25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengepak di Tengah Badai 

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
in Ulas Buku
Mengepak di Tengah Badai 

Sampul buku Kepak Sayap Bunda

  • Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!”
  • Penulis : A. Kusairi, dkk.
  • Editor : Dyah Nkusuma & Erndra Achaer
  • Penerbit : Gerbang Literasi Nusantara, Jakarta
  • Cetakan : I, Desember 2025 
  • Tebal : 542 halaman
  • QRCBN : 62-159-3341-228

Di tengah belantara persoalan anak dan perempuan yang kian rumit di Indonesia, mulai dari kekerasan domestik, kemiskinan struktural, hingga rapuhnya sistem perlindungan sosial, sastra kembali memperlihatkan watak dasarnya sebagai ruang keberpihakan. Ia tidak sekadar menjadi panggung keindahan bahasa, melainkan medan kesaksian, empati, dan perlawanan yang halus namun mengendap lama di kesadaran pembaca. Dalam lanskap inilah antologi Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” menegaskan relevansi sosialnya sekaligus membuka medan uji estetik yang tidak ringan.

Peluncuran buku setebal 542 halaman ini yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mengandung simbolisme yang kuat. Hari Ibu tidak direduksi menjadi seremoni sentimental, melainkan dimaknai sebagai momentum refleksi tentang peran ibu sebagai fondasi keberanian, ketahanan batin, dan arah moral anak-anak bangsa. Dengan melibatkan ratusan kontributor dari beragam latar, antologi ini menjelma menjadi semacam orkestrasi suara kolektif yang memotret luka, harapan, serta daya lenting kemanusiaan.

Dukungan dari unsur pemerintah, sebagaimana disampaikan dalam sambutan perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mempertegas bahwa proyek ini bukan sekadar perayaan literasi, tetapi ikhtiar etik untuk mengangkat isu kemanusiaan ke ruang publik yang lebih luas. Sastra, dalam konteks ini, diposisikan sebagai mitra kesadaran sosial, bukan ornamen kebudayaan yang steril dari realitas.

Namun, justru pada titik keberpihakan itulah problem estetik mulai menuntut pembacaan kritis. Antologi ini memikul beban pesan ideologis yang besar: membela anak, meneguhkan keberanian, dan melawan kekerasan struktural. Pada sejumlah karya, misi moral tersebut terasa terlalu menekan ekspresi artistik, sehingga bahasa kerap bergerak lurus, deklaratif, dan minim lapisan imajinatif. Kita menemukan larik-larik hipotetik semacam, “Jangan gentar, hadapilah dengan tawakal/ Sesungguhnya, kesulitan sesuai kemampuan/” (hlm 52) atau “Jangan kaulupakan rahmat Allah/ Dalam rumitnya kehidupan/ Ingatlah Dia/ Tuhanmu” (hlm 28). Beberapa puisi tampil seperti slogan motivasi yang efektif menggugah emosi, tetapi kurang memberi pengalaman puitik yang mendalam. Bahasa menjadi alat khotbah, bukan wahana permenungan.

Gejala serupa tampak dalam beberapa cerpen yang cenderung didaktik. Alur bergerak sederhana, konflik dipetakan secara hitam-putih, dan penyelesaian dihadirkan sebagai simpulan moral yang eksplisit. Kepastian nilai yang terlalu terang justru menutup kemungkinan ambiguitas psikologis, padahal wilayah abu-abu itulah yang sering menjadi napas sastra. Misalnya dalam dialog penutup hipotetik, “Semoga generasi Rahman, generasi Gen Z kampung Tanjung Ara menjadi anak Merah Putih yang sehat, terbebas dari narkoba, tetap semangat untuk membangun kampungnya juga membangun bangsanya” (hlm 456). Ketika tokoh hanya berfungsi sebagai corong pesan, bukan sebagai manusia dengan kerumitan batin, cerita kehilangan daya hidupnya.

Meski demikian, antologi ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecenderungan normatif. Di antara kepadatan suara, muncul karya-karya yang mampu menjaga jarak kreatif antara pesan dan ekspresi. Beberapa puisi memilih jalur simbolik dan metaforis, menghadirkan luka bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan batin yang menggetarkan. Metafora bekerja membuka ruang tafsir, mengajak pembaca berdiam sejenak dalam kontemplasi, bukan sekadar menerima pesan secara mentah. Misalnya melalui citraan, “Luka itu lentera yang tak pernah padam/ meski sering digoda angin malam” (hlm 30).

Sejumlah karya juga menunjukkan kedalaman psikologis yang lebih matang. Konflik tidak disederhanakan sebagai pertarungan antara benar dan salah, melainkan dipahami sebagai pergulatan batin yang berlapis. Tokoh tidak serta-merta menjadi berani, melainkan melewati keraguan dan ketakutan yang berlapis, seperti tergambar dalam puisi, “Kembalilah anakku/ pada pelukan ibumu/ demi mendekap asa/ yang berjalan bersimbah masa/” (hlm 221). Di titik inilah sastra menemukan martabatnya: menghadirkan kompleksitas hidup tanpa menggurui.

Persoalan lain yang patut dicatat adalah aspek kurasi. Dengan jumlah kontributor yang sangat besar, kualitas artistik terasa belum sepenuhnya konsisten. Karya-karya yang kuat dalam metafora, penokohan, dan irama bahasa berdampingan dengan teks yang masih mentah, sarat diksi klise, dialog informatif, serta karakter yang tipologis. Antologi ini lebih menyerupai panorama semangat kolektif daripada pameran mutu estetik yang dikurasi secara ketat.

Namun, justru di situlah nilai dokumenternya menguat. Buku ini merekam denyut kesadaran sosial para penulis dalam merespons isu anak dan perempuan pada zamannya. Ia menjadi arsip moral yang memperlihatkan keberanian sekaligus keterbatasan bahasa sastra ketika berhadapan dengan luka sosial yang kompleks dan berlapis.

Pada akhirnya, membaca Kepak Sayap Bunda berarti memasuki wilayah tegangan antara etika dan estetika. Ketika keduanya bertemu dalam keseimbangan, karya menjadi hidup, berumur panjang, dan memberi resonansi mendalam. Sebaliknya, ketika salah satunya mendominasi, sastra berisiko tergelincir menjadi pamflet yang cepat kehilangan daya pikat.

Bagaimanapun, antologi ini tetap layak diapresiasi sebagai upaya hangat dan relevan untuk merawat nurani publik. Ia mengingatkan bahwa sastra bukan hanya urusan keindahan bahasa, melainkan juga cara manusia menjaga kepekaan moral di tengah dunia yang kerap abai. Buku ini tidak sekadar menghimpun puisi dan cerpen, tetapi menyerukan keberanian anak-anak bangsa untuk terus mengepakkan sayapnya, meski angin kehidupan kerap berembus tidak ramah. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: antologi puisiBukubuku cerpenbuku puisiresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

Next Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co