SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung sore, seekor Cucak Ijo hinggap di ranting pohon srikaya yang tumbuh di dekat jendela kamar Sekar. Awalnya burung itu hanya mematuk-matuk buah srikaya matang. Tapi lama-lama, Cucak Ijo menatap Sekar yang sedang memeluk lututnya sambil terus terisak.
“Kamu kenapa?” tanya Cucak Ijo.
Sekar kaget. Ia mencari sumber suara. Itu jelas bukan suara kakeknya. Sekar memandang sekeliling. “Aku di sini,” kata Cucak Ijo sambil mengepakkan sayapnya. Sekar berhenti menangis. Ia terpaku dan tak percaya.
“Kamu bisa bicara?” tanya Sekar tergagap.
“Iya. Aku bisa bicara,” jawab Cucak Ijo.
Sekar menghampiri burung berkicau itu. Dari jendela ia berkata: “Kakek dan orang-orang desa tiba-tiba menghilang saat terjadi badai siang tadi. Hanya aku yang tidak menghilang. Sekarang aku sendirian,” Sekar bercerita sembari sesegukan.
Cucak Ijo hinggap di telapak tangan Sekar sambil berkata, “Aku bisa membantu menemukan kakekmu dan orang-orang desa.”
Mata Sekar berbinar-binar. Senyumnya mengembang. “Benarkah?” tanya Sekar meyakinkan. Cucak Ijo mengangguk.
“Apa yang harus aku lakukan, Cucak Ijo?”
“Kamu harus mengumpulkan tujuh cahaya Blambangan!”
“Apa itu?” Sekar bingung.
“Tujuh cahaya itu yang akan mengembalikan kakekmu dan orang-orang desa. Cahaya pertama muncul dari fajar yang dikejar. Cahaya kedua didapat setelah doa dipanjatkan. Cahaya ketiga diraih karena kebugaran tubuh. Cahaya keempat didapat dari jamuan dari alam. Cahaya kelima berada di balik pelita rumah pengetahuan. Cahaya keenam berasal dari suara di tengah desa. Dan cahaya ke tujuh muncul dalam tidur istirahat,” Cucak Ijo memperjelas.
“Baiklah. Aku akan melakukannya.”
Bersama Cucak Ijo Sekar memutuskan berangkat pagi-pagi sekali ke arah yang ditunjukkan Cucak Ijo, arah Timur. Sekar biasanya bangun siang dan malas-malasan, tapi kali ini ia memaksa diri. Saat sinar matahari pertama muncul, ia berlari. Udara pagi begitu segar, membuatnya bersemangat. Di balik padang rumput ia menemukan batu kecil berkilau kuning.
“Inilah cahaya pertama—kebiasaan bangun pagi,” kata Cucak Ijo. Batu itu menyala indah sekali. “Cepat masukkan ke kantong!” sambung Cucak Ijo. Dengan masih terkesima Sekar cepat-cepat memasukkan batu bercahaya kuning itu. Dalam hati ia berkata, “Ternyata bangun pagi itu menyenangkan.” Sekar dan Cucak Ijo melanjutkan perjalanan.
Di tengah perjalanan, Sekar merasa haus dan lapar. Tapi perbekalannya tinggal sedikit. Ia duduk di bawah pohon beringin dengan sulur-sulur yang panjang. Cucak Ijo entah ke mana. “Kakek…” Sekar mengingat kakeknya. Ia baru saja meneguk air dan menelan Sego Cawuk terakhir yang ia bawa. Nasi khas Bayuwangi itu dimasak kakek Sekar sebelum menghilang. Sekar menghangatkannya berkali-kali.
“Sekar! Sekar! Bangun!” Cucak Ijo sudah kembali.
Sekar bangun dari tidurnya yang sebentar. Ia terlihat putus asa.
“Jangan menyerah, Sekar. Berdoalah, Sekar! Berdoalah!” seru Cucak Ijo. Angin berembus lembut. Suara gamelan Gandrung terdengar lamat-lamat. Sekar merapikan selendang batik Gajah Oling pemberian kakeknya. Ia duduk bersimpuh, berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Ia berdoa untuk dirinya, keselamatan kakeknya, dan orang-orang desanya. Sesaat setelah berdoa, tiba-tiba jatuh sebuah pohon beringin di hadapan Sekar. Buah itu bersinar putih, indah sekali.
“Cahaya kedua, cahaya kedua. Itu cahaya kedua Sekar,” ujar Cucak Ijo. “Cahaya kedua didapat dari beribadah,” Cucak Ijo melanjutkan. Dengan bahagia Sekar segera memungut buah bercahaya itu dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia sudah menemukan dua cahaya. “Masih lima lagi,” ujarnya dalam hati. Sekar kembali semangat. Ia mengingat nasihat kakeknya bahwa saat sedang merasa kesusahan atau rindu kepada ayah ibunya yang sedang bekerja jauh dari Banyuwangi, Sekar harus berdoa—mendoakan kedua orang tuanya dan berdoa supaya diberi jalan keluar atas kesusahannya.
Sebelum melanjutkan perjalanan, teman-teman Cucak Ijo memberi Sekar banyak buah-buahan. Burung kutilang memberinya srikaya dan pisang. Sedangkan Cucak Gunung membawakannya jambu air. Burung-burung lain tak mau ketinggalan.
“Bermain-main di hutan jati… Main sebentar tiba-tiba hujan… Janganlah kau berduka hati… Mintalah pertolongan kepada Tuhan,” Cucak Gunung berpantun sembari menyerahkan setangkai jambu air segar.
Mendengar pantun itu Sekar bertambah semangat. Ia dan Cucak Ijo melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke sebuah lembah. Sekar harus menyeberangi sungai deras. Ia hampir terjatuh, tapi tubuhnya kuat karena sering membantu kakeknya berkebun. Ia begerak lincah seperti penari Gandrung. Ia sadar bahwa aktivitas di kebun—yang selama ini ia benci—tanpa ia sadari sangat berguna dalam situasi seperti ini. Pantas saja Kakek sangat kuat, gumamnya dalam hati. Setelah berhasil menyeberang, batu di bawah kakinya berpendar merah jingga.
“Cahaya ketiga. Cahaya ketiga. Segera ambil, Sekar!” desak Cucak Ijo. Sekar mengambilnya dengan cepat. Sekali lagi ia mengingat nasihat kakeknya. Kata kakeknya, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ia baru sadar pentingnya bergerak. Seandainya ia enggan membantu berkebun, ia pasti tidak mampu menyeberangi sungai dan mendapatkan cahaya ketiga. Kunci cahaya ketiga ialah berolahraga.
Sekar dan Cucak Ijo sampai di tengah hujan. Sekar kembali lapar. Ia mengambil buah-buahan pemberian para burung dari tasnya. Ia memakan sebuah jambu dan membaginya dengan Cucak Ijo. Dan di antara jambu-jambu itu, Sekar melihat sebuah jambu bersinar kehijauan. “Cahaya keempat. Cahaya keempat didapat dari makanan sehat,” kata Cucak Ijo. Sekar memungut buah itu dan memasukkannya ke dalam kantong bersama cahaya yang lain. Ia kembali mengingat nasihat kakeknya kenapa ia harus menghindari makanan yang tidak sehat.
Setelah merasa kenyang, Sekar dan Cucak Ijo berjalan melewati hutan, dan mereka sampai di sebuah desa yang sunyi. Di sana ada perpustakaan bambu yang penuh dengan naskah kuno. Sekar membuka sebuah naskah tentang Sri Tanjung dan Sidapaksa—tentang kesetian dan kejujuran. Dari dalam buku tua itu keluar cahaya biru terang.
“Itu cahaya kelima, Sekar! Cahaya kelima,” ucap Cucak Ijo gembira. Naskah itu kemudian berubah menjadi bola kristal berwarna biru. Sekar tersenyum dan kembali mengingat nasihat kakeknya bahwa ia harus rajin belajar dan membaca buku.
“Minum madu di bawah pilar… Pilar empat berlampu pija… Rajin-rajinlah kau belajar… Supaya jadi anak pintar,” celetuk Burung Hantu si penjaga perpustakaan bambu. Sekar dan Cucak Ijo mengangguk dan berpamitan. Mereka meninggalkan Burung Hantu dan melanjutkan perjalanan.
Saat malam tiba, Sekar melewati desa nelayan yang rusak akibat badai. Ia melihat para nelayan sedang mengangkat perahu yang terbalik. Sekar begegas membantu. Setelah itu, ia juga membantu para istri nelayan memperbaiki jaring. Orang-orang di desa itu berterima kasih kepada Sekar. Ketika mereka menyalakan api unggun bersama, nyala api berubah menjadi cahaya oranye keemasan.
“Cahaya keenam, Sekar! Ambil! Ambil!” seru Cucak Ijo. “Cahaya itu muncul saat kamu bermasyarakat dan menebar kebaikan,” jelas burung itu kemudian. Sekar kembali mengingat kakeknya. Lelaki tua itu pernah berkata bahwa Sekar tidak hidup sendiri. Ia harus membantu orang yang membutuhkan pertolongan.
Sekar beranjak dari desa itu. Ia ingin terus berjalan sampai fajar, tapi tubuhnya lelah. Cucak Ijo berkata, “Cahaya terakhir hanya muncul jika kau tahu kapan harus beristirahat, Sekar.” Lalu Sekar berbaring di bawah pohon waru dan memejamkan mata. Malam begitu tenang. Dan Sekar pun demikian. Ia terlelap. Saat ia tertidur, tujuh cahaya dari langit turun perlahan. Menyatu di dadanya. Ia bermimpi melihat kawah Ijen, Pulau Merah, Tari Gandrung, kebuh buah naga, Teluk Ijo, merak, banteng—di Alas Purwo—yang masih lestari, sawah yang diselimuti cahaya biru keemasan. Lalu Sekar mendengar suara kakeknya.
“Sekar. Sekar. Bangun, Sekar! Bangun! Hari sudah pagi,” suara Kakek sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sekar. Sekar terbangun dan ia terkejut telah berada di kamarnya. Samar-samar ia melihat kakeknya duduk di pinggir ranjang. Saat merasa jelas dengan cepat ia memeluk kakeknya sambil terisak.
“Kakekkk… Akhirnya kakek kembali.” Ia menangis haru, bahagia.
Kakeknya bingung. “Memangnya Kakek dari mana? Kakek tidak ke mana-mana.” Sekar tidak menjawab. Ia hanya memeluk kakeknya erat-erat, seakan tak mau kakeknya dan orang-orang desa menghilang lagi. Ia tahu itu hanya mimpi, tapi ia tak mau mimpi itu menjadi kenyataan. Ia berjanji kepada Kakeknya akan bangun pagi, rajin beribadah, berolahraga, makan makanan bergizi, gemar belajar, bersosial, dan tidur yang cukup.
Di pagi yang membahagiakan itu, di balik jendela kamar Sekar, di sebuah pohon srikaya, seekor burung Cucak Ijo sedang berkicau riang. Ia baru saja menghabiskan setengah srikaya yang matang.[T]
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole



























