaca tajam.  Ketika ekonomi rakyat terasa berat, simbol kemewahan para elite menjadi sensitif bukan karena orang iri, tetapi karena ia terasa tidak empatik.  Lalu jika menyangkut soal kekuasasan, figur pemimpin, dan penguasa, akhirnya menyenggol soal legitimisai. 

Dalam teori legitimasi Max Weber, kekuasaan modern bertumpu pada rasionalitas dan kepercayaan. Bukan aura, bukan kemegahan. Jika legitimasi goyah, kemewahan bukan memperkuat wibawa. Ia justru mempercepat delegitimasi.  Karena di era demokrasi, kekuasaan tidak berdiri di atas jarak, tetapi di atas akuntabilitas.  Jika legitimasi melemah, simbol kemewahan tidak lagi memperkuat. Ia justru bisa memperlebar jarak psikologis antara pemimpin dan yang dipimpin.

Mungkin ini saatnya kita akui bahwa marwah lama yang berbasis kemegahan sudah kehilangan konteksnya. Di zaman krisis, marwah tidak lagi lahir dari jarak. Ia lahir dari kedekatan. Kesederhanaan di sini bukan romantisme, melainkam simbol solidaritas.  Dan ini bukan omong kosong idealis. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu menahan diri justru mendapatkan legitimasi lebih kuat daripada yang tampil superior.

Tentu sebagian kita masih ingat sosok Jenderal Hoegeng yang legendaris, yang teruji kesederhanaannya. Namun tentu saja, banyak juga yang memasang kesederhanaan sebagai kosmetik. Mobilnya sengaja yang biasa saja, tapi rekening luar biasa. Kalau yang begitu, itu bukan marwah baru, tapi personal branding.

Tapi Bukankah Kita Semua Juga Mengagumi Kemewahan?

Nah, ini bagian yang tidak enak. Kita sering berkata perubahan harus dimulai dari elite. Dan benar, karena secara struktural mereka punya daya lebih besar.  Namun elite pun membaca selera publik.  Kalau publik terus memberi panggung pada flexing, politik akan ikut flexing.  Kalau publik berhenti mengidolakan kemewahan sebagai ukuran sukses, simbol akan bergeser. 

Masalahnya, rasa-rasanya kita ini hidup dalam budaya yang kontradiktif. Para penbaca yang budiman, di sini saya boleh dikoreksi bila keliru. Jadi kita mencela korupsi, sekaligus mengagumi kekayaan. Menuntut integritas, tapi mengidolakan dan melanggengkan privilege. Ditambah lagi, media sosial dengan banjir kontennya, memperbesar kontradiksi itu setiap hari.

Jadi, Apakah Marwah Butuh Mesin 8 Miliar?Mari kita jawab blak-blakan saja tanpa retorika. Marwah bukan soal harga kendaraan, pun bukan soal suara sirine saat dikawal voorijder. Marwah adalah soal bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyatnya. Kalau kebijakan adil, transparan, dan berpihak, marwah terbangun bahkan dengan kendaraan sederhana.  Kalau kebijakan sifatnya elitis dan jauh dari rakyat, marwah tidak akan terselamatkan meski dibungkus jok kulit terbaik.

Jadi, kalau kita baca situasi kini, saat masyarakat sedang lelah secara ekonomi, kemewahan bukan lagi bahasa kehormatan, malahan jadi bahasa jarak.  Dan jarak, dalam demokrasi, selalu berbahaya. Jadi sebelum kita bertanya berapa cc mesin yang pantas untuk menjaga marwah, mungkin kita perlu bertanya hal yang lebih mendasar, apakah kehormatan itu datang dari apa yang kita pakai,
atau dari apa yang kita tahan untuk tidak pakai? Kalau marwah masih harus dibuktikan dengan benda, mungkin yang sedang kita jaga bukan kehormatan, melainkan gengsi. Dan gengsi, yang ada hubungannya dengan bensin, cepat sekali habis menguap, apalagi kalau cc nya besar.

Elite dan Tanggung Jawab Etis

Yang sedang kita lihat saat ini adalah sensitivitas moral yang meningkat. Publik lebih peka terhadap tanda-tanda ketidaksetaraan. Dalam situasi seperti ini, simbol kemewahan bisa dibaca bukan sebagai wibawa, tetapi sebagai ketidaksinkronan. Karena ruang publik sedang rapuh, maka tindakan simbolik memiliki bobot etis yang lebih besar. Bagaimana pun, beban moral tetap lebih berat di pundak mereka yang memegang kekuasaan. Sebab mereka memiliki kapasitas untuk memberi contoh, bukan sekadar mengikuti arus simbolik.

Maka marwah, dalam konteks ini, bukan lagi soal tampilan, tetapi soal sensitivitas terhadap keadaan bersama. Marwah yang otentik lahir ketika simbol selaras dengan situasi sosial, ketika gaya hidup selaras dengan empati, dan kebijakan selaras dengan keadilan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

Next Post

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co