3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Pitrus Puspito by Pitrus Puspito
December 21, 2025
in Cerpen
Tentang Rumah, Laut, dan Keserakahan | Cerpen Pitrus Puspito

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SORE itu, udara di pesisir Seruni terasa sangat dingin meski matahari menggantung redup di cakrawala. Anna, bocah sepuluh tahun, sedang membantu ibunya menumbuk bumbu di dapur ketika suara kendaraan berhenti di depan rumah. Nenek, Kakek, dan Bibi Lusi datang, membawa serta tawa dan kegembiraan bagi rumah sederhana mereka.

Malam ini mereka semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun Anna. Ayah menghadiahi boneka beruang besar, ibu memberinya gaun batik yang anggun, sementara Nenek dan Kakek memberi Anna sweter rajut berwarna biru dengan motif bunga melati di bagian dada. Tetapi yang paling membuat Anna melonjak girang adalah hadiah dari Bibi Lusi: tiga buku dongeng bergambar yang sampulya berkilau keemasan.

Bibi Lusi bukan hanya adik ibunya, ia semacam peri dalam hidup Anna. Bibi Lusi berparas cantik, bersuara lembut, dan selalu bisa menyihir siapa saja dengan kisah-kisahnya. Saat ia membaca dongeng, anak-anak seakan terseret ke negeri ajaib, bahkan orang dewasa pun ikut terdiam, seolah setiap kata yang meluncur dari bibirnya membuka pintu ke dunia lain.

Setelah makan malam dengan nasi hangat, daging kambing, dan segelas susu, Anna memohon agar Bibi Lusi membacakan satu kisah. “Bibi, ceritakan satu kisah yang paling menakjubkan dong!”

“Baiklah, tapi ambil selimut dulu, udara makin menusuk,” kata Bibi Lusi sambil tersenyum. Mereka duduk di sofa, dan hening pun tercipta, hanya diisi suara hujan yang mengetuk atap rumah.

“Kisah ini berjudul Lelaki Tua di Pulau Terindah di Dunia,” ucap Bibi Lusi dengan suara pelan namun jelas. Anna menatapnya tanpa berkedip.

“Pada suatu masa, di sebuah pulau kecil bernama Pulau Karmina, hiduplah seorang lelaki tua. Ia tinggal seorang diri di sebuah pondok bambu, ditemani kebun sayur dan pohon buah. Laut di sekelilingnya jernih, ikannya melimpah. Tidak pernah ia kekurangan makanan, tidak pula pakaian. Pulau itu disebut orang-orang sebagai pulau paling indah di dunia.

Namun lelaki tua tidak pernah benar-benar menyadari betapa berharganya pulau itu. Baginya, semua itu hanya rutinitas: memancing, merawat kebun, tidur, dan bangun kembali.

Di usia sembilan puluh tahun, ia mulai bosan pada kesunyian. ‘Aku ingin mati di tengah keramaian,’ katanya. Maka dijualnya pulau itu pada seorang pengusaha kaya, lalu ia pergi ke kota besar, berharap menemukan kehidupan baru.

Bulan pertama, ia senang. Jalan-jalan penuh lampu, gedung-gedung tinggi menjulang, musik mendayu-dayu dari kafe-kafe pinggir jalan. Tetapi lambat laun, keramaian menjadi bising, orang-orang terlalu sibuk untuk menoleh padanya. Ia hanya lelaki tua di tengah ribuan wajah yang saling bergegas.

Suatu sore di taman kota, seorang pemuda berkata kepadanya: ‘Tentu luar biasa hidup lama di pulau paling indah di dunia.’ Lelaki tua terdiam, lalu menjawab lirih, ‘Seandainya aku dulu tahu, tentu aku menikmatinya…’”

Bibi Lusi menutup buku. Anna ternganga, menatap bibinya.

“Jadi kakek tua itu menyesal, Bi?” tanya Anna polos.

“Entahlah, mungkin ia menyesal, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, ia terlambat menyadari.”

Anna terdiam, merenung. “Pulau itu indah, tapi ia meninggalkannya demi kota yang penuh orang. Dan akhirnya… tetap merasa sendirian.”

“Begitulah manusia, Ann. Sering merasa kurang, hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada,” jawab Bibi Lusi pelan.

Di luar hujan semakin deras. Namun di ruang sederhana itu, kehangatan mengalir. Anna bersandar di bahu bibinya, matanya mulai terpejam. Tetapi Bibi Lusi tetap terjaga. Ada sesuatu dalam kisah itu yang menusuk dirinya sendiri.

Pulau Karmina dalam dongengnya bukan sekadar pulau fiktif. Ia pernah mengajar di pulau kecil bernama Marunda, jauh dari kota. Pulau itu indah, lautnya biru, anak-anaknya polos. Namun pulau itu dijual pemerintah kepada investor, diganti dengan resor mewah yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Warga asli terusir, sebagian menjadi buruh, sebagian pergi entah ke mana.

Kini, pulau itu disebut “surga wisata,” tapi Bibi Lusi tahu, ia telah kehilangan rohnya.

Ia menarik nafas panjang. Kisah lelaki tua itu, sesungguhnya adalah kisah negeri ini: negeri yang begitu kaya, namun tergoda untuk menjual keindahan alamnya, menukar kesederhanaan dengan janji kemajuan yang tak pernah benar-benar memberi keadilan.

Keesokan paginya, Anna bangun dan masih terbayang-bayang kisah semalam. “Bi, aku ingin suatu hari pergi ke pulau indah seperti cerita itu. Boleh kan?”

Bibi Lusi tersenyum getir. “Kalau pulau-pulau itu belum dijual semua, tentu boleh.”

“Dijual? Kenapa dijual, Bi?”

Bibi Lusi menatap laut dari jendela. “Karena orang-orang besar di kota sering menganggap tanah dan laut hanya angka di buku kas. Mereka lupa, pulau itu rumah bagi manusia dan segala makhluk lainnya.”

Anna tidak mengerti sepenuhnya. Tetapi ia merasa, senyum Bibi Lusi berbeda pagi itu. Ada luka yang disembunyikan di balik suaranya.

Hari-hari berlalu. Anna kembali ke sekolah, kembali bermain dengan teman-temannya. Namun dongeng malam ulang tahunnya tinggal kuat di kepalanya. Ia sering membayangkan lelaki tua yang baru menyadari keindahan setelah kehilangan segalanya.

Ia merenung: apakah ia juga akan tumbuh besar lalu melupakan kampungnya sendiri? Apakah ia akan tergoda pergi ke kota, lalu menyesal di ujung usia?

Di luar, pembangunan makin gencar. Pantai Seruni, tempat Anna biasa bermain pasir, perlahan berubah. Lahan di dekat bibir pantai dipagari seng, katanya akan dibangun hotel. Nelayan mulai mengeluh karena laut makin kotor, perahu mereka tak bisa bebas bersandar.

Anna mendengar ayahnya berkata lirih pada ibunya, “Entah berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini.”

Kata-kata itu membuatnya tercekak. Tiba-tiba kisah lelaki tua di pulau indah itu terasa begitu nyata.

Suatu malam, Anna kembali meminta dongeng pada Bibi Lusi. Tetapi kali ini, ia sendiri yang memulai, “Bi, aku ingin kisah tentang rumah yang dijual.”

Bibi Lusi terdiam. Ia tahu, keponakannya telah belajar sesuatu dari cerita yang sederhana. Ia memeluk Anna, lalu berbisik, “Kita harus menjaga rumah kita, Ann. Karena kalau sudah hilang, hanya penyesalan yang tersisa.”

Anna mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.

Malam itu, suara hujan kembali mengguyur, tetapi kini berbeda rasanya. Hujan seolah membawa peringatan: keindahan tak akan selamanya tinggal jika manusia terus meneruskannya dengan keserakahan.

Dan Anna, meski baru berusia sepuluh tahun, mengerti satu hal: negeri ini terlalu sering menjadi lelaki tua dalam dongeng- baru sadar akan keindahan setelah segalanya hilang. [T]

Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi S. Kamar | Ampar yang Meninggi

Next Post

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Pitrus Puspito

Pitrus Puspito

Guru bahasa Indonesia dan peneliti bidang bahasa dan sastra Indonesia. Ia menempuh pendidikan terakhir di Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2020-2023). Selain menulis puisi dan cerita anak, ia juga menulis esai dan artikel ilmiah. Buku yang telah terbit yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019) yang diterbitkan oleh Bening Pustaka. Instagram: @pitruspiet

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Hanuman: Dari Mitologis ke Arketipe Kesadaran dan Keteladanan Rama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co