- Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!”
- Penulis : A. Kusairi, dkk.
- Editor : Dyah Nkusuma & Erndra Achaer
- Penerbit : Gerbang Literasi Nusantara, Jakarta
- Cetakan : I, Desember 2025
- Tebal : 542 halaman
- QRCBN : 62-159-3341-228
Di tengah belantara persoalan anak dan perempuan yang kian rumit di Indonesia, mulai dari kekerasan domestik, kemiskinan struktural, hingga rapuhnya sistem perlindungan sosial, sastra kembali memperlihatkan watak dasarnya sebagai ruang keberpihakan. Ia tidak sekadar menjadi panggung keindahan bahasa, melainkan medan kesaksian, empati, dan perlawanan yang halus namun mengendap lama di kesadaran pembaca. Dalam lanskap inilah antologi Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” menegaskan relevansi sosialnya sekaligus membuka medan uji estetik yang tidak ringan.
Peluncuran buku setebal 542 halaman ini yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, mengandung simbolisme yang kuat. Hari Ibu tidak direduksi menjadi seremoni sentimental, melainkan dimaknai sebagai momentum refleksi tentang peran ibu sebagai fondasi keberanian, ketahanan batin, dan arah moral anak-anak bangsa. Dengan melibatkan ratusan kontributor dari beragam latar, antologi ini menjelma menjadi semacam orkestrasi suara kolektif yang memotret luka, harapan, serta daya lenting kemanusiaan.
Dukungan dari unsur pemerintah, sebagaimana disampaikan dalam sambutan perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mempertegas bahwa proyek ini bukan sekadar perayaan literasi, tetapi ikhtiar etik untuk mengangkat isu kemanusiaan ke ruang publik yang lebih luas. Sastra, dalam konteks ini, diposisikan sebagai mitra kesadaran sosial, bukan ornamen kebudayaan yang steril dari realitas.
Namun, justru pada titik keberpihakan itulah problem estetik mulai menuntut pembacaan kritis. Antologi ini memikul beban pesan ideologis yang besar: membela anak, meneguhkan keberanian, dan melawan kekerasan struktural. Pada sejumlah karya, misi moral tersebut terasa terlalu menekan ekspresi artistik, sehingga bahasa kerap bergerak lurus, deklaratif, dan minim lapisan imajinatif. Kita menemukan larik-larik hipotetik semacam, “Jangan gentar, hadapilah dengan tawakal/ Sesungguhnya, kesulitan sesuai kemampuan/” (hlm 52) atau “Jangan kaulupakan rahmat Allah/ Dalam rumitnya kehidupan/ Ingatlah Dia/ Tuhanmu” (hlm 28). Beberapa puisi tampil seperti slogan motivasi yang efektif menggugah emosi, tetapi kurang memberi pengalaman puitik yang mendalam. Bahasa menjadi alat khotbah, bukan wahana permenungan.
Gejala serupa tampak dalam beberapa cerpen yang cenderung didaktik. Alur bergerak sederhana, konflik dipetakan secara hitam-putih, dan penyelesaian dihadirkan sebagai simpulan moral yang eksplisit. Kepastian nilai yang terlalu terang justru menutup kemungkinan ambiguitas psikologis, padahal wilayah abu-abu itulah yang sering menjadi napas sastra. Misalnya dalam dialog penutup hipotetik, “Semoga generasi Rahman, generasi Gen Z kampung Tanjung Ara menjadi anak Merah Putih yang sehat, terbebas dari narkoba, tetap semangat untuk membangun kampungnya juga membangun bangsanya” (hlm 456). Ketika tokoh hanya berfungsi sebagai corong pesan, bukan sebagai manusia dengan kerumitan batin, cerita kehilangan daya hidupnya.
Meski demikian, antologi ini tidak sepenuhnya tenggelam dalam kecenderungan normatif. Di antara kepadatan suara, muncul karya-karya yang mampu menjaga jarak kreatif antara pesan dan ekspresi. Beberapa puisi memilih jalur simbolik dan metaforis, menghadirkan luka bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai bisikan batin yang menggetarkan. Metafora bekerja membuka ruang tafsir, mengajak pembaca berdiam sejenak dalam kontemplasi, bukan sekadar menerima pesan secara mentah. Misalnya melalui citraan, “Luka itu lentera yang tak pernah padam/ meski sering digoda angin malam” (hlm 30).
Sejumlah karya juga menunjukkan kedalaman psikologis yang lebih matang. Konflik tidak disederhanakan sebagai pertarungan antara benar dan salah, melainkan dipahami sebagai pergulatan batin yang berlapis. Tokoh tidak serta-merta menjadi berani, melainkan melewati keraguan dan ketakutan yang berlapis, seperti tergambar dalam puisi, “Kembalilah anakku/ pada pelukan ibumu/ demi mendekap asa/ yang berjalan bersimbah masa/” (hlm 221). Di titik inilah sastra menemukan martabatnya: menghadirkan kompleksitas hidup tanpa menggurui.
Persoalan lain yang patut dicatat adalah aspek kurasi. Dengan jumlah kontributor yang sangat besar, kualitas artistik terasa belum sepenuhnya konsisten. Karya-karya yang kuat dalam metafora, penokohan, dan irama bahasa berdampingan dengan teks yang masih mentah, sarat diksi klise, dialog informatif, serta karakter yang tipologis. Antologi ini lebih menyerupai panorama semangat kolektif daripada pameran mutu estetik yang dikurasi secara ketat.
Namun, justru di situlah nilai dokumenternya menguat. Buku ini merekam denyut kesadaran sosial para penulis dalam merespons isu anak dan perempuan pada zamannya. Ia menjadi arsip moral yang memperlihatkan keberanian sekaligus keterbatasan bahasa sastra ketika berhadapan dengan luka sosial yang kompleks dan berlapis.
Pada akhirnya, membaca Kepak Sayap Bunda berarti memasuki wilayah tegangan antara etika dan estetika. Ketika keduanya bertemu dalam keseimbangan, karya menjadi hidup, berumur panjang, dan memberi resonansi mendalam. Sebaliknya, ketika salah satunya mendominasi, sastra berisiko tergelincir menjadi pamflet yang cepat kehilangan daya pikat.
Bagaimanapun, antologi ini tetap layak diapresiasi sebagai upaya hangat dan relevan untuk merawat nurani publik. Ia mengingatkan bahwa sastra bukan hanya urusan keindahan bahasa, melainkan juga cara manusia menjaga kepekaan moral di tengah dunia yang kerap abai. Buku ini tidak sekadar menghimpun puisi dan cerpen, tetapi menyerukan keberanian anak-anak bangsa untuk terus mengepakkan sayapnya, meski angin kehidupan kerap berembus tidak ramah. [T]
Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole



























