14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ubadne Telah”: Kesadaran Medis Orang Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 29, 2025
in Esai
“Ubadne Telah”: Kesadaran Medis Orang Bali

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DALAM kehidupan sehari-hari di Bali, kita kerap menjumpai pemandangan yang, bagi sebagian orang, dianggap ganjil. Seorang laki-laki berbicara sendiri di pinggir jalan, seorang perempuan mondar-mandir tanpa tujuan jelas, atau seseorang yang tiba-tiba marah-marah dan mengomel tanpa juntrungan. Reaksi orang orang di sekitarnya hampir selalu sama, spontan, dan terdengar ringan. Ubadne telah. Obatnya habis.

Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah sudah menjadi refleks sosial. Tidak selalu diucapkan dengan nada mengejek, tidak pula selalu dengan empati. Kadang terdengar seperti candaan, kadang sebagai keheranan, dan di lain waktu sebagai pengakuan pasrah. Namun justru di situlah menariknya. Ubadne telah bukan sekadar komentar iseng, melainkan cara orang Bali memberi makna pada sesuatu yang dianggap tidak wajar, terutama ketika menyangkut perilaku dan pikiran.

Yang membuat saya berhenti sejenak adalah pilihan kata obat dalam kalimat itu. Bali dikenal memiliki sistem pengobatan tradisional yang sangat tua dan kaya, yang dikenal sebagai usadha, lengkap dengan lontar-lontar pengobatan, ramuan herbal, serta peran balian sebagai penyembuh. Namun, ketika berhadapan dengan perilaku yang dianggap tidak normal, yang disebut justru bukan balian atau usadha, melainkan obat, dalam pengertian modern, obat dokter, obat medis, hasil ilmu kedokteran.

Di titik ini, Ubadne telah menjadi lebih dari sekadar ungkapan sehari-hari. Ia menandai sebuah pergeseran kesadaran. Penyakit, terutama yang menyentuh ranah pikiran dan perilaku, tidak lagi sepenuhnya dibaca sebagai gangguan niskala semata, tetapi juga sebagai sesuatu yang berada dalam wilayah medis modern. Bahkan ketika diucapkan dengan nada bercanda, kalimat itu mengandaikan satu hal, bahwa ada dokter, ada resep, dan ada obat yang seharusnya bisa menertibkan kekacauan perilaku tersebut.

Ungkapan ini menyimpan lapisan makna yang kompleks. Ia bisa dibaca sebagai pengakuan bahwa medis modern telah diterima sebagai rujukan. Namun sekaligus, ia juga bisa dibaca sebagai sindiran halus, bahkan keputusasaan. Obat sudah diminum, dokter sudah didatangi, tetapi perilaku yang dianggap ganjil itu tetap ada. Ubadne telah, bukan hanya obatnya yang habis, tetapi mungkin juga harapan akan kesembuhan yang sederhana.

Dari sini, pertanyaan pun mengemuka. Sejak kapan sebenarnya orang Bali mengenal dokter dan dunia medis modern? Bagaimana masyarakat yang sebelumnya telah memiliki sistem pengobatan tradisionalnya sendiri bisa menerima, menegosiasikan, bahkan memasukkan medis modern ke dalam bahasa dan cara berpikir sehari-hari mereka?

Sebelum dokter dan rumah sakit hadir, orang Bali telah lama hidup dengan sistem pengobatan yang berakar kuat pada kebudayaan. Usadha bukan sekadar pengetahuan tentang ramuan, melainkan juga cara memandang tubuh manusia sebagai bagian dari semesta. Sakit bukan hanya urusan fisik, tetapi pertanda adanya ketidakseimbangan antara sekala dan niskala, antara yang kasatmata dan tak kasatmata. Dalam kerangka ini, balian bukan hanya penyembuh, melainkan juga penafsir makna sakit.

Karena itu, dalam masyarakat Bali, penyakit tidak selalu ditanyakan apa diagnosanya, tetapi kenapa ini terjadi. Penyebabnya bisa berlapis. Kelelahan, salah makan, pelanggaran adat, gangguan roh, atau disharmoni hubungan sosial. Pengobatan pun sering kali bersifat holistik. Ramuan diminum, ritual dilakukan, dan hubungan sosial dipulihkan.

Namun, dunia tidak berhenti pada satu sistem pengetahuan. Memasuki abad ke-20, Bali mulai bersentuhan secara lebih intens dengan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Bersamaan dengan itu, hadir pula apa yang kemudian kita kenal sebagai pengobatan modern.

Tahun 1921 menjadi penanda penting. Di Denpasar, didirikan Rumah Sakit Wangaya, salah satu rumah sakit modern pertama di Bali. Awalnya, rumah sakit ini melayani pegawai kolonial, orang Eropa, dan kelompok tertentu. Namun lambat laun, masyarakat pribumi Bali juga mulai bersentuhan dengan sistem medis baru ini. Untuk pertama kalinya, sakit diperlakukan sebagai objek ilmiah. Diperiksa, diukur, diberi resep, dan dicatat.

Di sinilah benih perubahan itu ditanam. Dokter memperkenalkan cara pandang baru terhadap tubuh manusia sebagai sistem biologis yang bisa dipetakan dan diperbaiki. Obat-obatan kimia menawarkan sesuatu yang berbeda dari ramuan tradisional. Efek cepat, dosis terukur, dan janji kesembuhan yang rasional.

Namun, penerimaan medis modern di Bali tidak terjadi secara frontal. Ia tidak menggantikan usadha, tetapi hidup berdampingan dengannya. Orang Bali tidak serta merta meninggalkan balian, tetapi mulai mengenal dokter sebagai pilihan lain. Dalam banyak kasus, keduanya berjalan beriringan. Ke balian lebih dulu, ke dokter kemudian, atau sebaliknya.

Setelah kemerdekaan Indonesia, kehadiran medis modern di Bali kian menguat. Pembangunan Rumah Sakit Sanglah pada akhir 1950-an menjadi tonggak penting. Rumah sakit ini bukan hanya fasilitas kesehatan, tetapi simbol negara hadir dalam urusan tubuh warganya. Ketika Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berdiri pada awal 1960-an, Bali mulai melahirkan dokter-dokternya sendiri. Medis modern tidak lagi datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam.

Seiring waktu, puskesmas berdiri di kecamatan kecamatan, bidan dan perawat menjangkau desa desa, imunisasi dan program kesehatan masyarakat diperkenalkan. Medis modern perlahan menjadi bagian dari keseharian orang Bali. Ia masuk ke rumah, ke sekolah, dan ke bahasa.

Dan di situlah Ubadne telah menemukan konteksnya.

Kalimat itu, jika dibaca dengan kacamata antropologi kesehatan, adalah apa yang disebut sebagai idiom of distress, ungkapan budaya untuk menjelaskan kondisi gangguan tanpa harus menyebut diagnosis. Orang Bali tidak berkata: ia mengalami gangguan jiwa atau ia menderita skizofrenia. Mereka berkata, obatnya habis.

Bahasa ini terasa lebih lunak, lebih manusiawi, sekaligus lebih ambigu. Ia tidak menunjuk langsung pada orangnya, tetapi pada proses pengobatan yang seolah sudah mentok. Dalam satu kalimat pendek, tersimpan pengakuan bahwa ada usaha medis yang telah ditempuh, namun hasilnya tidak sesuai harapan.

Saya pribadi melihat ungkapan ini bukan sekadar bahasa, tetapi cermin kesadaran kolektif. Masyarakat Bali hari ini tahu bahwa perilaku tertentu berkaitan dengan urusan medis. Mereka tahu ada obat, ada dokter, ada rumah sakit. Namun mereka juga tahu, atau setidaknya merasakan, bahwa tidak semua hal bisa dibereskan oleh obat.

Dalam pengalaman jurnalistik, saya beberapa kali bertemu keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa. Hampir selalu, cerita mereka serupa. Berobat ke rumah sakit, minum obat rutin, membaik sebentar, lalu kambuh lagi. Ketika obat tidak diminum karena bosan, karena efek samping, atau karena biaya, perilaku kembali dianggap aneh. Dan masyarakat sekitar kembali berujar, Ubadne telah.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memuat beban yang berat. Ia mengandung stigma, tetapi juga kelelahan. Ia adalah bahasa masyarakat yang berada di persimpangan antara harapan pada medis modern dan kenyataan sosial yang rumit.

Di Bali, penerimaan terhadap medis modern tidak pernah sepenuhnya rasional atau ilmiah. Ia selalu dinegosiasikan dengan nilai budaya, keyakinan, dan pengalaman kolektif. Medis modern diterima sejauh ia bisa dipahami dan dimaknai. Ketika obat bekerja, dokter dipuji. Ketika tidak, masyarakat mencari penjelasan lain, kadang kembali ke ranah spiritual, kadang berhenti di kalimat pasrah, ubadne telah.

Dalam konteks ini, kesadaran medis orang Bali tidak bisa diukur semata dari jumlah rumah sakit atau dokter. Ia harus dibaca dari bahasa, dari ungkapan sehari hari, dari cara masyarakat menamai sakit. Dan Ubadne telah adalah salah satu penanda paling jujur dari proses itu.

Ia menunjukkan bahwa medis modern telah menjadi bagian dari kosmologi sakit orang Bali. Namun sekaligus, ia mengingatkan bahwa pengobatan bukan hanya soal obat, tetapi juga soal penerimaan, dukungan sosial, dan pemahaman budaya.

Pada akhirnya, Ubadne telah bukan sekadar tentang obat yang habis. Ia adalah metafora tentang batas. Batas ilmu kedokteran, batas kesabaran keluarga, batas pemahaman masyarakat, dan batas antara normal dan tidak normal.

Orang Bali, dengan segala kearifan dan kontradiksinya, terus bernegosiasi dengan batas-batas itu. Di satu sisi, mereka menerima medis modern sebagai kebutuhan. Di sisi lain, mereka tetap hidup dalam tradisi yang memandang sakit sebagai peristiwa sosial dan kosmologis.

Di tengah tarik-menarik itu, Ubadne telah berdiri sebagai kalimat kecil yang menyimpan sejarah panjang. Dari lontar usadha, dari rumah sakit kolonial, dari ruang rawat jiwa, hingga obrolan di warung kopi. Ia adalah bahasa yang lahir dari perjumpaan antara tradisi dan modernitas, antara harapan dan keputusasaan.

Dan mungkin, selama kita masih mendengar kalimat itu di jalan-jalan Bali, selama itu pula kesadaran medis orang Bali akan terus bergerak. Tidak lurus, tidak sempurna, tetapi hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesehatanmedisorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

Next Post

Bali, Ruang yang Hilang, Masalah yang Datang

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Bali, Ruang yang Hilang, Masalah yang Datang

Bali, Ruang yang Hilang, Masalah yang Datang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co