24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Moch. Anil Syidqi by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
in Ulas Pentas
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Foto: Sumiati bersama tokoh Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan.

Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diproduksi oleh Rumah Kreatif Damar Art (Banyuwangi) pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi [HARJABA] ke-254 di Gesibu, Komplek Taman Blambangan, Banyuwangi (20/12/2025).

Karya ini hadir dari tangan dingin Eko Ari Bawanto [sutradara], Echa Puri Albatiruna [penulis naskah], Lista Dewi Ramadhaningrum [Koreografer]. Empat lainnya, ada Achzana Ilhamy [komposer etnik], Ananda Mahardika Putra [komposer modern], Mirza Prastyo [Ilustrator], dan Moh. Faris Efendi [Animator]. Tim artistik diisi kombinasi apik Arini Mai Sela, Fahrina Aulia, Shinta Maulidya, Ellysa Nanda, dan Anggi Dinda. Sementara itu, para pemusik adalah keluarga besar Rumah Kreatif Damar Art.

Turut tampil para artis ternama Banyuwangi, dari Yon’s DD, Wandra, hingga Sumiati. Masing-masing menampilkan lagu andalan mereka. Yon’s DD dengan Suling Montro. Wandra dengan Sawangen. Sumiati dengan Isun Lare Using.

Para penari, prajurit pembawa bendera merangkap pasukan alap-alap diperankan oleh Bagus Ponco, Arinda Afrionika, Zhivana Inezya, Zahra Asfa’ullya, Yuarma Auldy, Bintang Ahmad. Prajurit gandewa diperankan oleh Rifa’i, Wiji Amelia, Arletha Bhineka, Mauren Putri, Putu Evinka Prancylia, Anwarul Maulah. Penari bedhaya adalah Bunga Sintia, Denisa Meta, Jihan Ceysa, Dwi Zahra, Rachel Ervio. Kedua tokoh utama adalah Sayu Wiwit dan Rempeg Jagapati. Masing-masing diperankan oleh Wahyu Suri Marwani [Sayu Wiwit] dan Romi Romansyah [Rempeg Jagapati].

Sajian Karya

Cahaya merah merona memenuhi ruang pertunjukan. Ilustrasi musik drone muncul bersama lenyapnya sorot lampu. Dari layar tengah, tersaji ilustrasi berlatar merah berapi, menarasikan sinopsis karya.

Dari darah yang tumpah di Blambangan, lahirlah banyuwangi yang berdaya menjaga tradisi, menoreh prestasi, mengibarkan cahaya dari timur Nusantara.

Para penari memasuki panggung sembari mengibarkan bendera dalam cahaya merah redup menuju terang. Mereka berlari berputar. Sekian kali, mengitari panggung persegi panjang yang terbatas ruang. Tak sampai berhenti, penari lain masuk. Menyusul setelahnya sebuah formasi dengan penataan rapi, berpola segitiga meruncing ke depan.

Baris belakang diisi oleh prajurit pembawa bendera [prajurit alap-alap]. Sebaris di depannya adalah prajurit gandewa. Para penari bedhaya dan tokoh Sayu Wiwit mengisi baris kedua dan ketiga dari depan. Sementara tokoh Rempeg Jagapati berada pada barisan terdepan.

Sembari bernyanyi serempak, para pemain berpose. Ada yang menggerakkan bendera atau meletakkan tangan menyilang dada tanpa gerak berarti. Kecuali tokoh Mas Rempeg yang mengalun merespons musik.

Mereka menyanyikan tembang pembukaan. Sebuah penghormatan pada penonton dan permohonan keselamatan pada Tuhan.

Apakah kita akan membiarkan dada kita diinjak-injak? Kata Jagapati menyemangati pasukannya. Kalimat ini memantik lonjakan emosi sajian. Dada adalah bagian tubuh. Menginjak dada sama halnya merendahkan harkat martabat. Maka responnya adalah melawan atau mati.

Peperangan antara dua belah kelompok pun tak dapat terhindarkan. Pasukan bercelurit pimpinan Tumenggung Alap-alap dengan pasukan bergandewa pimpinan Rempeg Jagapati. Berjalan selama beberapa waktu, koreografi dan musik menyatu padu menyajikan gambaran peperangan yang sengit. Tak tampak ada yang kalah atau menang.

Buummm! Waktu seolah berhenti. Para penari mematung pada pose terakhirnya. Terbagi dalam kelompok kecil, dua sampai tiga penari. Ada yang berdiri dan jongkok setengah badan.

Musik berganti untuk masuk ke sajian lagu. Yon’s DD, salah satu artis yang tampil pada drama musikal ini, masuk perlahan. DD menyanyikan lagu Suling Montro. Lagu yang diciptakannya bersama Elvin Hendratha pada 2022.

Nyeja isun yara mula nyeja

Ngirim dilah giningna manteb

Nggawa atinrika liwat lawang ngarep

Melebuwa manjinga nong atinisun kelawan reda

Syair tersebut adalah mantra. Sebuah permohonan untuk membuka hati seseorang (perempuan). Agar hatinya luluh, menyatu ikhlas dengan perasaan sang pemantra.

Usai lagu, musik kembali naik. Suasana wingit terbangun dengan puncak pelafalan doa oleh Yon’s DD.

Pembacaan

Kurang lebih begitulah gambaran sajian drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Secara keseluruhan tampilan, karya ini sangat menarik. Namun, ada satu catatan penting yang mungkin terlewatkan oleh para kreator. Ini utamanya soal kesesuaian lagu dengan narasi yang ingin dibangun. Sedari awal pembacaan sinopsis, jelas menegaskan bahwa drama ini mengisahkan perjuangan Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit dalam perlawanan di Tanah Bayu.

Sayangnya, dari tiga lagu kunci yang dipilih, hanya satu (yaitu Isun Lare Using) yang memang sesuai dengan alur cerita. Karena itu karya ini menjadi semacam kepingan tema yang disusun dan disisipi satu narasi. Perjuangan.

Suling Montro, misalnya. Di tengah jalannya cerita, lagu ini seolah berdiri sendiri sebagai intermeso. Secara tema, ia tidak sesuai. Hanya saja, dinamika musik masih melebur dengan bangunan suasana. Terlebih saat DD merapalkan doa keselamatan untuk perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-254. Bukan hal yang keliru. Namun, itu semakin melebarkan konteks dengan kisah yang ingin diungkap.

Kasusnya sama seperti Suling Montro. Penyematan Sawangen [Wandra] justru mematahkan bangunan tema yang dibangun kuat sejak awal sajian. Di titik ini, kreator tampak ingin memunculkan kebimbangan Sayu Wiwit akan situasi di Bayu. Secara koreografi dan visual, itu berhasil. Namun tidak dengan lagu sebagai sorot utama. Sawangen di sini menyuarakan kisah patah hati dalam hubungan dua sejoli [kekasih]. Yang secara syair, bersimpangan dengan cinta terhadap negara.

Secara keseluruhan, patahan-patahan ini samar tertutupi oleh bangunan musik, koreografi, dan visual yang ciamik. Emosinya cukup. Tidak kurang apalagi berlebihan. Terlepas dari keterlewatan yang mungkin tak disengaja itu, drama musikal ini cukup berhasil mendobrak batasan kekaryaan yang biasa dilakukan di Banyuwangi. Memadukan dua kutub peradaban ilustrasi visual modern dan musik digital, dengan elemen etnik tari, musik, dan sejarah.

Di perayaan HARJABA ke-254, Damar Art menawarkan gebrakan baru di panggung seni tradisi Banyuwangi. [T]

Penulis: Moch. Anil Syidqi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyuwangiDramadrama musikalkesenian banyuwangi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Judi Dinormalisasikan di Tempat Suci di Bali?

Next Post

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Moch. Anil Syidqi

Moch. Anil Syidqi

Mahasiswa S2 di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta. Pernah mengajar gamelan jawa di berbagai tingkatan sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Memupuk konsistensi sebagai nilai hidup.

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

Sisi Lain 1965 : 'Surat dari Praha' (2016)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co