26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 24, 2025
in Ulas Musik
Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Joan Baez ~ Donna, Donna | Gambar dari YouTube

Joan Baez telah menyanyikan “Donna Donna” sejak tahun 1960, dan hari ini kita masih tersentuh oleh emosi kerentanan serta kerinduan akan kebebasan yang disuarakannya. Kita ingat bagaimana balada folk ini dulu seolah milik dunia pergerakan, sering diadopsi sebagai himne oleh para aktivis dan pejuang hak-hak sipil di berbagai belahan dunia.

Di tangan Joan Baez, “Donna Donna” tumbuh menjadi nyanyian yang tenang dan lembut. Namun di balik petikan arpeggio gitar akustiknya yang sederhana, vokal soprano Baez mengalir seperti sungai pegunungan: jernih, sejuk, dan menyimpan gema yang dalam. Suara itu tidak memaksa, tetapi menghampiri dengan lirih, seperti bisikan yang lama tertahan.

Kejernihan suaranya mencerminkan perenungan yang matang. Ia tidak menggurui, melainkan membiarkan ritme bernapas, dan “Donna Donna” pun terdengar tulus dan alami, beresonansi dengan kerapuhan yang dikandung kata-katanya.

On a wagon bound for market/
there’s a calf with a mournful eye/
High above him there’s a swallow/
winging swiftly through the sky.

Lagu ini memang kerap dibaca sebagai alegori penderitaan: seekor anak sapi yang digiring di atas gerobak menuju pasar, menuju kematian, sementara di atasnya, burung layang-layang melintas bebas di langit. Banyak penafsir mengaitkannya dengan tragedi Holocaust, dengan pengalaman kolektif bangsa Yahudi yang tak berdaya di hadapan kekuasaan yang menindas.

Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kesederhanaan metaforanya, yang membuatnya melampaui satu peristiwa sejarah. Anak sapi dan burung layang-layang itu tidak berhenti sebagai simbol suatu kaum tetapi menjadi gambaran tentang kondisi manusia itu sendiri.

“Donna Donna” berasal dari lagu Yiddish berjudul “Dana Dana,” yang digubah oleh Sholom Secunda dengan lirik Aaron Zeitlin pada tahun 1941 untuk teater Yiddish. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz, sebelum akhirnya jadi terkenal melalui suara Joan Baez. Sejak itu, lagu ini terus hidup, melintasi bahasa, generasi, dan konteks sosial.

Kita mungkin selalu terpesona seolah mendengarnya untuk pertama kali. Metaforanya sederhana, tetapi justru karena itu ia menembus dengan sunyi. Ia tidak berteriak tentang kebebasan, melainkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengusik nurani.

Irama folk-nya yang bersahaja membuat lagu ini mudah dirangkul oleh berbagai gerakan rakyat. Ia dinyanyikan dalam demonstrasi, perlawanan sipil yang penuh harap. Bahkan di Korea Selatan pada tahun 1975, lagu ini sempat dilarang karena dianggap subversif, sebuah ironi yang justru menegaskan daya gugahnya.

Namun “Donna Donna” juga membuka ruang tafsir yang lebih sunyi dan personal. Ia tidak hanya berbicara tentang penindasan eksternal, tetapi juga tentang cara manusia memaknai keberadaannya sendiri, tentang pilihan, kesadaran, dan kebebasan yang sering kita sangkal.

“Stop complaining!” said the farmer
“Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
like the swallow so proud and free?”

Di sini, suara petani mungkin terdengar dingin dan menyakitkan. Ia tidak melihat penderitaan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan sebagai sesuatu yang wajar. Anak sapi baginya hanyalah anak sapi, makhluk yang sudah memiliki fungsi, nasib, dan akhir yang ditentukan.

“Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?”
Pertanyaan ini terdengar tajam. Ia memantulkan cara dunia sering berbicara kepada mereka yang terikat oleh keadaan: seolah-olah keterikatan itu adalah pilihan mereka sendiri.

Dalam nada inilah lagu ini bersentuhan dengan persoalan eksistensi. Anak sapi melambangkan mereka yang hidup dalam penerimaan pasif, yang bergerak mengikuti rel tanpa tahu di mana berakhir. Ia diikat bukan hanya oleh tali, tetapi oleh keyakinan bahwa ia memang tidak ditakdirkan untuk terbang.

Sebaliknya, burung layang-layang digambarkan sedang terbang melayang. Kebebasannya tidak retoris; ia nyata, sunyi, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Terbang bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian untuk mengembangkan sayap.

Kontras antara keduanya bukan sekadar tentang kuat dan lemah, tetapi tentang kesadaran. Tentang apakah seseorang melihat dirinya sebagai objek dari keadaan, atau sebagai subjek yang masih memiliki ruang untuk memilih.

Di titik inilah “Donna Donna” terasa seperti ajakan untuk berhenti semata-mata meratapi nasib, dan mulai menyadari posisi diri dalam dunia. Bukan semua belenggu bisa dipatahkan, tetapi tidak semua belenggu datang dari luar.

Namun lagu ini tidak berhenti pada romantisme kebebasan. Ia menyisakan kegelisahan yang lebih dalam. Tidak semua orang memiliki sayap. Tidak semua situasi memungkinkan kita terbang. Di sinilah pertanyaan menjadi semakin pelik: apakah kebebasan selalu berarti melawan?

Stoa mengenal ungkapan amor fati, mencintai takdir. Bukan menyerah, melainkan menerima kehidupan sepenuhnya, dengan kesadaran dan kejernihan. Menerima tetapi memahami batas antara apa yang bisa kita ubah dan apa yang harus kita tanggung.

Maka “Donna Donna” berdiri di antara dua ketegangan: antara dorongan untuk terbang dan keharusan untuk memahami tanah tempat kita berpijak. Lagu ini tidak memberi jawaban final. Ia hanya memperlihatkan langit dan tali, sayap dan gerobak, lalu membiarkan kita bertanya pada diri sendiri, di posisi mana kita berdiri hari ini.

Dan mungkin, justru di sanalah kekuatan abadi lagu ini: ia tidak memaksa kita menjadi burung, tetapi juga tidak membiarkan kita pasrah menjadi anak sapi tanpa pernah bertanya mengapa. [T]

Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
‘Free Bird’: Spirit Perjuangan Rock Selatan
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang
Tags: lagumusikmusik baratulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Next Post

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co