13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
January 21, 2026
in Esai
Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kuliah itu scam.”

Kalimat itu datang dari potongan video seorang perempuan berusia 19 tahun yang baru menikah, lalu beredar luas di media sosial. Ia terdengar seperti pengakuan kemenangan: keluar dari sistem pendidikan formal, memilih pernikahan, dan menyebut dirinya lebih merdeka dibanding mereka yang masih bertahan di bangku kuliah.

Di ruang digital, kalimat itu dirayakan sebagai keberanian melawan sistem. Tetapi dalam masyarakat patriarkal, tidak ada keputusan perempuan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap pilihan selalu dibentuk—dan dibatasi—oleh struktur. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah apakah ia berhak memilih, melainkan: mengapa setiap kali sistem gagal, tubuh perempuan yang pertama kali diminta membayar?

Sistem pendidikan Indonesia memang bermasalah. Biaya pendidikan tinggi terus meningkat, kualitas tidak merata, dan ijazah sering tidak berbanding lurus dengan jaminan hidup layak. Kritik terhadap pendidikan formal bukan hal baru. Namun dalam struktur patriarki, kegagalan sistem tidak pernah berdampak netral gender.

Bagi laki-laki, putus sekolah sering dipahami sebagai sebuah fase. Mereka masih diberi waktu untuk mencoba, gagal, dan mengulang. Bagi perempuan, putus sekolah kerap dibaca sebagai tanda kesiapan: siap menikah, siap mengurus, siap mengalah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan lebih rendah lebih rentan menikah dini dan keluar dari pasar kerja formal. Pendidikan, bagi perempuan, bukan sekadar jalur karier—ia adalah alat tawar untuk menunda eksploitasi domestik dan reproduktif.

Ketika pendidikan didelegitimasi sebagai “scam”, perempuan kehilangan salah satu alasan sosial yang masih dianggap sah untuk berkata: aku belum siap.

Bagi banyak perempuan muda, bertahan di pendidikan pun bukan perkara sederhana. Pendidikan tinggi sering hanya bisa diakses lewat beasiswa, yang berarti hidup dalam kompetisi, ketidakpastian, dan rasa takut kesempatan itu sewaktu-waktu dicabut. Mencari pendidikan bukan privilage, melainkan bentuk bertahan hidup.

Namun justru di situlah pendidikan bekerja sebagai perlawanan: ia memberi waktu. Waktu untuk berpikir, mengenali diri, dan menunda keputusan yang konsekuensinya seumur hidup. Ketika perempuan harus terus membuktikan diri layak sekolah, sementara pernikahan ditawarkan sebagai jalan pintas yang “lebih realistis”, pilihan itu tidak pernah benar-benar setara.

___

Secara personal, Saya sendiri belum memikirkan pernikahan sebagai tujuan hidup. Bukan karena menolak cinta atau keluarga, melainkan karena sejak lama saya melihat bagaimana pernikahan kerap menjadi ruang kekerasan yang dinormalisasi. Perempuan dipukul lalu diminta bertahan. Dilecehkan lalu disuruh sabar. Lelah lalu dianggap kurang bersyukur.

Dalam banyak kisah di sekitar saya, pernikahan tidak datang sebagai ruang aman, melainkan sebagai “ruang sunyi yang membuat perempuan kehilangan suara”. Maka menunda menikah, bagi saya, bukan sikap kekanak-kanakan, melainkan insting untuk bertahan hidup.

Ketakutan ini tidak saya rasakan sendirian. Banyak anak muda hari ini—terutama perempuan—justru takut menikah. Mereka tumbuh menyaksikan perceraian yang melelahkan, kekerasan dalam rumah tangga yang ditutup atas nama keluarga, ibu-ibu yang kehilangan mimpi setelah menikah, dan perempuan yang bertahan karena tidak punya pilihan ekonomi.

Ketakutan ini sering dipelintir sebagai krisis komitmen. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: anak muda terlalu sadar risiko. Mereka tahu bahwa pernikahan bukan sekadar janji cinta, tetapi kontrak hidup yang dampaknya panjang—terutama bagi perempuan.

Dalam konteks hukum dan institusi yang sering gagal melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, rasa takut itu bukan sikap berlebihan. Ia rasional.

___

Ironisnya, di saat banyak perempuan takut menikah karena melihat terlalu banyak luka, perempuan lain justru didorong menikah lebih cepat ketika sistem lain gagal menopang hidup mereka. Ketakutan yang seharusnya menjadi alarm bagi negara justru diabaikan. Negara tidak memperbaiki perlindungan, tidak memperkuat jaminan sosial, tidak memastikan keadilan dalam rumah tangga—tetapi tetap menuntut perempuan untuk percaya.

“Percaya bahwa pernikahan akan aman.”

“Percaya bahwa keluarga akan melindungi.”

“Percaya bahwa cinta cukup untuk menutup absennya negara.”

Pernikahan dini sering dibungkus dengan bahasa pilihan dan cinta. Namun UNICEF mencatat bahwa praktik ini secara tidak proporsional menimpa anak perempuan. Ini bukan kebetulan, melainkan mekanisme lama: memindahkan tanggung jawab negara kepada keluarga—dan akhirnya, kepada perempuan.

Ketika sekolah tidak ramah, lapangan kerja sempit, dan perlindungan sosial minim, pernikahan tampil sebagai solusi semu. Ia terlihat seperti jalan keluar, padahal sesungguhnya adalah pemindahan beban dari struktur ke tubuh perempuan.

“Laki-laki menikah untuk membangun hidup.”

“Perempuan menikah untuk menyesuaikan hidup.”

WHO telah lama menegaskan bahwa kehamilan di usia muda membawa risiko kesehatan yang lebih tinggi. Namun fakta ini jarang hadir dalam perayaan pernikahan dini. Karena dalam logika patriarki, tubuh perempuan dinilai dari fungsinya, bukan dari keselamatannya.

“Ketika tubuh lelah, perempuan diminta kuat.”

“Ketika mental runtuh, perempuan diminta bersyukur.”

Kerja reproduktif—mengandung, melahirkan, merawat—dianggap kodrat, bukan kerja. Maka tidak perlu kesiapan ekonomi, tidak perlu kesiapan mental, dan tidak perlu jaminan perlindungan.

Perempuan yang menikah dini lebih rentan berada di sektor kerja informal dengan upah rendah dan tanpa jaminan sosial. Ketergantungan ekonomi meningkat, dan daya tawar menurun. Dalam kondisi seperti ini, keluar dari relasi yang tidak adil menjadi nyaris mustahil.

Ini bukan kegagalan individu. Ini hasil dari sistem yang membuat perempuan:

“bergantung secara ekonomi”,

“kehilangan daya tawar”, dan

“sulit mengambil keputusan atas tubuh dan hidupnya sendiri.”

Ketika perempuan tidak punya penghasilan stabil, keputusannya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Bahkan tubuhnya pun kerap dinegosiasikan oleh orang lain.

Media sosial menyukai cerita tentang perempuan yang “berhasil keluar dari sistem”. Tetapi yang jarang ditampilkan adalah biaya struktural dari keberhasilan itu. Pengalaman personal dijual sebagai inspirasi, sementara risiko kolektif disembunyikan.

Jika perempuan lain gagal setelah meniru pilihan serupa, kegagalan itu akan dianggap kesalahan personal—bukan akibat struktur yang timpang. Inilah ilusi emansipasi: perempuan diberi hak memilih, tetapi tidak diberi perlindungan ketika pilihan itu berujung luka.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan selalu diminta dewasa lebih cepat. Cepat mengerti, cepat berkorban, cepat menyesuaikan diri. Kedewasaan bukan soal kesiapan, melainkan kepatuhan.

“Perempuan yang menikah muda disebut matang.”

“Perempuan yang menunda disebut egois.”

Padahal yang disebut matang sering kali hanyalah perempuan yang belajar menahan diri lebih awal.

Pertanyaannya bukan lagi “bolehkah perempuan menikah muda?”

Melainkan: “mengapa struktur membuat perempuan merasa harus menikah muda ketika sistem lain gagal?”

Ketika pendidikan runtuh, negara absen, dan ekonomi tidak aman, pernikahan dini bukan kebebasan. Ia adalah strategi bertahan hidup—yang biayanya dibayar dengan tubuh, waktu, dan masa depan perempuan.

Dan selama kita terus merayakan “pilihan” tanpa membongkar struktur yang memaksanya, perempuan akan terus diminta dewasa lebih cepat—sementara sistem tetap bebas dari tanggung jawab. [T]

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Next Post

‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

'Born Free': Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co