2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
January 21, 2026
in Esai
Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kuliah itu scam.”

Kalimat itu datang dari potongan video seorang perempuan berusia 19 tahun yang baru menikah, lalu beredar luas di media sosial. Ia terdengar seperti pengakuan kemenangan: keluar dari sistem pendidikan formal, memilih pernikahan, dan menyebut dirinya lebih merdeka dibanding mereka yang masih bertahan di bangku kuliah.

Di ruang digital, kalimat itu dirayakan sebagai keberanian melawan sistem. Tetapi dalam masyarakat patriarkal, tidak ada keputusan perempuan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap pilihan selalu dibentuk—dan dibatasi—oleh struktur. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah apakah ia berhak memilih, melainkan: mengapa setiap kali sistem gagal, tubuh perempuan yang pertama kali diminta membayar?

Sistem pendidikan Indonesia memang bermasalah. Biaya pendidikan tinggi terus meningkat, kualitas tidak merata, dan ijazah sering tidak berbanding lurus dengan jaminan hidup layak. Kritik terhadap pendidikan formal bukan hal baru. Namun dalam struktur patriarki, kegagalan sistem tidak pernah berdampak netral gender.

Bagi laki-laki, putus sekolah sering dipahami sebagai sebuah fase. Mereka masih diberi waktu untuk mencoba, gagal, dan mengulang. Bagi perempuan, putus sekolah kerap dibaca sebagai tanda kesiapan: siap menikah, siap mengurus, siap mengalah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan lebih rendah lebih rentan menikah dini dan keluar dari pasar kerja formal. Pendidikan, bagi perempuan, bukan sekadar jalur karier—ia adalah alat tawar untuk menunda eksploitasi domestik dan reproduktif.

Ketika pendidikan didelegitimasi sebagai “scam”, perempuan kehilangan salah satu alasan sosial yang masih dianggap sah untuk berkata: aku belum siap.

Bagi banyak perempuan muda, bertahan di pendidikan pun bukan perkara sederhana. Pendidikan tinggi sering hanya bisa diakses lewat beasiswa, yang berarti hidup dalam kompetisi, ketidakpastian, dan rasa takut kesempatan itu sewaktu-waktu dicabut. Mencari pendidikan bukan privilage, melainkan bentuk bertahan hidup.

Namun justru di situlah pendidikan bekerja sebagai perlawanan: ia memberi waktu. Waktu untuk berpikir, mengenali diri, dan menunda keputusan yang konsekuensinya seumur hidup. Ketika perempuan harus terus membuktikan diri layak sekolah, sementara pernikahan ditawarkan sebagai jalan pintas yang “lebih realistis”, pilihan itu tidak pernah benar-benar setara.

___

Secara personal, Saya sendiri belum memikirkan pernikahan sebagai tujuan hidup. Bukan karena menolak cinta atau keluarga, melainkan karena sejak lama saya melihat bagaimana pernikahan kerap menjadi ruang kekerasan yang dinormalisasi. Perempuan dipukul lalu diminta bertahan. Dilecehkan lalu disuruh sabar. Lelah lalu dianggap kurang bersyukur.

Dalam banyak kisah di sekitar saya, pernikahan tidak datang sebagai ruang aman, melainkan sebagai “ruang sunyi yang membuat perempuan kehilangan suara”. Maka menunda menikah, bagi saya, bukan sikap kekanak-kanakan, melainkan insting untuk bertahan hidup.

Ketakutan ini tidak saya rasakan sendirian. Banyak anak muda hari ini—terutama perempuan—justru takut menikah. Mereka tumbuh menyaksikan perceraian yang melelahkan, kekerasan dalam rumah tangga yang ditutup atas nama keluarga, ibu-ibu yang kehilangan mimpi setelah menikah, dan perempuan yang bertahan karena tidak punya pilihan ekonomi.

Ketakutan ini sering dipelintir sebagai krisis komitmen. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: anak muda terlalu sadar risiko. Mereka tahu bahwa pernikahan bukan sekadar janji cinta, tetapi kontrak hidup yang dampaknya panjang—terutama bagi perempuan.

Dalam konteks hukum dan institusi yang sering gagal melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, rasa takut itu bukan sikap berlebihan. Ia rasional.

___

Ironisnya, di saat banyak perempuan takut menikah karena melihat terlalu banyak luka, perempuan lain justru didorong menikah lebih cepat ketika sistem lain gagal menopang hidup mereka. Ketakutan yang seharusnya menjadi alarm bagi negara justru diabaikan. Negara tidak memperbaiki perlindungan, tidak memperkuat jaminan sosial, tidak memastikan keadilan dalam rumah tangga—tetapi tetap menuntut perempuan untuk percaya.

“Percaya bahwa pernikahan akan aman.”

“Percaya bahwa keluarga akan melindungi.”

“Percaya bahwa cinta cukup untuk menutup absennya negara.”

Pernikahan dini sering dibungkus dengan bahasa pilihan dan cinta. Namun UNICEF mencatat bahwa praktik ini secara tidak proporsional menimpa anak perempuan. Ini bukan kebetulan, melainkan mekanisme lama: memindahkan tanggung jawab negara kepada keluarga—dan akhirnya, kepada perempuan.

Ketika sekolah tidak ramah, lapangan kerja sempit, dan perlindungan sosial minim, pernikahan tampil sebagai solusi semu. Ia terlihat seperti jalan keluar, padahal sesungguhnya adalah pemindahan beban dari struktur ke tubuh perempuan.

“Laki-laki menikah untuk membangun hidup.”

“Perempuan menikah untuk menyesuaikan hidup.”

WHO telah lama menegaskan bahwa kehamilan di usia muda membawa risiko kesehatan yang lebih tinggi. Namun fakta ini jarang hadir dalam perayaan pernikahan dini. Karena dalam logika patriarki, tubuh perempuan dinilai dari fungsinya, bukan dari keselamatannya.

“Ketika tubuh lelah, perempuan diminta kuat.”

“Ketika mental runtuh, perempuan diminta bersyukur.”

Kerja reproduktif—mengandung, melahirkan, merawat—dianggap kodrat, bukan kerja. Maka tidak perlu kesiapan ekonomi, tidak perlu kesiapan mental, dan tidak perlu jaminan perlindungan.

Perempuan yang menikah dini lebih rentan berada di sektor kerja informal dengan upah rendah dan tanpa jaminan sosial. Ketergantungan ekonomi meningkat, dan daya tawar menurun. Dalam kondisi seperti ini, keluar dari relasi yang tidak adil menjadi nyaris mustahil.

Ini bukan kegagalan individu. Ini hasil dari sistem yang membuat perempuan:

“bergantung secara ekonomi”,

“kehilangan daya tawar”, dan

“sulit mengambil keputusan atas tubuh dan hidupnya sendiri.”

Ketika perempuan tidak punya penghasilan stabil, keputusannya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Bahkan tubuhnya pun kerap dinegosiasikan oleh orang lain.

Media sosial menyukai cerita tentang perempuan yang “berhasil keluar dari sistem”. Tetapi yang jarang ditampilkan adalah biaya struktural dari keberhasilan itu. Pengalaman personal dijual sebagai inspirasi, sementara risiko kolektif disembunyikan.

Jika perempuan lain gagal setelah meniru pilihan serupa, kegagalan itu akan dianggap kesalahan personal—bukan akibat struktur yang timpang. Inilah ilusi emansipasi: perempuan diberi hak memilih, tetapi tidak diberi perlindungan ketika pilihan itu berujung luka.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan selalu diminta dewasa lebih cepat. Cepat mengerti, cepat berkorban, cepat menyesuaikan diri. Kedewasaan bukan soal kesiapan, melainkan kepatuhan.

“Perempuan yang menikah muda disebut matang.”

“Perempuan yang menunda disebut egois.”

Padahal yang disebut matang sering kali hanyalah perempuan yang belajar menahan diri lebih awal.

Pertanyaannya bukan lagi “bolehkah perempuan menikah muda?”

Melainkan: “mengapa struktur membuat perempuan merasa harus menikah muda ketika sistem lain gagal?”

Ketika pendidikan runtuh, negara absen, dan ekonomi tidak aman, pernikahan dini bukan kebebasan. Ia adalah strategi bertahan hidup—yang biayanya dibayar dengan tubuh, waktu, dan masa depan perempuan.

Dan selama kita terus merayakan “pilihan” tanpa membongkar struktur yang memaksanya, perempuan akan terus diminta dewasa lebih cepat—sementara sistem tetap bebas dari tanggung jawab. [T]

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Next Post

‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

'Born Free': Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co