17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
February 26, 2026
in Esai
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Surat untuk mama Reti
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi dulu
Jangan menangis ya mama
Mama saya pergi dulu
Tidak perlu mama menangis, mencari, atau merindukan saya
Selamat tinggal mama”

Pesan tersebut bukan puisi, melainkan isi dari surat yang ditemukan pada 29 Januari 2026 di dekat bocah yang sudah tidak bernyawa dan tergantung di salah satu ranting pohon cengkeh di NTT. Bocah tersebut berusia 10 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk mempunyai pikiran mengakhiri hidupnya sendiri. Jalan hidupnya masih panjang, dan ia seharusnya dapat menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain tanpa memikirkan beban-beban berat yang dipikulnya sendiri.

Tragedi ini membuat saya tersadar bahwa ada hal yang harus diperhatikan dalam realitas masyarakat di Indonesia. Jika benar negeri ini tidak ada masalah, dan jika benar rakyat Indonesia itu rakyat yang bahagia, bukan kata saya tapi kata pemimpin negara ini sih, maka kasus seperti ini perlu dipertanyakan. Apa yang membuat bocah 10 tahun mempunyai niat untuk mengakhiri hidupnya? Seberapa besar permasalahan yang dihadapinya?

Suicidal Thought dalam Diri Seorang Bocah Berusia 10 Tahun?

Bagaimana mungkin seorang bocah 10 tahun mempunyai pikiran untuk bunuh diri di dalam kepalanya? Tentunya hal ini merupakan kejanggalan dalam realita yang perlu dicaritahu lebih lanjut. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi keinginannya untuk bunuh diri?

Melihat tragedi ini, saya mengacu pada pendapat Emile Durkheim yang melihat fenomena bunuh diri bukan sebagai tindakan individual belaka. Bagi Durkheim, bunuh diri merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh “kekuatan” dari luar diri, atau faktor eksternal, seperti lemahnya integrasi dan regulasi sosial yang hidup di dalam masyarakat. Dalam Suicide yang ditulis oleh Durkheim pada 1987, fenomena bunuh diri dibagi ke dalam empat tipe:

  1. Egoistik: Bunuh diri yang disebabkan oleh terlalu sedikitnya integrasi sosial yang berhasil dilakukan seseorang dengan kelompok sosial. Bunuh diri ini biasanya terjadi karena seseorang terlalu mengisolasi dirinya sendiri dan menghindari diri untuk bergaul dengan banyak orang.
  2. Altruistik: Bunuh diri yang terjadi akibat integrasi sosial yang terlalu kuat sehingga individu akan mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Contoh dari bunuh diri ini seperti pasukan kamikaze dari Jepang yang memang melakukan misi bunuh diri untuk kepentingan negara.
  3. Anomik: Bunuh diri yang dilakukan ketika tatanan, regulasi, hukum, serta aturan moralitas sosial mengalami kekosongan.
  4. Fatalistik: Bunuh diri yang terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat menekan individu. Sehingga individu akan bunuh diri karena tekanan dari nilai atau norma tersebut.

Lalu, bunuh diri seperti apa yang terjadi dalam kasus bocah 10 tahun ini? Ia bukan anak yang mengisolasi dirinya, ia juga tidak mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Yang mungkin terjadi dalam dirinya adalah bunuh diri akibat kebijakan di negara inin yang payah, dan tuntutan nilai-nilai dari faktor eksternal. Karena banyak berita yang menuliskan bahwa alasan dibalik bunuh diri dari sang bocah adalah kebutuhan buku dan alat tulis yang tidak dipenuhi oleh ibunya. Jadi dapat dikatakan bahwa tekanan karena “standar” yang harus dipenuhi itulah yang membuatnya mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Kemiskinan Struktural dan Sistem Pendidikan Yang Miris

Seorang bocah mengakhiri hidupnya karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan alat tulis? Bukankah ini suatu ironi yang menunjukkan kenyataan bahwa kemiskinan struktural masih terjadi. Ditambah sistem pendidikan di negara ini masih perlu dipertanyakan. Jika tekanan-tekanan eksternal dapat menyebabkan seorang bocah bunuh diri, apa benar rakyat Indonesia adalah rakyat yang bahagia?

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kita perlu menerima bahwa kemiskinan di Indonesia masih menjadi sumber bagi masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. Ditambah lagi kemiskinan yang terjadi bukan sekadar faktor internal melainkan kemiskinan yang terjadi secara struktural. Kemiskinan terjadi karena sistem, kebijakan, dan aturan-aturan dari para elit yang menyebabkan kesengsaraan bagi kaum massa. Hal ini juga yang akhirnya menyebabkan tekanan-tekanan bagi kaum kelas bawah. Belum lagi ditambah standar-standar dari masyarakat yang harus dicapai agar “kenaikan derajat” dapat terjadi, contoh kecilnya adalah pendidikan.

Namun, kenyataannya, sistem pendidikan di negara ini pun belum sepenuhnya dapat membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural. Yang terjadi pada kenyataannya adalah sistem pendidikan yang malah menambah beban bagi para murid, terutama murid yang berasal dair kalangan bawah, karena tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi. Bukan sekadar standar nilai, tetapi murid-murid harus memenuhi biaya-biaya lain untuk dapat mendapat akses ke pendidikan. Selain biaya sekolah dan biaya gedung, terkadang sekolah menarik uang dari para murid untuk biaya-biaya yang tidak terduga. Tidak seperti pendapat Paulo Freire bahwa “Education is liberation,” kenyataannya, pendidikan di Indonesia tidak sepenuhnya membebaskan.

MBG Hanyalah Kemenangan Palsu

Melalui tragedi yang terjadi di NTT ini, dapat dilihat, bahwa urgensi sebenarnya di negara ini adalah sistem pendidikan yang miris dan kemiskinan struktural yang masih menjangkiti banyak daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan, kasus bunuh diri anak yang terjadi di Indonesia bukan hanya sekali terjadi. Data KPAI sendiri mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023-2025, sudah ada 116 yang memutuskan mengkahiri hidupnya sendiri. Hal ini sungguh mengkhawatirkan karena di tahun 2023, terdapat 46 kasus bunuh diri dengan rentang usia 10-17 tahun. Di tahun 2024, terjadi 43 kasus dengan rentang usia 13-17 tahun. Dan pada tahun 2025, 27 kasus bunuh diri anak terjadi dengan rentang usia 11-18 tahun.

Fenomena bunuh diri anak ini pun muncul karena banyak faktor yang melatarbelakangi. Mulai dari pengaruh game online hingga depresi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor-faktor eksternal yang dapat memberi tekanan terhadap anak di Indonesia. Dan seharusnya masyarakat dan para elit dapat membuka mata bahwa yang menjadi urgensi saat ini ialah sistem yang hidup dalam masyarakat. Dan seharusnya dana yang dialokasikan bagi masyarakat bukan diwujudkan dalam bentuk makanan gratis karena masyarakat membutuhkan lebih dari makanan gratis itu sendiri. Bagi saya, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat agar kasus-kasus speerti ini dapat dicegah adalah:

  1. Penyediaan lapangan kerja yang lebih luas: Dengan lapangan kerja yang lebih luas, kemiskinan struktural dapat dicegah. Dan ketika kemisikinan struktural yang hilang, anak-anak tidak perlu khawatir akan kebutuhan belajar mereka yang tidak terpenuhi.
  2. Alokasi dana untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar: Jika memang lapangan kerja masih belum tercukupi, setidaknya jangan sampai anak-anak mengkhawatirkan ketidakmampuan orang tua mereka untuk membelikan fasilitas belajar mereka. Seharusnya sekolah sendiri perlu diberi dana untuk menyediakan setidaknya buku, dan alat-alat sekolah secara gratis bagi murid-muridnya.
  3. Ruang konseling bagi anak-anak di sekolah yang diaktifkan secara rutin: Guru BK Bimbingan Konseling) bukanlah guru yang bertugas menghukum murid nakal belaka. Mereka seharusnya hadir untuk mendengarkan setiap keluh kesah para murid, baik yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Karena perlu diingat kembali bahwa salah satu faktor bunuh diri anak adalah depresi. Jika guru memang pengganti orang tua di sekolah, maka seharusnya mereka juga siap untuk mendengarkan setiap permasalahan dan beban yang dialami oleh para muridnya. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakkemiskinanNTT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Next Post

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co