14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
December 24, 2025
in Ulas Musik
Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Joan Baez ~ Donna, Donna | Gambar dari YouTube

Joan Baez telah menyanyikan “Donna Donna” sejak tahun 1960, dan hari ini kita masih tersentuh oleh emosi kerentanan serta kerinduan akan kebebasan yang disuarakannya. Kita ingat bagaimana balada folk ini dulu seolah milik dunia pergerakan, sering diadopsi sebagai himne oleh para aktivis dan pejuang hak-hak sipil di berbagai belahan dunia.

Di tangan Joan Baez, “Donna Donna” tumbuh menjadi nyanyian yang tenang dan lembut. Namun di balik petikan arpeggio gitar akustiknya yang sederhana, vokal soprano Baez mengalir seperti sungai pegunungan: jernih, sejuk, dan menyimpan gema yang dalam. Suara itu tidak memaksa, tetapi menghampiri dengan lirih, seperti bisikan yang lama tertahan.

Kejernihan suaranya mencerminkan perenungan yang matang. Ia tidak menggurui, melainkan membiarkan ritme bernapas, dan “Donna Donna” pun terdengar tulus dan alami, beresonansi dengan kerapuhan yang dikandung kata-katanya.

On a wagon bound for market/
there’s a calf with a mournful eye/
High above him there’s a swallow/
winging swiftly through the sky.

Lagu ini memang kerap dibaca sebagai alegori penderitaan: seekor anak sapi yang digiring di atas gerobak menuju pasar, menuju kematian, sementara di atasnya, burung layang-layang melintas bebas di langit. Banyak penafsir mengaitkannya dengan tragedi Holocaust, dengan pengalaman kolektif bangsa Yahudi yang tak berdaya di hadapan kekuasaan yang menindas.

Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kesederhanaan metaforanya, yang membuatnya melampaui satu peristiwa sejarah. Anak sapi dan burung layang-layang itu tidak berhenti sebagai simbol suatu kaum tetapi menjadi gambaran tentang kondisi manusia itu sendiri.

“Donna Donna” berasal dari lagu Yiddish berjudul “Dana Dana,” yang digubah oleh Sholom Secunda dengan lirik Aaron Zeitlin pada tahun 1941 untuk teater Yiddish. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz, sebelum akhirnya jadi terkenal melalui suara Joan Baez. Sejak itu, lagu ini terus hidup, melintasi bahasa, generasi, dan konteks sosial.

Kita mungkin selalu terpesona seolah mendengarnya untuk pertama kali. Metaforanya sederhana, tetapi justru karena itu ia menembus dengan sunyi. Ia tidak berteriak tentang kebebasan, melainkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengusik nurani.

Irama folk-nya yang bersahaja membuat lagu ini mudah dirangkul oleh berbagai gerakan rakyat. Ia dinyanyikan dalam demonstrasi, perlawanan sipil yang penuh harap. Bahkan di Korea Selatan pada tahun 1975, lagu ini sempat dilarang karena dianggap subversif, sebuah ironi yang justru menegaskan daya gugahnya.

Namun “Donna Donna” juga membuka ruang tafsir yang lebih sunyi dan personal. Ia tidak hanya berbicara tentang penindasan eksternal, tetapi juga tentang cara manusia memaknai keberadaannya sendiri, tentang pilihan, kesadaran, dan kebebasan yang sering kita sangkal.

“Stop complaining!” said the farmer
“Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
like the swallow so proud and free?”

Di sini, suara petani mungkin terdengar dingin dan menyakitkan. Ia tidak melihat penderitaan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan sebagai sesuatu yang wajar. Anak sapi baginya hanyalah anak sapi, makhluk yang sudah memiliki fungsi, nasib, dan akhir yang ditentukan.

“Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?”
Pertanyaan ini terdengar tajam. Ia memantulkan cara dunia sering berbicara kepada mereka yang terikat oleh keadaan: seolah-olah keterikatan itu adalah pilihan mereka sendiri.

Dalam nada inilah lagu ini bersentuhan dengan persoalan eksistensi. Anak sapi melambangkan mereka yang hidup dalam penerimaan pasif, yang bergerak mengikuti rel tanpa tahu di mana berakhir. Ia diikat bukan hanya oleh tali, tetapi oleh keyakinan bahwa ia memang tidak ditakdirkan untuk terbang.

Sebaliknya, burung layang-layang digambarkan sedang terbang melayang. Kebebasannya tidak retoris; ia nyata, sunyi, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Terbang bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian untuk mengembangkan sayap.

Kontras antara keduanya bukan sekadar tentang kuat dan lemah, tetapi tentang kesadaran. Tentang apakah seseorang melihat dirinya sebagai objek dari keadaan, atau sebagai subjek yang masih memiliki ruang untuk memilih.

Di titik inilah “Donna Donna” terasa seperti ajakan untuk berhenti semata-mata meratapi nasib, dan mulai menyadari posisi diri dalam dunia. Bukan semua belenggu bisa dipatahkan, tetapi tidak semua belenggu datang dari luar.

Namun lagu ini tidak berhenti pada romantisme kebebasan. Ia menyisakan kegelisahan yang lebih dalam. Tidak semua orang memiliki sayap. Tidak semua situasi memungkinkan kita terbang. Di sinilah pertanyaan menjadi semakin pelik: apakah kebebasan selalu berarti melawan?

Stoa mengenal ungkapan amor fati, mencintai takdir. Bukan menyerah, melainkan menerima kehidupan sepenuhnya, dengan kesadaran dan kejernihan. Menerima tetapi memahami batas antara apa yang bisa kita ubah dan apa yang harus kita tanggung.

Maka “Donna Donna” berdiri di antara dua ketegangan: antara dorongan untuk terbang dan keharusan untuk memahami tanah tempat kita berpijak. Lagu ini tidak memberi jawaban final. Ia hanya memperlihatkan langit dan tali, sayap dan gerobak, lalu membiarkan kita bertanya pada diri sendiri, di posisi mana kita berdiri hari ini.

Dan mungkin, justru di sanalah kekuatan abadi lagu ini: ia tidak memaksa kita menjadi burung, tetapi juga tidak membiarkan kita pasrah menjadi anak sapi tanpa pernah bertanya mengapa. [T]

Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
‘Free Bird’: Spirit Perjuangan Rock Selatan
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang
Tags: lagumusikmusik baratulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Begol dan Rahasianya: Ketika Limbah Kayu Pantai Punya Cerita Rahasia

Next Post

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co