26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hakikat Selamat dan Kiat-Kiat Menyelamatkan Leher

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 27, 2026
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

WAJAHNYA merah seperti para pemabuk yang setiap malam berteriak di depan rumah orang. Kepalanya menggelayut dan tangannya mengibas-ngibas seperti ikan yang menggelepar di tanah. Kedua kaki Grudug diikat di plafon Balai Banjar sehingga ia tampak seperti kelelawar kesiangan. Tapi, bagi anak-anak yang datang mengerubunginya sambil menunjuk-nunjuk, berbisik-bisik, bahkan tertawa kecil, Grudug adalah penampil sirkus.

Rasanya sudah jelas, tapi tak ada yang tahu pasti siapa yang mengikatnya. Setiap orang enggan bertanya. Bedanya dengan anak-anak begitu jelas, orang tua dan muda hanya melihat, kadang melirik, ada pula yang mengamati dari jauh, tapi semuanya akan kembali pada urusan masing-masing. Peristiwa itu seolah-olah memang mesti begitu–tak usah ditanyakan lagi, apalagi dijelaskan. Tentu semua orang tahu, desa ini selalu memiliki tempat khusus bagi orang-orang seperti Grudug, yaitu langit-langit Balai Banjar.

Jujur saja, aku tidak terkejut. Bahkan, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat. Sekarang atau nanti. Hari ini atau besok. Hal ini terjadi karena kebodohannya sendiri. Kalau aku bisa membisikinya sebelum ini terjadi, maka aku akan berkata: “Diam saja, tak usah banyak tingkah!”

Ia menantang lelaki berlengan paha yang tingginya hampir dua kali lipat tubuh Grudug, lelaki yang namanya cukup disebut dengan nada pelan, atau hanya dengan gerakan mata. “Ia cari mati!” bisik warga yang melihat tingkah Grudug.

Lelaki kekar berkepala botak itu adalah preman kampung. Namanya Pan Dalem. Ia preman kampung, pejudi, dan kini, kepala desa. Tubuhnya berat, dompetnya berat, dan pengaruhnya pun sangat berat. Ia biasa menghambur-hamburkan uang di arena sabung ayam hanya untuk menyebar sesuatu yang jauh lebih berharga dari kemenangan ayam jantan.

***

Nah! menjadi seorang pemain sabung ayam memiliki keuntungan yang tak dimiliki orang seperti Grudug. Pejudi memiliki banyak teman, orang kaya memiliki kuasa, dan Pan Dalem memiliki keduanya. Maka, suatu hari pastilah orang-orangnya bisa menjadi pelindung, pasukan, bahkan algojo. Algojo! Jika Grudug memiliki satu banjar pasukan, tentu itu tak cukup untuk dibandingkan dengan Pan Dalem, karena Pan Dalem memiliki lebih dari itu.

Sial kepalang sial, Pan Dalem juga murah hati. Paling tidak begitulah imbuhan mitos mengenai dirinya. Hal ini bisa dilacak, sebab ia biasa memberi uang dua ratus ribu hanya untuk seseorang yang membawa ayam-ayamnya dari parkiran mobil ke arena sabung ayam: dua ratus ribu untuk pekerjaan yang selesai dalam hitungan menit. Tentu sesederhana itu. Pan Dalem tahu persis bahwa uang itu adalah kecambah yang kelak tumbuh menjadi sesuatu.

Cerita tentang Pan Dalem menjalar seperti akar ketapang: dari pembawa ayam ke pejudi lain, dari pejudi ke pedagang lawar, dari pedagang lawar ke tukang parkir, lalu kembali lagi ke tempat asalnya. Nah…ketika cerita itu kembali, ia akan berbentuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang tentu saja diharapkan oleh Pan Dalem. Kadang, sesuatu itu tumbuh lebih dari apa yang ia harapkan. Ketika ia mendengar mitos tentang dirinya, ia akan tersenyum, lalu pura-pura malu.

“Katanya, Pan Dalem itu sakti.”

“Ya… Katanya, dia biasa terbang setiap malam Kajeng Kliwon.”

“Ya… ya… ya…! Katanya, dia bisa mendengar orang yang membisiki namanya tiga kali.”

Di titik itu, tak penting lagi dari mana cerita itu berasal. Pan Dalem pun tak peduli dengan itu. Tapi semua orang tahu cerita itu. Cukup! Sesungguhnya, sampai pada titik itu, Pan Dalem bukanlah  manusia biasa di mata orang-orang. Ia sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, membesar, makin besar, dan Pan Dalem menyukainya.

Sialnya, Grudug melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Grudug hanyalah tamatan kuliah dan pengangguran. Apa yang bisa diharapkan? Siapa yang percaya? Tubuhnya kecil, suaranya melengking, dan selalu terasa terlalu keras. Ia memang pembaca buku, pengagum tokoh-tokoh tertentu–sekali lagi–sialnya, ia percaya bahwa pengetahuan akan mengubah banyak hal. Benturan itu normal. Pukul-pukulan itu wajar. Tapi, tentu dia salah tempat! Apa artinya pintar jika bisa dikeroyok? Apa artinya pintar jika lengan besar Pan Dalem sudah bertindak? Dan, apa artinya pintar jika kekuasaan tak mengharapkan itu?

***

Kisah ini bermula ketika baliho Pan Dalem muncul seperti jamur setelah hujan di seluruh sudut desa. Kepala mengkilap Pan Dalem begitu mentereng. Senyumnya yang bagi Grudug mengada-ada terpampang jelas di perempatan desa: tinggi, angkuh, dan terlalu percaya diri. Ketika itu, Pan Dalem mencalonkan diri sebagai kepala desa. Grudug menggerutu setelah tahu bahwa lawan Pan Dalem adalah anak buahnya sendiri. Semua orang pun tahu hasil akhirnya.

“Kita dirugikan!” kata Grudug di Bale Banjar waktu itu.

Semua orang diam. Grudug berdiri tapi tubuhnya tetap tampak terlalu kecil di kerumunan itu. Dan, suaranya yang melengking terasa memenuhi ruangan. Tapi aku tahu bahwa dia terlalu keras. Dasar anak muda! Dia belum tahu hakikat selamat.

“Penjudi, preman, dan pembunuh tidak boleh menjadi pemimpin! Mereka akan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri!” Lanjut Grudug.

Tidak hanya itu, ia juga bicara panjang tentang pajak, kekuasaan, dan bagaimana rakyat bekerja tapi pemimpin menikmati hasilnya–ia bicara perbudakan modern, ia bicara penindasan, dan banyak hal lain yang tidak sungguh-sungguh dipahami Pan Dalem.

Ketika Grudug bicara berkobar-kobar, terdengar suara kursi terseret. Dari satu kursi, satu lagi, lagi, dan lagi hingga kursi di sekelilingnya mulai kosong. Orang-orang menjauh. Seolah mereka berkata, “Jangan ciprati aku dengan kebodohanmu!” Akhirnya, Grudug berada di tengah lingkaran seperti titik kecil yang cerewet dan membandel. Pan Dalem tetap duduk sambil tersenyum, namun dadanya naik turun dengan cepat.

“Jika ingin mengkritik,” katanya pelan, “kritik saja asal beretika.”

Sendiri bukanlah hal yang menguntungkan. Sejak hari itu, Grudug menjadi bahan pembicaraan. Dalam imajinasinya sendiri, ia muncul sebagai orang yang biasa ia baca dalam buku-buku biografi: sepertinya ia yakin bahwa kebenaran tak pernah bisa langsung diterima, tapi tetap saja, orang mengenalnya sebagai orang bodoh, tak tahu tempat, tak tahu etika, terlalu memaksakan idealismenya.

Sebagai warga banjar–jangan ragu–aku tentu berada di barisan warga. Hehehe. Aku tak punya alasan untuk berdiri di dekat Grudug, lebih-lebih bersamanya. Itu bahaya. Aku punya keluarga, dan aku berharap selamat di tengah carut marut ini. “Orang-orang seperti Grudug, paling kalau dipilih jadi pejabat akan sama saja.” Kata-kata ini selalu aku bisiki dalam hati seperti mengucap mantra untuk menghilangkan keraguan dan perasaan bersalahku. Siapa yang bisa kita harapkan hari ini? Aku punya leher yang harus diselamatkan. Dia juga sedang membuat sesuatu untuk dirinya. Aku yakin, dia berkepentingan! Tapi…

“Kok, rasa-rasanya Grudug ada benarnya, ya?” bisikku.

Sial! Pamanku langsung menatap tajam begitu mendengar bisikan itu.

“Kau tahu uang perbaikan sanggah kemulan dari mana?”

“I… iya… dari Pan Dalem.”

“Kau tahu bekalmu dari mana?”

Diam memang lebih baik. Menjawab pasti salah dalam posisi itu karena aku tahu jawabannya. Maka, sekali lagi, selamatkan leher masing-masing: Diam!

***

Sejak saat itu, aku berusaha memahami dunia dengan cara “ngikut-ngikut”. Sebab kebenaran adalah kesepakatan, dan kesepakatan bisa dibentuk oleh kebiasaan dan kekuasaan. Melawannya berarti melawan orang banyak, melawan tetangga, melawan keluarga, melawan warga. Sistem ini begitu besar dan canggih untuk dilanggar dan diubah.

Tapi ini tak benar! Rasanya ada sesuatu yang bertempur dalam kepalaku. Tapi… ya… dunia tidak berjalan di jalur yang benar sebagaimana benar yang dijabarkan Grudug. Jika kita berjalan di jalur yang aman, ya, kita menang dengan cara yang lugu. Tapi, aku merasa bersalah dalam posisi ini. Ah… Grudug tak paham siapa yang kuat! Dia naif! Dia bodoh! Dia tak sadar sedang berdiri sendiri sementara semua orang di sekitarnya siap memenggal kepalanya kapan saja!

Grudug mana paham hal-hal seperti itu. Tapi, ia terus berbicara: di warung kopi, di jalan-jalan, di mana saja ada orang yang bersedia atau terpaksa mendengarnya. Hingga aku sendiri merasa bingung atas mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang kotor, dan mana yang bersih. Mana yang luka, mana yang bebal. Mana yang celaka, mana yang pasrah. Mana yang sesal, mana yang umpat. Mana yang sinting, mana yang gila. Mana yang hanyut, mana yang kekal. Mana yang roboh, mana yang kokoh. Mana yang jujur, mana yang jilat. Mana yang cara, mana yang bunuh diri.

Ia tetap bicara; terus dan bertambah lantang; sedikit dan tak pernah berhenti; melebar dan menggangguku. Ia berbicara tentang pajak, ia bicara tentang pejabat. Ia bicara tentang bagaimana rakyat diperas secara legal, dijual secara terang-terangan oleh pemerintah, dibudak dengan cara paling halus dalam sejarah penjajahan. Semua orang berkepentingan. Dunia bergerak dari kepentingan. Sebagaimana aku memikirkan keluarga. Tapi yang benar akan terkubur. Yang benar akan hilang.

Meskipun aku merasa ia ada benarnya, tapi aku tahu kebenaran tak selalu berguna untuk selamat. Paling tidak di tempat ini! Di tempat ini, bergerombol adalah kebenaran. Di tempat ini kebenaran tidak bisa memperbaiki sanggah kemulan, tidak bisa dipakai membeli susu bayi, tidak bisa dipakai membayar iuran BPJS, tidak bisa dipakai bayar samsat motor. Kebenaran tidak bisa memberi makan keluarga. Kebenaran tidak bisa melindungi leher seseorang di tengah malam.

Soal perbudakan, Grudug menyandingkan ini dengan kerja yang tak ada habisnya namun dibayar murah. Di sisi lain, lingkungan menuntut kita untuk selalu belanja: membeli motor, membeli hp, membeli kuota, membeli listrik, membeli gas, membeli air minum… Air minum! Membeli pakaian, membeli sandal-sepatu, membeli topi, membeli jasa guru, membeli jasa parkir, membeli jasa masak, membeli jasa laundry, membeli jasa salon. Semua mahal kecuali gaji kita.

Kita hidup dalam sistem yang membuat kita terperas. Aku pernah tertawa mendengar itu. Tapi, kau tahu, tawa itu terasa ganjil, hingga Grudug tergantung di Balai Banjar. Tubuhnya bergerak pelan, mengikuti hembusan angin pagi. Anak-anak masih melihatnya. Orang-orang masih lewat tanpa berhenti. Dan aku, sebagaimana kau, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini memang sewajarnya terjadi. Tapi, apa yang tersisa di masa depan kelak dengan diam ini? [T]

Penulis: Agus Wiratama
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikritik sosialManusia Balirefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

‘Maplalianan’ di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak SD Asyik Membuat Bola Kasti Berbahan Janur

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
‘Maplalianan’ di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak SD Asyik Membuat Bola Kasti Berbahan Janur

'Maplalianan' di Bulan Bahasa Bali 2026: Anak-anak SD Asyik Membuat Bola Kasti Berbahan Janur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co