24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
January 21, 2026
in Esai
Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kuliah itu scam.”

Kalimat itu datang dari potongan video seorang perempuan berusia 19 tahun yang baru menikah, lalu beredar luas di media sosial. Ia terdengar seperti pengakuan kemenangan: keluar dari sistem pendidikan formal, memilih pernikahan, dan menyebut dirinya lebih merdeka dibanding mereka yang masih bertahan di bangku kuliah.

Di ruang digital, kalimat itu dirayakan sebagai keberanian melawan sistem. Tetapi dalam masyarakat patriarkal, tidak ada keputusan perempuan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap pilihan selalu dibentuk—dan dibatasi—oleh struktur. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah apakah ia berhak memilih, melainkan: mengapa setiap kali sistem gagal, tubuh perempuan yang pertama kali diminta membayar?

Sistem pendidikan Indonesia memang bermasalah. Biaya pendidikan tinggi terus meningkat, kualitas tidak merata, dan ijazah sering tidak berbanding lurus dengan jaminan hidup layak. Kritik terhadap pendidikan formal bukan hal baru. Namun dalam struktur patriarki, kegagalan sistem tidak pernah berdampak netral gender.

Bagi laki-laki, putus sekolah sering dipahami sebagai sebuah fase. Mereka masih diberi waktu untuk mencoba, gagal, dan mengulang. Bagi perempuan, putus sekolah kerap dibaca sebagai tanda kesiapan: siap menikah, siap mengurus, siap mengalah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan lebih rendah lebih rentan menikah dini dan keluar dari pasar kerja formal. Pendidikan, bagi perempuan, bukan sekadar jalur karier—ia adalah alat tawar untuk menunda eksploitasi domestik dan reproduktif.

Ketika pendidikan didelegitimasi sebagai “scam”, perempuan kehilangan salah satu alasan sosial yang masih dianggap sah untuk berkata: aku belum siap.

Bagi banyak perempuan muda, bertahan di pendidikan pun bukan perkara sederhana. Pendidikan tinggi sering hanya bisa diakses lewat beasiswa, yang berarti hidup dalam kompetisi, ketidakpastian, dan rasa takut kesempatan itu sewaktu-waktu dicabut. Mencari pendidikan bukan privilage, melainkan bentuk bertahan hidup.

Namun justru di situlah pendidikan bekerja sebagai perlawanan: ia memberi waktu. Waktu untuk berpikir, mengenali diri, dan menunda keputusan yang konsekuensinya seumur hidup. Ketika perempuan harus terus membuktikan diri layak sekolah, sementara pernikahan ditawarkan sebagai jalan pintas yang “lebih realistis”, pilihan itu tidak pernah benar-benar setara.

___

Secara personal, Saya sendiri belum memikirkan pernikahan sebagai tujuan hidup. Bukan karena menolak cinta atau keluarga, melainkan karena sejak lama saya melihat bagaimana pernikahan kerap menjadi ruang kekerasan yang dinormalisasi. Perempuan dipukul lalu diminta bertahan. Dilecehkan lalu disuruh sabar. Lelah lalu dianggap kurang bersyukur.

Dalam banyak kisah di sekitar saya, pernikahan tidak datang sebagai ruang aman, melainkan sebagai “ruang sunyi yang membuat perempuan kehilangan suara”. Maka menunda menikah, bagi saya, bukan sikap kekanak-kanakan, melainkan insting untuk bertahan hidup.

Ketakutan ini tidak saya rasakan sendirian. Banyak anak muda hari ini—terutama perempuan—justru takut menikah. Mereka tumbuh menyaksikan perceraian yang melelahkan, kekerasan dalam rumah tangga yang ditutup atas nama keluarga, ibu-ibu yang kehilangan mimpi setelah menikah, dan perempuan yang bertahan karena tidak punya pilihan ekonomi.

Ketakutan ini sering dipelintir sebagai krisis komitmen. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: anak muda terlalu sadar risiko. Mereka tahu bahwa pernikahan bukan sekadar janji cinta, tetapi kontrak hidup yang dampaknya panjang—terutama bagi perempuan.

Dalam konteks hukum dan institusi yang sering gagal melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, rasa takut itu bukan sikap berlebihan. Ia rasional.

___

Ironisnya, di saat banyak perempuan takut menikah karena melihat terlalu banyak luka, perempuan lain justru didorong menikah lebih cepat ketika sistem lain gagal menopang hidup mereka. Ketakutan yang seharusnya menjadi alarm bagi negara justru diabaikan. Negara tidak memperbaiki perlindungan, tidak memperkuat jaminan sosial, tidak memastikan keadilan dalam rumah tangga—tetapi tetap menuntut perempuan untuk percaya.

“Percaya bahwa pernikahan akan aman.”

“Percaya bahwa keluarga akan melindungi.”

“Percaya bahwa cinta cukup untuk menutup absennya negara.”

Pernikahan dini sering dibungkus dengan bahasa pilihan dan cinta. Namun UNICEF mencatat bahwa praktik ini secara tidak proporsional menimpa anak perempuan. Ini bukan kebetulan, melainkan mekanisme lama: memindahkan tanggung jawab negara kepada keluarga—dan akhirnya, kepada perempuan.

Ketika sekolah tidak ramah, lapangan kerja sempit, dan perlindungan sosial minim, pernikahan tampil sebagai solusi semu. Ia terlihat seperti jalan keluar, padahal sesungguhnya adalah pemindahan beban dari struktur ke tubuh perempuan.

“Laki-laki menikah untuk membangun hidup.”

“Perempuan menikah untuk menyesuaikan hidup.”

WHO telah lama menegaskan bahwa kehamilan di usia muda membawa risiko kesehatan yang lebih tinggi. Namun fakta ini jarang hadir dalam perayaan pernikahan dini. Karena dalam logika patriarki, tubuh perempuan dinilai dari fungsinya, bukan dari keselamatannya.

“Ketika tubuh lelah, perempuan diminta kuat.”

“Ketika mental runtuh, perempuan diminta bersyukur.”

Kerja reproduktif—mengandung, melahirkan, merawat—dianggap kodrat, bukan kerja. Maka tidak perlu kesiapan ekonomi, tidak perlu kesiapan mental, dan tidak perlu jaminan perlindungan.

Perempuan yang menikah dini lebih rentan berada di sektor kerja informal dengan upah rendah dan tanpa jaminan sosial. Ketergantungan ekonomi meningkat, dan daya tawar menurun. Dalam kondisi seperti ini, keluar dari relasi yang tidak adil menjadi nyaris mustahil.

Ini bukan kegagalan individu. Ini hasil dari sistem yang membuat perempuan:

“bergantung secara ekonomi”,

“kehilangan daya tawar”, dan

“sulit mengambil keputusan atas tubuh dan hidupnya sendiri.”

Ketika perempuan tidak punya penghasilan stabil, keputusannya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Bahkan tubuhnya pun kerap dinegosiasikan oleh orang lain.

Media sosial menyukai cerita tentang perempuan yang “berhasil keluar dari sistem”. Tetapi yang jarang ditampilkan adalah biaya struktural dari keberhasilan itu. Pengalaman personal dijual sebagai inspirasi, sementara risiko kolektif disembunyikan.

Jika perempuan lain gagal setelah meniru pilihan serupa, kegagalan itu akan dianggap kesalahan personal—bukan akibat struktur yang timpang. Inilah ilusi emansipasi: perempuan diberi hak memilih, tetapi tidak diberi perlindungan ketika pilihan itu berujung luka.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan selalu diminta dewasa lebih cepat. Cepat mengerti, cepat berkorban, cepat menyesuaikan diri. Kedewasaan bukan soal kesiapan, melainkan kepatuhan.

“Perempuan yang menikah muda disebut matang.”

“Perempuan yang menunda disebut egois.”

Padahal yang disebut matang sering kali hanyalah perempuan yang belajar menahan diri lebih awal.

Pertanyaannya bukan lagi “bolehkah perempuan menikah muda?”

Melainkan: “mengapa struktur membuat perempuan merasa harus menikah muda ketika sistem lain gagal?”

Ketika pendidikan runtuh, negara absen, dan ekonomi tidak aman, pernikahan dini bukan kebebasan. Ia adalah strategi bertahan hidup—yang biayanya dibayar dengan tubuh, waktu, dan masa depan perempuan.

Dan selama kita terus merayakan “pilihan” tanpa membongkar struktur yang memaksanya, perempuan akan terus diminta dewasa lebih cepat—sementara sistem tetap bebas dari tanggung jawab. [T]

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Next Post

‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

'Born Free': Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co