2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali, Ruang yang Hilang, Masalah yang Datang

Kadek Prayuda Sathyananta by Kadek Prayuda Sathyananta
December 29, 2025
in Esai
Bali, Ruang yang Hilang, Masalah yang Datang

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BALI selama puluhan tahun “dijual” kepada dunia sebagai surga mulai dari pantai yang eksotis, sawah berundak, budaya yang hidup, dan keramahan yang seolah tak pernah habis. Namun, di balik brosur pariwisata dan unggahan media sosial, Bali hari ini menyimpan wajah lain seperti banjir di berbagai tempat, sampah yang menumpuk, serta kemacetan yang katanya bisa menghabiskan masa muda (keburu tua di jalan). Ironisnya, semua itu kerap dibingkai sebagai “konsekuensi popularitas” atau “dampak cuaca ekstrem”. Padahal, persoalannya jauh lebih struktural yaitu kegagalan tata ruang demi pariwisata.

Setiap musim hujan, terutama ketika La Niña meningkatkan intensitas dan durasi curah hujan, Bali seolah kehilangan daya tahannya. Genangan air muncul di kawasan yang dahulu merupakan lahan resapan. Sungai meluap membawa sampah plastik dan limbah domestik. Jalan utama berubah menjadi kolam, melumpuhkan mobilitas hingga menghanyutkan rumah masyarakat. Narasi resmi pun muncul: hujan terlalu deras, cuaca tak terduga, perubahan iklim. Semua benar, tetapi tidak lengkap, sebab hujan yang sama tidak selalu berujung banjir jika tata ruang bekerja sebagaimana mestinya.

Masalah banjir di Bali bukan semata persoalan hidrometeorologi, melainkan persoalan pilihan kebijakan. Dalam dua dekade terakhir, alih fungsi lahan terjadi secara masif. Sawah, tegalan, dan ruang terbuka hijau beralih menjadi vila, hotel, restoran, dan pusat hiburan. Sistem subak yang selama ratusan tahun mengatur air secara kolektif dan berkelanjutan terfragmentasi oleh tembok beton dan pagar privat. Sungai dipersempit, ditutup, bahkan dijadikan halaman belakang bangunan komersial. Drainase kota, yang seharusnya menjadi tulang punggung dalam mengelola air hujan, tertinggal jauh dibandingkan laju pembangunan.

Ketika air hujan turun deras, ia tidak lagi meresap. Ia mengalir cepat di atas permukaan kedap air, membawa serta sampah dan sedimen, menuju saluran yang sempit dan tersumbat. Banjir pun menjadi keniscayaan, bukan anomali. La Niña hanya mempercepat dan memperparah dampak dari sistem yang sejak awal rapuh. Menyalahkan iklim tanpa mengoreksi tata ruang sama saja dengan menutupi luka dengan poster promosi wisata.

Persoalan sampah memperlihatkan wajah kegagalan yang sama. Bali memproduksi ribuan ton sampah setiap hari, sebagian besar berasal dari aktivitas pariwisata. Hotel, restoran, dan akomodasi wisata menjadi sumber signifikan limbah plastik sekali pakai dan sisa makanan. Namun, kapasitas pengelolaan sampah tidak pernah tumbuh sebanding. Tempat pembuangan akhir kelebihan beban dan sungai menjadi jalur tercepat “menghilangkan” sampah dari pandangan. Saat hujan deras, sungai yang telah dipenuhi sampah berubah menjadi bom waktu, menyumbat aliran dan mempercepat banjir.

Sampah dan banjir tampaknya saling menguatkan dalam lingkaran setan. Banjir membawa sampah ke laut, merusak ekosistem pesisir dan mencoreng citra wisata. Pantai yang kotor lalu dibersihkan secara reaktif, sering kali menjelang kunjungan pejabat atau acara internasional. Namun sumber masalahnya tetap dibiarkan. Pariwisata yang seharusnya menopang keberlanjutan justru menjadi mesin produksi limbah tanpa tanggung jawab ekologis yang sepadan.

Kemacetan menambah daftar ironi. Bali tidak dirancang untuk menampung jutaan kendaraan pribadi. Kemacetan di Bali kerap dijelaskan secara sederhana sebagai akibat “terlalu banyak kendaraan” atau “budaya berkendara yang buruk”. Penjelasan ini nyaman, karena mengalihkan tanggung jawab dari kebijakan ke individu. Padahal, masalah utamanya justru terletak pada penyempitan jalan yang dilegalkan dan dinormalisasi oleh tata ruang pariwisata. Transportasi publik tertinggal, sementara pembangunan akomodasi dan pusat wisata tersebar tanpa integrasi tata guna lahan. Vila-vila mewah tumbuh di jalan sempit desa, memaksa infrastruktur lokal menanggung beban yang tak pernah direncanakan. Setiap hujan lebat, kemacetan makin parah karena genangan air mempersempit ruang jalan. Mobilitas warga terganggu, distribusi barang tersendat, dan waktu terbuang dalam antrean yang tak produktif.

Kemacetan bukan sekadar persoalan lalu lintas; ia cerminan kegagalan perencanaan ruang. Banyak drainase tertutup beton, dipersempit, atau dialihkan demi estetika dan kepentingan bangunan komersial. Ketika izin pembangunan dikeluarkan tanpa mempertimbangkan kapasitas jalan, drainase, dan layanan publik, kemacetan menjadi konsekuensi logis. Lagi-lagi, popularitas pariwisata dijadikan alasan pembenar. Padahal, popularitas tanpa pengelolaan hanyalah resep pasti menuju kekacauan.

Yang paling problematis adalah cara pemerintah memosisikan diri. Alih-alih menjadi pengendali, pemerintah sering kali tampil sebagai fasilitator investasi semata. Regulasi tata ruang lentur terhadap kepentingan modal, namun kaku terhadap kepentingan ekologis dan sosial. Penegakan aturan lemah, sanksi administratif jarang menimbulkan efek jera, dan revisi rencana tata ruang kerap mengikuti jejak pelanggaran yang sudah terjadi. Dalam konteks ini, banjir, sampah, dan kemacetan bukan kecelakaan, melainkan hasil yang dapat diprediksi.

La Niña dan perubahan iklim global memang nyata. Curah hujan ekstrem akan semakin sering terjadi. Namun justru karena itu, tata ruang dan infrastruktur harus diatur, dikelola, dan diperkuat, bukan dilemahkan. Negara-negara dan daerah lain menghadapi tantangan iklim yang sama, tetapi mampu meminimalkan dampaknya melalui perencanaan yang disiplin: melindungi daerah resapan, memperluas ruang hijau, memulihkan sungai, dan mengintegrasikan transportasi publik. Bali dengan segala sumber daya dan reputasinya, seharusnya mampu melakukan hal serupa. Fakta bahwa ia tidak melakukannya adalah pilihan politik, bukan takdir alam.

Lebih jauh, ada persoalan keadilan yang jarang dibicarakan. Dampak terberat dari banjir, sampah, dan kemacetan justru dirasakan oleh warga lokal, bukan wisatawan yang datang dan pergi. Rumah terendam, akses kerja terganggu, kesehatan terancam. Sementara itu, keuntungan pariwisata terkonsentrasi pada segelintir pelaku usaha besar. Ketika krisis terjadi, biaya sosial dan ekologisnya disosialisasikan kepada masyarakat luas. Inilah wajah lain dari pembangunan yang timpang.

Mengurai masalah Bali tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan, apalagi “Asal Bapak Senang”. Normalisasi sungai tanpa menghentikan alih fungsi lahan hanya memindahkan masalah ke hilir. Kampanye bersih-bersih pantai tanpa reformasi pengelolaan sampah hanyalah panggung simbolik. Pelebaran jalan tanpa pengendalian kendaraan dan transportasi publik akan berujung pada kemacetan baru. Saat ini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menata ulang arah pembangunan pariwisata yaitu dari ekspansi tak terbatas menuju pengelolaan yang lebih konservatif.

Surga wisata tidak lahir dari hotel mewah semata, melainkan dari lanskap yang berfungsi, air yang mengalir dengan baik, kota yang bisa bergerak, dan masyarakat yang hidup layak. Drainase neraka adalah hasil dari pengabaian prinsip-prinsip itu. Selama pemerintah lebih sibuk mempromosikan Bali daripada melindunginya, selama izin lebih mudah keluar daripada sanksi, selama iklim terus dijadikan kambing hitam, maka banjir, sampah, dan kemacetan akan tetap menjadi “atraksi” musiman yang memalukan.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya bukan apakah La Niña akan datang lagi, melainkan apakah kita akan terus berpura-pura bahwa semua ini di luar kendali manusia. Bali tidak tenggelam karena hujan semata. Ia tenggelam karena kesalahan-kesalahan yang menumpuk, seperti sampah di sungai, menunggu hujan berikutnya untuk meluap.

Jadi, sebenarnya siapa yang menenggelamkan Bali? La Nina, Pariwisata, atau Tata Ruang yang kacau? [T]

Penulis: Kadek Prayuda Sathyananta
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibanjir balibencana alamPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ubadne Telah”: Kesadaran Medis Orang Bali

Next Post

Ketika Remaja Kota Denpasar Adu Suara di Lomba Vokal Solo FORKOM Festival 2025: Keberanian dan Kepercayaan Diri

Kadek Prayuda Sathyananta

Kadek Prayuda Sathyananta

Lulusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Udayana tahun 2022. Saat ini sedang menempuh studi Pascasarjana di Program Studi Magister Ilmu Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Remaja Kota Denpasar Adu Suara di Lomba Vokal Solo FORKOM Festival 2025: Keberanian dan Kepercayaan Diri

Ketika Remaja Kota Denpasar Adu Suara di Lomba Vokal Solo FORKOM Festival 2025: Keberanian dan Kepercayaan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co