24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
in Cerpen
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran Raka Wiratama. Usianya hampir tujuh puluh, rambutnya memutih rapi, dan suaranya berat seperti pintu kayu jati yang sering dibuka-tutup tanpa pernah benar-benar diganti. Ia menjabat sebagai Kepala Dinas Tata Ruang di kota fiktif Suryanata, sebuah kota yang lebih sering membanggakan baliho pembangunan daripada hasil pembangunannya sendiri.

Orang-orang memanggilnya “Pak Raka” dengan nada hormat yang kaku. Ia sudah terlalu lama berada di kursi itu—dua periode wali kota silih berganti, tetapi ia tetap bertahan. Sebagian bilang karena pengalaman, sebagian lagi berbisik karena jaringan.

Raka Wiratama bukanlah orang jahat. Ia tidak pernah tertangkap tangan menerima suap. Ia tidak hidup mewah. Rumahnya sederhana, mobil dinasnya jarang diganti. Tetapi ada satu hal yang lebih berbahaya dari kejahatan terang-terangan, ketidakmampuan yang dibiarkan tumbuh dalam diam.

Di ruang kerjanya yang berpendingin udara, Raka sering duduk lama menatap peta kota. Ia memegang penggaris besi dan pensil mekanik, menggambar garis-garis lurus yang menurutnya rapi dan rasional. Jalan harus lurus, katanya. Drainase harus mengikuti pola lama. Ia tidak pernah percaya pada istilah-istilah baru seperti “kota berkelanjutan”, “smart city”, atau “resiliensi iklim”.

“Itu bahasa seminar,” gumamnya suatu sore, ketika seorang staf muda mencoba menjelaskan konsep pengelolaan air berbasis ekosistem. “Kota ini sudah berdiri sebelum kalian lahir.”

Staf muda itu bernama samaran Aruna Pradipta, lulusan perencanaan wilayah dari universitas ternama. Ia kembali ke Suryanata dengan semangat memperbaiki kampung halamannya. Dalam pikirannya, tata ruang bukan sekadar garis di peta, melainkan napas bagi warga. Ia membawa data curah hujan lima belas tahun terakhir, proyeksi perubahan iklim, dan rancangan sistem drainase terpadu.

Namun di hadapan Raka, semua itu seperti berbicara pada tembok yang penuh foto-foto lama.

“Kita sudah punya masterplan tahun 1998,” kata Raka sambil mengetuk map biru yang sudutnya mulai menguning. “Tinggal dijalankan dengan konsisten.”

Aruna ingin berkata bahwa dunia sudah berubah sejak 1998. Bahwa pola hujan tak lagi sama. Bahwa betonisasi tanpa ruang hijau hanya menunggu waktu untuk menjadi bencana. Tetapi ia belajar cepat bahwa di kantor itu, konsistensi lebih dihargai daripada relevansi.

Musim hujan datang lebih awal tahun itu. Hujan turun deras selama tiga hari berturut-turut. Sungai kecil yang melintasi Suryanata meluap, dan air menggenangi kawasan padat penduduk di bagian utara kota.

Warga berteriak di media sosial. Video anak-anak mengungsi dengan ember dan karung beras menjadi viral. Wartawan mengepung kantor dinas.

Di ruang rapat, Raka duduk dengan wajah datar. Di hadapannya, para kepala bidang sibuk menyalahkan faktor cuaca.

“Curah hujan ekstrem,” kata salah satu staf senior.

“Fenomena alam,” tambah yang lain.

Aruna membuka laptopnya dan memproyeksikan peta baru. “Pak, wilayah yang tergenang ini sebenarnya sudah kita tandai sebagai kawasan rawan banjir. Tapi tahun lalu izin pembangunan perumahan tetap keluar.”

Raka mengerutkan dahi. “Itu keputusan kolektif.”

“Rekomendasi teknis dari tim kami sebenarnya menolak, Pak,” lanjut Aruna pelan. “Saluran airnya tidak memadai.”

Raka terdiam sejenak. Bukan karena merasa bersalah, tetapi karena merasa digugat. Dalam benaknya, keputusan yang sudah ditandatangani adalah keputusan yang harus dibela.

“Kita tidak bisa menghentikan investasi hanya karena kemungkinan,” katanya tegas. “Kalau terlalu hati-hati, kota ini tidak akan maju.”

Kata “maju” melayang di udara seperti jargon yang kehilangan makna.

Di rumahnya, Raka sering duduk sendirian di beranda. Istrinya telah wafat lima tahun lalu. Anak-anaknya tinggal di kota lain. Ia merasa kesepian, meski tidak pernah mengakuinya.

Kadang-kadang ia membuka album foto lama: masa mudanya sebagai insinyur penuh idealisme. Ia pernah turun langsung ke lapangan, mengukur tanah dengan sepatu bot berlumpur. Ia pernah berdebat keras dengan kontraktor yang mencoba mengurangi kualitas material.

Tetapi waktu mengubah banyak hal. Ketika ia naik jabatan, pekerjaannya berubah dari mengukur tanah menjadi menandatangani berkas. Dari memeriksa saluran air menjadi menghadiri rapat-rapat protokoler.

Ia mulai percaya bahwa pengalaman panjang adalah jaminan kebenaran. Bahwa yang muda harus belajar diam sebelum bicara.

Ia tidak sadar bahwa yang ia pertahankan bukan lagi prinsip, melainkan kebiasaan.

Banjir kedua datang dua bulan kemudian. Kali ini lebih parah. Rumah sakit tergenang. Sekolah diliburkan. Wali kota memanggil seluruh pejabat terkait untuk rapat darurat.

Di ruang besar dengan meja oval mengilap, suasana tegang. Wali kota—sebut saja bima Santosa—berusia jauh lebih muda dari Raka. Ia paham citra politiknya dipertaruhkan.

“Pak Raka,” katanya dengan suara terukur, “kenapa kita selalu reaktif? Kenapa tidak ada mitigasi yang jelas?”

Raka menjawab dengan kalimat normatif: “Kami sudah bekerja sesuai rencana strategis. Banjir ini di luar perkiraan.”

Aruna, yang duduk di baris belakang, menggenggam map berisi revisi tata ruang yang belum pernah disetujui. Ia merasa seperti menyaksikan pengulangan kesalahan yang sama.

Setelah rapat, Bima memanggil Raka secara pribadi.

“Kita butuh pembaruan,” kata wali kota itu. “Tim muda harus diberi ruang.”

Raka tersenyum tipis. “Anak-anak itu terlalu teoritis. Kota ini tidak bisa dijalankan dengan idealisme saja.”

Bima tidak langsung menjawab. Ia tahu Raka punya jaringan kuat di birokrasi. Menggesernya bukan perkara mudah.

Di kantor, ketegangan terasa makin nyata. Aruna dan beberapa staf muda mulai berdiskusi di luar jam kerja. Mereka menyusun proposal revisi tata ruang berbasis data terbaru. Mereka tidak ingin sekadar mengkritik; mereka ingin menawarkan solusi.

Suatu sore, Aruna memberanikan diri masuk ke ruang Raka.

“Pak, boleh saya bicara sebentar?”

Raka mengangguk tanpa menatap.

“Kita bisa tetap mempertahankan investasi, tapi dengan syarat yang lebih ketat. Kita perlu ruang terbuka hijau minimal tiga puluh persen di kawasan baru. Dan sistem drainase harus terintegrasi.”

Raka meletakkan kacamatanya. “Aruna, kamu pintar. Tapi kamu harus belajar realitas. Investor tidak suka terlalu banyak syarat.”

“Kalau kota ini tenggelam setiap tahun, siapa yang mau investasi, Pak?”

Kalimat itu seperti menampar pelan, tetapi cukup keras untuk membuat Raka tersinggung.

“Kamu terlalu emosional,” katanya dingin. “Saya sudah puluhan tahun di sini.”

Aruna menunduk, tetapi bukan karena kalah. Ia sadar bahwa yang ia hadapi bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan tembok ego.

Waktu berjalan. Tekanan publik makin kuat. Media lokal mulai menulis tajuk rencana tentang buruknya perencanaan kota. Nama dinas disebut berulang-ulang.

Di tengah semua itu, Raka merasa dunia yang ia kenal perlahan retak. Ia mulai mendengar bisik-bisik di koridor: tentang regenerasi, tentang evaluasi kinerja, tentang kemungkinan mutasi.

Suatu malam, hujan kembali turun. Tidak sederas sebelumnya, tetapi cukup membuatnya gelisah. Ia menyalakan televisi dan melihat laporan langsung dari kawasan utara kota. Seorang ibu tua menangis di depan rumahnya yang kembali tergenang.

“Setiap tahun begini,” kata perempuan itu di layar. “Kami capek.”

Raka mematikan televisi. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang salah bukan hanya pada cuaca.

Ia teringat peta-peta yang diabaikan. Rekomendasi yang ia tunda. Usulan-usulan yang ia sebut terlalu teoritis.

Ia sadar, mungkin selama ini ia tidak korup dalam arti uang, tetapi ia korup dalam arti tanggung jawab.

Beberapa minggu kemudian, wali kota mengumumkan pembentukan tim evaluasi independen untuk meninjau ulang tata ruang Suryanata. Nama Aruna termasuk di dalamnya.

Raka dipanggil ke kantor wali kota. Kali ini tanpa banyak basa-basi.

“Kita butuh perubahan struktur,” kata Bima. “Saya ingin Bapak fokus sebagai penasihat senior. Posisi kepala dinas akan diisi orang baru.”

Kalimat itu terdengar halus, tetapi maknanya jelas: Raka harus turun.

Ia tidak marah. Ia juga tidak tersenyum. Hanya ada rasa hampa yang sulit dijelaskan.

Di luar kantor, langit cerah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berjalan tanpa dikawal staf.

Hari terakhirnya sebagai kepala dinas berlangsung sederhana. Tidak ada perayaan besar. Hanya serah terima jabatan dan foto bersama.

Aruna berdiri di barisan depan. Ketika semua orang bubar, ia mendekat.

“Terima kasih atas bimbingannya, Pak,” katanya tulus.

Raka menatapnya lama. “Jangan ulangi kesalahan saya,” ujarnya pelan.

Aruna terkejut. “Kesalahan, Pak?”

Raka mengangguk. “Jangan terlalu lama duduk di kursi yang sama. Kursi itu membuat kita lupa berdiri.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan pengakuan.

Beberapa bulan setelah pensiun, Raka sering berjalan ke taman kota yang dulu hanya ada di atas kertas. Kini taman itu benar-benar dibangun—bagian dari revisi tata ruang baru. Ada kolam retensi, pepohonan rindang, dan jalur pejalan kaki.

Ia duduk di bangku kayu, memperhatikan anak-anak berlari. Kota itu belum sempurna. Banjir belum sepenuhnya hilang. Tetapi ada arah baru yang mulai terlihat.

Raka sadar bahwa inkompetensi tidak selalu berbentuk kebodohan. Kadang ia lahir dari kesombongan yang halus: merasa sudah cukup tahu, sudah cukup lama, sudah cukup benar.

Ia pernah menjadi insinyur idealis. Lalu menjadi pejabat yang defensif. Kini ia hanya seorang kakek yang belajar lagi menjadi warga biasa.

Di bawah langit Suryanata yang perlahan membiru, ia memahami satu hal yang terlambat ia sadari ketika masih berkuasa: jabatan bukanlah bukti kemampuan, melainkan amanah yang harus terus diperbarui oleh kerendahan hati.

Dan mungkin, di situlah awal dari kompetensi yang sesungguhnya. [T]

Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

Next Post

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

Muhammad Khairu Rahman

Muhammad Khairu Rahman

Mahasiswa Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Tatanegara, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co