24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 24, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, petikan lontar Wariga kerap dijadikan landasan kultural masyarakat dalam membaca waktu, menimbang kehendak alam, dan mengatur laku hidup. Salah satu momentum yang memiliki makna sangat kuat dalam kesadaran kolektif tersebut adalah Rahina Suci Buda Kliwon Pegatwakan, yang oleh sebagian masyarakat juga disebut Buda Kliwon Pahang atau Petawakan. Bagi orang Bali, hari ini bukan sekadar penanda kalender pawukon, melainkan titik balik kosmis—saat “kekotoran” waktu diputus (pegat), dan energi baru dipercaya mulai mengalir.

Dalam kalender Hindu Bali, Buda Kliwon Pegatwakan yang jatuh pada Rabu yang bertepatan dengan Kliwon dalam wuku Pahang, merupakan hari suci yang menandai berakhirnya rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Secara etimologis, “pegat” berarti putus atau lepas, sedangkan “wakan/wakan” melambangkan sabda atau janji; bersama-sama. Pegatwakan mencerminkan pelepasan atau pengakhiran sebuah masa spiritual dan kembalinya umat kepada rutinitas kehidupan biasa setelah masa tapa brata dan perayaan religius.

Dalam tradisi tutur masyarakat Bali, Pegatwakan juga kerap dikenal dengan sebutan Uncal Balung, yang secara simbolik dimaknai sebagai proses “melepaskan tulang”—yakni membuang sisa-sisa beban lama, keraguan, dan kekotoran batin yang menghambat langkah baru. Istilah ini menegaskan bahwa Buda Kliwon Pegatwakan bukan sekadar pergantian hari, melainkan momentum spiritual dan psikologis untuk merelakan yang usang agar ruang tumbuh terbuka kembali. Dalam konteks pertanian dan peternakan, Uncal Balung mengajarkan bahwa memulai usaha pangan tidak cukup dengan kesiapan material semata, tetapi juga menuntut kejernihan niat, keberanian memutus keraguan, serta kesiapan mental menghadapi siklus alam yang terus berubah.

Secara simbolik, hari ini biasanya ditandai dengan pencabutan penjor—simbol kemenangan dharma atas adharma—serta pembersihan dan pembakaran perlengkapan upacara sebagai tanda telah selesainya periode suci. Setelah Pegatwakan, umat diperkenankan untuk kembali melaksanakan kehidupan manusa yadnya dan kegiatan sosial-kehidupan seperti biasa.

Bagi sebagian masyarakat Bali, Buda Kliwon Pegatwakan bukan hanya sekadar peristiwa religius ritual. Ia telah menjadi momen simbolis untuk memulai fase kehidupan baru, termasuk memutuskan waktu untuk memulai usaha dalam bidang pertanian dan peternakan, seperti pembelian bibit sapi, babi, kambing, maupun pengembangan usaha tani dan ternak. Fenomena ini mirip dengan tradisi lain di Bali di mana hari-hari tertentu (tumpek, kajeng kliwon, dsb.) dipersepsi membawa energi positif sehingga banyak aktivitas penting direncanakan bersamaan dengan rahina suci tersebut.

Kebiasaan menunda mulai usaha hingga Buda Kliwon Pegatwakan sejatinya merupakan sebuah ekspresi nilai budaya lokal yang menggabungkan aspek religius, psikologis, dan sosial. Hari ini dipersepsi sebagai waktu di mana alam, manusia, dan leluhur sedang “selaras”—sehingga dimaknai sebagai awal yang baik dan bersih secara spiritual sebelum memulai kegiatan penting.

Dalam praktik sosial, tidak sedikit petani dan peternak Bali yang menunda untuk memulai usaha sebelum Buda Kliwon Pegatwakan. Pembelian bibit sapi, babi, kambing, bahkan memulai kandang baru, kerap “disimpan” niatnya hingga hari ini tiba. Demikian pula urusan dewasa hayu: pernikahan, membangun rumah, membuka usaha, hingga memulai babak baru kehidupan. Inilah fakta pemaknaan secara tradisional yang kerap terjadi di masyarakat kita.

Tradisi ini berakar kuat pada lontar-lontar Wariga dan Tutur. Semuanya memandang keselarasan antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan kekuatan niskala (parhyangan) sebagai syarat utama keberhasilan sebuah usaha. Dalam kerangka ini, keberhasilan pertanian dan peternakan tidak semata ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan waktu dan sikap batin.

Perspektif Pendidikan Pertanian: Membaca Tradisi dengan Nalar Ilmiah

Pertanyaannya kemudian, “Bagaimana pendidikan pertanian dan peternakan Bali memaknai Buda Kliwon Pegatwakan di tengah tuntutan ilmu pengetahuan modern?”

Pendidikan pertanian yang baik sejatinya tidak menafikan tradisi, tetapi menjadikannya pintu masuk pembelajaran kontekstual. Dalam perspektif pedagogi modern, praktik menunda dan memulai ini dapat dibaca sebagai suatu kearifan.

Pertama,  manajemen risiko tradisional. Artinya bahwa penundaan sebelum waktu yang dianggap “bersih” sesungguhnya mencerminkan kehati-hatian. Dalam ilmu peternakan, keputusan membeli bibit memang idealnya dilakukan setelah kesiapan kandang, pakan, modal, dan tenaga terpenuhi. Tradisi “menunggu dewasa” sejajar dengan konsep feasibility study dalam sains modern.

Kedua, sebagai penguatan etika produksi. Lontar-lontar Bali menekankan bahwa usaha pangan tidak boleh serampangan. Ini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan, kesejahteraan hewan (animal welfare), dan pertanian ramah lingkungan yang kini menjadi standar global.

Ketiga, pendidikan karakter agraris. Bahwa Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan hormat pada alam. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk pendidikan vokasi pangan yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi petani dan peternak berkarakter.

Namun demikian, pendidikan pertanian Bali juga ditantang untuk tidak berhenti pada simbolisme waktu. Bila Buda Kliwon Pegatwakan hanya dimaknai secara ritual tanpa diikuti peningkatan literasi, keterampilan, dan inovasi, maka ia berisiko menjadi romantisme masa lalu.

Di sinilah peran sekolah vokasi—khususnya SMK pertanian, peternakan, dan perikanan—menjadi sangat strategis. Sekolah harus mampu menjelaskan bahwa Dewasa ayu bukan pengganti manajemen. Hari baik tidak meniadakan kebutuhan ilmu. Restu alam harus diiringi kompetensi manusia. Inilah tantangan sesungguhnya bagi pendidikan vokasi, yakni harus mampu melangkah dari dimensi mistik ke metodologis. Dengan demikian, Buda Kliwon Pegatwakan menjadi momen refleksi pendidikan, bukan sekadar kalender upacara.

Tradisi dan Ketahanan Pangan: Titik Temu yang Terlupakan

Ketika pemerintah pusat menggencarkan program ketahanan pangan, Bali sesungguhnya telah lama memiliki “modal budaya” yang kuat. Tradisi seperti Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa pangan adalah urusan sakral, bukan sekadar komoditas.

Sayangnya, sekolah-sekolah vokasi pangan sering kalah pamor dibanding pariwisata. Padahal, sebagaimana filosofi Bali, pariwisata tidak memiliki hulu jika pertanian mati. Pendidikan pertanian yang berakar pada tradisi, sekaligus berorientasi pada sains dan teknologi, adalah jembatan penting yang belum sepenuhnya dibangun.

Buda Kliwon Pegatwakan, bila dimaknai secara mendalam, bukanlah hari untuk menyerahkan nasib pada waktu semata. Ia adalah ajakan untuk memutus keraguan, membersihkan niat, dan menyambung ikhtiar dengan kesadaran ekologis.

Bagi dunia pendidikan pertanian,  peternakan dan perikanan Bali, rahina suci ini dapat dijadikan titik awal pedagogis, yaitu mengajarkan bahwa ilmu modern dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling menguatkan—seperti bajak dan benih, seperti kandang dan pakan, seperti manusia dan alam yang sejak lama hidup dalam satu tarikan napas kebudayaan Bali. Ilmu modern dan kearifan lokal merupakan penyambung harapan bagi Bali yang harmonis.

Pada akhirnya, fenomena Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa nilai budaya bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan instrumen pembelajaran kritis yang relevan dalam praktik kehidupan modern — termasuk di bidang pertanian dan peternakan. Budaya memberi ritme, penanda nilai, dan ruang untuk refleksi sebelum bertindak.

Sebagai calon praktisi, pendidik di bidang pertanian dan peternakan, selayaknya dapat melihat fenomena budaya bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan atau “diabaikan dalam sains” melainkan sebagai elemen pembelajaran yang memperkaya pengalaman praktis dan spiritual. Dengan begitu, pendidikan pertanian dan peternakan di Bali tidak hanya menghasilkan tenaga ahli, tetapi juga pelaku usaha yang berakar kuat pada nilai budaya, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktiknya. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

 

Tags: hinduHindu BaliPendidikanpendidikan pertanianTradisitradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co