3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Chusmeru by Chusmeru
December 25, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KAMPUS di kaki Gunung Slamet ini kini telah banyak berubah dibanding sepuluh atau dua puluh tahun silam. Hal itu tampak pada sarana dan prasarana kampus maupun jumlah mahasiswanya. Banyak bangunan kampus yang baru dengan desain arsitektur modern. Jumlah mahasiswa baru setiap tahun pun meningkat hingga ribuan.

Namun ada yang tak pernah berubah dari kampus di kota berhawa sejuk ini. Cerita tentang kampus yang menyimpan banyak cerita mistis tetap menjadi bahan perbincangan. Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap kampusnya sebagai sarang hantu. Meski banyak bangunan baru, namun tiap sudut kampus seolah menyimpan misteri yang kadang menyeramkan.

 Anggapan itu didasarkan pada beberapa kejadian yang pernah dialami mahasiswa, dosen, dan pegawai di kampus. Ada ruang kuliah yang dianggap angker oleh mahasiswa. Taman kampus yang biasa digunakan mahasiswa untuk foto selepas wisuda juga konon dihuni oleh makhluk halus. Bahkan gudang di kampus yang tak lagi digunakan juga menjadi sarang hantu.

Cerita tentang sosok hantu yang ikut dalam perkuliahan juga sempat beredar di kalangan mahasiswa. Bukan hanya ikut kuliah, pernah pula terjadi sosok dosen tak kasat mata yang hadir di ruang kuliah. Belum lagi cerita tentang siluman ular di sungai kecil kampus dan siluman harimau di pertigaan kampus. Semua cerita itu menambah kepercayaan bahwa kampus memang sarang hantu.

Bagi mahasiswa yang cuek dan tak percaya tentang cerita-cerita itu mungkin tidak begitu mengganggu. Namun bagi mahasiswa yang ciut nyali, apalagi pernah mengalami sendiri, cerita mistis di kampus membuat mereka selalu tidak tenang bila berada di kampus sendirian, terlebih pada malam hari.

Sosok hantu yang dipercaya menghuni kampus pun bermacam-macam. Ada yang menyebut genderuwo, pocong, dan kuntilanak. Ada pula dosen dan pegawai yang pernah menjumpai hantu anak kecil di dalam ruangan. Ada yang berujud menyeramkan, namun ada pula yang tampak cantik. Tetapi apa pun bentuknya, hantu bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai tetap saja menakutkan.

Banyak yang mengusulkan agar universitas mengadakan ruwatan untuk membersihkan unsur-unsur negatif di kampus. Ruwatan dianggap sebagai upaya menyikapi kejadian-kejadian mistis di kampus. Tradisi ruwatan bagi masyarakat Jawa di daerah Banyumas merupakan ritual adat untuk membersihkan seseorang atau tempat tertentu dari malapetaka, kesialan, maupun energi buruk.

***

Universitas merespons usulan diadakannya ruwatan di kampus. Selain untuk melestarikan tradisi yang ada di daerah, ruwatan juga dianggap sebagai sarana untuk menjaga keharmonisan manusia dan lingkungannya. Kampus yang selama ini dianggap angker tak lepas dari faktor manusia dan alam, sehingga secara tradisi perlu ada pembebasan dari aura yang negatif. Diharapkan setelah diadakan ruwatan tidak terjadi lagi hal-hal yang berbau mistis di kampus.

Pembentukan panitia ruwatan terdiri dari berbagai fakultas yang pernah mengalami hal-hal mistis, melibatkan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Diputuskan, ruwatan akan dilakukan pada malam Jumat Kliwon bulan Suro dalam kalender Jawa. Ruwatan biasanya memang terdiri dari tiga bentuk, yaitu ruwatan orang, lingkungan, dan daerah. Ruwatan orang dilakukan pada siang hari, sedangkan ruwatan lingkungan diselenggarakan pada malam hari.

Rangkaian kegiatan ruwatan telah disiapkan. Tempat pelaksanaan di lapangan kampus yang cukup luas. Beberapa sesaji juga disiapkan. Banyak jenis sesaji untuk tradisi ruwatan, seperti air dari tujuh sumber, dupa dan kemenyan, bunga setaman, padi, kain putih, aneka jajanan, rujak buah, aneka nasi, dan barang-barang lain. Melihat bermacam sesaji itu, acara ruwatan akan berlangsung dalam suasana mistis dan menegangkan.

Puncak acara ruwatan diselenggarakan pagelaran wayang kulit dengan lakon atau cerita “Murwakala”.  Murwa berarti awal, dan Kala yang berarti waktu. Lakon ini menggambarkan tentang upaya manusia untuk melakukan pembersihan diri dari segalasengkala atau kesialan dan sukerta atau keburukan, sehingga kembali kepada keadaan awal yang bersih.

Tokoh sentral dalam lakon Murwakala adalah Batara Kala, seorang raksasa dalam pewayangan. Batara Kala mendapat amanat dari sang ayah, Batara Guru untuk memangsa manusia yang dalam keadaan sukerta atau keburukan. Pertunjukkan wayang ruwatan menjadi magis dan menegangkan saat tokoh Batara Kala dikeluarkan oleh sang dalang.

Mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, pihak panitia mengundang paranormal kondang Suryo Baskoro untuk mendampingi pelaksanaan ruwatan di kampus. Acara ruwatan kadang menimbulkan kejadian mistis. Apalagi bila dilakukan pada malam Jumat Kliwon.

Tepat pukul 21.00 acara ruwatan dimulai. Musik gamelan dilantunkan secara perlahan. Sinden yang berperan menyanyikan tembang-tembang Jawa duduk di antara penabuh gamelan. Para penonton yang sebagian besar dosen, pegawai, dan mahasiswa sudah mulai berdatangan.

Dalang mulai memainkan satu per satu wayang dalam lakon Murwakala. Tak seperti pertunjukan wayang pada umumnya, dalam ruwatan suasananya agak berbeda. Muncul aura mistis di sekitar panggung pertunjukan wayang. Udara terasa lebih dingin dari kota yang memang berhawa sejuk. Para penonton bukan hanya menikmati alur cerita wayang, tetapi juga merasakan suasana yang mencekam dan menegangkan. Aroma kemenyan, dupa, dan kembang di tempat sesaji menambah aura mistis dalam acara ruwatan.

***

Suara gamelan bertalu-talu. Suasana semakin mencekam. Dalang mengeluarkan tokoh wayang Batara Kala. Terdengar suara dalang menggeram, Batara Kala menari-nari di tangan dalang. Suasana mistis begitu terasa. Gerakan Batara Kala seolah begitu liar mencari mangsa. Banyak penonton yang merinding dan ketakutan.

Ketika dalang mengibas-ibaskan wayang Betara Kala, tiba-tiba seorang mahasiswa menjerit histeris. Rektor yang turut menyaksikan acara ruwatan terkejut. Mahasiswa itu meraung dan kehilangan kesadaran, kesurupan. Tubuhnya kaku. Kaki dan tangannya menendang-nendang.

“Aku di mana…???!!!” teriak mahasiswa yang kesurupan.

Melihat ada mahasiswa yang kesurupan, paranormal Suryo Baskoro segera menghampiri. Ia mencoba berkomunikasi dengan makhluk gaib yang merasuk ke dalam tubuh manusia.

“Nyuwun pangapunten, meniko sinten ingkang rawuh nggih?” tanya Suryo Baskoro dalam bahasa Jawa, yang artinya “Mohon maaf, ini siapa yang datang merasuk?”.

“Ingsun sing manggon nang loji..!,” jawab mahasiswa dengan bahasa Jawa. Artinya, “Saya yang bertempat tinggal di bangunan”.

Loji di masyarakat Jawa merupakan kompleks bangunan, pada umumnya merupakan peninggalan kolonial yang difungsikan sebagai kantor, gudang, atau ruang administrasi. Di kampus memang banyak bangunan tua yang mirip dengan loji, yang dipercaya dihuni oleh makhluk halus. Suryo Baskoro menanyakan apa permintaan penghuni loji itu.

“Aku minta sumur gantung..,” kata mahasiswa yang kesurupan itu.

Paranormal Suryo Baskoro cepat tanggap. “Sumur gantung “ dalam bahasa transendental berarti air kelapa muda. Cepat-cepat Suryo Baskoro memberikan kelapa muda hijau kepada mahasiswa itu. Diminumnya air kelapa muda dalam beberapa tegukan. Setelah itu Suryo Baskoro meminta roh yang merasuk ke tubuh mahasiswa untuk kembali ke alamnya. Mahasiswa itu pun kembali tersadar.

Pertunjukan wayang masih berlanjut. Musik gamelan masih mengalun di malam yang kian dingin. Wayang Batara Kala masih menari-nari dengan gerakan lebih ekspresif dari sang dalang. Getar suaranya menyeramkan, mencari manusia untuk disantapnya.

 Di tengah alunan musik yang terasa magis, tiba-tiba seorang pegawai jatuh terjungkal dari tempat duduknya. Dia kesurupan. Matanya melotot menatap ke langit. Tangan dan kakinya kaku, namun kepalanya bergerak mengikuti irama alunan gamelan. Suryo Baskoro mendekati pegawai itu. Dipegangnya tangan dan kaki pegawai yang kesurupan agar lemas kembali.

“Siapa ini yang datang merasuk?” tanya Suryo Baskoro dengan bahasa Jawa halus.

“Saya yang berumah di pohon mahoni..!!!” jawab pegawai dengan sedikit membentak.

Dengan tenang Suryo Baskoro menyapa dan mengajak komunikasi makhluk halus yang merasuk dalam tubuh pegawai. Para penonton wayang ruwatan mulai merasakan ketegangan. Suara sinden membawakan lagu Ladrang Sekar Tanjung menambah suasana mistis malam ruwatan. Suryo Baskoro menanyakan, apakah ada permintaan atau pesan yang ingin disampaikan.

“Aku mung pengin kabeh urip rukun, aja padha congkrah, marai bubrah,” kata pegawai yang kesurupan. Artinya “Saya hanya ingin semua hidup rukun, jangan bertengkar, menyebabkan berantakan”.

Suryo Baskoro mengangguk. Para penonton yang hadir mendengarkan serius apa yang disampaikan pegawai yang kesurupan. Setelah Suryo Baskoro berkomunikasi dan berjanji untuk menyampaikan pesan itu, makhluk halus yang merasuk ke tubuh pegawai kembali ke alamnya. Pegawai itu pun sadar kembali.

Meski demikian bukan berarti situasi menegangkan telah berakhir. Saat terdengar gending Ayak-ayak, seorang dosen kesurupan. Gending Ayak-ayak memang terdengar mistis. Gending ini biasanya ditabuh untuk pembacaan mantra dalam tradisi ruwatan.

“Siapa yang datang ini ya?” tanya Suryo Baskoro kepada dosen yang meraung.

“Aku yang tinggal di sendang kampus..!!!” kata dosen itu dengan suara besar dan nada yang tinggi.

Suryo Baskoro segera mengambil bunga setaman yang telah ia siapkan. Dari suara dan nada bicaranya, Suryo Baskoro sudah bisa menebak. Makhluk yang merasuk dalam tubuh dosen adalah sosok genderuwo. Bunga setaman itu didekatkan pada hidung dosen untuk dibaui.

“Apakah ada permintaan atau pesan?” tanya Suryo Baskoro.

“Ojo podho pongah, kabeh urip nang alame dhewe-dhewe. Openi sing kudu diopeni, ojo dirusak,” jawab genderuwo yang ada di dalam tubuh dosen. Artinya: “Jangan sombong, semua hidup di alam masing-masing. Peliharalah yang harus dipelihara, jangan dirusak”.

Pesan itu disampaikan kepada para penonton lewat dalang wayang ruwatan. Manusia harus hidup rendah hati, memahami bahwa ada alam kenyataan dan alam gaib. Manusia juga diminta untuk menjaga dan memelihara semua yang dimiliki, jangan merusak. Pesan itu tampaknya menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia serta manusia dengan alam semesta.

Malam kian larut. Dosen  yang kesurupan telah sadar kembali. Namun suasana mistis masih saja dirasakan para penonton ruwatan. Wayang Betara Kala telah dimasukkan dalang ke dalam kotak. Gending Sprepegan mengalun untuk mengakhiri prosesi ritual ruwatan di kampus. Satu per satu penonton meninggalkan tempat penyelenggaraan ruwatan.

Semua berharap, setelah acara ruwatan keadaan di kampus menjadi lebih tenang dan lebih baik lagi. Tak ada lagi kejadian misterius dan menyeramkan di kampus. Semua berharap kampus menjadi bersih secara duniawi maupun alam gaib. Kampus yang sejuk bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai. Tidak lagi menyandang predikat sebagai kampus sarang hantu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

Next Post

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails
Next Post
Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Menemukan Harmoni di Antara Sains, Teologi, dan Filsafat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co