7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 26, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Tiada lembah tiada gunung, Tiada kota tiada dusun, Suaramu terdengar merayu, Mengantarkan lagu-lagu.
Baik siang maupun malam, Baik suka maupun duka, Kau arungi gelombang suara, Kau hampiri pendengarmu. Dikau penyiar pujaan pendengarmu, Suaramu …sungguh merdu (
lirik lagu ”Balada Penyiar”, Bimbo)

Tidak semua orang hidup lewat wajah. Sebagian manusia hidup lewat suara, dan karenanya, mereka belajar menerima kesepian sebagai profesi. Di bilangan Jakarta Selatan, pada dekade 1980-an, ketika kota belum sepenuhnya gaduh dan malam masih punya ruang untuk diam, ada seorang penyiar radio yang setiap hari mengantar orang-orang melewati sepi mereka.

Dia adalah Gilang, ia tiba sebelum waktunya, duduk lima belas menit lebih awal, membuka koran, menandai berita, membaca tangga lagu, mendengarkan radio pesaing. Semua dilakukan dalam senyap. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada salam pembuka selain lampu merah kecil bertuliskan ON AIR. Begitu lampu itu menyala, ia menjadi ada. Begitu lampu itu mati, ia kembali tak bernama.

Walter Benjamin pernah menulis bahwa pengalaman modern kehilangan kedalaman, karena terlalu banyak direproduksi. Radio analog, dengan segala keterbatasannya, justru melawan itu. Ia tidak bisa diulang sesuka hati. Ia menuntut kehadiran. Jika pendengar lengah, suara itu pergi. Maka radio menciptakan keintiman yang rapuh, dan karena rapuh, ia menjadi bermakna.

Sebagai penyiar, Gilang tahu satu hal sejak awal: dirinya tidak boleh hadir sebagai tubuh. Ia hanya boleh hadir sebagai suara. Pendengarnya tak boleh tahu wajahnya, rumahnya, atau kelelahan yang ia sembunyikan di balik nada tenang. Dalam dunia radio, suara adalah identitas, sekaligus penjara.

Ia belajar mengatur napas seperti seorang penyanyi, memilih kata seperti seorang penyair, dan menekan emosi seperti seorang aktor panggung. Tidak boleh salah ucap. Tidak boleh ralat. Tidak boleh memutar lagu yang sama dua kali. Disiplin radio adalah disiplin asketik, seperti biara kecil di tengah kota.

Seperti kata Martin Heidegger, manusia modern sering terjatuh dalam das Man, kehidupan yang mekanis dan seragam. Namun di ruang siaran itu, penyiar justru berusaha mempertahankan kehadiran autentik lewat suara yang jujur, hangat, dan personal.

Kini, dunia dikuasai wajah. Kamera. Gestur. Algoritma. Media sosial menuntut tubuh untuk tampil terus-menerus. Eksistensi diukur dari visibility, bukan makna. Seperti dikritik Jean-Paul Sartre, manusia modern terancam hidup dalam bad faith, menjadi sesuatu demi pengakuan orang lain, bukan karena panggilan eksistensialnya.

Penyiar radio lama bekerja terbalik dari itu. Ia hadir tanpa ingin dilihat. Ia berbicara tanpa berharap dikenal. Ia mencintai pendengarnya tanpa pernah disentuh balik. Dalam bahasa Albert Camus, penyiar radio adalah figur Sisifus modern: setiap hari mendorong batu suara ke udara, tahu bahwa batu itu akan jatuh dan hilang, namun tetap melakukannya, dan justru di sanalah martabatnya.

Profesi yang paling setia pada kehadiran justru terpinggirkan di zaman visual hari ini.

Ironisnya, justru dari ruang sempit itulah ia menjadi intim bagi banyak orang. Ada ibu-ibu yang memasak sambil menunggu suaranya. Ada sopir malam yang menyetel radio agar tak tertidur. Ada mahasiswa yang jatuh cinta bukan pada wajah, melainkan pada intonasi. Mereka memanggilnya dengan sapaan akrab, seolah ia duduk di sebelah mereka. Padahal, ia selalu sendirian.

Kesepian penyiar radio bukan kesepian karena tak ada orang, melainkan kesepian karena terlalu banyak orang yang membutuhkan dirinya, tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Sesekali, kesepian itu bocor ke dunia nyata, dalam acara Kopi Darat. Di aula atau gedung pertemuan, para pendengar datang dengan wajah-wajah penuh antusiasme. Mereka tertawa, berfoto, memeluknya seperti selebritas.

Gilang merasa ganjil: suaranya lebih dikenal daripada tubuhnya. Dalam kerumunan itu, ia justru merasa asing, seperti sedang memerankan diri sendiri. Cinta, dalam hidup penyiar radio, adalah sesuatu yang harus diatur.

Ada aturan tak tertulis: pacar tidak boleh masuk studio saat siaran. Seakan-akan cinta adalah gangguan, dan mikrofon cemburu pada kehadiran manusia lain. Maka ia belajar mencintai dari jauh, lewat suara, lewat lagu-lagu yang ia pilihkan untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.

Ia paling bahagia ketika ditugaskan mewawancarai penyanyi baru. Studio rekaman menjadi ruang di mana harapan masih berbau pita kaset. Produser menyelipkan amplop, penyanyi tersenyum dengan gugup, dan lagu-lagu lahir dengan doa agar diputar berkali-kali. Ia tahu sebagian lagu itu akan hilang, seperti suara di udara, sekali lewat, tak bisa digenggam.

Radio mengajarkannya satu pelajaran paling kejam sekaligus paling indah: segala yang kita berikan pada orang lain bisa sangat bermakna, meski tak pernah tinggal lama. Suatu malam, ia tak siaran. Sakit.

Telepon stasiun berdering. Pendengar bertanya. Lagu-lagu terasa kelabu. Untuk pertama kalinya, ia berada di sisi seberang, sebagai pendengar. Dari radio kecil di kamar, ia mendengarkan suara lain mengisi jamnya. Ia sadar, betapa mudahnya suara digantikan, dan betapa rapuhnya eksistensi yang hanya bertumpu pada udara.

Di udara, hilang suaramu. Di udara, terasa kelam. Ia tak marah. Ia hanya mengerti: penyiar radio hidup di antara kehadiran dan ketiadaan. Selama ia berbicara, ia ada. Begitu ia diam, ia lenyap.

Barangkali itulah sebabnya, suara penyiar radio selalu terdengar lembut, karena ia tahu, setiap kata bisa menjadi yang terakhir, setiap lagu bisa menjadi perpisahan kecil.

Dan ketika suatu hari ia benar-benar berhenti siaran, bukan karena sakit, tapi karena waktu, tak ada upacara. Tak ada perpisahan resmi. Hanya udara yang kembali kosong, dan seseorang di suatu malam berkata pelan:

“Suara itu… kok sudah tidak ada lagi, ya?”  Radio tidak menyimpan suara.

Ia hanya meminjamkannya. Dan para penyiar, sejak awal, telah merelakan dirinya untuk hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupmodernitaspenyiar radioradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Lontar di Jembrana: I Ketut Arnyana Simpan 28 Cakep dan Tika Kuno

Next Post

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co