23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 24, 2025
in Ulas Musik
Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Joan Baez ~ Donna, Donna | Gambar dari YouTube

Joan Baez telah menyanyikan “Donna Donna” sejak tahun 1960, dan hari ini kita masih tersentuh oleh emosi kerentanan serta kerinduan akan kebebasan yang disuarakannya. Kita ingat bagaimana balada folk ini dulu seolah milik dunia pergerakan, sering diadopsi sebagai himne oleh para aktivis dan pejuang hak-hak sipil di berbagai belahan dunia.

Di tangan Joan Baez, “Donna Donna” tumbuh menjadi nyanyian yang tenang dan lembut. Namun di balik petikan arpeggio gitar akustiknya yang sederhana, vokal soprano Baez mengalir seperti sungai pegunungan: jernih, sejuk, dan menyimpan gema yang dalam. Suara itu tidak memaksa, tetapi menghampiri dengan lirih, seperti bisikan yang lama tertahan.

Kejernihan suaranya mencerminkan perenungan yang matang. Ia tidak menggurui, melainkan membiarkan ritme bernapas, dan “Donna Donna” pun terdengar tulus dan alami, beresonansi dengan kerapuhan yang dikandung kata-katanya.

On a wagon bound for market/
there’s a calf with a mournful eye/
High above him there’s a swallow/
winging swiftly through the sky.

Lagu ini memang kerap dibaca sebagai alegori penderitaan: seekor anak sapi yang digiring di atas gerobak menuju pasar, menuju kematian, sementara di atasnya, burung layang-layang melintas bebas di langit. Banyak penafsir mengaitkannya dengan tragedi Holocaust, dengan pengalaman kolektif bangsa Yahudi yang tak berdaya di hadapan kekuasaan yang menindas.

Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kesederhanaan metaforanya, yang membuatnya melampaui satu peristiwa sejarah. Anak sapi dan burung layang-layang itu tidak berhenti sebagai simbol suatu kaum tetapi menjadi gambaran tentang kondisi manusia itu sendiri.

“Donna Donna” berasal dari lagu Yiddish berjudul “Dana Dana,” yang digubah oleh Sholom Secunda dengan lirik Aaron Zeitlin pada tahun 1941 untuk teater Yiddish. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz, sebelum akhirnya jadi terkenal melalui suara Joan Baez. Sejak itu, lagu ini terus hidup, melintasi bahasa, generasi, dan konteks sosial.

Kita mungkin selalu terpesona seolah mendengarnya untuk pertama kali. Metaforanya sederhana, tetapi justru karena itu ia menembus dengan sunyi. Ia tidak berteriak tentang kebebasan, melainkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengusik nurani.

Irama folk-nya yang bersahaja membuat lagu ini mudah dirangkul oleh berbagai gerakan rakyat. Ia dinyanyikan dalam demonstrasi, perlawanan sipil yang penuh harap. Bahkan di Korea Selatan pada tahun 1975, lagu ini sempat dilarang karena dianggap subversif, sebuah ironi yang justru menegaskan daya gugahnya.

Namun “Donna Donna” juga membuka ruang tafsir yang lebih sunyi dan personal. Ia tidak hanya berbicara tentang penindasan eksternal, tetapi juga tentang cara manusia memaknai keberadaannya sendiri, tentang pilihan, kesadaran, dan kebebasan yang sering kita sangkal.

“Stop complaining!” said the farmer
“Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
like the swallow so proud and free?”

Di sini, suara petani mungkin terdengar dingin dan menyakitkan. Ia tidak melihat penderitaan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan sebagai sesuatu yang wajar. Anak sapi baginya hanyalah anak sapi, makhluk yang sudah memiliki fungsi, nasib, dan akhir yang ditentukan.

“Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?”
Pertanyaan ini terdengar tajam. Ia memantulkan cara dunia sering berbicara kepada mereka yang terikat oleh keadaan: seolah-olah keterikatan itu adalah pilihan mereka sendiri.

Dalam nada inilah lagu ini bersentuhan dengan persoalan eksistensi. Anak sapi melambangkan mereka yang hidup dalam penerimaan pasif, yang bergerak mengikuti rel tanpa tahu di mana berakhir. Ia diikat bukan hanya oleh tali, tetapi oleh keyakinan bahwa ia memang tidak ditakdirkan untuk terbang.

Sebaliknya, burung layang-layang digambarkan sedang terbang melayang. Kebebasannya tidak retoris; ia nyata, sunyi, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Terbang bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian untuk mengembangkan sayap.

Kontras antara keduanya bukan sekadar tentang kuat dan lemah, tetapi tentang kesadaran. Tentang apakah seseorang melihat dirinya sebagai objek dari keadaan, atau sebagai subjek yang masih memiliki ruang untuk memilih.

Di titik inilah “Donna Donna” terasa seperti ajakan untuk berhenti semata-mata meratapi nasib, dan mulai menyadari posisi diri dalam dunia. Bukan semua belenggu bisa dipatahkan, tetapi tidak semua belenggu datang dari luar.

Namun lagu ini tidak berhenti pada romantisme kebebasan. Ia menyisakan kegelisahan yang lebih dalam. Tidak semua orang memiliki sayap. Tidak semua situasi memungkinkan kita terbang. Di sinilah pertanyaan menjadi semakin pelik: apakah kebebasan selalu berarti melawan?

Stoa mengenal ungkapan amor fati, mencintai takdir. Bukan menyerah, melainkan menerima kehidupan sepenuhnya, dengan kesadaran dan kejernihan. Menerima tetapi memahami batas antara apa yang bisa kita ubah dan apa yang harus kita tanggung.

Maka “Donna Donna” berdiri di antara dua ketegangan: antara dorongan untuk terbang dan keharusan untuk memahami tanah tempat kita berpijak. Lagu ini tidak memberi jawaban final. Ia hanya memperlihatkan langit dan tali, sayap dan gerobak, lalu membiarkan kita bertanya pada diri sendiri, di posisi mana kita berdiri hari ini.

Dan mungkin, justru di sanalah kekuatan abadi lagu ini: ia tidak memaksa kita menjadi burung, tetapi juga tidak membiarkan kita pasrah menjadi anak sapi tanpa pernah bertanya mengapa. [T]

Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
‘Free Bird’: Spirit Perjuangan Rock Selatan
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang
Tags: lagumusikmusik baratulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Next Post

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co