23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Luh Putu Anggreny by Luh Putu Anggreny
January 21, 2026
in Esai
Ketika Sistem Gagal, Tubuh Perempuan yang Diminta Membayar

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kuliah itu scam.”

Kalimat itu datang dari potongan video seorang perempuan berusia 19 tahun yang baru menikah, lalu beredar luas di media sosial. Ia terdengar seperti pengakuan kemenangan: keluar dari sistem pendidikan formal, memilih pernikahan, dan menyebut dirinya lebih merdeka dibanding mereka yang masih bertahan di bangku kuliah.

Di ruang digital, kalimat itu dirayakan sebagai keberanian melawan sistem. Tetapi dalam masyarakat patriarkal, tidak ada keputusan perempuan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap pilihan selalu dibentuk—dan dibatasi—oleh struktur. Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah apakah ia berhak memilih, melainkan: mengapa setiap kali sistem gagal, tubuh perempuan yang pertama kali diminta membayar?

Sistem pendidikan Indonesia memang bermasalah. Biaya pendidikan tinggi terus meningkat, kualitas tidak merata, dan ijazah sering tidak berbanding lurus dengan jaminan hidup layak. Kritik terhadap pendidikan formal bukan hal baru. Namun dalam struktur patriarki, kegagalan sistem tidak pernah berdampak netral gender.

Bagi laki-laki, putus sekolah sering dipahami sebagai sebuah fase. Mereka masih diberi waktu untuk mencoba, gagal, dan mengulang. Bagi perempuan, putus sekolah kerap dibaca sebagai tanda kesiapan: siap menikah, siap mengurus, siap mengalah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa perempuan dengan pendidikan lebih rendah lebih rentan menikah dini dan keluar dari pasar kerja formal. Pendidikan, bagi perempuan, bukan sekadar jalur karier—ia adalah alat tawar untuk menunda eksploitasi domestik dan reproduktif.

Ketika pendidikan didelegitimasi sebagai “scam”, perempuan kehilangan salah satu alasan sosial yang masih dianggap sah untuk berkata: aku belum siap.

Bagi banyak perempuan muda, bertahan di pendidikan pun bukan perkara sederhana. Pendidikan tinggi sering hanya bisa diakses lewat beasiswa, yang berarti hidup dalam kompetisi, ketidakpastian, dan rasa takut kesempatan itu sewaktu-waktu dicabut. Mencari pendidikan bukan privilage, melainkan bentuk bertahan hidup.

Namun justru di situlah pendidikan bekerja sebagai perlawanan: ia memberi waktu. Waktu untuk berpikir, mengenali diri, dan menunda keputusan yang konsekuensinya seumur hidup. Ketika perempuan harus terus membuktikan diri layak sekolah, sementara pernikahan ditawarkan sebagai jalan pintas yang “lebih realistis”, pilihan itu tidak pernah benar-benar setara.

___

Secara personal, Saya sendiri belum memikirkan pernikahan sebagai tujuan hidup. Bukan karena menolak cinta atau keluarga, melainkan karena sejak lama saya melihat bagaimana pernikahan kerap menjadi ruang kekerasan yang dinormalisasi. Perempuan dipukul lalu diminta bertahan. Dilecehkan lalu disuruh sabar. Lelah lalu dianggap kurang bersyukur.

Dalam banyak kisah di sekitar saya, pernikahan tidak datang sebagai ruang aman, melainkan sebagai “ruang sunyi yang membuat perempuan kehilangan suara”. Maka menunda menikah, bagi saya, bukan sikap kekanak-kanakan, melainkan insting untuk bertahan hidup.

Ketakutan ini tidak saya rasakan sendirian. Banyak anak muda hari ini—terutama perempuan—justru takut menikah. Mereka tumbuh menyaksikan perceraian yang melelahkan, kekerasan dalam rumah tangga yang ditutup atas nama keluarga, ibu-ibu yang kehilangan mimpi setelah menikah, dan perempuan yang bertahan karena tidak punya pilihan ekonomi.

Ketakutan ini sering dipelintir sebagai krisis komitmen. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: anak muda terlalu sadar risiko. Mereka tahu bahwa pernikahan bukan sekadar janji cinta, tetapi kontrak hidup yang dampaknya panjang—terutama bagi perempuan.

Dalam konteks hukum dan institusi yang sering gagal melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga, rasa takut itu bukan sikap berlebihan. Ia rasional.

___

Ironisnya, di saat banyak perempuan takut menikah karena melihat terlalu banyak luka, perempuan lain justru didorong menikah lebih cepat ketika sistem lain gagal menopang hidup mereka. Ketakutan yang seharusnya menjadi alarm bagi negara justru diabaikan. Negara tidak memperbaiki perlindungan, tidak memperkuat jaminan sosial, tidak memastikan keadilan dalam rumah tangga—tetapi tetap menuntut perempuan untuk percaya.

“Percaya bahwa pernikahan akan aman.”

“Percaya bahwa keluarga akan melindungi.”

“Percaya bahwa cinta cukup untuk menutup absennya negara.”

Pernikahan dini sering dibungkus dengan bahasa pilihan dan cinta. Namun UNICEF mencatat bahwa praktik ini secara tidak proporsional menimpa anak perempuan. Ini bukan kebetulan, melainkan mekanisme lama: memindahkan tanggung jawab negara kepada keluarga—dan akhirnya, kepada perempuan.

Ketika sekolah tidak ramah, lapangan kerja sempit, dan perlindungan sosial minim, pernikahan tampil sebagai solusi semu. Ia terlihat seperti jalan keluar, padahal sesungguhnya adalah pemindahan beban dari struktur ke tubuh perempuan.

“Laki-laki menikah untuk membangun hidup.”

“Perempuan menikah untuk menyesuaikan hidup.”

WHO telah lama menegaskan bahwa kehamilan di usia muda membawa risiko kesehatan yang lebih tinggi. Namun fakta ini jarang hadir dalam perayaan pernikahan dini. Karena dalam logika patriarki, tubuh perempuan dinilai dari fungsinya, bukan dari keselamatannya.

“Ketika tubuh lelah, perempuan diminta kuat.”

“Ketika mental runtuh, perempuan diminta bersyukur.”

Kerja reproduktif—mengandung, melahirkan, merawat—dianggap kodrat, bukan kerja. Maka tidak perlu kesiapan ekonomi, tidak perlu kesiapan mental, dan tidak perlu jaminan perlindungan.

Perempuan yang menikah dini lebih rentan berada di sektor kerja informal dengan upah rendah dan tanpa jaminan sosial. Ketergantungan ekonomi meningkat, dan daya tawar menurun. Dalam kondisi seperti ini, keluar dari relasi yang tidak adil menjadi nyaris mustahil.

Ini bukan kegagalan individu. Ini hasil dari sistem yang membuat perempuan:

“bergantung secara ekonomi”,

“kehilangan daya tawar”, dan

“sulit mengambil keputusan atas tubuh dan hidupnya sendiri.”

Ketika perempuan tidak punya penghasilan stabil, keputusannya tidak lagi sepenuhnya miliknya. Bahkan tubuhnya pun kerap dinegosiasikan oleh orang lain.

Media sosial menyukai cerita tentang perempuan yang “berhasil keluar dari sistem”. Tetapi yang jarang ditampilkan adalah biaya struktural dari keberhasilan itu. Pengalaman personal dijual sebagai inspirasi, sementara risiko kolektif disembunyikan.

Jika perempuan lain gagal setelah meniru pilihan serupa, kegagalan itu akan dianggap kesalahan personal—bukan akibat struktur yang timpang. Inilah ilusi emansipasi: perempuan diberi hak memilih, tetapi tidak diberi perlindungan ketika pilihan itu berujung luka.

Dalam masyarakat patriarkal, perempuan selalu diminta dewasa lebih cepat. Cepat mengerti, cepat berkorban, cepat menyesuaikan diri. Kedewasaan bukan soal kesiapan, melainkan kepatuhan.

“Perempuan yang menikah muda disebut matang.”

“Perempuan yang menunda disebut egois.”

Padahal yang disebut matang sering kali hanyalah perempuan yang belajar menahan diri lebih awal.

Pertanyaannya bukan lagi “bolehkah perempuan menikah muda?”

Melainkan: “mengapa struktur membuat perempuan merasa harus menikah muda ketika sistem lain gagal?”

Ketika pendidikan runtuh, negara absen, dan ekonomi tidak aman, pernikahan dini bukan kebebasan. Ia adalah strategi bertahan hidup—yang biayanya dibayar dengan tubuh, waktu, dan masa depan perempuan.

Dan selama kita terus merayakan “pilihan” tanpa membongkar struktur yang memaksanya, perempuan akan terus diminta dewasa lebih cepat—sementara sistem tetap bebas dari tanggung jawab. [T]

Tags: feminisfeminismePerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpustakaan Sekolah untuk  Gen Z

Next Post

‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Luh Putu Anggreny

Luh Putu Anggreny

Penikmat kata dan halaman-halaman sunyi. Menyukai menulis dan membaca, serta hal-hal kecil yang sering terlewat. Sejak lama jatuh cinta pada senja—karena dari sanalah ia belajar bahwa keindahan sering datang bersama kefanaan. Dapat dijumpai di Instagram: @pt.anggreny_

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
‘Born Free’: Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

'Born Free': Nostalgia Gerakan Kontra-Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co