13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Muhamad Irfan by Muhamad Irfan
December 22, 2025
in Ulas Musik
Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Pertunjukan Gala Resonant sedang berlangsung di Kios Ojo Keos (Selasa, 2/12/2025)/Call Me Odong

“Panjang umur karya, panjang umur kita dalam sebuah karya.”

Ungkapan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan napas panjang yang seolah mengawal perjalanan Gala Resonant—sebuah karya musik eksperimental yang mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi elektroakustik. Penggagas Gala Resonant, yaitu Muhammad Giffary, dibantu Wahyu, Gilang, dan Nazir, karya ini melintasi batas ruang akademik dan merambah panggung-panggung nasional, bahkan mulai berbicara tentang kemungkinan melangkah lebih jauh ke panggung internasional.

Gala Resonant lahir sebagai Tugas Akhir Giffary untuk menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Pada titik itu, ia hanyalah sebuah karya syarat kelulusan. Namun sejak kemunculan perdananya, sudah terasa bahwa karya ini tak akan berhenti di meja penguji. Giffary memiliki keberanian untuk meracik tradisi dengan eksperimen elektroakustik, sebuah pertemuan yang tidak selalu mudah diterima, tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Penonton sedang menyaksikan Gala Resonan | Call Me Odong

Karya itu mulai bergerak sendiri—menyeberang dari ranah Minang ke pulau-pulau lain. Undangan demi undangan datang, mengajak Gala Resonant tampil dalam berbagai gelaran music dan pameran karya. Tidak lama kemudian, ia menapaki tour kecil ke tiga kota: Cirebon, Solo, dan Jakarta. Tour yang sederhana, namun bermakna: membuktikan bahwa karya eksperimental tidak hanya untuk kalangan akademisi atau pelaku seni.

Justru ia membuka pintu refleksi bagi siapapun yang mendengarnya. Ada ruang yang terasa personal bagi penonton luar Minang, seakan bunyi-bunyi itu memanggil memori-memori yang tak mereka ketahui ada di dalam diri.

Pupuik Gadang, Spektral, dan Rasa yang Dibentuk oleh Bunyi

Gala Resonant bertumpu pada Pupuik Gadang, alat musik tiup tradisional Minangkabau yang suaranya kerap digunakan dalam ritual atau momen-momen tertentu dalam budaya lokal. Dari bunyi dasar itu, Giffary merajut spektrum frekuensi melalui teknik spectral, menggunakan pendekatan elektroakustik yang jarang disentuh dalam konteks musik tradisi Indonesia.

Instalasi Kulilik dalam Gala Resonant | Call Me Odong

Bayangkan bunyi yang biasanya hidup dalam lanskap perbukitan atau nagari, kini berdialog dengan gelombang digital—tidak saling menelan, tetapi saling memperluas. Giffary membuatnya seperti dua dunia yang awalnya tampak bertentangan, namun ternyata memiliki ruang pertemuan yang luas ketika disentuh dengan kepekaan.

Lahirnya Api-Api: Rumah untuk Sebuah Perjalanan

Ketika Gala Resonant semakin banyak menerima tawaran tampil, Giffary merasa perlu membangun rumah ide. Lalu lahirlah Api-Api, sebuah proyek induk yang namanya muncul dari percakapan-percakapan santai di sekitar api unggun. Mereka berbicara tentang perjalanan karya, tentang keberlanjutan, tentang bagaimana sebuah karya tidak boleh berhenti di satu titik saja.

Logo Api-Api

Api-Api menjadi payung yang menaungi perjalanan Gala Resonant ke berbagai kota, khususnya di tanah Jawa. Dari sana, karya ini tidak hanya berjalan, tetapi juga tumbuh, menyesuaikan diri dengan ruang di mana ia diperdengarkan.

Spontanitas dan Pembaharuan di Setiap Panggung

Bagi Giffary, seni adalah organisme yang terus berubah. Karena itu, tiap pertunjukan Gala Resonant selalu berbeda. Ia menjaga spontanitas sebagai prinsip kerja. Setiap panggung adalah ruang eksperimen baru, sekaligus ruang dialog dengan penonton yang berbeda-beda.

Dalam membangun pertunjukan, Giffary sering memosisikan dirinya sebagai orang yang tak mengerti musik sama sekali—sebuah cara untuk merasakan lapisan ketidakmengertian penonton dan berusaha menembusnya. Ia ingin membawa siapapun yang datang menonton merasa diperhatikan, merasa disapa oleh bunyi, bukan didikte.

Ia juga menyisipkan isu sosial yang relevan dengan tempat ia tampil. Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi cara agar seni tetap berpijak ke tanah yang sedang diinjak.

Ketika Jakarta dan Ranah Minang Bertabrakan di Panggung

Penampilan di Kios Ojo Keos, Jakarta (Selasa, 2/12/2025), menjadi salah satu momen penting. Saat itu, ranah Minang sedang dilanda banjir, sementara Jakarta sibuk dengan denyut kotanya yang tak pernah berhenti. Giffary menangkap dua realitas itu dan menggabungkannya dalam pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan bunyi yang menggambarkan keriuhan kota—suara kendaraan, ritme mesin, dan kepadatan yang terasa menghimpit. Lalu masuklah gema Pupuik Gadang yang lantang, seperti seruan yang memanggil pulang atau mengingatkan akan sesuatu yang jauh—Ranah Minang.

Keduanya bertabrakan, menyatu, lalu saling menekan, menciptakan lanskap bunyi yang memaksa penonton merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar suara.

Hajar sebagai penampil mengungkapkan, baginya yang menarik yaitu di penampilan Gala Resonant ada eksplorasi musik di berbagai level, seperti dari instrumentasi ada tradisi, barat, eksperimental, dan interpretasi terhadap tradisi.

“Pas performnya, sound dan penampilan dari instalasinya mengingatkan ke fenomena bis telolet dengan segala suara dan lampu-lampunya juga. Tapi enggak tahu apakah ada mengarah ke situ juga atau enggak,” ungkap Hajar.

Selain itu, Hajar juga berpendapat bahwa pada pertunjukan Gala Resonant mungkin ada beberapa momen dimana suara dari instalasinya kurang “nyampur” dengan bunyi lain. Tapi barangkali hal itu lebih ke urusan teknis mixing/live sound. Barangkali juga karena pengaruh tempat yang ruangnya kecil. Mungkin jika ada jarak antar instalasi dan penonton akan terasa lebih nyampur.

Di beberapa bagian, Giffary memasukkan unsur Elektronic Dance Music, seakan membiarkan Gala Resonant melihat cermin Jakarta yang gelap dan modern. Talempong Pacik ikut mengisi ruang, membuat tekstur bunyi semakin padat.

Sementara itu, isu banjir Minang hadir melalui melodi gitar yang menyayat. Petikan halus yang membawa perasaan pilu dan gelisah—perasaan yang muncul bukan karena narasi verbal, tetapi karena bunyi itu sendiri membawa tubuh penonton kepada empati.

Nazir memainkan melodi yang menyayat hati penonton yang mendengarnya | Call Me Odong

Sementara itu, Ali sebagai salah satu performer dan penonton juga mengungkapkan bahwa manipulasi suara, ke kulikan pribadi, atau membuat alat sendiri memang selalu sangat menarik, karena dari alat dan kreasi imajinasi yang ada, dapat menimbulkan warna-warna lain. Namun ketika bermain, kadang beda lagi dalam artian ada sensasi bawaan atau pendekatan lain ketika berinteraksi dengan alat.

Bukan hanya dari sisi suara yang dihasilkan, Ali juga mengungkapkan pendapatnya dari sisi teatrikal pemusik Gala Resonant. Menurutnya, hal itu juga harus diperhatikan dalam setiap aksi panggung, karena hal itu menjadi kesatuan yang utuh dalam, sebuah pertunjukan.

“Visual dan audio itu sudah cukup impresif, tapi mungkin kapan alat itu di depan dan pemain di belakang atau kapan bercampur dengan pemain,” ungkapnya.

Ruang Dialektika dan Penyembuhan

Gala Resonant bukan karya yang ingin memberi kesimpulan atau menggurui. Ia hadir sebagai ruang dialektika. Ruang untuk berkontemplasi. Ruang untuk merawat keresahan. Bahkan, bagi sebagian penonton, ia menjadi ruang penyembuhan.

Giffary percaya bahwa musik berasal dari masyarakat dan kembali ke masyarakat. Maka apa pun yang ia capai, ia kembalikan lagi sebagai ruang yang dapat diisi oleh siapa saja—menganggap manusia sebagai bagian dari suara alam yang memuat empati dan simpati dalam cara berpikirnya.

Mengirim Gala Resonant ke Luar Negeri

Di tengah perjalanan itu, Giffary menyimpan mimpi: membawa Gala Resonant ke panggung internasional. Baginya, itu bukan sekadar pencapaian prestise. Ia ingin mengembalikan bebunyian eksperimental ini kepada negeri-negeri yang mengembangkan teknologi, seakan ingin melihat bagaimana pertemuan antara tradisi Minang dan eksperimen elektroakustik diterima di ruang-ruang global.

Giffary memainkan Pupuik Gadang yang menjadi dasar Gala Resonant | Call Me Odong

Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana publik di negara-negara itu merespons percakapan bunyi antara tradisi dan modernitas yang ia bangun. Pertemuan dua dunia yang ia mulai dari sebuah tugas akhir sederhana di ranah Minang. [T]

Jakarta, 2025

Penulis: Muhamad Irfan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tags: Minangkabaumusikulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Digitalisasi dan Pameran Sri Nadi: Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bersiap Masuk Era Digital

Next Post

‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Muhamad Irfan

Muhamad Irfan

Lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand. Tulisan pernah dimuat di Majalah Mata Puisi, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, marewai.com, dll. Saat ini mencari kehidupan di Jakarta.

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails
Next Post
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

'Send Me the Pillow You Dream On': Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co