24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Pitrus Puspito by Pitrus Puspito
December 21, 2025
in Cerpen
Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SORE itu, udara di pesisir Seruni terasa sangat dingin meski matahari menggantung redup di cakrawala. Anna, bocah sepuluh tahun, sedang membantu ibunya menumbuk bumbu di dapur ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Nenek, Kakek, dan Bibi Lusi datang, membawa serta tawa dan kegembiraan bagi rumah sederhana mereka.

Malam ini mereka semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun Anna. Ayah menghadiahi boneka beruang besar, ibu memberinya gaun batik yang anggun, sementara Nenek dan Kakek memberi Anna sweter rajut berwarna biru dengan motif bunga melati di bagian dada. Tetapi yang paling membuat Anna melonjak girang adalah hadiah dari Bibi Lusi: tiga buku dongeng bergambar yang sampulya berkilau keemasan.

Bibi Lusi bukan hanya adik ibunya, ia semacam peri dalam hidup Anna. Bibi Lusi berparas cantik, bersuara lembut, dan selalu bisa menyihir siapa saja dengan kisah-kisahnya. Saat ia membaca dongeng, anak-anak seakan terseret ke negeri ajaib, bahkan orang dewasa pun ikut terdiam, seolah setiap kata yang meluncur dari bibirnya membuka pintu ke dunia lain.

Setelah makan malam dengan nasi hangat, daging kambing, dan segelas susu, Anna memohon agar Bibi Lusi membacakan satu kisah. “Bibi, ceritakan satu kisah yang paling menakjubkan dong!”

“Baiklah, tapi ambil selimut dulu, udara makin menusuk,” kata Bibi Lusi sambil tersenyum. Mereka duduk di sofa, dan hening pun tercipta, hanya diisi suara hujan yang mengetuk atap rumah.

“Kisah ini berjudul Lelaki Tua di Pulau Terindah di Dunia,” ucap Bibi Lusi dengan suara pelan namun jelas. Anna menatapnya tanpa berkedip.

“Pada suatu masa, di sebuah pulau kecil bernama Pulau Karmina, hiduplah seorang lelaki tua. Ia tinggal seorang diri di sebuah pondok bambu, ditemani kebun sayur dan pohon buah. Laut di sekelilingnya jernih, ikannya melimpah. Tidak pernah ia kekurangan makanan, tidak pula pakaian. Pulau itu disebut orang-orang sebagai pulau paling indah di dunia.

Namun lelaki tua tidak pernah benar-benar menyadari betapa berharganya pulau itu. Baginya, semua itu hanya rutinitas: memancing, merawat kebun, tidur, dan bangun kembali.

Di usia sembilan puluh tahun, ia mulai bosan pada kesunyian. ‘Aku ingin mati di tengah keramaian,’ katanya. Maka dijualnya pulau itu pada seorang pengusaha kaya, lalu ia pergi ke kota besar, berharap menemukan kehidupan baru.

Bulan pertama, ia senang. Jalan-jalan penuh lampu, gedung-gedung tinggi menjulang, musik mendayu-dayu dari kafe-kafe pinggir jalan. Tetapi lambat laun, keramaian menjadi bising, orang-orang terlalu sibuk untuk menoleh padanya. Ia hanya lelaki tua di tengah ribuan wajah yang saling bergegas.

Suatu sore di taman kota, seorang pemuda berkata kepadanya: ‘Tentu luar biasa hidup lama di pulau paling indah di dunia.’ Lelaki tua terdiam, lalu menjawab lirih, ‘Seandainya aku dulu tahu, tentu aku menikmatinya…’”

Bibi Lusi menutup buku. Anna ternganga, menatap bibinya.

“Jadi kakek tua itu menyesal, Bi?” tanya Anna polos.

“Entahlah, mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, ia terlambat menyadari.”

Anna terdiam, merenung. “Pulau itu indah, tapi ia meninggalkannya demi kota yang penuh orang. Dan akhirnya… tetap merasa sendirian.”

“Begitulah manusia, Ann. Sering merasa kurang, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada,” jawab Bibi Lusi pelan.

Di luar hujan semakin deras. Namun di ruang sederhana itu, kehangatan mengalir. Anna bersandar di bahu bibinya, matanya mulai terpejam. Tetapi Bibi Lusi tetap terjaga. Ada sesuatu dalam kisah itu yang menusuk dirinya sendiri.

Pulau Karmina dalam dongengnya bukan sekadar pulau fiktif. Ia pernah mengajar di pulau kecil bernama Marunda, jauh dari kota. Pulau itu indah, lautnya biru, anak-anaknya polos. Namun pulau itu dijual pemerintah kepada investor, diganti dengan resor mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Warga asli terusir, sebagian menjadi buruh, sebagian pergi entah ke mana.

Kini, pulau itu disebut “surga wisata,” tapi Bibi Lusi tahu, ia telah kehilangan rohnya.

Ia menarik nafas panjang. Kisah lelaki tua itu, sesungguhnya adalah kisah negeri ini: negeri yang begitu kaya, namun tergoda untuk menjual keindahan alamnya, menukar kesederhanaan dengan janji kemajuan yang tak pernah benar-benar memberi keadilan.

Keesokan paginya, Anna bangun dan masih terbayang-bayang kisah semalam. “Bi, aku ingin suatu hari pergi ke pulau indah seperti cerita itu. Boleh kan?”

Bibi Lusi tersenyum getir. “Kalau pulau-pulau itu belum dijual semua, tentu boleh.”

“Dijual? Kenapa dijual, Bi?”

Bibi Lusi menatap laut dari jendela. “Karena orang-orang besar di kota sering menganggap tanah dan laut hanya angka di buku kas. Mereka lupa, pulau itu rumah bagi manusia dan segala makhluk lainnya.”

Anna tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi ia merasa, senyum Bibi Lusi berbeda pagi itu. Ada luka yang disembunyikan di balik suaranya.

Hari-hari berlalu. Anna kembali ke sekolah, kembali bermain dengan teman-temannya. Namun dongeng malam ulang tahunnya tinggal kuat di kepalanya. Ia sering membayangkan lelaki tua yang baru menyadari keindahan setelah kehilangan segalanya.

Ia merenung: apakah ia juga akan tumbuh besar lalu melupakan kampungnya sendiri? Apakah ia akan tergoda pergi ke kota, lalu menyesal di ujung usia?

Di luar, pembangunan makin gencar. Pantai Seruni, tempat Anna biasa bermain pasir, perlahan berubah. Lahan di dekat bibir pantai dipagari seng, katanya akan dibangun hotel. Nelayan mulai mengeluh karena laut makin kotor, perahu mereka tak bisa bebas bersandar.

Anna mendengar ayahnya berkata lirih pada ibunya, “Entah berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini.”

Kata-kata itu membuatnya tercekak. Tiba-tiba kisah lelaki tua di pulau indah itu terasa begitu nyata.

Suatu malam, Anna kembali meminta dongeng pada Bibi Lusi. Tetapi kali ini, ia sendiri yang memulai, “Bi, aku ingin kisah tentang rumah yang dijual.”

Bibi Lusi terdiam. Ia tahu, keponakannya telah belajar sesuatu dari cerita yang sederhana. Ia memeluk Anna, lalu berbisik, “Kita harus menjaga rumah kita, Ann. Karena kalau sudah hilang, hanya penyesalan yang tersisa.”

Anna mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.

Malam itu, suara hujan kembali mengguyur, tetapi kini berbeda rasanya. Hujan seolah membawa peringatan: keindahan tak akan selamanya tinggal jika manusia terus meneruskannya dengan keserakahan.

Dan Anna, meski baru berusia sepuluh tahun, mengerti satu hal: negeri ini terlalu sering menjadi lelaki tua dalam dongeng- baru sadar akan keindahan setelah segalanya hilang. [T]

Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Next Post

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito

Guru bahasa Indonesia dan peneliti bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ia menempuh pendidikan terakhir di Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2020-2023). Selain menulis puisi dan cerita anak, ia juga menulis esai dan artikel ilmiah. Buku yang telah terbit yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019) yang diterbitkan oleh Bening Pustaka. Instagram: @pitruspiet

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co