6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 26, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Tiada lembah tiada gunung, Tiada kota tiada dusun, Suaramu terdengar merayu, Mengantarkan lagu-lagu.
Baik siang maupun malam, Baik suka maupun duka, Kau arungi gelombang suara, Kau hampiri pendengarmu. Dikau penyiar pujaan pendengarmu, Suaramu …sungguh merdu (
lirik lagu ”Balada Penyiar”, Bimbo)

Tidak semua orang hidup lewat wajah. Sebagian manusia hidup lewat suara, dan karenanya, mereka belajar menerima kesepian sebagai profesi. Di bilangan Jakarta Selatan, pada dekade 1980-an, ketika kota belum sepenuhnya gaduh dan malam masih punya ruang untuk diam, ada seorang penyiar radio yang setiap hari mengantar orang-orang melewati sepi mereka.

Dia adalah Gilang, ia tiba sebelum waktunya, duduk lima belas menit lebih awal, membuka koran, menandai berita, membaca tangga lagu, mendengarkan radio pesaing. Semua dilakukan dalam senyap. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada salam pembuka selain lampu merah kecil bertuliskan ON AIR. Begitu lampu itu menyala, ia menjadi ada. Begitu lampu itu mati, ia kembali tak bernama.

Walter Benjamin pernah menulis bahwa pengalaman modern kehilangan kedalaman, karena terlalu banyak direproduksi. Radio analog, dengan segala keterbatasannya, justru melawan itu. Ia tidak bisa diulang sesuka hati. Ia menuntut kehadiran. Jika pendengar lengah, suara itu pergi. Maka radio menciptakan keintiman yang rapuh, dan karena rapuh, ia menjadi bermakna.

Sebagai penyiar, Gilang tahu satu hal sejak awal: dirinya tidak boleh hadir sebagai tubuh. Ia hanya boleh hadir sebagai suara. Pendengarnya tak boleh tahu wajahnya, rumahnya, atau kelelahan yang ia sembunyikan di balik nada tenang. Dalam dunia radio, suara adalah identitas, sekaligus penjara.

Ia belajar mengatur napas seperti seorang penyanyi, memilih kata seperti seorang penyair, dan menekan emosi seperti seorang aktor panggung. Tidak boleh salah ucap. Tidak boleh ralat. Tidak boleh memutar lagu yang sama dua kali. Disiplin radio adalah disiplin asketik, seperti biara kecil di tengah kota.

Seperti kata Martin Heidegger, manusia modern sering terjatuh dalam das Man, kehidupan yang mekanis dan seragam. Namun di ruang siaran itu, penyiar justru berusaha mempertahankan kehadiran autentik lewat suara yang jujur, hangat, dan personal.

Kini, dunia dikuasai wajah. Kamera. Gestur. Algoritma. Media sosial menuntut tubuh untuk tampil terus-menerus. Eksistensi diukur dari visibility, bukan makna. Seperti dikritik Jean-Paul Sartre, manusia modern terancam hidup dalam bad faith, menjadi sesuatu demi pengakuan orang lain, bukan karena panggilan eksistensialnya.

Penyiar radio lama bekerja terbalik dari itu. Ia hadir tanpa ingin dilihat. Ia berbicara tanpa berharap dikenal. Ia mencintai pendengarnya tanpa pernah disentuh balik. Dalam bahasa Albert Camus, penyiar radio adalah figur Sisifus modern: setiap hari mendorong batu suara ke udara, tahu bahwa batu itu akan jatuh dan hilang, namun tetap melakukannya, dan justru di sanalah martabatnya.

Profesi yang paling setia pada kehadiran justru terpinggirkan di zaman visual hari ini.

Ironisnya, justru dari ruang sempit itulah ia menjadi intim bagi banyak orang. Ada ibu-ibu yang memasak sambil menunggu suaranya. Ada sopir malam yang menyetel radio agar tak tertidur. Ada mahasiswa yang jatuh cinta bukan pada wajah, melainkan pada intonasi. Mereka memanggilnya dengan sapaan akrab, seolah ia duduk di sebelah mereka. Padahal, ia selalu sendirian.

Kesepian penyiar radio bukan kesepian karena tak ada orang, melainkan kesepian karena terlalu banyak orang yang membutuhkan dirinya, tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Sesekali, kesepian itu bocor ke dunia nyata, dalam acara Kopi Darat. Di aula atau gedung pertemuan, para pendengar datang dengan wajah-wajah penuh antusiasme. Mereka tertawa, berfoto, memeluknya seperti selebritas.

Gilang merasa ganjil: suaranya lebih dikenal daripada tubuhnya. Dalam kerumunan itu, ia justru merasa asing, seperti sedang memerankan diri sendiri. Cinta, dalam hidup penyiar radio, adalah sesuatu yang harus diatur.

Ada aturan tak tertulis: pacar tidak boleh masuk studio saat siaran. Seakan-akan cinta adalah gangguan, dan mikrofon cemburu pada kehadiran manusia lain. Maka ia belajar mencintai dari jauh, lewat suara, lewat lagu-lagu yang ia pilihkan untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.

Ia paling bahagia ketika ditugaskan mewawancarai penyanyi baru. Studio rekaman menjadi ruang di mana harapan masih berbau pita kaset. Produser menyelipkan amplop, penyanyi tersenyum dengan gugup, dan lagu-lagu lahir dengan doa agar diputar berkali-kali. Ia tahu sebagian lagu itu akan hilang, seperti suara di udara, sekali lewat, tak bisa digenggam.

Radio mengajarkannya satu pelajaran paling kejam sekaligus paling indah: segala yang kita berikan pada orang lain bisa sangat bermakna, meski tak pernah tinggal lama. Suatu malam, ia tak siaran. Sakit.

Telepon stasiun berdering. Pendengar bertanya. Lagu-lagu terasa kelabu. Untuk pertama kalinya, ia berada di sisi seberang, sebagai pendengar. Dari radio kecil di kamar, ia mendengarkan suara lain mengisi jamnya. Ia sadar, betapa mudahnya suara digantikan, dan betapa rapuhnya eksistensi yang hanya bertumpu pada udara.

Di udara, hilang suaramu. Di udara, terasa kelam. Ia tak marah. Ia hanya mengerti: penyiar radio hidup di antara kehadiran dan ketiadaan. Selama ia berbicara, ia ada. Begitu ia diam, ia lenyap.

Barangkali itulah sebabnya, suara penyiar radio selalu terdengar lembut, karena ia tahu, setiap kata bisa menjadi yang terakhir, setiap lagu bisa menjadi perpisahan kecil.

Dan ketika suatu hari ia benar-benar berhenti siaran, bukan karena sakit, tapi karena waktu, tak ada upacara. Tak ada perpisahan resmi. Hanya udara yang kembali kosong, dan seseorang di suatu malam berkata pelan:

“Suara itu… kok sudah tidak ada lagi, ya?”  Radio tidak menyimpan suara.

Ia hanya meminjamkannya. Dan para penyiar, sejak awal, telah merelakan dirinya untuk hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupmodernitaspenyiar radioradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Lontar di Jembrana: I Ketut Arnyana Simpan 28 Cakep dan Tika Kuno

Next Post

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co