29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 26, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Tiada lembah tiada gunung, Tiada kota tiada dusun, Suaramu terdengar merayu, Mengantarkan lagu-lagu.
Baik siang maupun malam, Baik suka maupun duka, Kau arungi gelombang suara, Kau hampiri pendengarmu. Dikau penyiar pujaan pendengarmu, Suaramu …sungguh merdu (
lirik lagu ”Balada Penyiar”, Bimbo)

Tidak semua orang hidup lewat wajah. Sebagian manusia hidup lewat suara, dan karenanya, mereka belajar menerima kesepian sebagai profesi. Di bilangan Jakarta Selatan, pada dekade 1980-an, ketika kota belum sepenuhnya gaduh dan malam masih punya ruang untuk diam, ada seorang penyiar radio yang setiap hari mengantar orang-orang melewati sepi mereka.

Dia adalah Gilang, ia tiba sebelum waktunya, duduk lima belas menit lebih awal, membuka koran, menandai berita, membaca tangga lagu, mendengarkan radio pesaing. Semua dilakukan dalam senyap. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada salam pembuka selain lampu merah kecil bertuliskan ON AIR. Begitu lampu itu menyala, ia menjadi ada. Begitu lampu itu mati, ia kembali tak bernama.

Walter Benjamin pernah menulis bahwa pengalaman modern kehilangan kedalaman, karena terlalu banyak direproduksi. Radio analog, dengan segala keterbatasannya, justru melawan itu. Ia tidak bisa diulang sesuka hati. Ia menuntut kehadiran. Jika pendengar lengah, suara itu pergi. Maka radio menciptakan keintiman yang rapuh, dan karena rapuh, ia menjadi bermakna.

Sebagai penyiar, Gilang tahu satu hal sejak awal: dirinya tidak boleh hadir sebagai tubuh. Ia hanya boleh hadir sebagai suara. Pendengarnya tak boleh tahu wajahnya, rumahnya, atau kelelahan yang ia sembunyikan di balik nada tenang. Dalam dunia radio, suara adalah identitas, sekaligus penjara.

Ia belajar mengatur napas seperti seorang penyanyi, memilih kata seperti seorang penyair, dan menekan emosi seperti seorang aktor panggung. Tidak boleh salah ucap. Tidak boleh ralat. Tidak boleh memutar lagu yang sama dua kali. Disiplin radio adalah disiplin asketik, seperti biara kecil di tengah kota.

Seperti kata Martin Heidegger, manusia modern sering terjatuh dalam das Man, kehidupan yang mekanis dan seragam. Namun di ruang siaran itu, penyiar justru berusaha mempertahankan kehadiran autentik lewat suara yang jujur, hangat, dan personal.

Kini, dunia dikuasai wajah. Kamera. Gestur. Algoritma. Media sosial menuntut tubuh untuk tampil terus-menerus. Eksistensi diukur dari visibility, bukan makna. Seperti dikritik Jean-Paul Sartre, manusia modern terancam hidup dalam bad faith, menjadi sesuatu demi pengakuan orang lain, bukan karena panggilan eksistensialnya.

Penyiar radio lama bekerja terbalik dari itu. Ia hadir tanpa ingin dilihat. Ia berbicara tanpa berharap dikenal. Ia mencintai pendengarnya tanpa pernah disentuh balik. Dalam bahasa Albert Camus, penyiar radio adalah figur Sisifus modern: setiap hari mendorong batu suara ke udara, tahu bahwa batu itu akan jatuh dan hilang, namun tetap melakukannya, dan justru di sanalah martabatnya.

Profesi yang paling setia pada kehadiran justru terpinggirkan di zaman visual hari ini.

Ironisnya, justru dari ruang sempit itulah ia menjadi intim bagi banyak orang. Ada ibu-ibu yang memasak sambil menunggu suaranya. Ada sopir malam yang menyetel radio agar tak tertidur. Ada mahasiswa yang jatuh cinta bukan pada wajah, melainkan pada intonasi. Mereka memanggilnya dengan sapaan akrab, seolah ia duduk di sebelah mereka. Padahal, ia selalu sendirian.

Kesepian penyiar radio bukan kesepian karena tak ada orang, melainkan kesepian karena terlalu banyak orang yang membutuhkan dirinya, tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Sesekali, kesepian itu bocor ke dunia nyata, dalam acara Kopi Darat. Di aula atau gedung pertemuan, para pendengar datang dengan wajah-wajah penuh antusiasme. Mereka tertawa, berfoto, memeluknya seperti selebritas.

Gilang merasa ganjil: suaranya lebih dikenal daripada tubuhnya. Dalam kerumunan itu, ia justru merasa asing, seperti sedang memerankan diri sendiri. Cinta, dalam hidup penyiar radio, adalah sesuatu yang harus diatur.

Ada aturan tak tertulis: pacar tidak boleh masuk studio saat siaran. Seakan-akan cinta adalah gangguan, dan mikrofon cemburu pada kehadiran manusia lain. Maka ia belajar mencintai dari jauh, lewat suara, lewat lagu-lagu yang ia pilihkan untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.

Ia paling bahagia ketika ditugaskan mewawancarai penyanyi baru. Studio rekaman menjadi ruang di mana harapan masih berbau pita kaset. Produser menyelipkan amplop, penyanyi tersenyum dengan gugup, dan lagu-lagu lahir dengan doa agar diputar berkali-kali. Ia tahu sebagian lagu itu akan hilang, seperti suara di udara, sekali lewat, tak bisa digenggam.

Radio mengajarkannya satu pelajaran paling kejam sekaligus paling indah: segala yang kita berikan pada orang lain bisa sangat bermakna, meski tak pernah tinggal lama. Suatu malam, ia tak siaran. Sakit.

Telepon stasiun berdering. Pendengar bertanya. Lagu-lagu terasa kelabu. Untuk pertama kalinya, ia berada di sisi seberang, sebagai pendengar. Dari radio kecil di kamar, ia mendengarkan suara lain mengisi jamnya. Ia sadar, betapa mudahnya suara digantikan, dan betapa rapuhnya eksistensi yang hanya bertumpu pada udara.

Di udara, hilang suaramu. Di udara, terasa kelam. Ia tak marah. Ia hanya mengerti: penyiar radio hidup di antara kehadiran dan ketiadaan. Selama ia berbicara, ia ada. Begitu ia diam, ia lenyap.

Barangkali itulah sebabnya, suara penyiar radio selalu terdengar lembut, karena ia tahu, setiap kata bisa menjadi yang terakhir, setiap lagu bisa menjadi perpisahan kecil.

Dan ketika suatu hari ia benar-benar berhenti siaran, bukan karena sakit, tapi karena waktu, tak ada upacara. Tak ada perpisahan resmi. Hanya udara yang kembali kosong, dan seseorang di suatu malam berkata pelan:

“Suara itu… kok sudah tidak ada lagi, ya?”  Radio tidak menyimpan suara.

Ia hanya meminjamkannya. Dan para penyiar, sejak awal, telah merelakan dirinya untuk hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupmodernitaspenyiar radioradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Lontar di Jembrana: I Ketut Arnyana Simpan 28 Cakep dan Tika Kuno

Next Post

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co