4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marwah yang Tak Terbeli

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam sejarah feodal, kita lihat kekuasaan memang harus tampak mewah. Raja tanpa istana yang megah pasti akan dianggap lemah. Penguasa tanpa simbol keagungan dianggap tidak layak dihormati.

Jadi, model ini memang masuk akal di zamannya. Wibawa dibangun dari adanya jarak. Rakyat diseting untuk harus merasa kecil agar kekuasaan terlihat besar.  Namun saudara, kita tidak lagi hidup di era kerajaan.  Kita hidup di era media sosial di mana, simbol tidak hanya dilihat, tapi juga di-screenshoot, di-capture, di-zoom, di-meme-kan, lalu diviralkan. Pokoknya jadi ke mana-mana.

Menariknya, ada yang viral ruang publik beberapa hari ini, tetiba kata “marwah” kembali dipanggil untuk membenarkan simbol semacam itu. Dalam tradisi Melayu dan Islam, marwah itu bukan main-main. Ini menyangkut tentang menjaga nama baik, menjaga integritas, menjaga keluhuran. Marwah juga dipahami sebagai wibawa, kehormatan, citra kolektif yang harus dijaga melalui representasi yang pantas. 

Tapi di republik algoritma ini, marwah kok mulai terdengar seperti aksesoris. Pengejawantahan marwah tiba-tiba berwujud mesin 3000 cc, jok kulit premium, dan angka 8 miliar rupiah.  Katanya demi menjaga marwah daerah. Apakah marwah memang identik dengan kemegahan?

Media Sosial Panggung Flexing Nasional

Marwah, sedikit berbeda dari martabat. Marwah lebih dekat pada kehormatan sosial, sesuatu yang hidup dalam persepsi kolektif. Ia berkaitan dengan citra, reputasi, dan cara suatu entitas dilihat oleh publik.  Karena itu, marwah memang bisa menyentuh simbol. Hanya saja, tidak otomatis lalu identik dengan kemewahan.

Di sinilah timbul masalahnya. Di zaman saat media sosial yang sudah mendarah daging ini, terciptalah ekonomi simbolik yang brutal. Yang viral di medsos bukan paparan kinerja yang penuh dedikasi. Yang sering viral adalah kemewahan, dan yang mewah adalah yang dianggap sukses.  Gaya hidup semacam ini sering kali lebih cepat menyebar dan lalu menular.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah bicara soal distinction, di mana manusia memakai simbol untuk menunjukkan posisi sosialnya. Di era digital, distinction ini bukan lagi hak kaum elite. Semua orang, termasuk kaum ekonomi sulit, bisa memamerkan simbol apapun yang mereka mau. Simbol yang melekat atau ditampilkan akan menjadi alat diferensiasi sosial.

Di era digital, diferensiasi itu ditampilkan terus menerus tanpa henti. Setiap hari masyarakat disuguhi representasi kemewahan sebagai tanda keberhasilan, tanda kesuksesan dan tanda kebahagiaan. Tak pelak, simbol kemewahan menjadi sangat kuat secara psikologis, karena menjanjikan mobilitas sosial, status, dan pengakuan.  Akibatnya, kembali lagi, marwah mudah tereduksi menjadi performa alias penampilan.

Maka, ketika masyarakat kita sekarang yang merasa hidup selalu dalam tekanan ekonomi, simbol kemewahan kemudian digunakan menjadi semacam pelarian imajinatif. Kita mungkin tidak bergelimang harta, tapi toh kita bisa menonton, dan seolah ikut mengalaminya. Karena cuma bisa menonton, akibatnya kita mungkin mencela kemewahan yang dihadirkan, tapi diam-diam terpesona juga.  Di titik inilah paradoks lahir.

Kita Benci Korupsi, tapi Kita Cinta Hasilnya

Seringkali kita temui di sekitar kita, masyarakat marah pada pejabat korup, lantas menggugat soal integritas. Tapi ketika melihat si kaya raya, jarang bertanya panjang soal asal-usulnya dari mana. Yang dilihat adalah hasil akhirnya yang hanya bikin kepingin.  Dan karena kepingin, jadi terasa ingin melihat terus. 

Ekonom Amerika Thorstein Veblen menyebut ini conspicuous consumption, suatu konsumsi untuk dipamerkan demi status. Semakin langka dan mahal, semakin tinggi daya pikatnya.  Jadi ketika pejabat tampil mewah, dalam benak publik akan muncul dua geliat. Sisi moral menilai seolah hal itu tidak pantas, tapi sisi aspiratif diam-diam punya cita-cita jadi figur yang diumpat itu. Sepertinya banyak dari kita semua ikut bermain dalam drama tanpa babak ini.

Serba sulit, karena memang kita sedang berada dalam situasi yang serba sensitif.  Kepercayaan publik terhadap elite politik itu seperti nilai saham yang sedang turun. Dalam situasi seperti ini, setiap gestur dibaca tajam.  Ketika ekonomi rakyat terasa berat, simbol kemewahan para elite menjadi sensitif bukan karena orang iri, tetapi karena ia terasa tidak empatik.  Lalu jika menyangkut soal kekuasasan, figur pemimpin, dan penguasa, akhirnya menyenggol soal legitimisai. 

Dalam teori legitimasi Max Weber, kekuasaan modern bertumpu pada rasionalitas dan kepercayaan. Bukan aura, bukan kemegahan. Jika legitimasi goyah, kemewahan bukan memperkuat wibawa. Ia justru mempercepat delegitimasi.  Karena di era demokrasi, kekuasaan tidak berdiri di atas jarak, tetapi di atas akuntabilitas.  Jika legitimasi melemah, simbol kemewahan tidak lagi memperkuat. Ia justru bisa memperlebar jarak psikologis antara pemimpin dan yang dipimpin.

Mungkin ini saatnya kita akui bahwa marwah lama yang berbasis kemegahan sudah kehilangan konteksnya. Di zaman krisis, marwah tidak lagi lahir dari jarak. Ia lahir dari kedekatan. Kesederhanaan di sini bukan romantisme, melainkam simbol solidaritas.  Dan ini bukan omong kosong idealis. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu menahan diri justru mendapatkan legitimasi lebih kuat daripada yang tampil superior.

Tentu sebagian kita masih ingat sosok Jenderal Hoegeng yang legendaris, yang teruji kesederhanaannya. Namun tentu saja, banyak juga yang memasang kesederhanaan sebagai kosmetik. Mobilnya sengaja yang biasa saja, tapi rekening luar biasa. Kalau yang begitu, itu bukan marwah baru, tapi personal branding.

Tapi Bukankah Kita Semua Juga Mengagumi Kemewahan?

Nah, ini bagian yang tidak enak. Kita sering berkata perubahan harus dimulai dari elite. Dan benar, karena secara struktural mereka punya daya lebih besar.  Namun elite pun membaca selera publik.  Kalau publik terus memberi panggung pada flexing, politik akan ikut flexing.  Kalau publik berhenti mengidolakan kemewahan sebagai ukuran sukses, simbol akan bergeser. 

Masalahnya, rasa-rasanya kita ini hidup dalam budaya yang kontradiktif. Para penbaca yang budiman, di sini saya boleh dikoreksi bila keliru. Jadi kita mencela korupsi, sekaligus mengagumi kekayaan. Menuntut integritas, tapi mengidolakan dan melanggengkan privilege. Ditambah lagi, media sosial dengan banjir kontennya, memperbesar kontradiksi itu setiap hari.

Jadi, Apakah Marwah Butuh Mesin 8 Miliar?Mari kita jawab blak-blakan saja tanpa retorika. Marwah bukan soal harga kendaraan, pun bukan soal suara sirine saat dikawal voorijder. Marwah adalah soal bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyatnya. Kalau kebijakan adil, transparan, dan berpihak, marwah terbangun bahkan dengan kendaraan sederhana.  Kalau kebijakan sifatnya elitis dan jauh dari rakyat, marwah tidak akan terselamatkan meski dibungkus jok kulit terbaik.

Jadi, kalau kita baca situasi kini, saat masyarakat sedang lelah secara ekonomi, kemewahan bukan lagi bahasa kehormatan, malahan jadi bahasa jarak.  Dan jarak, dalam demokrasi, selalu berbahaya. Jadi sebelum kita bertanya berapa cc mesin yang pantas untuk menjaga marwah, mungkin kita perlu bertanya hal yang lebih mendasar, apakah kehormatan itu datang dari apa yang kita pakai,
atau dari apa yang kita tahan untuk tidak pakai? Kalau marwah masih harus dibuktikan dengan benda, mungkin yang sedang kita jaga bukan kehormatan, melainkan gengsi. Dan gengsi, yang ada hubungannya dengan bensin, cepat sekali habis menguap, apalagi kalau cc nya besar.

Elite dan Tanggung Jawab Etis

Yang sedang kita lihat saat ini adalah sensitivitas moral yang meningkat. Publik lebih peka terhadap tanda-tanda ketidaksetaraan. Dalam situasi seperti ini, simbol kemewahan bisa dibaca bukan sebagai wibawa, tetapi sebagai ketidaksinkronan. Karena ruang publik sedang rapuh, maka tindakan simbolik memiliki bobot etis yang lebih besar. Bagaimana pun, beban moral tetap lebih berat di pundak mereka yang memegang kekuasaan. Sebab mereka memiliki kapasitas untuk memberi contoh, bukan sekadar mengikuti arus simbolik.

Maka marwah, dalam konteks ini, bukan lagi soal tampilan, tetapi soal sensitivitas terhadap keadaan bersama. Marwah yang otentik lahir ketika simbol selaras dengan situasi sosial, ketika gaya hidup selaras dengan empati, dan kebijakan selaras dengan keadilan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

Next Post

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co