KETIKA kulkul dipukul, Kasanga Festival 2026 pun resmi dibuka di jantung Kota Denpasar. Hari itu, Jumat, 6 Maret 2026, tepat pukul 17.00 WITA, ribuan warga telah memadati kawasan Patung Catur Muka untuk menyaksikan pawai 16 ogoh-ogoh terbaik se-Kota Denpasar.
Festival tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Suci Nyepi itu dibuka oleh Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Tahun ini, Kasanga Festival mengusung tema “Jala Sidhi Shuvita”, yang bermakna memuliakan sumber air.
Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Wali Kota Denpasar bersama Wakil Wali Kota Denpasar ─ I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Denpasar ─ I Gusti Ngurah Gede, serta jajaran Forkopimda Kota Denpasar.

Tak lama setelah seremoni usai, perhatian penonton langsung tertuju pada iring-iringan ogoh-ogoh yang mulai bergerak dari depan Jayasabha, rumah jabatan Gubernur Bali. Sebanyak 16 ogoh-ogoh tampil dalam pawai ini. Karya-karya tersebut bukan sembarang pilihan. Mereka merupakan hasil seleksi dari total 223 peserta yang sebelumnya mengikuti tahapan penilaian.
Rute parade kali ini dirancang dengan konsep karnaval. Dari depan Jayasabha, iring-iringan ogoh-ogoh bergerak melingkari kawasan Catur Muka satu putaran, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan hingga berakhir di sisi selatan Lapangan Puputan Badung.
Sepanjang perjalanan itu, setiap seka teruna (kelompok) diwajibkan menampilkan atraksi. Artinya, pertunjukan tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi mengalir sepanjang rute pawai. Penonton yang berdiri di sepanjang jalan hingga di sudut-sudut persimpangan, mendapat kesempatan yang sama untuk menikmati penampilan para peserta.


Perwakilan dewan juri, I Gede Anom Ranuara, menegaskan bahwa penilaian memang dirancang berlangsung sepanjang rute tersebut.
“Juri akan menilai dari start sampai finish. Jika ada pelanggaran, termasuk orang di luar regu masuk barisan, bisa langsung dikenakan pengurangan nilai,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa aspek yang dinilai bukan hanya keindahan ogoh-ogoh. Disiplin peserta, kerapian barisan, hingga kesesuaian dengan revisi karya yang sebelumnya telah diberikan oleh tim kurator juga menjadi perhatian.
Satu per satu ogoh-ogoh pun kemudian tampil di hadapan publik Denpasar. Karya-karya tersebut berasal dari berbagai seka teruna (ST), di antaranya: ST. Cantika, Banjar Sedana Merta; ST. Yowana Sawitra, Banjar Abiantimbul; ST. Eka Dharma, Banjar Saih Peguyangan Kaja; ST. Sukarela, Banjar Kepisah Pedungan; ST. Satya Dharma, Banjar Pekandelan Sanur Kaja; ST. Yowana Kerta Yoga, Banjar Panti Gede; ST. Dharma Cita, Banjar Abiankapas Tengah; ST. Swastika, Banjar Pekambingan; ST. Dharma Santika, Banjar Tembawu Kelod; ST. Eka Cita, Banjar Abiankapas Kaja; ST. Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah Sidakarya; ST. Swadharmita, Banjar Ceramcam, Kesiman; ST. Dwi Tunggal, Banjar Antap, Panjer; ST. Bineka, Banjar Binoh Kelod; ST. Semadhi Dharma Putra, Banjar Poh Gading; serta ST. Mekar Sari, Banjar Kesambi, Kesiman Kertalangu.


Di antara barisan ogoh-ogoh itu, tampak figur-figur raksasa, manusia, hingga dewa-dewi yang diangkat dari kisah-kisah mitologi dan cerita rakyat Bali, yang disesuaikan dengan tema Kasanga Fest 2026. Setiap kelompok juga menambahkan koreografi penari, tabuhan baleganjur yang menghentak, serta permainan properti yang membuat pertunjukan semakin semarak.
Bagi Pemerintah Kota Denpasar, festival ini bukan sekadar tontonan. Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menyebut Kasanga Festival menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus memperkuat pelestarian budaya Bali.
Menurutnya, festival ini merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Kota Denpasar, Pasikian Yowana Kota Denpasar, serta berbagai pihak lainnya yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan budaya.
“Kasanga Festival menjadi wahana kreativitas tanpa batas bagi yowana Kota Denpasar sekaligus mendukung pembangunan kota berbasis budaya menuju Denpasar yang maju,” ujar Jaya Negara.


Jaya Negara juga menekankan bahwa kreativitas tersebut tetap harus berpegang pada konsep Satyam, Siwam, Sundaram — sebuah prinsip yang menekankan keseimbangan antara etika, logika, dan estetika.
Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar, Anak Agung Made Angga Harta Yana, menambahkan bahwa Kasanga Festival tahun ini tidak hanya menghadirkan parade ogoh-ogoh. Ia menuturkan, rangkaian kegiatan festival juga melibatkan berbagai kreativitas generasi muda dan masyarakat luas.
Selain pawai 16 ogoh-ogoh terbaik, festival turut diramaikan dengan penampilan 10 ogoh-ogoh dari TK/PAUD se-Kota Denpasar yang akan pentas pada 8 Maret 2026, lomba ogoh-ogoh mini, lomba sketsa, lomba tapel, lomba barong, lomba baleganjur ogoh-ogoh, serta diramaikan pula oleh 43 stan UMKM.


Angga menjelaskan bahwa tahun ini juga diperkenalkan format baru dalam sistem penilaian ogoh-ogoh, yakni melalui konsep pawai atau peed. Dengan cara ini, setiap peserta memiliki kesempatan menampilkan karya mereka secara maksimal sepanjang rute parade.
“Kasanga Festival diharapkan dapat menjadi ruang bertemunya berbagai kreativitas yang berkaitan dengan perayaan Nyepi, sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai kearifan lokal Bali,” ujar Angga.
Dukungan terhadap kreativitas para yowana juga diberikan melalui bantuan dana pembinaan. Kepala Bidang Tradisi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Denpasar, Ni Made Suniastari, menjelaskan bahwa setiap finalis 16 besar memperoleh dana pembinaan sebesar Rp30 juta.


Selain itu, enam karya terbaik nantinya akan mendapatkan tambahan hadiah. Juara I akan memperoleh Rp50 juta, juara II Rp40 juta, dan juara III Rp30 juta. Sementara juara harapan I, II, dan III masing-masing menerima Rp20 juta, Rp15 juta, dan Rp10 juta.
Selepas pawai, Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menyampaikan bahwa pelaksanaan Kasanga Festival tahun ini dinilai berjalan lebih baik dibanding sebelumnya.
“Kasanga Fest tahun ini berjalan lebih baik, dan selanjutnya akan kami evaluasi juga yang mana yang masih bisa diperbaiki,” ujarnya.
Ia juga menyinggung komitmen pemerintah kota untuk menerapkan konsep pengelolaan sampah selama festival.
“Seperti konsep awal, kita memiliki konsep Zero Waste, jadi festival besar harus bisa mengelola sampah sendiri, langsung dari sumbernya,” kata Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa dengan tegas. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:




























