24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Pitrus Puspito by Pitrus Puspito
December 21, 2025
in Cerpen
Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SORE itu, udara di pesisir Seruni terasa sangat dingin meski matahari menggantung redup di cakrawala. Anna, bocah sepuluh tahun, sedang membantu ibunya menumbuk bumbu di dapur ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Nenek, Kakek, dan Bibi Lusi datang, membawa serta tawa dan kegembiraan bagi rumah sederhana mereka.

Malam ini mereka semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun Anna. Ayah menghadiahi boneka beruang besar, ibu memberinya gaun batik yang anggun, sementara Nenek dan Kakek memberi Anna sweter rajut berwarna biru dengan motif bunga melati di bagian dada. Tetapi yang paling membuat Anna melonjak girang adalah hadiah dari Bibi Lusi: tiga buku dongeng bergambar yang sampulya berkilau keemasan.

Bibi Lusi bukan hanya adik ibunya, ia semacam peri dalam hidup Anna. Bibi Lusi berparas cantik, bersuara lembut, dan selalu bisa menyihir siapa saja dengan kisah-kisahnya. Saat ia membaca dongeng, anak-anak seakan terseret ke negeri ajaib, bahkan orang dewasa pun ikut terdiam, seolah setiap kata yang meluncur dari bibirnya membuka pintu ke dunia lain.

Setelah makan malam dengan nasi hangat, daging kambing, dan segelas susu, Anna memohon agar Bibi Lusi membacakan satu kisah. “Bibi, ceritakan satu kisah yang paling menakjubkan dong!”

“Baiklah, tapi ambil selimut dulu, udara makin menusuk,” kata Bibi Lusi sambil tersenyum. Mereka duduk di sofa, dan hening pun tercipta, hanya diisi suara hujan yang mengetuk atap rumah.

“Kisah ini berjudul Lelaki Tua di Pulau Terindah di Dunia,” ucap Bibi Lusi dengan suara pelan namun jelas. Anna menatapnya tanpa berkedip.

“Pada suatu masa, di sebuah pulau kecil bernama Pulau Karmina, hiduplah seorang lelaki tua. Ia tinggal seorang diri di sebuah pondok bambu, ditemani kebun sayur dan pohon buah. Laut di sekelilingnya jernih, ikannya melimpah. Tidak pernah ia kekurangan makanan, tidak pula pakaian. Pulau itu disebut orang-orang sebagai pulau paling indah di dunia.

Namun lelaki tua tidak pernah benar-benar menyadari betapa berharganya pulau itu. Baginya, semua itu hanya rutinitas: memancing, merawat kebun, tidur, dan bangun kembali.

Di usia sembilan puluh tahun, ia mulai bosan pada kesunyian. ‘Aku ingin mati di tengah keramaian,’ katanya. Maka dijualnya pulau itu pada seorang pengusaha kaya, lalu ia pergi ke kota besar, berharap menemukan kehidupan baru.

Bulan pertama, ia senang. Jalan-jalan penuh lampu, gedung-gedung tinggi menjulang, musik mendayu-dayu dari kafe-kafe pinggir jalan. Tetapi lambat laun, keramaian menjadi bising, orang-orang terlalu sibuk untuk menoleh padanya. Ia hanya lelaki tua di tengah ribuan wajah yang saling bergegas.

Suatu sore di taman kota, seorang pemuda berkata kepadanya: ‘Tentu luar biasa hidup lama di pulau paling indah di dunia.’ Lelaki tua terdiam, lalu menjawab lirih, ‘Seandainya aku dulu tahu, tentu aku menikmatinya…’”

Bibi Lusi menutup buku. Anna ternganga, menatap bibinya.

“Jadi kakek tua itu menyesal, Bi?” tanya Anna polos.

“Entahlah, mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, ia terlambat menyadari.”

Anna terdiam, merenung. “Pulau itu indah, tapi ia meninggalkannya demi kota yang penuh orang. Dan akhirnya… tetap merasa sendirian.”

“Begitulah manusia, Ann. Sering merasa kurang, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada,” jawab Bibi Lusi pelan.

Di luar hujan semakin deras. Namun di ruang sederhana itu, kehangatan mengalir. Anna bersandar di bahu bibinya, matanya mulai terpejam. Tetapi Bibi Lusi tetap terjaga. Ada sesuatu dalam kisah itu yang menusuk dirinya sendiri.

Pulau Karmina dalam dongengnya bukan sekadar pulau fiktif. Ia pernah mengajar di pulau kecil bernama Marunda, jauh dari kota. Pulau itu indah, lautnya biru, anak-anaknya polos. Namun pulau itu dijual pemerintah kepada investor, diganti dengan resor mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Warga asli terusir, sebagian menjadi buruh, sebagian pergi entah ke mana.

Kini, pulau itu disebut “surga wisata,” tapi Bibi Lusi tahu, ia telah kehilangan rohnya.

Ia menarik nafas panjang. Kisah lelaki tua itu, sesungguhnya adalah kisah negeri ini: negeri yang begitu kaya, namun tergoda untuk menjual keindahan alamnya, menukar kesederhanaan dengan janji kemajuan yang tak pernah benar-benar memberi keadilan.

Keesokan paginya, Anna bangun dan masih terbayang-bayang kisah semalam. “Bi, aku ingin suatu hari pergi ke pulau indah seperti cerita itu. Boleh kan?”

Bibi Lusi tersenyum getir. “Kalau pulau-pulau itu belum dijual semua, tentu boleh.”

“Dijual? Kenapa dijual, Bi?”

Bibi Lusi menatap laut dari jendela. “Karena orang-orang besar di kota sering menganggap tanah dan laut hanya angka di buku kas. Mereka lupa, pulau itu rumah bagi manusia dan segala makhluk lainnya.”

Anna tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi ia merasa, senyum Bibi Lusi berbeda pagi itu. Ada luka yang disembunyikan di balik suaranya.

Hari-hari berlalu. Anna kembali ke sekolah, kembali bermain dengan teman-temannya. Namun dongeng malam ulang tahunnya tinggal kuat di kepalanya. Ia sering membayangkan lelaki tua yang baru menyadari keindahan setelah kehilangan segalanya.

Ia merenung: apakah ia juga akan tumbuh besar lalu melupakan kampungnya sendiri? Apakah ia akan tergoda pergi ke kota, lalu menyesal di ujung usia?

Di luar, pembangunan makin gencar. Pantai Seruni, tempat Anna biasa bermain pasir, perlahan berubah. Lahan di dekat bibir pantai dipagari seng, katanya akan dibangun hotel. Nelayan mulai mengeluh karena laut makin kotor, perahu mereka tak bisa bebas bersandar.

Anna mendengar ayahnya berkata lirih pada ibunya, “Entah berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini.”

Kata-kata itu membuatnya tercekak. Tiba-tiba kisah lelaki tua di pulau indah itu terasa begitu nyata.

Suatu malam, Anna kembali meminta dongeng pada Bibi Lusi. Tetapi kali ini, ia sendiri yang memulai, “Bi, aku ingin kisah tentang rumah yang dijual.”

Bibi Lusi terdiam. Ia tahu, keponakannya telah belajar sesuatu dari cerita yang sederhana. Ia memeluk Anna, lalu berbisik, “Kita harus menjaga rumah kita, Ann. Karena kalau sudah hilang, hanya penyesalan yang tersisa.”

Anna mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.

Malam itu, suara hujan kembali mengguyur, tetapi kini berbeda rasanya. Hujan seolah membawa peringatan: keindahan tak akan selamanya tinggal jika manusia terus meneruskannya dengan keserakahan.

Dan Anna, meski baru berusia sepuluh tahun, mengerti satu hal: negeri ini terlalu sering menjadi lelaki tua dalam dongeng- baru sadar akan keindahan setelah segalanya hilang. [T]

Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Next Post

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito

Guru bahasa Indonesia dan peneliti bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ia menempuh pendidikan terakhir di Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2020-2023). Selain menulis puisi dan cerita anak, ia juga menulis esai dan artikel ilmiah. Buku yang telah terbit yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019) yang diterbitkan oleh Bening Pustaka. Instagram: @pitruspiet

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co