12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 24, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, petikan lontar Wariga kerap dijadikan landasan kultural masyarakat dalam membaca waktu, menimbang kehendak alam, dan mengatur laku hidup. Salah satu momentum yang memiliki makna sangat kuat dalam kesadaran kolektif tersebut adalah Rahina Suci Buda Kliwon Pegatwakan, yang oleh sebagian masyarakat juga disebut Buda Kliwon Pahang atau Petawakan. Bagi orang Bali, hari ini bukan sekadar penanda kalender pawukon, melainkan titik balik kosmis—saat “kekotoran” waktu diputus (pegat), dan energi baru dipercaya mulai mengalir.

Dalam kalender Hindu Bali, Buda Kliwon Pegatwakan yang jatuh pada Rabu yang bertepatan dengan Kliwon dalam wuku Pahang, merupakan hari suci yang menandai berakhirnya rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Secara etimologis, “pegat” berarti putus atau lepas, sedangkan “wakan/wakan” melambangkan sabda atau janji; bersama-sama. Pegatwakan mencerminkan pelepasan atau pengakhiran sebuah masa spiritual dan kembalinya umat kepada rutinitas kehidupan biasa setelah masa tapa brata dan perayaan religius.

Dalam tradisi tutur masyarakat Bali, Pegatwakan juga kerap dikenal dengan sebutan Uncal Balung, yang secara simbolik dimaknai sebagai proses “melepaskan tulang”—yakni membuang sisa-sisa beban lama, keraguan, dan kekotoran batin yang menghambat langkah baru. Istilah ini menegaskan bahwa Buda Kliwon Pegatwakan bukan sekadar pergantian hari, melainkan momentum spiritual dan psikologis untuk merelakan yang usang agar ruang tumbuh terbuka kembali. Dalam konteks pertanian dan peternakan, Uncal Balung mengajarkan bahwa memulai usaha pangan tidak cukup dengan kesiapan material semata, tetapi juga menuntut kejernihan niat, keberanian memutus keraguan, serta kesiapan mental menghadapi siklus alam yang terus berubah.

Secara simbolik, hari ini biasanya ditandai dengan pencabutan penjor—simbol kemenangan dharma atas adharma—serta pembersihan dan pembakaran perlengkapan upacara sebagai tanda telah selesainya periode suci. Setelah Pegatwakan, umat diperkenankan untuk kembali melaksanakan kehidupan manusa yadnya dan kegiatan sosial-kehidupan seperti biasa.

Bagi sebagian masyarakat Bali, Buda Kliwon Pegatwakan bukan hanya sekadar peristiwa religius ritual. Ia telah menjadi momen simbolis untuk memulai fase kehidupan baru, termasuk memutuskan waktu untuk memulai usaha dalam bidang pertanian dan peternakan, seperti pembelian bibit sapi, babi, kambing, maupun pengembangan usaha tani dan ternak. Fenomena ini mirip dengan tradisi lain di Bali di mana hari-hari tertentu (tumpek, kajeng kliwon, dsb.) dipersepsi membawa energi positif sehingga banyak aktivitas penting direncanakan bersamaan dengan rahina suci tersebut.

Kebiasaan menunda mulai usaha hingga Buda Kliwon Pegatwakan sejatinya merupakan sebuah ekspresi nilai budaya lokal yang menggabungkan aspek religius, psikologis, dan sosial. Hari ini dipersepsi sebagai waktu di mana alam, manusia, dan leluhur sedang “selaras”—sehingga dimaknai sebagai awal yang baik dan bersih secara spiritual sebelum memulai kegiatan penting.

Dalam praktik sosial, tidak sedikit petani dan peternak Bali yang menunda untuk memulai usaha sebelum Buda Kliwon Pegatwakan. Pembelian bibit sapi, babi, kambing, bahkan memulai kandang baru, kerap “disimpan” niatnya hingga hari ini tiba. Demikian pula urusan dewasa hayu: pernikahan, membangun rumah, membuka usaha, hingga memulai babak baru kehidupan. Inilah fakta pemaknaan secara tradisional yang kerap terjadi di masyarakat kita.

Tradisi ini berakar kuat pada lontar-lontar Wariga dan Tutur. Semuanya memandang keselarasan antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan kekuatan niskala (parhyangan) sebagai syarat utama keberhasilan sebuah usaha. Dalam kerangka ini, keberhasilan pertanian dan peternakan tidak semata ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan waktu dan sikap batin.

Perspektif Pendidikan Pertanian: Membaca Tradisi dengan Nalar Ilmiah

Pertanyaannya kemudian, “Bagaimana pendidikan pertanian dan peternakan Bali memaknai Buda Kliwon Pegatwakan di tengah tuntutan ilmu pengetahuan modern?”

Pendidikan pertanian yang baik sejatinya tidak menafikan tradisi, tetapi menjadikannya pintu masuk pembelajaran kontekstual. Dalam perspektif pedagogi modern, praktik menunda dan memulai ini dapat dibaca sebagai suatu kearifan.

Pertama,  manajemen risiko tradisional. Artinya bahwa penundaan sebelum waktu yang dianggap “bersih” sesungguhnya mencerminkan kehati-hatian. Dalam ilmu peternakan, keputusan membeli bibit memang idealnya dilakukan setelah kesiapan kandang, pakan, modal, dan tenaga terpenuhi. Tradisi “menunggu dewasa” sejajar dengan konsep feasibility study dalam sains modern.

Kedua, sebagai penguatan etika produksi. Lontar-lontar Bali menekankan bahwa usaha pangan tidak boleh serampangan. Ini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan, kesejahteraan hewan (animal welfare), dan pertanian ramah lingkungan yang kini menjadi standar global.

Ketiga, pendidikan karakter agraris. Bahwa Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan hormat pada alam. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk pendidikan vokasi pangan yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi petani dan peternak berkarakter.

Namun demikian, pendidikan pertanian Bali juga ditantang untuk tidak berhenti pada simbolisme waktu. Bila Buda Kliwon Pegatwakan hanya dimaknai secara ritual tanpa diikuti peningkatan literasi, keterampilan, dan inovasi, maka ia berisiko menjadi romantisme masa lalu.

Di sinilah peran sekolah vokasi—khususnya SMK pertanian, peternakan, dan perikanan—menjadi sangat strategis. Sekolah harus mampu menjelaskan bahwa Dewasa ayu bukan pengganti manajemen. Hari baik tidak meniadakan kebutuhan ilmu. Restu alam harus diiringi kompetensi manusia. Inilah tantangan sesungguhnya bagi pendidikan vokasi, yakni harus mampu melangkah dari dimensi mistik ke metodologis. Dengan demikian, Buda Kliwon Pegatwakan menjadi momen refleksi pendidikan, bukan sekadar kalender upacara.

Tradisi dan Ketahanan Pangan: Titik Temu yang Terlupakan

Ketika pemerintah pusat menggencarkan program ketahanan pangan, Bali sesungguhnya telah lama memiliki “modal budaya” yang kuat. Tradisi seperti Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa pangan adalah urusan sakral, bukan sekadar komoditas.

Sayangnya, sekolah-sekolah vokasi pangan sering kalah pamor dibanding pariwisata. Padahal, sebagaimana filosofi Bali, pariwisata tidak memiliki hulu jika pertanian mati. Pendidikan pertanian yang berakar pada tradisi, sekaligus berorientasi pada sains dan teknologi, adalah jembatan penting yang belum sepenuhnya dibangun.

Buda Kliwon Pegatwakan, bila dimaknai secara mendalam, bukanlah hari untuk menyerahkan nasib pada waktu semata. Ia adalah ajakan untuk memutus keraguan, membersihkan niat, dan menyambung ikhtiar dengan kesadaran ekologis.

Bagi dunia pendidikan pertanian,  peternakan dan perikanan Bali, rahina suci ini dapat dijadikan titik awal pedagogis, yaitu mengajarkan bahwa ilmu modern dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling menguatkan—seperti bajak dan benih, seperti kandang dan pakan, seperti manusia dan alam yang sejak lama hidup dalam satu tarikan napas kebudayaan Bali. Ilmu modern dan kearifan lokal merupakan penyambung harapan bagi Bali yang harmonis.

Pada akhirnya, fenomena Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa nilai budaya bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan instrumen pembelajaran kritis yang relevan dalam praktik kehidupan modern — termasuk di bidang pertanian dan peternakan. Budaya memberi ritme, penanda nilai, dan ruang untuk refleksi sebelum bertindak.

Sebagai calon praktisi, pendidik di bidang pertanian dan peternakan, selayaknya dapat melihat fenomena budaya bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan atau “diabaikan dalam sains” melainkan sebagai elemen pembelajaran yang memperkaya pengalaman praktis dan spiritual. Dengan begitu, pendidikan pertanian dan peternakan di Bali tidak hanya menghasilkan tenaga ahli, tetapi juga pelaku usaha yang berakar kuat pada nilai budaya, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktiknya. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

 

Tags: hinduHindu BaliPendidikanpendidikan pertanianTradisitradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co