7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Heski Dewabrata by Heski Dewabrata
February 26, 2026
in Esai
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Surat untuk mama Reti
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi dulu
Jangan menangis ya mama
Mama saya pergi dulu
Tidak perlu mama menangis, mencari, atau merindukan saya
Selamat tinggal mama”

Pesan tersebut bukan puisi, melainkan isi dari surat yang ditemukan pada 29 Januari 2026 di dekat bocah yang sudah tidak bernyawa dan tergantung di salah satu ranting pohon cengkeh di NTT. Bocah tersebut berusia 10 tahun. Usia yang tergolong sangat muda untuk mempunyai pikiran mengakhiri hidupnya sendiri. Jalan hidupnya masih panjang, dan ia seharusnya dapat menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain tanpa memikirkan beban-beban berat yang dipikulnya sendiri.

Tragedi ini membuat saya tersadar bahwa ada hal yang harus diperhatikan dalam realitas masyarakat di Indonesia. Jika benar negeri ini tidak ada masalah, dan jika benar rakyat Indonesia itu rakyat yang bahagia, bukan kata saya tapi kata pemimpin negara ini sih, maka kasus seperti ini perlu dipertanyakan. Apa yang membuat bocah 10 tahun mempunyai niat untuk mengakhiri hidupnya? Seberapa besar permasalahan yang dihadapinya?

Suicidal Thought dalam Diri Seorang Bocah Berusia 10 Tahun?

Bagaimana mungkin seorang bocah 10 tahun mempunyai pikiran untuk bunuh diri di dalam kepalanya? Tentunya hal ini merupakan kejanggalan dalam realita yang perlu dicaritahu lebih lanjut. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi keinginannya untuk bunuh diri?

Melihat tragedi ini, saya mengacu pada pendapat Emile Durkheim yang melihat fenomena bunuh diri bukan sebagai tindakan individual belaka. Bagi Durkheim, bunuh diri merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh “kekuatan” dari luar diri, atau faktor eksternal, seperti lemahnya integrasi dan regulasi sosial yang hidup di dalam masyarakat. Dalam Suicide yang ditulis oleh Durkheim pada 1987, fenomena bunuh diri dibagi ke dalam empat tipe:

  1. Egoistik: Bunuh diri yang disebabkan oleh terlalu sedikitnya integrasi sosial yang berhasil dilakukan seseorang dengan kelompok sosial. Bunuh diri ini biasanya terjadi karena seseorang terlalu mengisolasi dirinya sendiri dan menghindari diri untuk bergaul dengan banyak orang.
  2. Altruistik: Bunuh diri yang terjadi akibat integrasi sosial yang terlalu kuat sehingga individu akan mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Contoh dari bunuh diri ini seperti pasukan kamikaze dari Jepang yang memang melakukan misi bunuh diri untuk kepentingan negara.
  3. Anomik: Bunuh diri yang dilakukan ketika tatanan, regulasi, hukum, serta aturan moralitas sosial mengalami kekosongan.
  4. Fatalistik: Bunuh diri yang terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat menekan individu. Sehingga individu akan bunuh diri karena tekanan dari nilai atau norma tersebut.

Lalu, bunuh diri seperti apa yang terjadi dalam kasus bocah 10 tahun ini? Ia bukan anak yang mengisolasi dirinya, ia juga tidak mengorbankan dirinya untuk kepentingan kelompoknya. Yang mungkin terjadi dalam dirinya adalah bunuh diri akibat kebijakan di negara inin yang payah, dan tuntutan nilai-nilai dari faktor eksternal. Karena banyak berita yang menuliskan bahwa alasan dibalik bunuh diri dari sang bocah adalah kebutuhan buku dan alat tulis yang tidak dipenuhi oleh ibunya. Jadi dapat dikatakan bahwa tekanan karena “standar” yang harus dipenuhi itulah yang membuatnya mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

Kemiskinan Struktural dan Sistem Pendidikan Yang Miris

Seorang bocah mengakhiri hidupnya karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan alat tulis? Bukankah ini suatu ironi yang menunjukkan kenyataan bahwa kemiskinan struktural masih terjadi. Ditambah sistem pendidikan di negara ini masih perlu dipertanyakan. Jika tekanan-tekanan eksternal dapat menyebabkan seorang bocah bunuh diri, apa benar rakyat Indonesia adalah rakyat yang bahagia?

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kita perlu menerima bahwa kemiskinan di Indonesia masih menjadi sumber bagi masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. Ditambah lagi kemiskinan yang terjadi bukan sekadar faktor internal melainkan kemiskinan yang terjadi secara struktural. Kemiskinan terjadi karena sistem, kebijakan, dan aturan-aturan dari para elit yang menyebabkan kesengsaraan bagi kaum massa. Hal ini juga yang akhirnya menyebabkan tekanan-tekanan bagi kaum kelas bawah. Belum lagi ditambah standar-standar dari masyarakat yang harus dicapai agar “kenaikan derajat” dapat terjadi, contoh kecilnya adalah pendidikan.

Namun, kenyataannya, sistem pendidikan di negara ini pun belum sepenuhnya dapat membebaskan masyarakat dari kemiskinan struktural. Yang terjadi pada kenyataannya adalah sistem pendidikan yang malah menambah beban bagi para murid, terutama murid yang berasal dair kalangan bawah, karena tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi. Bukan sekadar standar nilai, tetapi murid-murid harus memenuhi biaya-biaya lain untuk dapat mendapat akses ke pendidikan. Selain biaya sekolah dan biaya gedung, terkadang sekolah menarik uang dari para murid untuk biaya-biaya yang tidak terduga. Tidak seperti pendapat Paulo Freire bahwa “Education is liberation,” kenyataannya, pendidikan di Indonesia tidak sepenuhnya membebaskan.

MBG Hanyalah Kemenangan Palsu

Melalui tragedi yang terjadi di NTT ini, dapat dilihat, bahwa urgensi sebenarnya di negara ini adalah sistem pendidikan yang miris dan kemiskinan struktural yang masih menjangkiti banyak daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan, kasus bunuh diri anak yang terjadi di Indonesia bukan hanya sekali terjadi. Data KPAI sendiri mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023-2025, sudah ada 116 yang memutuskan mengkahiri hidupnya sendiri. Hal ini sungguh mengkhawatirkan karena di tahun 2023, terdapat 46 kasus bunuh diri dengan rentang usia 10-17 tahun. Di tahun 2024, terjadi 43 kasus dengan rentang usia 13-17 tahun. Dan pada tahun 2025, 27 kasus bunuh diri anak terjadi dengan rentang usia 11-18 tahun.

Fenomena bunuh diri anak ini pun muncul karena banyak faktor yang melatarbelakangi. Mulai dari pengaruh game online hingga depresi. Hal ini menunjukkan bahwa banyak faktor-faktor eksternal yang dapat memberi tekanan terhadap anak di Indonesia. Dan seharusnya masyarakat dan para elit dapat membuka mata bahwa yang menjadi urgensi saat ini ialah sistem yang hidup dalam masyarakat. Dan seharusnya dana yang dialokasikan bagi masyarakat bukan diwujudkan dalam bentuk makanan gratis karena masyarakat membutuhkan lebih dari makanan gratis itu sendiri. Bagi saya, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat agar kasus-kasus speerti ini dapat dicegah adalah:

  1. Penyediaan lapangan kerja yang lebih luas: Dengan lapangan kerja yang lebih luas, kemiskinan struktural dapat dicegah. Dan ketika kemisikinan struktural yang hilang, anak-anak tidak perlu khawatir akan kebutuhan belajar mereka yang tidak terpenuhi.
  2. Alokasi dana untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar: Jika memang lapangan kerja masih belum tercukupi, setidaknya jangan sampai anak-anak mengkhawatirkan ketidakmampuan orang tua mereka untuk membelikan fasilitas belajar mereka. Seharusnya sekolah sendiri perlu diberi dana untuk menyediakan setidaknya buku, dan alat-alat sekolah secara gratis bagi murid-muridnya.
  3. Ruang konseling bagi anak-anak di sekolah yang diaktifkan secara rutin: Guru BK Bimbingan Konseling) bukanlah guru yang bertugas menghukum murid nakal belaka. Mereka seharusnya hadir untuk mendengarkan setiap keluh kesah para murid, baik yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Karena perlu diingat kembali bahwa salah satu faktor bunuh diri anak adalah depresi. Jika guru memang pengganti orang tua di sekolah, maka seharusnya mereka juga siap untuk mendengarkan setiap permasalahan dan beban yang dialami oleh para muridnya. [T]

Penulis: Heski Dewabrata
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakkemiskinanNTT
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Next Post

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Heski Dewabrata

Heski Dewabrata

a sometimes writer

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Instiki 2026: Regenerasi Teladan, Siap Berdampak dan Menginspirasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co