14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Pitrus Puspito by Pitrus Puspito
December 21, 2025
in Cerpen
Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SORE itu, udara di pesisir Seruni terasa sangat dingin meski matahari menggantung redup di cakrawala. Anna, bocah sepuluh tahun, sedang membantu ibunya menumbuk bumbu di dapur ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Nenek, Kakek, dan Bibi Lusi datang, membawa serta tawa dan kegembiraan bagi rumah sederhana mereka.

Malam ini mereka semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun Anna. Ayah menghadiahi boneka beruang besar, ibu memberinya gaun batik yang anggun, sementara Nenek dan Kakek memberi Anna sweter rajut berwarna biru dengan motif bunga melati di bagian dada. Tetapi yang paling membuat Anna melonjak girang adalah hadiah dari Bibi Lusi: tiga buku dongeng bergambar yang sampulya berkilau keemasan.

Bibi Lusi bukan hanya adik ibunya, ia semacam peri dalam hidup Anna. Bibi Lusi berparas cantik, bersuara lembut, dan selalu bisa menyihir siapa saja dengan kisah-kisahnya. Saat ia membaca dongeng, anak-anak seakan terseret ke negeri ajaib, bahkan orang dewasa pun ikut terdiam, seolah setiap kata yang meluncur dari bibirnya membuka pintu ke dunia lain.

Setelah makan malam dengan nasi hangat, daging kambing, dan segelas susu, Anna memohon agar Bibi Lusi membacakan satu kisah. “Bibi, ceritakan satu kisah yang paling menakjubkan dong!”

“Baiklah, tapi ambil selimut dulu, udara makin menusuk,” kata Bibi Lusi sambil tersenyum. Mereka duduk di sofa, dan hening pun tercipta, hanya diisi suara hujan yang mengetuk atap rumah.

“Kisah ini berjudul Lelaki Tua di Pulau Terindah di Dunia,” ucap Bibi Lusi dengan suara pelan namun jelas. Anna menatapnya tanpa berkedip.

“Pada suatu masa, di sebuah pulau kecil bernama Pulau Karmina, hiduplah seorang lelaki tua. Ia tinggal seorang diri di sebuah pondok bambu, ditemani kebun sayur dan pohon buah. Laut di sekelilingnya jernih, ikannya melimpah. Tidak pernah ia kekurangan makanan, tidak pula pakaian. Pulau itu disebut orang-orang sebagai pulau paling indah di dunia.

Namun lelaki tua tidak pernah benar-benar menyadari betapa berharganya pulau itu. Baginya, semua itu hanya rutinitas: memancing, merawat kebun, tidur, dan bangun kembali.

Di usia sembilan puluh tahun, ia mulai bosan pada kesunyian. ‘Aku ingin mati di tengah keramaian,’ katanya. Maka dijualnya pulau itu pada seorang pengusaha kaya, lalu ia pergi ke kota besar, berharap menemukan kehidupan baru.

Bulan pertama, ia senang. Jalan-jalan penuh lampu, gedung-gedung tinggi menjulang, musik mendayu-dayu dari kafe-kafe pinggir jalan. Tetapi lambat laun, keramaian menjadi bising, orang-orang terlalu sibuk untuk menoleh padanya. Ia hanya lelaki tua di tengah ribuan wajah yang saling bergegas.

Suatu sore di taman kota, seorang pemuda berkata kepadanya: ‘Tentu luar biasa hidup lama di pulau paling indah di dunia.’ Lelaki tua terdiam, lalu menjawab lirih, ‘Seandainya aku dulu tahu, tentu aku menikmatinya…’”

Bibi Lusi menutup buku. Anna ternganga, menatap bibinya.

“Jadi kakek tua itu menyesal, Bi?” tanya Anna polos.

“Entahlah, mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, ia terlambat menyadari.”

Anna terdiam, merenung. “Pulau itu indah, tapi ia meninggalkannya demi kota yang penuh orang. Dan akhirnya… tetap merasa sendirian.”

“Begitulah manusia, Ann. Sering merasa kurang, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada,” jawab Bibi Lusi pelan.

Di luar hujan semakin deras. Namun di ruang sederhana itu, kehangatan mengalir. Anna bersandar di bahu bibinya, matanya mulai terpejam. Tetapi Bibi Lusi tetap terjaga. Ada sesuatu dalam kisah itu yang menusuk dirinya sendiri.

Pulau Karmina dalam dongengnya bukan sekadar pulau fiktif. Ia pernah mengajar di pulau kecil bernama Marunda, jauh dari kota. Pulau itu indah, lautnya biru, anak-anaknya polos. Namun pulau itu dijual pemerintah kepada investor, diganti dengan resor mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Warga asli terusir, sebagian menjadi buruh, sebagian pergi entah ke mana.

Kini, pulau itu disebut “surga wisata,” tapi Bibi Lusi tahu, ia telah kehilangan rohnya.

Ia menarik nafas panjang. Kisah lelaki tua itu, sesungguhnya adalah kisah negeri ini: negeri yang begitu kaya, namun tergoda untuk menjual keindahan alamnya, menukar kesederhanaan dengan janji kemajuan yang tak pernah benar-benar memberi keadilan.

Keesokan paginya, Anna bangun dan masih terbayang-bayang kisah semalam. “Bi, aku ingin suatu hari pergi ke pulau indah seperti cerita itu. Boleh kan?”

Bibi Lusi tersenyum getir. “Kalau pulau-pulau itu belum dijual semua, tentu boleh.”

“Dijual? Kenapa dijual, Bi?”

Bibi Lusi menatap laut dari jendela. “Karena orang-orang besar di kota sering menganggap tanah dan laut hanya angka di buku kas. Mereka lupa, pulau itu rumah bagi manusia dan segala makhluk lainnya.”

Anna tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi ia merasa, senyum Bibi Lusi berbeda pagi itu. Ada luka yang disembunyikan di balik suaranya.

Hari-hari berlalu. Anna kembali ke sekolah, kembali bermain dengan teman-temannya. Namun dongeng malam ulang tahunnya tinggal kuat di kepalanya. Ia sering membayangkan lelaki tua yang baru menyadari keindahan setelah kehilangan segalanya.

Ia merenung: apakah ia juga akan tumbuh besar lalu melupakan kampungnya sendiri? Apakah ia akan tergoda pergi ke kota, lalu menyesal di ujung usia?

Di luar, pembangunan makin gencar. Pantai Seruni, tempat Anna biasa bermain pasir, perlahan berubah. Lahan di dekat bibir pantai dipagari seng, katanya akan dibangun hotel. Nelayan mulai mengeluh karena laut makin kotor, perahu mereka tak bisa bebas bersandar.

Anna mendengar ayahnya berkata lirih pada ibunya, “Entah berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini.”

Kata-kata itu membuatnya tercekak. Tiba-tiba kisah lelaki tua di pulau indah itu terasa begitu nyata.

Suatu malam, Anna kembali meminta dongeng pada Bibi Lusi. Tetapi kali ini, ia sendiri yang memulai, “Bi, aku ingin kisah tentang rumah yang dijual.”

Bibi Lusi terdiam. Ia tahu, keponakannya telah belajar sesuatu dari cerita yang sederhana. Ia memeluk Anna, lalu berbisik, “Kita harus menjaga rumah kita, Ann. Karena kalau sudah hilang, hanya penyesalan yang tersisa.”

Anna mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.

Malam itu, suara hujan kembali mengguyur, tetapi kini berbeda rasanya. Hujan seolah membawa peringatan: keindahan tak akan selamanya tinggal jika manusia terus meneruskannya dengan keserakahan.

Dan Anna, meski baru berusia sepuluh tahun, mengerti satu hal: negeri ini terlalu sering menjadi lelaki tua dalam dongeng- baru sadar akan keindahan setelah segalanya hilang. [T]

Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Next Post

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito

Guru bahasa Indonesia dan peneliti bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ia menempuh pendidikan terakhir di Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2020-2023). Selain menulis puisi dan cerita anak, ia juga menulis esai dan artikel ilmiah. Buku yang telah terbit yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019) yang diterbitkan oleh Bening Pustaka. Instagram: @pitruspiet

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co