MATAHARI siang menyengat kawasan Catur Muka, Denpasar. Selasa, 23 Desember 2025, jarum jam baru sedikit melewati tengah hari ketika saya melangkah ke arena Denpasar Festival (Denfest) ke-18. Di tengah riuh pengunjung, aroma makanan, alunan musik, dan deretan stan yang berwarna-warni, ada satu stan yang menarik perhatian banyak orang, termasuk saya. Beberapa berkumpul lebih lama, berbincang, dan sesekali mengabadikan momen. Di sanalah, Disability Corner berada.
Keramaian di sudut itu bukan kebetulan. Disability Corner merupakan bagian dari perhelatan Denpasar Festival, agenda tahunan Pemerintah Kota Denpasar yang digelar setiap akhir tahun dan melibatkan beragam kreativitas warganya. Tahun ini, Denfest ke-18 berlangsung selama empat hari, sejak 20-23 Desember. Festival ini melibatkan para seniman, pelaku UMKM, dan masyarakat Kota Denpasar yang memiliki kreativitas di berbagai bidang. Tak terkecuali penyandang disabilitas. Di bawah koordinasi Dinas Sosial Kota Denpasar, para penyandang disabilitas diberikan satu stan khusus untuk menampilkan karya, kreativitas, dan keahliannya.
Stan khusus itu adalah Disability Corner. Letaknya di sisi utara Catur Muka, tepat di depan Bank Mandiri, Jalan Veteran. Tahun ini, stan tersebut tampil lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan tentunya didesain ramah bagi penyandang disabilitas maupun masyarakat umum.

Begitu mendekat, saya merasakan bahwa Disability Corner bukan sekadar ruang pamer. Di dalamnya, berbagai produk dan jasa hasil karya masyarakat disabilitas Kota Denpasar ditampilkan, mulai dari kerajinan tangan, kuliner, jasa pijat refleksi, people barista(kedai kopi), pembacaan tarot, hingga pertunjukan musik. Para pengunjung tampak antusias. Beberapa memilih berdiskusi langsung dengan penyandang disabilitas dan pihak-pihak yang terlibat di stan tersebut.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBe) Gantari Jaya, I Nyoman Juniartha, mengatakan bahwa seluruh UMKM yang mengisi Disability Corner memang diproduksi oleh teman-teman disabilitas. Ia menilai penyelenggaraan tahun ini terasa lebih lengkap. “Tahun ini disability corner saya rasa lebih komplit dari tahun sebelumnya, terutama karena stan kita lebih besar,” ujarnya. Menurut Juniartha, keberadaan people barista, kerajinan, pijat refleksi, hingga live musik dari sahabat disabilitas menunjukkan bahwa ruang ini benar-benar hidup dan menjadi ruang promosi yang lebih luas bagi kreativitas mereka.
Juniartha menegaskan, Disability Corner tidak hanya menampilkan produk kreatif, tetapi juga menjadi ruang inklusif bagi sahabat disabilitas untuk berekspresi, berkarya, dan berpartisipasi secara setara.

Saat saya tiba di area panggung Disability Corner, suasana terasa semakin hidup. De Alot, musisi pop Bali yang juga penyandang disabilitas, tampil berduet dengan I Nyoman Bawa, yang juga disabilitas. Mereka mengisi panggung sejak pukul 12.00 hingga 14.00 WITA. Kendati matahari begitu terik, semangat keduanya tak surut. Justru, semakin semangat mereka bernyanyi, semakin ramai pula pengunjung yang datang. Beberapa singgah untuk mengabadikan momen itu, sebagian lain bernostalgia dengan lagu-lagu lawas yang dibawakan.
Di sela penampilan, I Nyoman Bawa menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Denpasar benar-benar peduli terhadap masyarakat disabilitas. Ia mengatakan, setiap tahun mereka selalu diberi ruang di Denfest untuk menunjukkan kreativitas, di bawah naungan Dinas Sosial Kota Denpasar. Setiap selesai satu lagu, ia berulang kali menyapa penonton. “Ayo bapak ibu yang mau request atau nyanyi bareng disilakan,” ucapnya, menandai bahwa panggung tersebut bukan hanya milik mereka, tetapi milik bersama.

Ada satu pemandangan yang membuat saya memperhatikan lebih saksama. Saat bernyanyi, De Alot membawa sebuah buku berisi tulisan dengan huruf Braille. Sepanjang penampilan, jemarinya meraba halaman demi halaman. Kemudian, ia memperkenalkan buku tersebut kepada pengunjung. “Braille adalah sistem tulisan sentuh atau taktil yang menggunakan titik-titik timbul dalam sel berbentuk persegi. Sistem ini memungkinkan penyandang tunanetra membaca dan menulis melalui sentuhan jari. Braille diciptakan oleh Louis Braille dan menjadi kunci literasi bagi penyandang tunanetra di seluruh dunia.” Penjelasan singkat itu membuat pengunjung memahami mengapa buku tersebut selalu dibawa dan diraba sepanjang ia tampil.
Menjelang sore, ketika penampilan musik usai dan tepuk tangan perlahan mereda, saya melangkah meninggalkan Disability Corner. Di tengah hiruk-pikuk Denpasar Festival ke-18, sudut ini menghadirkan makna yang lebih besar: tentang kreativitas yang diberi ruang, kesetaraan yang dipraktikkan, dan inklusivitas yang benar-benar hidup, bukan sekadar jargon. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























