27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Muhamad Irfan by Muhamad Irfan
December 22, 2025
in Ulas Musik
Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Pertunjukan Gala Resonant sedang berlangsung di Kios Ojo Keos (Selasa, 2/12/2025)/Call Me Odong

“Panjang umur karya, panjang umur kita dalam sebuah karya.”

Ungkapan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan napas panjang yang seolah mengawal perjalanan Gala Resonant—sebuah karya musik eksperimental yang mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi elektroakustik. Penggagas Gala Resonant, yaitu Muhammad Giffary, dibantu Wahyu, Gilang, dan Nazir, karya ini melintasi batas ruang akademik dan merambah panggung-panggung nasional, bahkan mulai berbicara tentang kemungkinan melangkah lebih jauh ke panggung internasional.

Gala Resonant lahir sebagai Tugas Akhir Giffary untuk menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Pada titik itu, ia hanyalah sebuah karya syarat kelulusan. Namun sejak kemunculan perdananya, sudah terasa bahwa karya ini tak akan berhenti di meja penguji. Giffary memiliki keberanian untuk meracik tradisi dengan eksperimen elektroakustik, sebuah pertemuan yang tidak selalu mudah diterima, tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Penonton sedang menyaksikan Gala Resonan | Call Me Odong

Karya itu mulai bergerak sendiri—menyeberang dari ranah Minang ke pulau-pulau lain. Undangan demi undangan datang, mengajak Gala Resonant tampil dalam berbagai gelaran music dan pameran karya. Tidak lama kemudian, ia menapaki tour kecil ke tiga kota: Cirebon, Solo, dan Jakarta. Tour yang sederhana, namun bermakna: membuktikan bahwa karya eksperimental tidak hanya untuk kalangan akademisi atau pelaku seni.

Justru ia membuka pintu refleksi bagi siapapun yang mendengarnya. Ada ruang yang terasa personal bagi penonton luar Minang, seakan bunyi-bunyi itu memanggil memori-memori yang tak mereka ketahui ada di dalam diri.

Pupuik Gadang, Spektral, dan Rasa yang Dibentuk oleh Bunyi

Gala Resonant bertumpu pada Pupuik Gadang, alat musik tiup tradisional Minangkabau yang suaranya kerap digunakan dalam ritual atau momen-momen tertentu dalam budaya lokal. Dari bunyi dasar itu, Giffary merajut spektrum frekuensi melalui teknik spectral, menggunakan pendekatan elektroakustik yang jarang disentuh dalam konteks musik tradisi Indonesia.

Instalasi Kulilik dalam Gala Resonant | Call Me Odong

Bayangkan bunyi yang biasanya hidup dalam lanskap perbukitan atau nagari, kini berdialog dengan gelombang digital—tidak saling menelan, tetapi saling memperluas. Giffary membuatnya seperti dua dunia yang awalnya tampak bertentangan, namun ternyata memiliki ruang pertemuan yang luas ketika disentuh dengan kepekaan.

Lahirnya Api-Api: Rumah untuk Sebuah Perjalanan

Ketika Gala Resonant semakin banyak menerima tawaran tampil, Giffary merasa perlu membangun rumah ide. Lalu lahirlah Api-Api, sebuah proyek induk yang namanya muncul dari percakapan-percakapan santai di sekitar api unggun. Mereka berbicara tentang perjalanan karya, tentang keberlanjutan, tentang bagaimana sebuah karya tidak boleh berhenti di satu titik saja.

Logo Api-Api

Api-Api menjadi payung yang menaungi perjalanan Gala Resonant ke berbagai kota, khususnya di tanah Jawa. Dari sana, karya ini tidak hanya berjalan, tetapi juga tumbuh, menyesuaikan diri dengan ruang di mana ia diperdengarkan.

Spontanitas dan Pembaharuan di Setiap Panggung

Bagi Giffary, seni adalah organisme yang terus berubah. Karena itu, tiap pertunjukan Gala Resonant selalu berbeda. Ia menjaga spontanitas sebagai prinsip kerja. Setiap panggung adalah ruang eksperimen baru, sekaligus ruang dialog dengan penonton yang berbeda-beda.

Dalam membangun pertunjukan, Giffary sering memosisikan dirinya sebagai orang yang tak mengerti musik sama sekali—sebuah cara untuk merasakan lapisan ketidakmengertian penonton dan berusaha menembusnya. Ia ingin membawa siapapun yang datang menonton merasa diperhatikan, merasa disapa oleh bunyi, bukan didikte.

Ia juga menyisipkan isu sosial yang relevan dengan tempat ia tampil. Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi cara agar seni tetap berpijak ke tanah yang sedang diinjak.

Ketika Jakarta dan Ranah Minang Bertabrakan di Panggung

Penampilan di Kios Ojo Keos, Jakarta (Selasa, 2/12/2025), menjadi salah satu momen penting. Saat itu, ranah Minang sedang dilanda banjir, sementara Jakarta sibuk dengan denyut kotanya yang tak pernah berhenti. Giffary menangkap dua realitas itu dan menggabungkannya dalam pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan bunyi yang menggambarkan keriuhan kota—suara kendaraan, ritme mesin, dan kepadatan yang terasa menghimpit. Lalu masuklah gema Pupuik Gadang yang lantang, seperti seruan yang memanggil pulang atau mengingatkan akan sesuatu yang jauh—Ranah Minang.

Keduanya bertabrakan, menyatu, lalu saling menekan, menciptakan lanskap bunyi yang memaksa penonton merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar suara.

Hajar sebagai penampil mengungkapkan, baginya yang menarik yaitu di penampilan Gala Resonant ada eksplorasi musik di berbagai level, seperti dari instrumentasi ada tradisi, barat, eksperimental, dan interpretasi terhadap tradisi.

“Pas performnya, sound dan penampilan dari instalasinya mengingatkan ke fenomena bis telolet dengan segala suara dan lampu-lampunya juga. Tapi enggak tahu apakah ada mengarah ke situ juga atau enggak,” ungkap Hajar.

Selain itu, Hajar juga berpendapat bahwa pada pertunjukan Gala Resonant mungkin ada beberapa momen dimana suara dari instalasinya kurang “nyampur” dengan bunyi lain. Tapi barangkali hal itu lebih ke urusan teknis mixing/live sound. Barangkali juga karena pengaruh tempat yang ruangnya kecil. Mungkin jika ada jarak antar instalasi dan penonton akan terasa lebih nyampur.

Di beberapa bagian, Giffary memasukkan unsur Elektronic Dance Music, seakan membiarkan Gala Resonant melihat cermin Jakarta yang gelap dan modern. Talempong Pacik ikut mengisi ruang, membuat tekstur bunyi semakin padat.

Sementara itu, isu banjir Minang hadir melalui melodi gitar yang menyayat. Petikan halus yang membawa perasaan pilu dan gelisah—perasaan yang muncul bukan karena narasi verbal, tetapi karena bunyi itu sendiri membawa tubuh penonton kepada empati.

Nazir memainkan melodi yang menyayat hati penonton yang mendengarnya | Call Me Odong

Sementara itu, Ali sebagai salah satu performer dan penonton juga mengungkapkan bahwa manipulasi suara, ke kulikan pribadi, atau membuat alat sendiri memang selalu sangat menarik, karena dari alat dan kreasi imajinasi yang ada, dapat menimbulkan warna-warna lain. Namun ketika bermain, kadang beda lagi dalam artian ada sensasi bawaan atau pendekatan lain ketika berinteraksi dengan alat.

Bukan hanya dari sisi suara yang dihasilkan, Ali juga mengungkapkan pendapatnya dari sisi teatrikal pemusik Gala Resonant. Menurutnya, hal itu juga harus diperhatikan dalam setiap aksi panggung, karena hal itu menjadi kesatuan yang utuh dalam, sebuah pertunjukan.

“Visual dan audio itu sudah cukup impresif, tapi mungkin kapan alat itu di depan dan pemain di belakang atau kapan bercampur dengan pemain,” ungkapnya.

Ruang Dialektika dan Penyembuhan

Gala Resonant bukan karya yang ingin memberi kesimpulan atau menggurui. Ia hadir sebagai ruang dialektika. Ruang untuk berkontemplasi. Ruang untuk merawat keresahan. Bahkan, bagi sebagian penonton, ia menjadi ruang penyembuhan.

Giffary percaya bahwa musik berasal dari masyarakat dan kembali ke masyarakat. Maka apa pun yang ia capai, ia kembalikan lagi sebagai ruang yang dapat diisi oleh siapa saja—menganggap manusia sebagai bagian dari suara alam yang memuat empati dan simpati dalam cara berpikirnya.

Mengirim Gala Resonant ke Luar Negeri

Di tengah perjalanan itu, Giffary menyimpan mimpi: membawa Gala Resonant ke panggung internasional. Baginya, itu bukan sekadar pencapaian prestise. Ia ingin mengembalikan bebunyian eksperimental ini kepada negeri-negeri yang mengembangkan teknologi, seakan ingin melihat bagaimana pertemuan antara tradisi Minang dan eksperimen elektroakustik diterima di ruang-ruang global.

Giffary memainkan Pupuik Gadang yang menjadi dasar Gala Resonant | Call Me Odong

Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana publik di negara-negara itu merespons percakapan bunyi antara tradisi dan modernitas yang ia bangun. Pertemuan dua dunia yang ia mulai dari sebuah tugas akhir sederhana di ranah Minang. [T]

Jakarta, 2025

Penulis: Muhamad Irfan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tags: Minangkabaumusikulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Digitalisasi dan Pameran Sri Nadi: Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bersiap Masuk Era Digital

Next Post

‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Muhamad Irfan

Muhamad Irfan

Lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand. Tulisan pernah dimuat di Majalah Mata Puisi, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, marewai.com, dll. Saat ini mencari kehidupan di Jakarta.

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

'Send Me the Pillow You Dream On': Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co