IRINGAN musik mulai diputar, lalu suara seorang remaja mengalun dari panggung. Riuh percakapan perlahan mereda. Penonton diam, juri menajamkan perhatian, dan sorot lampu tertuju pada satu peserta yang bernyanyi di atas panggung. Dalam beberapa menit penampilan, yang dipertaruhkan bukan hanya ketepatan nada, tetapi juga keberanian untuk tampil dan menyampaikan perasaan lewat suara. Suasana seperti inilah yang berulang dari satu peserta ke peserta lainnya sepanjang Lomba Vokal Solo FORKOM Festival 2025, yang digelar di Graha Yowana Suci, Denpasar, Minggu, 21 Desember 2025.
Lomba tersebut tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perhelatan FORKOM Festival (FORFEST) 2025. Festival ini sendiri dirancang sebagai wadah komunikasi, kolaborasi, dan unjuk karya bagi siswa SMA, SMK, dan MA se-Kota Denpasar. Melalui FORFEST 2025, kompetisi tidak berdiri sendiri sebagai tujuan akhir, melainkan menjadi sarana bagi generasi muda untuk saling mengenal, berinteraksi, dan tumbuh bersama. Di panggung lomba vokal solo, semangat itu terasa jelas. Setiap peserta datang membawa latar belakang, karakter, dan cerita yang berbeda, namun bertemu dalam satu ruang yang sama.
FORFEST 2025 mengusung tema “Greenlight to the Future: Empowering Youth in Harmony”. Tema ini menjadi benang merah seluruh rangkaian acara, termasuk lomba vokal solo. Festival ini dimaknai sebagai ruang bagi generasi muda untuk melahirkan ide-ide baru, mengembangkan potensi diri, dan berkarya secara positif. Nilai kebersamaan dan solidaritas menjadi landasan utama, sejalan dengan spirit Kota Denpasar, “Vasudhaiva Kutumbakam”.
Lomba vokal solo sendiri terbuka untuk remaja berusia 13 hingga 18 tahun dan diikuti oleh pelajar dari berbagai sekolah di Kota Denpasar. Sejak penampilan pertama, atmosfer kompetisi terasa hangat dan inklusif. Lagu-lagu dibawakan dengan pendekatan yang beragam. Ada peserta yang tampil penuh penghayatan, ada pula yang menonjolkan kekuatan teknik dan kontrol suara. Perbedaan itu justru memperkaya suasana lomba, menjadikan setiap penampilan memiliki daya tarik tersendiri.

Di dalam ruangan, suasana lomba terasa hidup dan intim. Penonton yang hadir datang dari beragam latar belakang. Orang tua tampak duduk dengan raut tegang sekaligus bangga, guru-guru menyimak dengan serius, sementara para remaja hadir sebagai supporter bagi teman sekolah mereka yang berlomba. Tepuk tangan mengalir setiap kali satu penampilan berakhir, diselingi sorakan dan isyarat dukungan dari bangku penonton. Beberapa penonton terlihat sibuk merekam momen dengan gawai, berusaha mengabadikan detik-detik penting saat peserta tampil di atas panggung.
Sebanyak 12 peserta mengikuti Lomba Vokal Solo FORFEST 2025 ini. Setiap peserta membawakan dua lagu, terdiri atas satu lagu wajib dan satu lagu pilihan. Lagu wajib yang harus dibawakan seluruh peserta adalah Cinta Luar Biasa milik Andmesh Kamaleng. Sementara untuk lagu pilihan, peserta bebas memilih satu di antara beberapa judul, yakni Lesung Pipi dari Raim Laode, Love milik Keyshia Cole, Pesan Terakhir karya Lyodra, atau Talking to the Moon dari Bruno Mars. Perbedaan pilihan lagu tersebut memberi warna tersendiri pada setiap penampilan, sekaligus menunjukkan karakter dan kekuatan vokal masing-masing peserta.
Di belakang layar, FORFEST 2025 tidak hadir secara instan, persiapan telah dilakukan selama kurang lebih empat bulan. Ketut Rima Redita Pakris, yang akrab disapa Rima selaku Ketua Panitia, mengaku lega sekaligus bangga melihat seluruh rangkaian acara dapat terlaksana.
“Empat bulan yang lalu kami sudah mulai merancang acara ini. Rasanya lega dan bangga karena akhirnya bisa terwujud sesuai rencana,” ujar Rima.
Rima menuturkan, sejak awal FORFEST dirancang sebagai wadah untuk menunjukkan bakat di bidang non-akademik. Namun lebih dari itu, ia berharap festival ini dapat menjadi ruang perjumpaan bagi generasi muda. “Goals kami adalah menjadikan FORFEST sebagai tempat generasi muda bisa menunjukkan bakat, berinteraksi, dan menjalin pertemanan,” katanya. Menurut Rima, dukungan pembina, sekolah-sekolah di Denpasar, para juri, sponsor, dan peserta menjadi faktor penting yang membuat tujuan tersebut dapat tercapai.
Kendati demikian, perjalanan menuju hari pelaksanaan tidak sepenuhnya berjalan mulus. Rima mengakui terdapat berbagai kendala, mulai dari miskomunikasi, peserta mendadak berhalangan hadir, hingga pengaturan waktu sempat tidak sesuai dengan susunan acara. Namun tantangan tersebut tidak sampai menghambat jalannya acara. “Saya bangga dengan rekan-rekan panitia karena bisa mengatasi masalah dengan tenang dan mau berdiskusi. Kendala itu justru menjadi evaluasi dan pengalaman berharga untuk kami ke depan,” ujarnya.

Di tengah dinamika lomba, satu per satu peserta naik ke panggung membawa cerita masing-masing. Salah satunya adalah Ni Made Dovita Upadhani. Siswi berusia 18 tahun dari SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar ini tampil dengan penuh keyakinan. Di balik penampilannya, terdapat proses persiapan yang tidak mudah. Saat lomba berlangsung, Dovita tengah menjalani praktik kerja lapangan (PKL), sehingga waktu latihannya sangat terbatas.
“Waktu lomba saya sedang PKL, jadi tidak dapat banyak waktu latihan,” kata Dovita. Ia hanya sempat berlatih satu kali di sekolah, sehari sebelum lomba digelar. Keesokan harinya, ia langsung tampil di panggung. Dengan keterbatasan tersebut, ia mengaku hanya mengandalkan kesiapan mental dan pengalaman yang dimiliki.
Untuk menjaga kondisi suara, Dovita melakukan persiapan sederhana. “Setiap lomba, saya selalu sedia permen strepsil warna biru supaya tenggorokan lebih sejuk. Pengganti kencur, hahaha,” katanya sambil tertawa ringan. Cara sederhana itu membantunya tampil lebih nyaman dan percaya diri. Tak disangka, usaha tersebut berbuah hasil. Dovita berhasil menempati posisi sebagai Juara 2.
Hari itu, Juara 1 Lomba Vokal Solo FORKOM Festival 2025 berhasil diraih oleh Nithi Warsiki Prajawati dari SMP Dwijendra. Penampilannya dinilai paling menonjol oleh dewan juri dari segi teknik vokal dan penghayatan lagu. Sementara itu, Juara 2 diraih oleh Ni Made Dovita Upadhani dari SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, dan Juara 3 diraih oleh Luh Eka Juni Antari dari SMK Kesehatan PGRI Denpasar. Ketiga peserta tersebut menjadi pemenang setelah melalui seluruh tahapan penilaian yang ditetapkan panitia dan juri lomba.
Pada akhirnya, melalui lomba vokal solo ini, FORKOM Festival 2025 menegaskan perannya sebagai ruang penyaluran bakat non-akademik bagi pelajar di Kota Denpasar. Kegiatan ini mempertemukan peserta dari berbagai sekolah, melibatkan orang tua dan guru sebagai pendamping yang memberi dukungan langsung. Lomba vokal solo pun menjadi salah satu bagian dari rangkaian FORFEST yang memperkuat fungsi Forum Komunikasi OSIS SMA, SMK, dan MA se-Kota Denpasar sebagai wadah komunikasi, kolaborasi, dan pengembangan potensi generasi muda. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























