30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
February 26, 2026
in Esai
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Surat untuk mama Reti
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi dulu
Jangan menangis ya mama
Mama saya pergi dulu
Tidak perlu mama menangis, mencari, atau merindukan saya
Selamat tinggal mama”

Pesan tersebut bukan puisi, melainkan isi dari surat yang ditemukan pada 29 Januari 2026 di dekat bocah yang sudah tidak bernyawa dan tergantung di salah satu ranting pohon cengkeh di NTT. Bocah tersebut berusia 10 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk mempunyai pikiran mengakhiri hidupnya sendiri. Jalan hidupnya masih panjang, dan ia seharusnya dapat menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain tanpa memikirkan beban-beban berat yang dipikulnya sendiri.

Tragedi ini membuat saya tersadar bahwa ada hal yang harus diperhatikan dalam realitas masyarakat di Indonesia. Jika benar negeri ini tidak ada masalah, dan jika benar rakyat Indonesia itu rakyat yang bahagia, bukan kata saya tapi kata pemimpin negara ini sih, maka kasus seperti ini perlu dipertanyakan. Apa yang membuat bocah 10 tahun mempunyai niat untuk mengakhiri hidupnya? Seberapa besar permasalahan yang dihadapinya?

Suicidal Thought dalam Diri Seorang Bocah Berusia 10 Tahun?

Bagaimana mungkin seorang bocah 10 tahun mempunyai pikiran untuk bunuh diri di dalam kepalanya? Tentunya hal ini merupakan kejanggalan dalam realita yang perlu dicaritahu lebih lanjut. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi keinginannya untuk bunuh diri?

Melihat tragedi ini, saya mengacu pada pendapat Emile Durkheim yang melihat fenomena bunuh diri bukan sebagai tindakan individual belaka. Bagi Durkheim, bunuh diri merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh “kekuatan” dari luar diri, atau faktor eksternal, seperti lemahnya integrasi dan regulasi sosial yang hidup di dalam masyarakat. Dalam Suicide yang ditulis oleh Durkheim pada 1987, fenomena bunuh diri dibagi ke dalam empat tipe:

  1. Egoistik: Bunuh diri yang disebabkan oleh terlalu sedikitnya integrasi sosial yang berhasil dilakukan seseorang dengan kelompok sosial. Bunuh diri ini biasanya terjadi karena seseorang terlalu mengisolasi dirinya sendiri dan menghindari diri untuk bergaul dengan banyak orang.
  2. Altruistik: Bunuh diri yang terjadi akibat integrasi sosial yang terlalu kuat sehingga individu akan mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Contoh dari bunuh diri ini seperti pasukan kamikaze dari Jepang yang memang melakukan misi bunuh diri untuk kepentingan negara.
  3. Anomik: Bunuh diri yang dilakukan ketika tatanan, regulasi, hukum, serta aturan moralitas sosial mengalami kekosongan.
  4. Fatalistik: Bunuh diri yang terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat menekan individu. Sehingga individu akan bunuh diri karena tekanan dari nilai atau norma tersebut.

Lalu, bunuh diri seperti apa yang terjadi dalam kasus bocah 10 tahun ini? Ia bukan anak yang mengisolasi dirinya, ia juga tidak mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Yang mungkin terjadi dalam dirinya adalah bunuh diri akibat kebijakan di negara inin yang payah, dan tuntutan nilai-nilai dari faktor eksternal. Karena banyak berita yang menuliskan bahwa alasan dibalik bunuh diri dari sang bocah adalah kebutuhan buku dan alat tulis yang tidak dipenuhi oleh ibunya. Jadi dapat dikatakan bahwa tekanan karena “standar” yang harus dipenuhi itulah yang membuatnya mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Kemiskinan Struktural dan Sistem Pendidikan Yang Miris

Seorang bocah mengakhiri hidupnya karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan alat tulis? Bukankah ini suatu ironi yang menunjukkan kenyataan bahwa kemiskinan struktural masih terjadi. Ditambah sistem pendidikan di negara ini masih perlu dipertanyakan. Jika tekanan-tekanan eksternal dapat menyebabkan seorang bocah bunuh diri, apa benar rakyat Indonesia adalah rakyat yang bahagia?

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kita perlu menerima bahwa kemiskinan di Indonesia masih menjadi sumber bagi masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. Ditambah lagi kemiskinan yang terjadi bukan sekadar faktor internal melainkan kemiskinan yang terjadi secara struktural. Kemiskinan terjadi karena sistem, kebijakan, dan aturan-aturan dari para elit yang menyebabkan kesengsaraan bagi kaum massa. Hal ini juga yang akhirnya menyebabkan tekanan-tekanan bagi kaum kelas bawah. Belum lagi ditambah standar-standar dari masyarakat yang harus dicapai agar “kenaikan derajat” dapat terjadi, contoh kecilnya adalah pendidikan.

Namun, kenyataannya, sistem pendidikan di negara ini pun belum sepenuhnya dapat membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural. Yang terjadi pada kenyataannya adalah sistem pendidikan yang malah menambah beban bagi para murid, terutama murid yang berasal dair kalangan bawah, karena tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi. Bukan sekadar standar nilai, tetapi murid-murid harus memenuhi biaya-biaya lain untuk dapat mendapat akses ke pendidikan. Selain biaya sekolah dan biaya gedung, terkadang sekolah menarik uang dari para murid untuk biaya-biaya yang tidak terduga. Tidak seperti pendapat Paulo Freire bahwa “Education is liberation,” kenyataannya, pendidikan di Indonesia tidak sepenuhnya membebaskan.

MBG Hanyalah Kemenangan Palsu

Melalui tragedi yang terjadi di NTT ini, dapat dilihat, bahwa urgensi sebenarnya di negara ini adalah sistem pendidikan yang miris dan kemiskinan struktural yang masih menjangkiti banyak daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan, kasus bunuh diri anak yang terjadi di Indonesia bukan hanya sekali terjadi. Data KPAI sendiri mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023-2025, sudah ada 116 yang memutuskan mengkahiri hidupnya sendiri. Hal ini sungguh mengkhawatirkan karena di tahun 2023, terdapat 46 kasus bunuh diri dengan rentang usia 10-17 tahun. Di tahun 2024, terjadi 43 kasus dengan rentang usia 13-17 tahun. Dan pada tahun 2025, 27 kasus bunuh diri anak terjadi dengan rentang usia 11-18 tahun.

Fenomena bunuh diri anak ini pun muncul karena banyak faktor yang melatarbelakangi. Mulai dari pengaruh game online hingga depresi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor-faktor eksternal yang dapat memberi tekanan terhadap anak di Indonesia. Dan seharusnya masyarakat dan para elit dapat membuka mata bahwa yang menjadi urgensi saat ini ialah sistem yang hidup dalam masyarakat. Dan seharusnya dana yang dialokasikan bagi masyarakat bukan diwujudkan dalam bentuk makanan gratis karena masyarakat membutuhkan lebih dari makanan gratis itu sendiri. Bagi saya, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat agar kasus-kasus speerti ini dapat dicegah adalah:

  1. Penyediaan lapangan kerja yang lebih luas: Dengan lapangan kerja yang lebih luas, kemiskinan struktural dapat dicegah. Dan ketika kemisikinan struktural yang hilang, anak-anak tidak perlu khawatir akan kebutuhan belajar mereka yang tidak terpenuhi.
  2. Alokasi dana untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar: Jika memang lapangan kerja masih belum tercukupi, setidaknya jangan sampai anak-anak mengkhawatirkan ketidakmampuan orang tua mereka untuk membelikan fasilitas belajar mereka. Seharusnya sekolah sendiri perlu diberi dana untuk menyediakan setidaknya buku, dan alat-alat sekolah secara gratis bagi murid-muridnya.
  3. Ruang konseling bagi anak-anak di sekolah yang diaktifkan secara rutin: Guru BK Bimbingan Konseling) bukanlah guru yang bertugas menghukum murid nakal belaka. Mereka seharusnya hadir untuk mendengarkan setiap keluh kesah para murid, baik yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Karena perlu diingat kembali bahwa salah satu faktor bunuh diri anak adalah depresi. Jika guru memang pengganti orang tua di sekolah, maka seharusnya mereka juga siap untuk mendengarkan setiap permasalahan dan beban yang dialami oleh para muridnya. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakkemiskinanNTT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Next Post

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co