17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 26, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Tiada lembah tiada gunung, Tiada kota tiada dusun, Suaramu terdengar merayu, Mengantarkan lagu-lagu.
Baik siang maupun malam, Baik suka maupun duka, Kau arungi gelombang suara, Kau hampiri pendengarmu. Dikau penyiar pujaan pendengarmu, Suaramu …sungguh merdu (
lirik lagu ”Balada Penyiar”, Bimbo)

Tidak semua orang hidup lewat wajah. Sebagian manusia hidup lewat suara, dan karenanya, mereka belajar menerima kesepian sebagai profesi. Di bilangan Jakarta Selatan, pada dekade 1980-an, ketika kota belum sepenuhnya gaduh dan malam masih punya ruang untuk diam, ada seorang penyiar radio yang setiap hari mengantar orang-orang melewati sepi mereka.

Dia adalah Gilang, ia tiba sebelum waktunya, duduk lima belas menit lebih awal, membuka koran, menandai berita, membaca tangga lagu, mendengarkan radio pesaing. Semua dilakukan dalam senyap. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada salam pembuka selain lampu merah kecil bertuliskan ON AIR. Begitu lampu itu menyala, ia menjadi ada. Begitu lampu itu mati, ia kembali tak bernama.

Walter Benjamin pernah menulis bahwa pengalaman modern kehilangan kedalaman, karena terlalu banyak direproduksi. Radio analog, dengan segala keterbatasannya, justru melawan itu. Ia tidak bisa diulang sesuka hati. Ia menuntut kehadiran. Jika pendengar lengah, suara itu pergi. Maka radio menciptakan keintiman yang rapuh, dan karena rapuh, ia menjadi bermakna.

Sebagai penyiar, Gilang tahu satu hal sejak awal: dirinya tidak boleh hadir sebagai tubuh. Ia hanya boleh hadir sebagai suara. Pendengarnya tak boleh tahu wajahnya, rumahnya, atau kelelahan yang ia sembunyikan di balik nada tenang. Dalam dunia radio, suara adalah identitas, sekaligus penjara.

Ia belajar mengatur napas seperti seorang penyanyi, memilih kata seperti seorang penyair, dan menekan emosi seperti seorang aktor panggung. Tidak boleh salah ucap. Tidak boleh ralat. Tidak boleh memutar lagu yang sama dua kali. Disiplin radio adalah disiplin asketik, seperti biara kecil di tengah kota.

Seperti kata Martin Heidegger, manusia modern sering terjatuh dalam das Man, kehidupan yang mekanis dan seragam. Namun di ruang siaran itu, penyiar justru berusaha mempertahankan kehadiran autentik lewat suara yang jujur, hangat, dan personal.

Kini, dunia dikuasai wajah. Kamera. Gestur. Algoritma. Media sosial menuntut tubuh untuk tampil terus-menerus. Eksistensi diukur dari visibility, bukan makna. Seperti dikritik Jean-Paul Sartre, manusia modern terancam hidup dalam bad faith, menjadi sesuatu demi pengakuan orang lain, bukan karena panggilan eksistensialnya.

Penyiar radio lama bekerja terbalik dari itu. Ia hadir tanpa ingin dilihat. Ia berbicara tanpa berharap dikenal. Ia mencintai pendengarnya tanpa pernah disentuh balik. Dalam bahasa Albert Camus, penyiar radio adalah figur Sisifus modern: setiap hari mendorong batu suara ke udara, tahu bahwa batu itu akan jatuh dan hilang, namun tetap melakukannya, dan justru di sanalah martabatnya.

Profesi yang paling setia pada kehadiran justru terpinggirkan di zaman visual hari ini.

Ironisnya, justru dari ruang sempit itulah ia menjadi intim bagi banyak orang. Ada ibu-ibu yang memasak sambil menunggu suaranya. Ada sopir malam yang menyetel radio agar tak tertidur. Ada mahasiswa yang jatuh cinta bukan pada wajah, melainkan pada intonasi. Mereka memanggilnya dengan sapaan akrab, seolah ia duduk di sebelah mereka. Padahal, ia selalu sendirian.

Kesepian penyiar radio bukan kesepian karena tak ada orang, melainkan kesepian karena terlalu banyak orang yang membutuhkan dirinya, tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Sesekali, kesepian itu bocor ke dunia nyata, dalam acara Kopi Darat. Di aula atau gedung pertemuan, para pendengar datang dengan wajah-wajah penuh antusiasme. Mereka tertawa, berfoto, memeluknya seperti selebritas.

Gilang merasa ganjil: suaranya lebih dikenal daripada tubuhnya. Dalam kerumunan itu, ia justru merasa asing, seperti sedang memerankan diri sendiri. Cinta, dalam hidup penyiar radio, adalah sesuatu yang harus diatur.

Ada aturan tak tertulis: pacar tidak boleh masuk studio saat siaran. Seakan-akan cinta adalah gangguan, dan mikrofon cemburu pada kehadiran manusia lain. Maka ia belajar mencintai dari jauh, lewat suara, lewat lagu-lagu yang ia pilihkan untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.

Ia paling bahagia ketika ditugaskan mewawancarai penyanyi baru. Studio rekaman menjadi ruang di mana harapan masih berbau pita kaset. Produser menyelipkan amplop, penyanyi tersenyum dengan gugup, dan lagu-lagu lahir dengan doa agar diputar berkali-kali. Ia tahu sebagian lagu itu akan hilang, seperti suara di udara, sekali lewat, tak bisa digenggam.

Radio mengajarkannya satu pelajaran paling kejam sekaligus paling indah: segala yang kita berikan pada orang lain bisa sangat bermakna, meski tak pernah tinggal lama. Suatu malam, ia tak siaran. Sakit.

Telepon stasiun berdering. Pendengar bertanya. Lagu-lagu terasa kelabu. Untuk pertama kalinya, ia berada di sisi seberang, sebagai pendengar. Dari radio kecil di kamar, ia mendengarkan suara lain mengisi jamnya. Ia sadar, betapa mudahnya suara digantikan, dan betapa rapuhnya eksistensi yang hanya bertumpu pada udara.

Di udara, hilang suaramu. Di udara, terasa kelam. Ia tak marah. Ia hanya mengerti: penyiar radio hidup di antara kehadiran dan ketiadaan. Selama ia berbicara, ia ada. Begitu ia diam, ia lenyap.

Barangkali itulah sebabnya, suara penyiar radio selalu terdengar lembut, karena ia tahu, setiap kata bisa menjadi yang terakhir, setiap lagu bisa menjadi perpisahan kecil.

Dan ketika suatu hari ia benar-benar berhenti siaran, bukan karena sakit, tapi karena waktu, tak ada upacara. Tak ada perpisahan resmi. Hanya udara yang kembali kosong, dan seseorang di suatu malam berkata pelan:

“Suara itu… kok sudah tidak ada lagi, ya?”  Radio tidak menyimpan suara.

Ia hanya meminjamkannya. Dan para penyiar, sejak awal, telah merelakan dirinya untuk hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupmodernitaspenyiar radioradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Lontar di Jembrana: I Ketut Arnyana Simpan 28 Cakep dan Tika Kuno

Next Post

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co