2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 24, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, petikan lontar Wariga kerap dijadikan landasan kultural masyarakat dalam membaca waktu, menimbang kehendak alam, dan mengatur laku hidup. Salah satu momentum yang memiliki makna sangat kuat dalam kesadaran kolektif tersebut adalah Rahina Suci Buda Kliwon Pegatwakan, yang oleh sebagian masyarakat juga disebut Buda Kliwon Pahang atau Petawakan. Bagi orang Bali, hari ini bukan sekadar penanda kalender pawukon, melainkan titik balik kosmis—saat “kekotoran” waktu diputus (pegat), dan energi baru dipercaya mulai mengalir.

Dalam kalender Hindu Bali, Buda Kliwon Pegatwakan yang jatuh pada Rabu yang bertepatan dengan Kliwon dalam wuku Pahang, merupakan hari suci yang menandai berakhirnya rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Secara etimologis, “pegat” berarti putus atau lepas, sedangkan “wakan/wakan” melambangkan sabda atau janji; bersama-sama. Pegatwakan mencerminkan pelepasan atau pengakhiran sebuah masa spiritual dan kembalinya umat kepada rutinitas kehidupan biasa setelah masa tapa brata dan perayaan religius.

Dalam tradisi tutur masyarakat Bali, Pegatwakan juga kerap dikenal dengan sebutan Uncal Balung, yang secara simbolik dimaknai sebagai proses “melepaskan tulang”—yakni membuang sisa-sisa beban lama, keraguan, dan kekotoran batin yang menghambat langkah baru. Istilah ini menegaskan bahwa Buda Kliwon Pegatwakan bukan sekadar pergantian hari, melainkan momentum spiritual dan psikologis untuk merelakan yang usang agar ruang tumbuh terbuka kembali. Dalam konteks pertanian dan peternakan, Uncal Balung mengajarkan bahwa memulai usaha pangan tidak cukup dengan kesiapan material semata, tetapi juga menuntut kejernihan niat, keberanian memutus keraguan, serta kesiapan mental menghadapi siklus alam yang terus berubah.

Secara simbolik, hari ini biasanya ditandai dengan pencabutan penjor—simbol kemenangan dharma atas adharma—serta pembersihan dan pembakaran perlengkapan upacara sebagai tanda telah selesainya periode suci. Setelah Pegatwakan, umat diperkenankan untuk kembali melaksanakan kehidupan manusa yadnya dan kegiatan sosial-kehidupan seperti biasa.

Bagi sebagian masyarakat Bali, Buda Kliwon Pegatwakan bukan hanya sekadar peristiwa religius ritual. Ia telah menjadi momen simbolis untuk memulai fase kehidupan baru, termasuk memutuskan waktu untuk memulai usaha dalam bidang pertanian dan peternakan, seperti pembelian bibit sapi, babi, kambing, maupun pengembangan usaha tani dan ternak. Fenomena ini mirip dengan tradisi lain di Bali di mana hari-hari tertentu (tumpek, kajeng kliwon, dsb.) dipersepsi membawa energi positif sehingga banyak aktivitas penting direncanakan bersamaan dengan rahina suci tersebut.

Kebiasaan menunda mulai usaha hingga Buda Kliwon Pegatwakan sejatinya merupakan sebuah ekspresi nilai budaya lokal yang menggabungkan aspek religius, psikologis, dan sosial. Hari ini dipersepsi sebagai waktu di mana alam, manusia, dan leluhur sedang “selaras”—sehingga dimaknai sebagai awal yang baik dan bersih secara spiritual sebelum memulai kegiatan penting.

Dalam praktik sosial, tidak sedikit petani dan peternak Bali yang menunda untuk memulai usaha sebelum Buda Kliwon Pegatwakan. Pembelian bibit sapi, babi, kambing, bahkan memulai kandang baru, kerap “disimpan” niatnya hingga hari ini tiba. Demikian pula urusan dewasa hayu: pernikahan, membangun rumah, membuka usaha, hingga memulai babak baru kehidupan. Inilah fakta pemaknaan secara tradisional yang kerap terjadi di masyarakat kita.

Tradisi ini berakar kuat pada lontar-lontar Wariga dan Tutur. Semuanya memandang keselarasan antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan kekuatan niskala (parhyangan) sebagai syarat utama keberhasilan sebuah usaha. Dalam kerangka ini, keberhasilan pertanian dan peternakan tidak semata ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan waktu dan sikap batin.

Perspektif Pendidikan Pertanian: Membaca Tradisi dengan Nalar Ilmiah

Pertanyaannya kemudian, “Bagaimana pendidikan pertanian dan peternakan Bali memaknai Buda Kliwon Pegatwakan di tengah tuntutan ilmu pengetahuan modern?”

Pendidikan pertanian yang baik sejatinya tidak menafikan tradisi, tetapi menjadikannya pintu masuk pembelajaran kontekstual. Dalam perspektif pedagogi modern, praktik menunda dan memulai ini dapat dibaca sebagai suatu kearifan.

Pertama,  manajemen risiko tradisional. Artinya bahwa penundaan sebelum waktu yang dianggap “bersih” sesungguhnya mencerminkan kehati-hatian. Dalam ilmu peternakan, keputusan membeli bibit memang idealnya dilakukan setelah kesiapan kandang, pakan, modal, dan tenaga terpenuhi. Tradisi “menunggu dewasa” sejajar dengan konsep feasibility study dalam sains modern.

Kedua, sebagai penguatan etika produksi. Lontar-lontar Bali menekankan bahwa usaha pangan tidak boleh serampangan. Ini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan, kesejahteraan hewan (animal welfare), dan pertanian ramah lingkungan yang kini menjadi standar global.

Ketiga, pendidikan karakter agraris. Bahwa Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan hormat pada alam. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk pendidikan vokasi pangan yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi petani dan peternak berkarakter.

Namun demikian, pendidikan pertanian Bali juga ditantang untuk tidak berhenti pada simbolisme waktu. Bila Buda Kliwon Pegatwakan hanya dimaknai secara ritual tanpa diikuti peningkatan literasi, keterampilan, dan inovasi, maka ia berisiko menjadi romantisme masa lalu.

Di sinilah peran sekolah vokasi—khususnya SMK pertanian, peternakan, dan perikanan—menjadi sangat strategis. Sekolah harus mampu menjelaskan bahwa Dewasa ayu bukan pengganti manajemen. Hari baik tidak meniadakan kebutuhan ilmu. Restu alam harus diiringi kompetensi manusia. Inilah tantangan sesungguhnya bagi pendidikan vokasi, yakni harus mampu melangkah dari dimensi mistik ke metodologis. Dengan demikian, Buda Kliwon Pegatwakan menjadi momen refleksi pendidikan, bukan sekadar kalender upacara.

Tradisi dan Ketahanan Pangan: Titik Temu yang Terlupakan

Ketika pemerintah pusat menggencarkan program ketahanan pangan, Bali sesungguhnya telah lama memiliki “modal budaya” yang kuat. Tradisi seperti Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa pangan adalah urusan sakral, bukan sekadar komoditas.

Sayangnya, sekolah-sekolah vokasi pangan sering kalah pamor dibanding pariwisata. Padahal, sebagaimana filosofi Bali, pariwisata tidak memiliki hulu jika pertanian mati. Pendidikan pertanian yang berakar pada tradisi, sekaligus berorientasi pada sains dan teknologi, adalah jembatan penting yang belum sepenuhnya dibangun.

Buda Kliwon Pegatwakan, bila dimaknai secara mendalam, bukanlah hari untuk menyerahkan nasib pada waktu semata. Ia adalah ajakan untuk memutus keraguan, membersihkan niat, dan menyambung ikhtiar dengan kesadaran ekologis.

Bagi dunia pendidikan pertanian,  peternakan dan perikanan Bali, rahina suci ini dapat dijadikan titik awal pedagogis, yaitu mengajarkan bahwa ilmu modern dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling menguatkan—seperti bajak dan benih, seperti kandang dan pakan, seperti manusia dan alam yang sejak lama hidup dalam satu tarikan napas kebudayaan Bali. Ilmu modern dan kearifan lokal merupakan penyambung harapan bagi Bali yang harmonis.

Pada akhirnya, fenomena Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa nilai budaya bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan instrumen pembelajaran kritis yang relevan dalam praktik kehidupan modern — termasuk di bidang pertanian dan peternakan. Budaya memberi ritme, penanda nilai, dan ruang untuk refleksi sebelum bertindak.

Sebagai calon praktisi, pendidik di bidang pertanian dan peternakan, selayaknya dapat melihat fenomena budaya bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan atau “diabaikan dalam sains” melainkan sebagai elemen pembelajaran yang memperkaya pengalaman praktis dan spiritual. Dengan begitu, pendidikan pertanian dan peternakan di Bali tidak hanya menghasilkan tenaga ahli, tetapi juga pelaku usaha yang berakar kuat pada nilai budaya, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktiknya. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

 

Tags: hinduHindu BaliPendidikanpendidikan pertanianTradisitradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co