24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

Putri Harya by Putri Harya
February 22, 2026
in Cerpen
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata sembabnya terpaku menatap lampu gantung yang bergoyang. Canang di pelangkiran juga dalam pandangannya bergetar sesaat sebelum kembali tampak normal.

“Idup! Idup! Idup!”

Teriakan itu meledak hampir serempak: dari pekarangan yang basah oleh embun, dari jalan setapak yang di apit rumput, dan dari balik tembok-tembok penyengker yang ditumbuhi lumut. Luh Murni kemudian sadar bahwa yang dirasakan tadi bukan halusinasi, melainkan gempa.

Luh Murni berlari ke luar rumah dengan hati-hati. Langkahnya membuat kamen yang dikenakan sedikit tersingkap. Dia sempat merapikan kembali kain batik yang membalut bagian tubuh bawahnya itu sebelum ikut berteriak sama hebohnya dengan warga lain. Padahal, gempa telah berakhir beberapa waktu lalu.

“Idup! Idup! Idup!”

Kata-kata itu diwariskan turun-temurun, lebih tua dari ingatan siapa pun di pulau ini. Ia tidak tercatat dalam lontar, tapi dihapal laiknya mantra. Mantra yang tak pernah benar-benar mereka pelajari. Mantra yang konon bisa menenangkan sesosok makhluk di bawah sana.

Dahulu, sebelum bangunan di pulau ini sepadat sekarang, yang ada tidak hanya teriakan. Kulkul juga ikut dibunyikan agar kabar tentangku lebih cepat didengar sang naga, kakakku. Itu yang para orang tua yakini.

Orang-orang menyebutnya Naga Gombang atau Naga Loka. Para tetua desa ini mengisahkan asal-usul kami setiap malam sambil membelai anak mereka di peraduan. Luh Murni juga kelak pasti melakukannya.

Mereka bilang, aku terlahir sebagai anak perempuan yang punya kakak laki-laki. Ibuku seorang janda yang hidup di pinggiran hutan. Bahaya yang selalu mengintai membuat Ibu berpesan agar aku dan Kakak saling menjaga.

Semula semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, kata mereka, tanpa sengaja kakakku memakan telur siluman ular yang disimpan di lumbung padi. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana telur itu bisa sampai di sana. Ada yang bilang ibuku yang sering naik ke lumbung itu untuk bercinta dengan siluman. Ada juga yang bilang Dewata menitipkannya tanpa diminta. Hal paling jelas yang kupahami adalah telur itu mengubah tubuh kakakku: kulitnya menjadi keras dan berisik, tulangnya memanjang, napasnya berat.

Ibu kami mati di saat yang sama. Penyebabnya tidak mereka ceritakan. Kematian Ibu menyisakan aku dan Kakak yang telah sepenuhnya menjelma naga. Karena takut menggegerkan warga, aku membawa Kakak ke tengah hutan. 

Aku menggendongnya hingga ke Gunung Lesung. Sampai di sana, Kakak menyuruhku meninggalkannya untuk mengambil air dengan keranjang. Aku menurut. Namun saat aku kembali, Kakak telah menghilang. Dia masuk ke perut bumi.  

“Jangan menangis, Adikku! Aku memang telah ditakdirkan bersemayam di sini. Kelak saat kau merasakan bumi bergetar, berteriaklah! Katakan bahwa kau masih hidup. Dengan begitu aku akan tenang.” Suara Kakak menggema dari dalam kawah gunung.

Cerita berhenti sampai di situ lalu diwariskan mirip tetabuhan sumbang: tidak selaras, tapi tidak ada yang mempermasalahkan.

Tidakkah kalian merasa ada yang salah? Bukan, kesalahan bukan terletak pada wujud akhir kakakku. Para tetua tidak sepenuhnya keliru. Baik zona subduksi lempeng maupun patahan belakang busur kepulauan yang mengapit pulau ini, memang berbentuk memanjang seperti naga. Tanah di sini tidak pernah benar-benar diam sama seperti isi kepala Luh Murni dan perempuan-perempuan lain di pulau ini. Lempeng-lempeng di bawah sana gelisah, menunggu takdirnya. Punggungnya retak-retak seperti sisik, seakan berat menahan tanggungan adat. 

Hanya saja, cerita ini terasa tidak adil bagiku. Kakakku diberi pelinggih untuk memujanya. Namanya disebut. Wujudnya dilukiskan tertidur tenang di perut bumi, dijadikan alasan mengapa tanah bergoyang sewaktu-waktu. Perintahnya diingat  sampai detik ini. Orang-orang berlomba-lomba mengabarkan kalau aku masih hidup. Namun, kisahku terhenti.

Tidak ada yang mempertanyakan keberadaanku. Tidak ada yang bertanya bagaimana aku keluar dari hutan. Tak satu pun dari mereka berusaha mencari tahu atau menjelaskan. Kalian pun sama. Apa karena aku diwujudkan perempuan sehingga di tanah ini aku tak diistimewakan seperti anak lelaki? Tetap saja, beri aku kesempatan untuk menceritakan diriku.

Sejatinya, aku memang tidak pernah terlihat. Wajahku tidak bisa digambarkan secara pasti. Orang-orang membayangkan wujudku bermacam-macam. Luh Murni misalnya, dia membayangkanku seperti cahaya kecil yang bertahan di ujung gelap. Ada orang yang mengira aku perempuan muda dengan rambut panjang. Ada juga yang menganggapku sampah tak berguna.

Jangan berpikir aku punya sihir. Itu terjadi akibat pikiran orang-orang yang sering menggantungkan kata-kata padaku. Mereka akan tersenyum saat yang didapat terasa sesuai. Jika yang terjadi sebaliknya, mereka merengut. 

Aku tidak disimpan di perut bumi seperti kakakku, tidak juga mendapat tempat di pura. Aku berada di sela-sela dua hal: di antara jatuh dan bangkit, di antara gemetar dan diam, di antara tangis dan tawa.

Aku tidak dijadikan nama patahan atau lempeng, Tidak juga mendapat nama keren seperti kakakku. Namun, orang-orang mengenalku sebagai alasan, sesuatu yang mereka pastikan tetap ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaanku muncul samar. Saat petani memandang sawah yang padinya mulai menguning misalnya, tak satu dari mereka menyebut namaku. Tapi aku ada di udara yang mereka hirup. Aku juga ada di tengah kelahiran bayi yang tangisnya pecah. Sampai detik ini pun, orang-orang masih merawatku: saat tubuh mereka melemah terlalu cepat atau saat dinding rumahnya retak atau saat laut terasa lebih dekat dari biasanya.

Semua ini kuutarakan bukan karena ingin menuntut. Sama seperti Luh Murni, aku hanya sedang melanjutkan kisah yang masih tersisa. Aku hanya ingin kalian menyadari keberadaanku. Ketahuilah, aku dan kakakku diciptakan saling melengkapi. Setiap kakak bertingkah, aku akan hadir. Saat gempa misalnya, aku berada dalam kata idup idup yang kalian teriakan. Kata itu bukan semata untuk menenangkan yang di bawah, melainkan memastikan aku tidak pergi. Seperti halnya yang dilakukan Luh Murni. Sejatinya, dia masih berada dalam bayang-bayang duka karena kematian sang suami. Namun kini, dia sedang tersenyum sambil mengelus perut. Dia tidak sedang menyapa si penghuni rahim, tapi merayuku. [T]

Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

Next Post

Dokter dan Aktifitas Menulis

Putri Harya

Putri Harya

Ibu rumah tangga yang suka menulis sejak SMP. Lahir dan tinggal di Buleleng. Tulisannya tersiar di beberapa buku antologi, aplikasi baca online, dan media sosial dengan nama akun Putri Pena.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Dokter dan Aktifitas Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co