14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 24, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, petikan lontar Wariga kerap dijadikan landasan kultural masyarakat dalam membaca waktu, menimbang kehendak alam, dan mengatur laku hidup. Salah satu momentum yang memiliki makna sangat kuat dalam kesadaran kolektif tersebut adalah Rahina Suci Buda Kliwon Pegatwakan, yang oleh sebagian masyarakat juga disebut Buda Kliwon Pahang atau Petawakan. Bagi orang Bali, hari ini bukan sekadar penanda kalender pawukon, melainkan titik balik kosmis—saat “kekotoran” waktu diputus (pegat), dan energi baru dipercaya mulai mengalir.

Dalam kalender Hindu Bali, Buda Kliwon Pegatwakan yang jatuh pada Rabu yang bertepatan dengan Kliwon dalam wuku Pahang, merupakan hari suci yang menandai berakhirnya rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Secara etimologis, “pegat” berarti putus atau lepas, sedangkan “wakan/wakan” melambangkan sabda atau janji; bersama-sama. Pegatwakan mencerminkan pelepasan atau pengakhiran sebuah masa spiritual dan kembalinya umat kepada rutinitas kehidupan biasa setelah masa tapa brata dan perayaan religius.

Dalam tradisi tutur masyarakat Bali, Pegatwakan juga kerap dikenal dengan sebutan Uncal Balung, yang secara simbolik dimaknai sebagai proses “melepaskan tulang”—yakni membuang sisa-sisa beban lama, keraguan, dan kekotoran batin yang menghambat langkah baru. Istilah ini menegaskan bahwa Buda Kliwon Pegatwakan bukan sekadar pergantian hari, melainkan momentum spiritual dan psikologis untuk merelakan yang usang agar ruang tumbuh terbuka kembali. Dalam konteks pertanian dan peternakan, Uncal Balung mengajarkan bahwa memulai usaha pangan tidak cukup dengan kesiapan material semata, tetapi juga menuntut kejernihan niat, keberanian memutus keraguan, serta kesiapan mental menghadapi siklus alam yang terus berubah.

Secara simbolik, hari ini biasanya ditandai dengan pencabutan penjor—simbol kemenangan dharma atas adharma—serta pembersihan dan pembakaran perlengkapan upacara sebagai tanda telah selesainya periode suci. Setelah Pegatwakan, umat diperkenankan untuk kembali melaksanakan kehidupan manusa yadnya dan kegiatan sosial-kehidupan seperti biasa.

Bagi sebagian masyarakat Bali, Buda Kliwon Pegatwakan bukan hanya sekadar peristiwa religius ritual. Ia telah menjadi momen simbolis untuk memulai fase kehidupan baru, termasuk memutuskan waktu untuk memulai usaha dalam bidang pertanian dan peternakan, seperti pembelian bibit sapi, babi, kambing, maupun pengembangan usaha tani dan ternak. Fenomena ini mirip dengan tradisi lain di Bali di mana hari-hari tertentu (tumpek, kajeng kliwon, dsb.) dipersepsi membawa energi positif sehingga banyak aktivitas penting direncanakan bersamaan dengan rahina suci tersebut.

Kebiasaan menunda mulai usaha hingga Buda Kliwon Pegatwakan sejatinya merupakan sebuah ekspresi nilai budaya lokal yang menggabungkan aspek religius, psikologis, dan sosial. Hari ini dipersepsi sebagai waktu di mana alam, manusia, dan leluhur sedang “selaras”—sehingga dimaknai sebagai awal yang baik dan bersih secara spiritual sebelum memulai kegiatan penting.

Dalam praktik sosial, tidak sedikit petani dan peternak Bali yang menunda untuk memulai usaha sebelum Buda Kliwon Pegatwakan. Pembelian bibit sapi, babi, kambing, bahkan memulai kandang baru, kerap “disimpan” niatnya hingga hari ini tiba. Demikian pula urusan dewasa hayu: pernikahan, membangun rumah, membuka usaha, hingga memulai babak baru kehidupan. Inilah fakta pemaknaan secara tradisional yang kerap terjadi di masyarakat kita.

Tradisi ini berakar kuat pada lontar-lontar Wariga dan Tutur. Semuanya memandang keselarasan antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan kekuatan niskala (parhyangan) sebagai syarat utama keberhasilan sebuah usaha. Dalam kerangka ini, keberhasilan pertanian dan peternakan tidak semata ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan waktu dan sikap batin.

Perspektif Pendidikan Pertanian: Membaca Tradisi dengan Nalar Ilmiah

Pertanyaannya kemudian, “Bagaimana pendidikan pertanian dan peternakan Bali memaknai Buda Kliwon Pegatwakan di tengah tuntutan ilmu pengetahuan modern?”

Pendidikan pertanian yang baik sejatinya tidak menafikan tradisi, tetapi menjadikannya pintu masuk pembelajaran kontekstual. Dalam perspektif pedagogi modern, praktik menunda dan memulai ini dapat dibaca sebagai suatu kearifan.

Pertama,  manajemen risiko tradisional. Artinya bahwa penundaan sebelum waktu yang dianggap “bersih” sesungguhnya mencerminkan kehati-hatian. Dalam ilmu peternakan, keputusan membeli bibit memang idealnya dilakukan setelah kesiapan kandang, pakan, modal, dan tenaga terpenuhi. Tradisi “menunggu dewasa” sejajar dengan konsep feasibility study dalam sains modern.

Kedua, sebagai penguatan etika produksi. Lontar-lontar Bali menekankan bahwa usaha pangan tidak boleh serampangan. Ini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan, kesejahteraan hewan (animal welfare), dan pertanian ramah lingkungan yang kini menjadi standar global.

Ketiga, pendidikan karakter agraris. Bahwa Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan hormat pada alam. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk pendidikan vokasi pangan yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi petani dan peternak berkarakter.

Namun demikian, pendidikan pertanian Bali juga ditantang untuk tidak berhenti pada simbolisme waktu. Bila Buda Kliwon Pegatwakan hanya dimaknai secara ritual tanpa diikuti peningkatan literasi, keterampilan, dan inovasi, maka ia berisiko menjadi romantisme masa lalu.

Di sinilah peran sekolah vokasi—khususnya SMK pertanian, peternakan, dan perikanan—menjadi sangat strategis. Sekolah harus mampu menjelaskan bahwa Dewasa ayu bukan pengganti manajemen. Hari baik tidak meniadakan kebutuhan ilmu. Restu alam harus diiringi kompetensi manusia. Inilah tantangan sesungguhnya bagi pendidikan vokasi, yakni harus mampu melangkah dari dimensi mistik ke metodologis. Dengan demikian, Buda Kliwon Pegatwakan menjadi momen refleksi pendidikan, bukan sekadar kalender upacara.

Tradisi dan Ketahanan Pangan: Titik Temu yang Terlupakan

Ketika pemerintah pusat menggencarkan program ketahanan pangan, Bali sesungguhnya telah lama memiliki “modal budaya” yang kuat. Tradisi seperti Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa pangan adalah urusan sakral, bukan sekadar komoditas.

Sayangnya, sekolah-sekolah vokasi pangan sering kalah pamor dibanding pariwisata. Padahal, sebagaimana filosofi Bali, pariwisata tidak memiliki hulu jika pertanian mati. Pendidikan pertanian yang berakar pada tradisi, sekaligus berorientasi pada sains dan teknologi, adalah jembatan penting yang belum sepenuhnya dibangun.

Buda Kliwon Pegatwakan, bila dimaknai secara mendalam, bukanlah hari untuk menyerahkan nasib pada waktu semata. Ia adalah ajakan untuk memutus keraguan, membersihkan niat, dan menyambung ikhtiar dengan kesadaran ekologis.

Bagi dunia pendidikan pertanian,  peternakan dan perikanan Bali, rahina suci ini dapat dijadikan titik awal pedagogis, yaitu mengajarkan bahwa ilmu modern dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling menguatkan—seperti bajak dan benih, seperti kandang dan pakan, seperti manusia dan alam yang sejak lama hidup dalam satu tarikan napas kebudayaan Bali. Ilmu modern dan kearifan lokal merupakan penyambung harapan bagi Bali yang harmonis.

Pada akhirnya, fenomena Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa nilai budaya bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan instrumen pembelajaran kritis yang relevan dalam praktik kehidupan modern — termasuk di bidang pertanian dan peternakan. Budaya memberi ritme, penanda nilai, dan ruang untuk refleksi sebelum bertindak.

Sebagai calon praktisi, pendidik di bidang pertanian dan peternakan, selayaknya dapat melihat fenomena budaya bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan atau “diabaikan dalam sains” melainkan sebagai elemen pembelajaran yang memperkaya pengalaman praktis dan spiritual. Dengan begitu, pendidikan pertanian dan peternakan di Bali tidak hanya menghasilkan tenaga ahli, tetapi juga pelaku usaha yang berakar kuat pada nilai budaya, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktiknya. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

 

Tags: hinduHindu BaliPendidikanpendidikan pertanianTradisitradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co