WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karena film ini disutradarai oleh sutradara ternama Indonesia yakni Angga Dwimas Sasongko (Sutradara dari film Mencuri Raden Saleh (2022), Filosofi Kopi (2015), dan lainnya). Wah, setelah tahu itu tanpa pikir panjang saya putuskan untuk menonton Surat Dari Praha saat itu juga.
Surat Dari Praha rilis pada tahun 2016, film dengan genre romantis/drama, berdurasi 1 jam 37 menit. Cerita inti film Surat Dari Praha sebenarnya cukup sederhana. Seorang perempuan bernama Larasati atau dipanggil Laras (diperankan Julie Estelle) yang sangat terdesak memerlukan warisan dari Ibunya yang baru saja meninggal. Syarat yang diberikan sang Ibu melalui surat wasiat untuk Laras mendapat warisan itu adalah dengan mengantarkan sebuah kotak berisi surat-surat kepada seorang laki-laki bernama Jaya (diperankan Tio Pakusadewo) di Praha, Ceko dan mendapatkan tanda tangan Jaya sebagai bukti terima.
Awalnya, saya kira perjalanan Laras mencari Jaya akan sangat mulus dan penuh nostalgia hangat. Tapi ternyata perjalanan Laras cukup memprihatinkan. Usahanya mengantarkan kotak berisi surat-surat dan mendapatkan tanda tangan Jaya bukanlah hal mudah bagi Laras yang keras kepala.
Di pertengahan film, saya berusaha memahami karakter Laras dan Jaya. Laras adalah perempuan berkepala batu dan dingin. Saya pikir, kalau Laras bisa lebih sopan dan lembut pasti semuanya tidak akan seburuk itu. Tapi setelah dipikir-pikir, emosi Laras bisa dimengerti karena dia mungkin sedang kebingungan tentang “Siapa sih Bapak-bapak bernama Jaya ini? Kenapa dia jadi syarat buat gue dapet warisan Ibu gue?” dan ia pasti merasa putus asa karena tanpa warisan itu, Laras tidak memiliki apa pun.
Sedangkan Jaya, adalah seorang laki-laki yang hidup dengan hanya ditemani oleh anjingnya bernama Bagong, di sebuah apartemen tua di Praha. Sama seperti Laras, Jaya memiliki karakter yang tegas dan keras. Terlihat dari caranya memperlakukan Laras dari sejak pertama kali Laras menemuinya di awal film.
Setelah melewati beberapa kali adu mulut dengan berbagai macam argumen dan kejadian tidak terduga yang dialami keduanya.
Sedikit demi sedikit, keduanya mulai melunak dan perlahan-lahan Jaya mulai membuka diri dengan menceritakan kisah hidupnya. Jaya, Laki-laki yang berasal dari Indonesia namun tidak lagi memiliki kewarganegaraannya.
Surat dari Praha mulai memperlihatkan bumbu-bumbu sejarah melalui nostalgia hidup Jaya. Tepatnya Peristiwa 1965, sebuah sejarah yang menjadi peristiwa pelanggaran berat terhadap Hak Asasi Manusia yang telah mengambil banyak sekali korban warga negara Indonesia. Termasuk dengan pencabutan status kewarganegaraan yang memaksa mereka tidak bisa kembali ke tanah air.
Jaya adalah salah satu korban dari mereka yang menjadi eksil politik yang harus terasingkan oleh negaranya sendiri dan menjadi stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Pada tahun 60-an, presiden Soekarno mengirim beberapa pelajar Indonesia dengan memberikan beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri, salah satunya Praha.
Hingga pada tahun 1965 ketika Orde Baru, para pelajar diminta untuk menunjukkan kesetiaan dan menunjukkan pilihan politik mereka. In this case, Jaya adalah salah satu dari pelajar yang menolak pemerintahan orde baru dan memilih menetap di Praha. Mereka yang menolak, kehilangan izin paspor dan kewarganegaraan sehingga tidak bisa kembali ke Indonesia.
Selama Jaya bercerita kepada Laras bahwa banyak sekali hal yang pada akhirnya harus Ia relakan karena pilihan politik tegasnya itu. Bagaimana Ia merasa dipatahkan oleh negaranya sendiri, dan akhirnya bertahan hidup sendiri di negara orang. Lalu apa hubungannya Jaya dengan Laras dan kotak surat-surat itu sampai Jaya menjadi syarat dari warisan Ibu laras? Jawabannya nonton sendiri karena saya tidak mau spoiler seluruhnya, hehe.
Film ini tidak begitu membahas secara mendalam peristiwa sejarahnya, namun saya pikir memang bukan tujuan utama film ini untuk deep dive membahas sejarah. Cukup terbawa emosional dengan obrolan antara Jaya dan Laras ketika keduanya mencoba saling memahami satu sama lain.
Terdapat scene yang cukup menarik perhatian saya dimana Jaya mengundang teman-temannya yang memiliki nasib serupa dan mereka bernyanyi bersama menyanyikan “Indonesia Pusaka”, memperlihatkan bahwa mereka yang bernasib sama bisa saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.
Penyampaian film ini sangat halus dan pelan. Jumlah karakternya hanya sedikit tapi ngena. Menurut saya, pilihan yang tepat memilih Tio Pakusadewo yang sangat karismatik untuk memerankan karakter Jaya. Mungkin chemistry antara pemeran dibangun dengan baik sehingga film sederhana ini cukup meninggalkan kesan bagi saya. Tidak semua orang menyukai karakteristik film yang lambat dan banyak obrolan seperti ini, tapi bagi saya film ini bisa menarik perhatian untuk mengajak penonton setidaknya menjadi penasaran dengan sejarah Indonesia.
Melalui Surat Dari Praha yang memperlihatkan sisi lain dari sejarah kelam 1965, saya sebagai penonton turut terpikirkan dengan kondisi korban-korban yang mungkin hingga saat ini masih berusaha ikhlas merelakan banyak hal karena ketidakadilan kala itu.
Meskipun hanya dibuat sebagai film fiksi, latar sejarah yang diceritakan film ini adalah sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi dan dialami orang-orang di luar sana. Semoga mereka dalam kondisi sehat dan baik-baik saja di mana pun mereka berada. Kita dapat belajar bahwa peristIwa-peristiwa dalam buku sejarah bukan sekadar tulisan, tapi peristiwa-peristiwa itu menjadi bentuk pelajaran untuk kita sebagai warga negara Indonesia untuk direnungkan. [T]
Penulis: Rana Nasyitha
Editor: Adnyana Ole



























