24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengepak di Tengah Badai 

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
in Ulas Buku
Mengepak di Tengah Badai 

Sampul buku Kepak Sayap Bunda

  • Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!”
  • Penulis : A. Kusairi, dkk.
  • Editor : Dyah Nkusuma & Erndra Achaer
  • Penerbit : Gerbang Literasi Nusantara, Jakarta
  • Cetakan : I, Desember 2025 
  • Tebal : 542 halaman
  • QRCBN : 62-159-3341-228

Di tengah belantara persoalan anak dan perempuan yang kian rumit di Indonesia, mulai dari kekerasan domestik, kemiskinan struktural, hingga rapuhnya sistem perlindungan sosial, sastra kembali memperlihatkan watak dasarnya sebagai ruang keberpihakan. Ia tidak sekadar menjadi panggung keindahan bahasa, melainkan medan kesaksian, empati, dan perlawanan yang halus namun mengendap lama di kesadaran pembaca. Dalam lanskap inilah antologi Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” menegaskan relevansi sosialnya sekaligus membuka medan uji estetik yang tidak ringan.

Peluncuran buku setebal 542 halaman ini yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mengandung simbolisme yang kuat. Hari Ibu tidak direduksi menjadi seremoni sentimental, melainkan dimaknai sebagai momentum refleksi tentang peran ibu sebagai fondasi keberanian, ketahanan batin, dan arah moral anak-anak bangsa. Dengan melibatkan ratusan kontributor dari beragam latar, antologi ini menjelma menjadi semacam orkestrasi suara kolektif yang memotret luka, harapan, serta daya lenting kemanusiaan.

Dukungan dari unsur pemerintah, sebagaimana disampaikan dalam sambutan perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mempertegas bahwa proyek ini bukan sekadar perayaan literasi, tetapi ikhtiar etik untuk mengangkat isu kemanusiaan ke ruang publik yang lebih luas. Sastra, dalam konteks ini, diposisikan sebagai mitra kesadaran sosial, bukan ornamen kebudayaan yang steril dari realitas.

Namun, justru pada titik keberpihakan itulah problem estetik mulai menuntut pembacaan kritis. Antologi ini memikul beban pesan ideologis yang besar: membela anak, meneguhkan keberanian, dan melawan kekerasan struktural. Pada sejumlah karya, misi moral tersebut terasa terlalu menekan ekspresi artistik, sehingga bahasa kerap bergerak lurus, deklaratif, dan minim lapisan imajinatif. Kita menemukan larik-larik hipotetik semacam, “Jangan gentar, hadapilah dengan tawakal/ Sesungguhnya, kesulitan sesuai kemampuan/” (hlm 52) atau “Jangan kaulupakan rahmat Allah/ Dalam rumitnya kehidupan/ Ingatlah Dia/ Tuhanmu” (hlm 28). Beberapa puisi tampil seperti slogan motivasi yang efektif menggugah emosi, tetapi kurang memberi pengalaman puitik yang mendalam. Bahasa menjadi alat khotbah, bukan wahana permenungan.

Gejala serupa tampak dalam beberapa cerpen yang cenderung didaktik. Alur bergerak sederhana, konflik dipetakan secara hitam-putih, dan penyelesaian dihadirkan sebagai simpulan moral yang eksplisit. Kepastian nilai yang terlalu terang justru menutup kemungkinan ambiguitas psikologis, padahal wilayah abu-abu itulah yang sering menjadi napas sastra. Misalnya dalam dialog penutup hipotetik, “Semoga generasi Rahman, generasi Gen Z kampung Tanjung Ara menjadi anak Merah Putih yang sehat, terbebas dari narkoba, tetap semangat untuk membangun kampungnya juga membangun bangsanya” (hlm 456). Ketika tokoh hanya berfungsi sebagai corong pesan, bukan sebagai manusia dengan kerumitan batin, cerita kehilangan daya hidupnya.

Meski demikian, antologi ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecenderungan normatif. Di antara kepadatan suara, muncul karya-karya yang mampu menjaga jarak kreatif antara pesan dan ekspresi. Beberapa puisi memilih jalur simbolik dan metaforis, menghadirkan luka bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan batin yang menggetarkan. Metafora bekerja membuka ruang tafsir, mengajak pembaca berdiam sejenak dalam kontemplasi, bukan sekadar menerima pesan secara mentah. Misalnya melalui citraan, “Luka itu lentera yang tak pernah padam/ meski sering digoda angin malam” (hlm 30).

Sejumlah karya juga menunjukkan kedalaman psikologis yang lebih matang. Konflik tidak disederhanakan sebagai pertarungan antara benar dan salah, melainkan dipahami sebagai pergulatan batin yang berlapis. Tokoh tidak serta-merta menjadi berani, melainkan melewati keraguan dan ketakutan yang berlapis, seperti tergambar dalam puisi, “Kembalilah anakku/ pada pelukan ibumu/ demi mendekap asa/ yang berjalan bersimbah masa/” (hlm 221). Di titik inilah sastra menemukan martabatnya: menghadirkan kompleksitas hidup tanpa menggurui.

Persoalan lain yang patut dicatat adalah aspek kurasi. Dengan jumlah kontributor yang sangat besar, kualitas artistik terasa belum sepenuhnya konsisten. Karya-karya yang kuat dalam metafora, penokohan, dan irama bahasa berdampingan dengan teks yang masih mentah, sarat diksi klise, dialog informatif, serta karakter yang tipologis. Antologi ini lebih menyerupai panorama semangat kolektif daripada pameran mutu estetik yang dikurasi secara ketat.

Namun, justru di situlah nilai dokumenternya menguat. Buku ini merekam denyut kesadaran sosial para penulis dalam merespons isu anak dan perempuan pada zamannya. Ia menjadi arsip moral yang memperlihatkan keberanian sekaligus keterbatasan bahasa sastra ketika berhadapan dengan luka sosial yang kompleks dan berlapis.

Pada akhirnya, membaca Kepak Sayap Bunda berarti memasuki wilayah tegangan antara etika dan estetika. Ketika keduanya bertemu dalam keseimbangan, karya menjadi hidup, berumur panjang, dan memberi resonansi mendalam. Sebaliknya, ketika salah satunya mendominasi, sastra berisiko tergelincir menjadi pamflet yang cepat kehilangan daya pikat.

Bagaimanapun, antologi ini tetap layak diapresiasi sebagai upaya hangat dan relevan untuk merawat nurani publik. Ia mengingatkan bahwa sastra bukan hanya urusan keindahan bahasa, melainkan juga cara manusia menjaga kepekaan moral di tengah dunia yang kerap abai. Buku ini tidak sekadar menghimpun puisi dan cerpen, tetapi menyerukan keberanian anak-anak bangsa untuk terus mengepakkan sayapnya, meski angin kehidupan kerap berembus tidak ramah. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: antologi puisiBukubuku cerpenbuku puisiresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teknologi Membuat Hidup Tak Terbatas, Tapi Juga Membatasi Hidup

Next Post

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

KONTESTASI EFISTEMOLOGIS: Hooykaas versus Geertz dalam Memahami Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co