4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Marwah yang Tak Terbeli

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
March 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

MELALUI sejarah kita tahu bahwa dari zaman ke zaman, kekuasaan selalu memiliki semacam bahasa untuk menjelaskan wajah kekuasaan itu. Dalam sejarah feodal, kita lihat kekuasaan memang harus tampak mewah. Raja tanpa istana yang megah pasti akan dianggap lemah. Penguasa tanpa simbol keagungan dianggap tidak layak dihormati.

Jadi, model ini memang masuk akal di zamannya. Wibawa dibangun dari adanya jarak. Rakyat diseting untuk harus merasa kecil agar kekuasaan terlihat besar.  Namun saudara, kita tidak lagi hidup di era kerajaan.  Kita hidup di era media sosial di mana, simbol tidak hanya dilihat, tapi juga di-screenshoot, di-capture, di-zoom, di-meme-kan, lalu diviralkan. Pokoknya jadi ke mana-mana.

Menariknya, ada yang viral ruang publik beberapa hari ini, tetiba kata “marwah” kembali dipanggil untuk membenarkan simbol semacam itu. Dalam tradisi Melayu dan Islam, marwah itu bukan main-main. Ini menyangkut tentang menjaga nama baik, menjaga integritas, menjaga keluhuran. Marwah juga dipahami sebagai wibawa, kehormatan, citra kolektif yang harus dijaga melalui representasi yang pantas. 

Tapi di republik algoritma ini, marwah kok mulai terdengar seperti aksesoris. Pengejawantahan marwah tiba-tiba berwujud mesin 3000 cc, jok kulit premium, dan angka 8 miliar rupiah.  Katanya demi menjaga marwah daerah. Apakah marwah memang identik dengan kemegahan?

Media Sosial Panggung Flexing Nasional

Marwah, sedikit berbeda dari martabat. Marwah lebih dekat pada kehormatan sosial, sesuatu yang hidup dalam persepsi kolektif. Ia berkaitan dengan citra, reputasi, dan cara suatu entitas dilihat oleh publik.  Karena itu, marwah memang bisa menyentuh simbol. Hanya saja, tidak otomatis lalu identik dengan kemewahan.

Di sinilah timbul masalahnya. Di zaman saat media sosial yang sudah mendarah daging ini, terciptalah ekonomi simbolik yang brutal. Yang viral di medsos bukan paparan kinerja yang penuh dedikasi. Yang sering viral adalah kemewahan, dan yang mewah adalah yang dianggap sukses.  Gaya hidup semacam ini sering kali lebih cepat menyebar dan lalu menular.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah bicara soal distinction, di mana manusia memakai simbol untuk menunjukkan posisi sosialnya. Di era digital, distinction ini bukan lagi hak kaum elite. Semua orang, termasuk kaum ekonomi sulit, bisa memamerkan simbol apapun yang mereka mau. Simbol yang melekat atau ditampilkan akan menjadi alat diferensiasi sosial.

Di era digital, diferensiasi itu ditampilkan terus menerus tanpa henti. Setiap hari masyarakat disuguhi representasi kemewahan sebagai tanda keberhasilan, tanda kesuksesan dan tanda kebahagiaan. Tak pelak, simbol kemewahan menjadi sangat kuat secara psikologis, karena menjanjikan mobilitas sosial, status, dan pengakuan.  Akibatnya, kembali lagi, marwah mudah tereduksi menjadi performa alias penampilan.

Maka, ketika masyarakat kita sekarang yang merasa hidup selalu dalam tekanan ekonomi, simbol kemewahan kemudian digunakan menjadi semacam pelarian imajinatif. Kita mungkin tidak bergelimang harta, tapi toh kita bisa menonton, dan seolah ikut mengalaminya. Karena cuma bisa menonton, akibatnya kita mungkin mencela kemewahan yang dihadirkan, tapi diam-diam terpesona juga.  Di titik inilah paradoks lahir.

Kita Benci Korupsi, tapi Kita Cinta Hasilnya

Seringkali kita temui di sekitar kita, masyarakat marah pada pejabat korup, lantas menggugat soal integritas. Tapi ketika melihat si kaya raya, jarang bertanya panjang soal asal-usulnya dari mana. Yang dilihat adalah hasil akhirnya yang hanya bikin kepingin.  Dan karena kepingin, jadi terasa ingin melihat terus. 

Ekonom Amerika Thorstein Veblen menyebut ini conspicuous consumption, suatu konsumsi untuk dipamerkan demi status. Semakin langka dan mahal, semakin tinggi daya pikatnya.  Jadi ketika pejabat tampil mewah, dalam benak publik akan muncul dua geliat. Sisi moral menilai seolah hal itu tidak pantas, tapi sisi aspiratif diam-diam punya cita-cita jadi figur yang diumpat itu. Sepertinya banyak dari kita semua ikut bermain dalam drama tanpa babak ini.

Serba sulit, karena memang kita sedang berada dalam situasi yang serba sensitif.  Kepercayaan publik terhadap elite politik itu seperti nilai saham yang sedang turun. Dalam situasi seperti ini, setiap gestur dibaca tajam.  Ketika ekonomi rakyat terasa berat, simbol kemewahan para elite menjadi sensitif bukan karena orang iri, tetapi karena ia terasa tidak empatik.  Lalu jika menyangkut soal kekuasasan, figur pemimpin, dan penguasa, akhirnya menyenggol soal legitimisai. 

Dalam teori legitimasi Max Weber, kekuasaan modern bertumpu pada rasionalitas dan kepercayaan. Bukan aura, bukan kemegahan. Jika legitimasi goyah, kemewahan bukan memperkuat wibawa. Ia justru mempercepat delegitimasi.  Karena di era demokrasi, kekuasaan tidak berdiri di atas jarak, tetapi di atas akuntabilitas.  Jika legitimasi melemah, simbol kemewahan tidak lagi memperkuat. Ia justru bisa memperlebar jarak psikologis antara pemimpin dan yang dipimpin.

Mungkin ini saatnya kita akui bahwa marwah lama yang berbasis kemegahan sudah kehilangan konteksnya. Di zaman krisis, marwah tidak lagi lahir dari jarak. Ia lahir dari kedekatan. Kesederhanaan di sini bukan romantisme, melainkam simbol solidaritas.  Dan ini bukan omong kosong idealis. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu menahan diri justru mendapatkan legitimasi lebih kuat daripada yang tampil superior.

Tentu sebagian kita masih ingat sosok Jenderal Hoegeng yang legendaris, yang teruji kesederhanaannya. Namun tentu saja, banyak juga yang memasang kesederhanaan sebagai kosmetik. Mobilnya sengaja yang biasa saja, tapi rekening luar biasa. Kalau yang begitu, itu bukan marwah baru, tapi personal branding.

Tapi Bukankah Kita Semua Juga Mengagumi Kemewahan?

Nah, ini bagian yang tidak enak. Kita sering berkata perubahan harus dimulai dari elite. Dan benar, karena secara struktural mereka punya daya lebih besar.  Namun elite pun membaca selera publik.  Kalau publik terus memberi panggung pada flexing, politik akan ikut flexing.  Kalau publik berhenti mengidolakan kemewahan sebagai ukuran sukses, simbol akan bergeser. 

Masalahnya, rasa-rasanya kita ini hidup dalam budaya yang kontradiktif. Para penbaca yang budiman, di sini saya boleh dikoreksi bila keliru. Jadi kita mencela korupsi, sekaligus mengagumi kekayaan. Menuntut integritas, tapi mengidolakan dan melanggengkan privilege. Ditambah lagi, media sosial dengan banjir kontennya, memperbesar kontradiksi itu setiap hari.

Jadi, Apakah Marwah Butuh Mesin 8 Miliar?Mari kita jawab blak-blakan saja tanpa retorika. Marwah bukan soal harga kendaraan, pun bukan soal suara sirine saat dikawal voorijder. Marwah adalah soal bagaimana kekuasaan memperlakukan rakyatnya. Kalau kebijakan adil, transparan, dan berpihak, marwah terbangun bahkan dengan kendaraan sederhana.  Kalau kebijakan sifatnya elitis dan jauh dari rakyat, marwah tidak akan terselamatkan meski dibungkus jok kulit terbaik.

Jadi, kalau kita baca situasi kini, saat masyarakat sedang lelah secara ekonomi, kemewahan bukan lagi bahasa kehormatan, malahan jadi bahasa jarak.  Dan jarak, dalam demokrasi, selalu berbahaya. Jadi sebelum kita bertanya berapa cc mesin yang pantas untuk menjaga marwah, mungkin kita perlu bertanya hal yang lebih mendasar, apakah kehormatan itu datang dari apa yang kita pakai,
atau dari apa yang kita tahan untuk tidak pakai? Kalau marwah masih harus dibuktikan dengan benda, mungkin yang sedang kita jaga bukan kehormatan, melainkan gengsi. Dan gengsi, yang ada hubungannya dengan bensin, cepat sekali habis menguap, apalagi kalau cc nya besar.

Elite dan Tanggung Jawab Etis

Yang sedang kita lihat saat ini adalah sensitivitas moral yang meningkat. Publik lebih peka terhadap tanda-tanda ketidaksetaraan. Dalam situasi seperti ini, simbol kemewahan bisa dibaca bukan sebagai wibawa, tetapi sebagai ketidaksinkronan. Karena ruang publik sedang rapuh, maka tindakan simbolik memiliki bobot etis yang lebih besar. Bagaimana pun, beban moral tetap lebih berat di pundak mereka yang memegang kekuasaan. Sebab mereka memiliki kapasitas untuk memberi contoh, bukan sekadar mengikuti arus simbolik.

Maka marwah, dalam konteks ini, bukan lagi soal tampilan, tetapi soal sensitivitas terhadap keadaan bersama. Marwah yang otentik lahir ketika simbol selaras dengan situasi sosial, ketika gaya hidup selaras dengan empati, dan kebijakan selaras dengan keadilan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaanmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Imunisasi Terlewat, Campak Mengancam Anak

Next Post

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

Perang Iran dan Kebangkrutan Solidaritas Multipolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co