23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Muhamad Irfan by Muhamad Irfan
December 22, 2025
in Ulas Musik
Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Pertunjukan Gala Resonant sedang berlangsung di Kios Ojo Keos (Selasa, 2/12/2025)/Call Me Odong

“Panjang umur karya, panjang umur kita dalam sebuah karya.”

Ungkapan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan napas panjang yang seolah mengawal perjalanan Gala Resonant—sebuah karya musik eksperimental yang mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi elektroakustik. Penggagas Gala Resonant, yaitu Muhammad Giffary, dibantu Wahyu, Gilang, dan Nazir, karya ini melintasi batas ruang akademik dan merambah panggung-panggung nasional, bahkan mulai berbicara tentang kemungkinan melangkah lebih jauh ke panggung internasional.

Gala Resonant lahir sebagai Tugas Akhir Giffary untuk menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Pada titik itu, ia hanyalah sebuah karya syarat kelulusan. Namun sejak kemunculan perdananya, sudah terasa bahwa karya ini tak akan berhenti di meja penguji. Giffary memiliki keberanian untuk meracik tradisi dengan eksperimen elektroakustik, sebuah pertemuan yang tidak selalu mudah diterima, tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Penonton sedang menyaksikan Gala Resonan | Call Me Odong

Karya itu mulai bergerak sendiri—menyeberang dari ranah Minang ke pulau-pulau lain. Undangan demi undangan datang, mengajak Gala Resonant tampil dalam berbagai gelaran music dan pameran karya. Tidak lama kemudian, ia menapaki tour kecil ke tiga kota: Cirebon, Solo, dan Jakarta. Tour yang sederhana, namun bermakna: membuktikan bahwa karya eksperimental tidak hanya untuk kalangan akademisi atau pelaku seni.

Justru ia membuka pintu refleksi bagi siapapun yang mendengarnya. Ada ruang yang terasa personal bagi penonton luar Minang, seakan bunyi-bunyi itu memanggil memori-memori yang tak mereka ketahui ada di dalam diri.

Pupuik Gadang, Spektral, dan Rasa yang Dibentuk oleh Bunyi

Gala Resonant bertumpu pada Pupuik Gadang, alat musik tiup tradisional Minangkabau yang suaranya kerap digunakan dalam ritual atau momen-momen tertentu dalam budaya lokal. Dari bunyi dasar itu, Giffary merajut spektrum frekuensi melalui teknik spectral, menggunakan pendekatan elektroakustik yang jarang disentuh dalam konteks musik tradisi Indonesia.

Instalasi Kulilik dalam Gala Resonant | Call Me Odong

Bayangkan bunyi yang biasanya hidup dalam lanskap perbukitan atau nagari, kini berdialog dengan gelombang digital—tidak saling menelan, tetapi saling memperluas. Giffary membuatnya seperti dua dunia yang awalnya tampak bertentangan, namun ternyata memiliki ruang pertemuan yang luas ketika disentuh dengan kepekaan.

Lahirnya Api-Api: Rumah untuk Sebuah Perjalanan

Ketika Gala Resonant semakin banyak menerima tawaran tampil, Giffary merasa perlu membangun rumah ide. Lalu lahirlah Api-Api, sebuah proyek induk yang namanya muncul dari percakapan-percakapan santai di sekitar api unggun. Mereka berbicara tentang perjalanan karya, tentang keberlanjutan, tentang bagaimana sebuah karya tidak boleh berhenti di satu titik saja.

Logo Api-Api

Api-Api menjadi payung yang menaungi perjalanan Gala Resonant ke berbagai kota, khususnya di tanah Jawa. Dari sana, karya ini tidak hanya berjalan, tetapi juga tumbuh, menyesuaikan diri dengan ruang di mana ia diperdengarkan.

Spontanitas dan Pembaharuan di Setiap Panggung

Bagi Giffary, seni adalah organisme yang terus berubah. Karena itu, tiap pertunjukan Gala Resonant selalu berbeda. Ia menjaga spontanitas sebagai prinsip kerja. Setiap panggung adalah ruang eksperimen baru, sekaligus ruang dialog dengan penonton yang berbeda-beda.

Dalam membangun pertunjukan, Giffary sering memosisikan dirinya sebagai orang yang tak mengerti musik sama sekali—sebuah cara untuk merasakan lapisan ketidakmengertian penonton dan berusaha menembusnya. Ia ingin membawa siapapun yang datang menonton merasa diperhatikan, merasa disapa oleh bunyi, bukan didikte.

Ia juga menyisipkan isu sosial yang relevan dengan tempat ia tampil. Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi cara agar seni tetap berpijak ke tanah yang sedang diinjak.

Ketika Jakarta dan Ranah Minang Bertabrakan di Panggung

Penampilan di Kios Ojo Keos, Jakarta (Selasa, 2/12/2025), menjadi salah satu momen penting. Saat itu, ranah Minang sedang dilanda banjir, sementara Jakarta sibuk dengan denyut kotanya yang tak pernah berhenti. Giffary menangkap dua realitas itu dan menggabungkannya dalam pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan bunyi yang menggambarkan keriuhan kota—suara kendaraan, ritme mesin, dan kepadatan yang terasa menghimpit. Lalu masuklah gema Pupuik Gadang yang lantang, seperti seruan yang memanggil pulang atau mengingatkan akan sesuatu yang jauh—Ranah Minang.

Keduanya bertabrakan, menyatu, lalu saling menekan, menciptakan lanskap bunyi yang memaksa penonton merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar suara.

Hajar sebagai penampil mengungkapkan, baginya yang menarik yaitu di penampilan Gala Resonant ada eksplorasi musik di berbagai level, seperti dari instrumentasi ada tradisi, barat, eksperimental, dan interpretasi terhadap tradisi.

“Pas performnya, sound dan penampilan dari instalasinya mengingatkan ke fenomena bis telolet dengan segala suara dan lampu-lampunya juga. Tapi enggak tahu apakah ada mengarah ke situ juga atau enggak,” ungkap Hajar.

Selain itu, Hajar juga berpendapat bahwa pada pertunjukan Gala Resonant mungkin ada beberapa momen dimana suara dari instalasinya kurang “nyampur” dengan bunyi lain. Tapi barangkali hal itu lebih ke urusan teknis mixing/live sound. Barangkali juga karena pengaruh tempat yang ruangnya kecil. Mungkin jika ada jarak antar instalasi dan penonton akan terasa lebih nyampur.

Di beberapa bagian, Giffary memasukkan unsur Elektronic Dance Music, seakan membiarkan Gala Resonant melihat cermin Jakarta yang gelap dan modern. Talempong Pacik ikut mengisi ruang, membuat tekstur bunyi semakin padat.

Sementara itu, isu banjir Minang hadir melalui melodi gitar yang menyayat. Petikan halus yang membawa perasaan pilu dan gelisah—perasaan yang muncul bukan karena narasi verbal, tetapi karena bunyi itu sendiri membawa tubuh penonton kepada empati.

Nazir memainkan melodi yang menyayat hati penonton yang mendengarnya | Call Me Odong

Sementara itu, Ali sebagai salah satu performer dan penonton juga mengungkapkan bahwa manipulasi suara, ke kulikan pribadi, atau membuat alat sendiri memang selalu sangat menarik, karena dari alat dan kreasi imajinasi yang ada, dapat menimbulkan warna-warna lain. Namun ketika bermain, kadang beda lagi dalam artian ada sensasi bawaan atau pendekatan lain ketika berinteraksi dengan alat.

Bukan hanya dari sisi suara yang dihasilkan, Ali juga mengungkapkan pendapatnya dari sisi teatrikal pemusik Gala Resonant. Menurutnya, hal itu juga harus diperhatikan dalam setiap aksi panggung, karena hal itu menjadi kesatuan yang utuh dalam, sebuah pertunjukan.

“Visual dan audio itu sudah cukup impresif, tapi mungkin kapan alat itu di depan dan pemain di belakang atau kapan bercampur dengan pemain,” ungkapnya.

Ruang Dialektika dan Penyembuhan

Gala Resonant bukan karya yang ingin memberi kesimpulan atau menggurui. Ia hadir sebagai ruang dialektika. Ruang untuk berkontemplasi. Ruang untuk merawat keresahan. Bahkan, bagi sebagian penonton, ia menjadi ruang penyembuhan.

Giffary percaya bahwa musik berasal dari masyarakat dan kembali ke masyarakat. Maka apa pun yang ia capai, ia kembalikan lagi sebagai ruang yang dapat diisi oleh siapa saja—menganggap manusia sebagai bagian dari suara alam yang memuat empati dan simpati dalam cara berpikirnya.

Mengirim Gala Resonant ke Luar Negeri

Di tengah perjalanan itu, Giffary menyimpan mimpi: membawa Gala Resonant ke panggung internasional. Baginya, itu bukan sekadar pencapaian prestise. Ia ingin mengembalikan bebunyian eksperimental ini kepada negeri-negeri yang mengembangkan teknologi, seakan ingin melihat bagaimana pertemuan antara tradisi Minang dan eksperimen elektroakustik diterima di ruang-ruang global.

Giffary memainkan Pupuik Gadang yang menjadi dasar Gala Resonant | Call Me Odong

Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana publik di negara-negara itu merespons percakapan bunyi antara tradisi dan modernitas yang ia bangun. Pertemuan dua dunia yang ia mulai dari sebuah tugas akhir sederhana di ranah Minang. [T]

Jakarta, 2025

Penulis: Muhamad Irfan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tags: Minangkabaumusikulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Digitalisasi dan Pameran Sri Nadi: Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bersiap Masuk Era Digital

Next Post

‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Muhamad Irfan

Muhamad Irfan

Lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand. Tulisan pernah dimuat di Majalah Mata Puisi, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, marewai.com, dll. Saat ini mencari kehidupan di Jakarta.

Related Posts

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

'Send Me the Pillow You Dream On': Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co