5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Penyiar Radio: Ketika Manusia Pernah Cukup Menjadi Suara

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
February 26, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Tiada lembah tiada gunung, Tiada kota tiada dusun, Suaramu terdengar merayu, Mengantarkan lagu-lagu.
Baik siang maupun malam, Baik suka maupun duka, Kau arungi gelombang suara, Kau hampiri pendengarmu. Dikau penyiar pujaan pendengarmu, Suaramu …sungguh merdu (
lirik lagu ”Balada Penyiar”, Bimbo)

Tidak semua orang hidup lewat wajah. Sebagian manusia hidup lewat suara, dan karenanya, mereka belajar menerima kesepian sebagai profesi. Di bilangan Jakarta Selatan, pada dekade 1980-an, ketika kota belum sepenuhnya gaduh dan malam masih punya ruang untuk diam, ada seorang penyiar radio yang setiap hari mengantar orang-orang melewati sepi mereka.

Dia adalah Gilang, ia tiba sebelum waktunya, duduk lima belas menit lebih awal, membuka koran, menandai berita, membaca tangga lagu, mendengarkan radio pesaing. Semua dilakukan dalam senyap. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada salam pembuka selain lampu merah kecil bertuliskan ON AIR. Begitu lampu itu menyala, ia menjadi ada. Begitu lampu itu mati, ia kembali tak bernama.

Walter Benjamin pernah menulis bahwa pengalaman modern kehilangan kedalaman, karena terlalu banyak direproduksi. Radio analog, dengan segala keterbatasannya, justru melawan itu. Ia tidak bisa diulang sesuka hati. Ia menuntut kehadiran. Jika pendengar lengah, suara itu pergi. Maka radio menciptakan keintiman yang rapuh, dan karena rapuh, ia menjadi bermakna.

Sebagai penyiar, Gilang tahu satu hal sejak awal: dirinya tidak boleh hadir sebagai tubuh. Ia hanya boleh hadir sebagai suara. Pendengarnya tak boleh tahu wajahnya, rumahnya, atau kelelahan yang ia sembunyikan di balik nada tenang. Dalam dunia radio, suara adalah identitas, sekaligus penjara.

Ia belajar mengatur napas seperti seorang penyanyi, memilih kata seperti seorang penyair, dan menekan emosi seperti seorang aktor panggung. Tidak boleh salah ucap. Tidak boleh ralat. Tidak boleh memutar lagu yang sama dua kali. Disiplin radio adalah disiplin asketik, seperti biara kecil di tengah kota.

Seperti kata Martin Heidegger, manusia modern sering terjatuh dalam das Man, kehidupan yang mekanis dan seragam. Namun di ruang siaran itu, penyiar justru berusaha mempertahankan kehadiran autentik lewat suara yang jujur, hangat, dan personal.

Kini, dunia dikuasai wajah. Kamera. Gestur. Algoritma. Media sosial menuntut tubuh untuk tampil terus-menerus. Eksistensi diukur dari visibility, bukan makna. Seperti dikritik Jean-Paul Sartre, manusia modern terancam hidup dalam bad faith, menjadi sesuatu demi pengakuan orang lain, bukan karena panggilan eksistensialnya.

Penyiar radio lama bekerja terbalik dari itu. Ia hadir tanpa ingin dilihat. Ia berbicara tanpa berharap dikenal. Ia mencintai pendengarnya tanpa pernah disentuh balik. Dalam bahasa Albert Camus, penyiar radio adalah figur Sisifus modern: setiap hari mendorong batu suara ke udara, tahu bahwa batu itu akan jatuh dan hilang, namun tetap melakukannya, dan justru di sanalah martabatnya.

Profesi yang paling setia pada kehadiran justru terpinggirkan di zaman visual hari ini.

Ironisnya, justru dari ruang sempit itulah ia menjadi intim bagi banyak orang. Ada ibu-ibu yang memasak sambil menunggu suaranya. Ada sopir malam yang menyetel radio agar tak tertidur. Ada mahasiswa yang jatuh cinta bukan pada wajah, melainkan pada intonasi. Mereka memanggilnya dengan sapaan akrab, seolah ia duduk di sebelah mereka. Padahal, ia selalu sendirian.

Kesepian penyiar radio bukan kesepian karena tak ada orang, melainkan kesepian karena terlalu banyak orang yang membutuhkan dirinya, tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Sesekali, kesepian itu bocor ke dunia nyata, dalam acara Kopi Darat. Di aula atau gedung pertemuan, para pendengar datang dengan wajah-wajah penuh antusiasme. Mereka tertawa, berfoto, memeluknya seperti selebritas.

Gilang merasa ganjil: suaranya lebih dikenal daripada tubuhnya. Dalam kerumunan itu, ia justru merasa asing, seperti sedang memerankan diri sendiri. Cinta, dalam hidup penyiar radio, adalah sesuatu yang harus diatur.

Ada aturan tak tertulis: pacar tidak boleh masuk studio saat siaran. Seakan-akan cinta adalah gangguan, dan mikrofon cemburu pada kehadiran manusia lain. Maka ia belajar mencintai dari jauh, lewat suara, lewat lagu-lagu yang ia pilihkan untuk orang lain, bukan untuk dirinya sendiri.

Ia paling bahagia ketika ditugaskan mewawancarai penyanyi baru. Studio rekaman menjadi ruang di mana harapan masih berbau pita kaset. Produser menyelipkan amplop, penyanyi tersenyum dengan gugup, dan lagu-lagu lahir dengan doa agar diputar berkali-kali. Ia tahu sebagian lagu itu akan hilang, seperti suara di udara, sekali lewat, tak bisa digenggam.

Radio mengajarkannya satu pelajaran paling kejam sekaligus paling indah: segala yang kita berikan pada orang lain bisa sangat bermakna, meski tak pernah tinggal lama. Suatu malam, ia tak siaran. Sakit.

Telepon stasiun berdering. Pendengar bertanya. Lagu-lagu terasa kelabu. Untuk pertama kalinya, ia berada di sisi seberang, sebagai pendengar. Dari radio kecil di kamar, ia mendengarkan suara lain mengisi jamnya. Ia sadar, betapa mudahnya suara digantikan, dan betapa rapuhnya eksistensi yang hanya bertumpu pada udara.

Di udara, hilang suaramu. Di udara, terasa kelam. Ia tak marah. Ia hanya mengerti: penyiar radio hidup di antara kehadiran dan ketiadaan. Selama ia berbicara, ia ada. Begitu ia diam, ia lenyap.

Barangkali itulah sebabnya, suara penyiar radio selalu terdengar lembut, karena ia tahu, setiap kata bisa menjadi yang terakhir, setiap lagu bisa menjadi perpisahan kecil.

Dan ketika suatu hari ia benar-benar berhenti siaran, bukan karena sakit, tapi karena waktu, tak ada upacara. Tak ada perpisahan resmi. Hanya udara yang kembali kosong, dan seseorang di suatu malam berkata pelan:

“Suara itu… kok sudah tidak ada lagi, ya?”  Radio tidak menyimpan suara.

Ia hanya meminjamkannya. Dan para penyiar, sejak awal, telah merelakan dirinya untuk hilang. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupmodernitaspenyiar radioradio
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Warisan Lontar di Jembrana: I Ketut Arnyana Simpan 28 Cakep dan Tika Kuno

Next Post

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Tragedi Bocah Bunuh Diri di NTT, Contoh Nyata Kemiskinan Struktural Masih Eksis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co