16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
February 26, 2026
in Esai
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Surat untuk mama Reti
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi dulu
Jangan menangis ya mama
Mama saya pergi dulu
Tidak perlu mama menangis, mencari, atau merindukan saya
Selamat tinggal mama”

Pesan tersebut bukan puisi, melainkan isi dari surat yang ditemukan pada 29 Januari 2026 di dekat bocah yang sudah tidak bernyawa dan tergantung di salah satu ranting pohon cengkeh di NTT. Bocah tersebut berusia 10 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk mempunyai pikiran mengakhiri hidupnya sendiri. Jalan hidupnya masih panjang, dan ia seharusnya dapat menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain tanpa memikirkan beban-beban berat yang dipikulnya sendiri.

Tragedi ini membuat saya tersadar bahwa ada hal yang harus diperhatikan dalam realitas masyarakat di Indonesia. Jika benar negeri ini tidak ada masalah, dan jika benar rakyat Indonesia itu rakyat yang bahagia, bukan kata saya tapi kata pemimpin negara ini sih, maka kasus seperti ini perlu dipertanyakan. Apa yang membuat bocah 10 tahun mempunyai niat untuk mengakhiri hidupnya? Seberapa besar permasalahan yang dihadapinya?

Suicidal Thought dalam Diri Seorang Bocah Berusia 10 Tahun?

Bagaimana mungkin seorang bocah 10 tahun mempunyai pikiran untuk bunuh diri di dalam kepalanya? Tentunya hal ini merupakan kejanggalan dalam realita yang perlu dicaritahu lebih lanjut. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi keinginannya untuk bunuh diri?

Melihat tragedi ini, saya mengacu pada pendapat Emile Durkheim yang melihat fenomena bunuh diri bukan sebagai tindakan individual belaka. Bagi Durkheim, bunuh diri merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh “kekuatan” dari luar diri, atau faktor eksternal, seperti lemahnya integrasi dan regulasi sosial yang hidup di dalam masyarakat. Dalam Suicide yang ditulis oleh Durkheim pada 1987, fenomena bunuh diri dibagi ke dalam empat tipe:

  1. Egoistik: Bunuh diri yang disebabkan oleh terlalu sedikitnya integrasi sosial yang berhasil dilakukan seseorang dengan kelompok sosial. Bunuh diri ini biasanya terjadi karena seseorang terlalu mengisolasi dirinya sendiri dan menghindari diri untuk bergaul dengan banyak orang.
  2. Altruistik: Bunuh diri yang terjadi akibat integrasi sosial yang terlalu kuat sehingga individu akan mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Contoh dari bunuh diri ini seperti pasukan kamikaze dari Jepang yang memang melakukan misi bunuh diri untuk kepentingan negara.
  3. Anomik: Bunuh diri yang dilakukan ketika tatanan, regulasi, hukum, serta aturan moralitas sosial mengalami kekosongan.
  4. Fatalistik: Bunuh diri yang terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat menekan individu. Sehingga individu akan bunuh diri karena tekanan dari nilai atau norma tersebut.

Lalu, bunuh diri seperti apa yang terjadi dalam kasus bocah 10 tahun ini? Ia bukan anak yang mengisolasi dirinya, ia juga tidak mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Yang mungkin terjadi dalam dirinya adalah bunuh diri akibat kebijakan di negara inin yang payah, dan tuntutan nilai-nilai dari faktor eksternal. Karena banyak berita yang menuliskan bahwa alasan dibalik bunuh diri dari sang bocah adalah kebutuhan buku dan alat tulis yang tidak dipenuhi oleh ibunya. Jadi dapat dikatakan bahwa tekanan karena “standar” yang harus dipenuhi itulah yang membuatnya mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Kemiskinan Struktural dan Sistem Pendidikan Yang Miris

Seorang bocah mengakhiri hidupnya karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan alat tulis? Bukankah ini suatu ironi yang menunjukkan kenyataan bahwa kemiskinan struktural masih terjadi. Ditambah sistem pendidikan di negara ini masih perlu dipertanyakan. Jika tekanan-tekanan eksternal dapat menyebabkan seorang bocah bunuh diri, apa benar rakyat Indonesia adalah rakyat yang bahagia?

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kita perlu menerima bahwa kemiskinan di Indonesia masih menjadi sumber bagi masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. Ditambah lagi kemiskinan yang terjadi bukan sekadar faktor internal melainkan kemiskinan yang terjadi secara struktural. Kemiskinan terjadi karena sistem, kebijakan, dan aturan-aturan dari para elit yang menyebabkan kesengsaraan bagi kaum massa. Hal ini juga yang akhirnya menyebabkan tekanan-tekanan bagi kaum kelas bawah. Belum lagi ditambah standar-standar dari masyarakat yang harus dicapai agar “kenaikan derajat” dapat terjadi, contoh kecilnya adalah pendidikan.

Namun, kenyataannya, sistem pendidikan di negara ini pun belum sepenuhnya dapat membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural. Yang terjadi pada kenyataannya adalah sistem pendidikan yang malah menambah beban bagi para murid, terutama murid yang berasal dair kalangan bawah, karena tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi. Bukan sekadar standar nilai, tetapi murid-murid harus memenuhi biaya-biaya lain untuk dapat mendapat akses ke pendidikan. Selain biaya sekolah dan biaya gedung, terkadang sekolah menarik uang dari para murid untuk biaya-biaya yang tidak terduga. Tidak seperti pendapat Paulo Freire bahwa “Education is liberation,” kenyataannya, pendidikan di Indonesia tidak sepenuhnya membebaskan.

MBG Hanyalah Kemenangan Palsu

Melalui tragedi yang terjadi di NTT ini, dapat dilihat, bahwa urgensi sebenarnya di negara ini adalah sistem pendidikan yang miris dan kemiskinan struktural yang masih menjangkiti banyak daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan, kasus bunuh diri anak yang terjadi di Indonesia bukan hanya sekali terjadi. Data KPAI sendiri mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023-2025, sudah ada 116 yang memutuskan mengkahiri hidupnya sendiri. Hal ini sungguh mengkhawatirkan karena di tahun 2023, terdapat 46 kasus bunuh diri dengan rentang usia 10-17 tahun. Di tahun 2024, terjadi 43 kasus dengan rentang usia 13-17 tahun. Dan pada tahun 2025, 27 kasus bunuh diri anak terjadi dengan rentang usia 11-18 tahun.

Fenomena bunuh diri anak ini pun muncul karena banyak faktor yang melatarbelakangi. Mulai dari pengaruh game online hingga depresi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor-faktor eksternal yang dapat memberi tekanan terhadap anak di Indonesia. Dan seharusnya masyarakat dan para elit dapat membuka mata bahwa yang menjadi urgensi saat ini ialah sistem yang hidup dalam masyarakat. Dan seharusnya dana yang dialokasikan bagi masyarakat bukan diwujudkan dalam bentuk makanan gratis karena masyarakat membutuhkan lebih dari makanan gratis itu sendiri. Bagi saya, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat agar kasus-kasus speerti ini dapat dicegah adalah:

  1. Penyediaan lapangan kerja yang lebih luas: Dengan lapangan kerja yang lebih luas, kemiskinan struktural dapat dicegah. Dan ketika kemisikinan struktural yang hilang, anak-anak tidak perlu khawatir akan kebutuhan belajar mereka yang tidak terpenuhi.
  2. Alokasi dana untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar: Jika memang lapangan kerja masih belum tercukupi, setidaknya jangan sampai anak-anak mengkhawatirkan ketidakmampuan orang tua mereka untuk membelikan fasilitas belajar mereka. Seharusnya sekolah sendiri perlu diberi dana untuk menyediakan setidaknya buku, dan alat-alat sekolah secara gratis bagi murid-muridnya.
  3. Ruang konseling bagi anak-anak di sekolah yang diaktifkan secara rutin: Guru BK Bimbingan Konseling) bukanlah guru yang bertugas menghukum murid nakal belaka. Mereka seharusnya hadir untuk mendengarkan setiap keluh kesah para murid, baik yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Karena perlu diingat kembali bahwa salah satu faktor bunuh diri anak adalah depresi. Jika guru memang pengganti orang tua di sekolah, maka seharusnya mereka juga siap untuk mendengarkan setiap permasalahan dan beban yang dialami oleh para muridnya. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakkemiskinanNTT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Next Post

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails
Next Post
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co