25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengepak di Tengah Badai 

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
in Ulas Buku
Mengepak di Tengah Badai 

Sampul buku Kepak Sayap Bunda

  • Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!”
  • Penulis : A. Kusairi, dkk.
  • Editor : Dyah Nkusuma & Erndra Achaer
  • Penerbit : Gerbang Literasi Nusantara, Jakarta
  • Cetakan : I, Desember 2025 
  • Tebal : 542 halaman
  • QRCBN : 62-159-3341-228

Di tengah belantara persoalan anak dan perempuan yang kian rumit di Indonesia, mulai dari kekerasan domestik, kemiskinan struktural, hingga rapuhnya sistem perlindungan sosial, sastra kembali memperlihatkan watak dasarnya sebagai ruang keberpihakan. Ia tidak sekadar menjadi panggung keindahan bahasa, melainkan medan kesaksian, empati, dan perlawanan yang halus namun mengendap lama di kesadaran pembaca. Dalam lanskap inilah antologi Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” menegaskan relevansi sosialnya sekaligus membuka medan uji estetik yang tidak ringan.

Peluncuran buku setebal 542 halaman ini yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mengandung simbolisme yang kuat. Hari Ibu tidak direduksi menjadi seremoni sentimental, melainkan dimaknai sebagai momentum refleksi tentang peran ibu sebagai fondasi keberanian, ketahanan batin, dan arah moral anak-anak bangsa. Dengan melibatkan ratusan kontributor dari beragam latar, antologi ini menjelma menjadi semacam orkestrasi suara kolektif yang memotret luka, harapan, serta daya lenting kemanusiaan.

Dukungan dari unsur pemerintah, sebagaimana disampaikan dalam sambutan perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mempertegas bahwa proyek ini bukan sekadar perayaan literasi, tetapi ikhtiar etik untuk mengangkat isu kemanusiaan ke ruang publik yang lebih luas. Sastra, dalam konteks ini, diposisikan sebagai mitra kesadaran sosial, bukan ornamen kebudayaan yang steril dari realitas.

Namun, justru pada titik keberpihakan itulah problem estetik mulai menuntut pembacaan kritis. Antologi ini memikul beban pesan ideologis yang besar: membela anak, meneguhkan keberanian, dan melawan kekerasan struktural. Pada sejumlah karya, misi moral tersebut terasa terlalu menekan ekspresi artistik, sehingga bahasa kerap bergerak lurus, deklaratif, dan minim lapisan imajinatif. Kita menemukan larik-larik hipotetik semacam, “Jangan gentar, hadapilah dengan tawakal/ Sesungguhnya, kesulitan sesuai kemampuan/” (hlm 52) atau “Jangan kaulupakan rahmat Allah/ Dalam rumitnya kehidupan/ Ingatlah Dia/ Tuhanmu” (hlm 28). Beberapa puisi tampil seperti slogan motivasi yang efektif menggugah emosi, tetapi kurang memberi pengalaman puitik yang mendalam. Bahasa menjadi alat khotbah, bukan wahana permenungan.

Gejala serupa tampak dalam beberapa cerpen yang cenderung didaktik. Alur bergerak sederhana, konflik dipetakan secara hitam-putih, dan penyelesaian dihadirkan sebagai simpulan moral yang eksplisit. Kepastian nilai yang terlalu terang justru menutup kemungkinan ambiguitas psikologis, padahal wilayah abu-abu itulah yang sering menjadi napas sastra. Misalnya dalam dialog penutup hipotetik, “Semoga generasi Rahman, generasi Gen Z kampung Tanjung Ara menjadi anak Merah Putih yang sehat, terbebas dari narkoba, tetap semangat untuk membangun kampungnya juga membangun bangsanya” (hlm 456). Ketika tokoh hanya berfungsi sebagai corong pesan, bukan sebagai manusia dengan kerumitan batin, cerita kehilangan daya hidupnya.

Meski demikian, antologi ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecenderungan normatif. Di antara kepadatan suara, muncul karya-karya yang mampu menjaga jarak kreatif antara pesan dan ekspresi. Beberapa puisi memilih jalur simbolik dan metaforis, menghadirkan luka bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan batin yang menggetarkan. Metafora bekerja membuka ruang tafsir, mengajak pembaca berdiam sejenak dalam kontemplasi, bukan sekadar menerima pesan secara mentah. Misalnya melalui citraan, “Luka itu lentera yang tak pernah padam/ meski sering digoda angin malam” (hlm 30).

Sejumlah karya juga menunjukkan kedalaman psikologis yang lebih matang. Konflik tidak disederhanakan sebagai pertarungan antara benar dan salah, melainkan dipahami sebagai pergulatan batin yang berlapis. Tokoh tidak serta-merta menjadi berani, melainkan melewati keraguan dan ketakutan yang berlapis, seperti tergambar dalam puisi, “Kembalilah anakku/ pada pelukan ibumu/ demi mendekap asa/ yang berjalan bersimbah masa/” (hlm 221). Di titik inilah sastra menemukan martabatnya: menghadirkan kompleksitas hidup tanpa menggurui.

Persoalan lain yang patut dicatat adalah aspek kurasi. Dengan jumlah kontributor yang sangat besar, kualitas artistik terasa belum sepenuhnya konsisten. Karya-karya yang kuat dalam metafora, penokohan, dan irama bahasa berdampingan dengan teks yang masih mentah, sarat diksi klise, dialog informatif, serta karakter yang tipologis. Antologi ini lebih menyerupai panorama semangat kolektif daripada pameran mutu estetik yang dikurasi secara ketat.

Namun, justru di situlah nilai dokumenternya menguat. Buku ini merekam denyut kesadaran sosial para penulis dalam merespons isu anak dan perempuan pada zamannya. Ia menjadi arsip moral yang memperlihatkan keberanian sekaligus keterbatasan bahasa sastra ketika berhadapan dengan luka sosial yang kompleks dan berlapis.

Pada akhirnya, membaca Kepak Sayap Bunda berarti memasuki wilayah tegangan antara etika dan estetika. Ketika keduanya bertemu dalam keseimbangan, karya menjadi hidup, berumur panjang, dan memberi resonansi mendalam. Sebaliknya, ketika salah satunya mendominasi, sastra berisiko tergelincir menjadi pamflet yang cepat kehilangan daya pikat.

Bagaimanapun, antologi ini tetap layak diapresiasi sebagai upaya hangat dan relevan untuk merawat nurani publik. Ia mengingatkan bahwa sastra bukan hanya urusan keindahan bahasa, melainkan juga cara manusia menjaga kepekaan moral di tengah dunia yang kerap abai. Buku ini tidak sekadar menghimpun puisi dan cerpen, tetapi menyerukan keberanian anak-anak bangsa untuk terus mengepakkan sayapnya, meski angin kehidupan kerap berembus tidak ramah. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: antologi puisiBukubuku cerpenbuku puisiresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

Next Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co