6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
January 21, 2026
in Ulas Musik
‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Matt Monro

Mendengarkan Matt Monro menyanyikan “Born Free” serasa melakukan perjalanan pulang ke tahun 1960-an, masa ketika dunia berada di ambang perubahan besar. Di jalanan, orang-orang meneriakkan protes; di kampus dan kafe, gagasan tentang kebebasan, hak sipil, dan penolakan terhadap tatanan lama bergema. Dalam lanskap itulah “Born Free” hadir, bukan sekadar sebagai soundtrack film, melainkan sebagai himne lembut bagi jiwa yang merindukan kebebasan. Lagu ini menangkap kesadaran zaman: bahwa kebebasan bukan hanya tuntutan politik, melainkan cara hidup, sebuah dorongan untuk kembali pada fitrah manusia: bebas seperti angin.

Kita tentu merindukan suara bariton Matt Monro yang hangat dan bersih itu. Namun di balik ketenangan suaranya, hidup Monro, yang terlahir dengan nama Terry Parsons di London Utara pada 1930, justru penuh liku. Ia kehilangan ayah pada usia tiga tahun, disusul ibunya tak lama kemudian, dan harus menjalani masa kecil di panti asuhan.

Sekolah ditinggalkannya pada usia 14 tahun demi bertahan hidup, sebelum akhirnya menjalani wajib militer pada usia 18 tahun dan ditempatkan di Hong Kong sebagai instruktur mengemudi tank.
Di sanalah, justru jauh dari rumah, bakat menyanyinya berkembang. Monro kerap mengikuti kontes bakat dan hampir selalu menang, sampai-sampai ia dilarang ikut kompetisi karena dominasinya. Sebagai gantinya, ia diberi acara radio sendiri berjudul “Terry Parsons Sings.”

Sepulang ke London, kariernya mulai menemukan arah setelah pianis Winifred Atwell merekomendasikannya ke perusahaan rekaman, dan di sanalah ia mendapat nama baru: Matt Monro.

Kesempatan emas datang ketika produser EMI, George Martin, mengontraknya ke label Parlophone. Kolaborasi Monro, Martin, dan penata musik Johnnie Spence melahirkan serangkaian rekaman elegan: Portrait of My Love, My Kind of Girl, Softly As I Leave You, From Russia with Love, hingga Walk Away. Antara 1960 dan 1966 saja, Parlophone merilis sembilan belas single, delapan EP, dan empat LP Matt Monro, sebuah produktivitas yang mengukuhkan posisinya sebagai penyanyi balada kelas atas di Inggris.

Pada 1966, Monro pindah ke Capitol Records dan kerap disebut sebagai pengganti ideal Nat King Cole yang wafat setahun sebelumnya. Didukung musisi dan arranger papan atas seperti Sid Feller dan Billy May, ia merilis album-album seperti This Is the Life, Invitation to the Movies, dan Invitation to Broadway. Lalu, pada 1967, lahirlah lagu yang kelak menjadi penanda kariernya: “Born Free.”
Lagu ini diciptakan Don Black (lirik) dan John Barry (musik) untuk film tentang kisah nyata Joy Adamson yang membesarkan anak singa yatim piatu, Elsa, di Kenya. Film dan lagunya memenangkan Oscar, dan “Born Free” segera melekat sebagai lagu khas Monro. Secara tematis, liriknya sederhana, bahkan nyaris naif:

Born free
As free as the wind blows
As free as the grass grows
Born free to follow your heart

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat maknanya meluas. Meski ditulis untuk kisah konservasi satwa, lagu ini dengan cepat dibaca sebagai antitesis terhadap kekakuan struktur sosial dan moral yang membelit masyarakat modern. Ia menyentuh urat batin pendengar yang, di tengah hiruk-pikuk protes dan eksperimen budaya, juga merindukan kebebasan yang lebih sunyi, lebih personal, dan lebih eksistensial. Dan saat lagu ini meledak (1966-1977) juga merupakan puncak gerakan Hippie dan Summer of Love.

Sejumlah pengamat pernah mengatakan bahwa ketika musik psychedelic dan demonstrasi jalanan menjadi wajah paling mencolok dari kontra-budaya 1960-an, “Born Free” justru menawarkan bentuk perlawanan yang lebih subtil namun tak kalah dalam: sebuah pernyataan batin tentang hak untuk menjadi diri sendiri, untuk mengikuti kata hati, dan untuk hidup selaras dengan alam.

Di sini, suara Matt Monro memainkan peran penting. Ia tidak berteriak, tidak menghasut, tidak menggugat secara frontal. Ia membujuk dengan kelembutan. Dan justru lewat kelembutan itulah pesan kebebasan terasa semakin mendalam, seakan mengingatkan bahwa sebelum menjadi slogan politik, kebebasan adalah pengalaman batin yang paling purba.

Getaran lagu ini pun melampaui wacana sosial dan masuk ke wilayah etika terhadap alam. Kebebasan bukan hanya milik manusia, tetapi juga milik makhluk lain yang kerap terjerat oleh keserakahan dan eksploitasi. Dalam arti itu, “Born Free” berbicara tentang kebebasan yang utuh: kebebasan manusia, sekaligus kebebasan alam liar untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, “Born Free” bukan sekadar lagu populer dari era keemasan balada orkestra, melainkan gema nostalgia dari semangat zaman yang ingin melepaskan diri dari belenggu, baik yang bersifat sosial, kultural, maupun batiniah. Di balik aransemen megah dan suara bariton yang teduh, tersimpan denyut radikal era tersebut: penolakan terhadap tirani, sekaligus perayaan atas kebebasan tanpa syarat. Sebuah ajakan halus untuk kembali pada sifat alami manusia, lahir untuk merdeka, dan berjalan mengikuti suara hati. [T]

Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
I Won’t Cry: Keteguhan Hati dalam Semangat Rastafari
‘Down in Brazil’: Membawa Kita ke Surga Tropis
Tags: lagumusikmusik baratulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Next Post

‘Orang Ketiga’ yang Selalu Menggoda

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
0
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?” Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang...

Read moreDetails

Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 18, 2026
0
Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

"Yang paling dalam tidak pernah berisik, ia tahu kapan harus berbunyi, dan kapan memberi jeda" * SAYA pertama kali memegang...

Read moreDetails

Desperado:  Tentang Kesendirian dan Keberanian Mencintai

by Ahmad Sihabudin
February 16, 2026
0
Desperado:  Tentang Kesendirian dan Keberanian Mencintai

DALAM hidup setiap manusia adalah seorang desperado. Pengembara  yang menempuh jalan panjang antara keinginan untuk bebas dan kebutuhan untuk dicintai....

Read moreDetails

‘Chet Baker’: Keindahan yang Diekstraksi dari Rasa Sakit

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 13, 2026
0
‘Chet Baker’: Keindahan yang Diekstraksi dari Rasa Sakit

“Look for the Silver Lining” lahir dari kegelapan, merayap seperti bisikan yang mengubah cara kita mendengar kesedihan. Chet Baker tidak...

Read moreDetails

‘All I Am’: Balada yang Lahir dari Kursi Roda

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 8, 2026
0
‘All I Am’: Balada yang Lahir dari Kursi Roda

Bayangkan sebuah suara yang lahir dari tubuh yang tak lagi bisa bergerak, namun justru bergerak paling jauh, menembus dinding waktu,...

Read moreDetails

‘Another Day’: Balada Puitis Dream Theater

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 5, 2026
0
‘Another Day’: Balada Puitis Dream Theater

Ada lagu yang tidak untuk mengguncang, melainkan berbicara tenang menemani kita. 'Another Day' adalah bisikan pelan di tengah hiruk-pikuk album Images...

Read moreDetails

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 31, 2026
0
‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

"Leaving on a Jet Plane” karya John Denver bukan sekadar lagu tentang bandara dan koper yang ditutup rapat. Ia adalah...

Read moreDetails

Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 29, 2026
0
Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

Dunia jarang benar-benar sunyi. Ia dipenuhi suara, tuntutan, berita buruk, dan kegelisahan yang tak kunjung reda. Namun, di sela kebisingan...

Read moreDetails
Next Post
‘Orang Ketiga’ yang Selalu Menggoda

‘Orang Ketiga’ yang Selalu Menggoda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co