TARI Kirana Rasmi sore itu, Sabtu, 8 November 2025, di Sangkring Art Space, Yogyakarta, memukau penonton. Tentu karena tari ini diciptakan berpegang pada konsep-konsep estetik karawitan Bali yang berkembang secara fleksibel dan dinamis.
Tari itu dipentaskan sebagai iringan pembukaan Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa: Warma Bhuwana Wangsa- Derma Manusia Dunia. Bekerja sama dengan perupa dan pendiri Sangkring Art Space, Putu Sutawijaya, pementasan ini punya arti tersendiri bagi perkembangan tari, karawitan dan seni rupa. Apalagi, Sutawijaya memang menjunjung tinggi solidaritas berkesenian dengan menjadi ruang eksperimen bagi semua kalangan dan pelaku seni dengan membuka diri untuk berbagi dengan berbagai seni sebagai sebuah ruang berkreativitas.
Tari Kirana Rasmi menggunakan pedoman dasar tari Bali “lima wi” (wiraga, wirama, wirasa, wicara, dan wibawa). Iringan tari ini diciptakan sebagai bentuk ungkapan kegelisahan atas fenomena lingkungan yang mengalami perubahan secara signifikan dan berpengaruh tidak saja ke arah positif, melainkan banyak yang sebaliknya, seperti menipisnya perhatian terhadap etika, moral, dan nilai-nilai intrinsik budaya.
Salah satu sumber yang dipandang menarik untuk dijadikan tema terkait fenomena dimaksud adalah kisah Putri Candra Kirana. Candra Kirana terdiri dari kata Candra berarti bulan dan Kirana berarti sinar. Dengan demikian Candra Kirana berarti bulan yang bersinar. Dalam cerita rakyat Jawa, Candra Kirana juga merupakan nama seorang putri Kerajaan Daha yang cantik jelita. Jadi, Candra Kirana tidak hanya sekadar nama, tetapi juga mengandung makna keindahan, kecantikan, dan keanggunan yang terpancar seperti cahaya bulan.
Penelitian penciptaan ini berjudul “Penciptaan Iringan Tari Kirana Rasmi” yang berfokus pada proses kreatif dan estetika musikal dalam mengiringi karya tari bertema spiritualitas dan pencerahan batin. Kirana Rasmi secara konseptual mengangkat gagasan “cahaya dalam sabda”, yaitu perjalanan batin manusia dari keheningan menuju kesadaran spiritual.

Iringan Tari Kirana Rasmi memiliki durasi waktu sekitar 10 menit, ditarikan oleh tujuh penari puteri dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar sebagai instrumen pengiringnya. Karya ini mencoba mengkolaborasikan unsur-unsur musikal gamelan Jawa yang diadopsi terhadap instrumen Gong Kebyar.
Sebagai komposer iringan tari ini adalah I Made Dwi Andika Putra, S.Sn., M.Sn, ; Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., ; Ni Putu Hartini, S.Sn., M.Sn. ; Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., ; Putu Tiodore Adi Bawa, S.Sn., M.Sn.
Urgensi penciptaan karya ini tidak hanya terletak pada pelestarian nilai budaya, tetapi juga pada kebutuhan akan inovasi dalam berkreasi. Iringan tari ini dibangun atas tiga bagian utama yaitu pangawit, pangawak, dan pakaad yang merepresentasikan alur dramatik tari. Setiap bagian memiliki fungsi musikal yang berbeda, namun saling terhubung secara tematik. Estetika musikal iringan ini mencerminkan tiga prinsip keindahan menurut Djelantik (1999): keutuhan bentuk (unity), kerumitan atau variasi (complexity), dan kesungguhan ekspresi (intensity). Eksperimen terhadap teknik kotekan, laras ganda (slendro–pelog), serta dinamika dramatik menunjukkan bahwa tradisi karawitan Bali dapat dikembangkan tanpa kehilangan jati rasa (taksu).
Iringan Tari Kirana Rasmi berfungsi sebagai penopang ritmik bagi struktur gerak tari, Pembangun suasana emosional, penyampaian makna simbolik sesuai tema spiritual karya. Unsur musikal seperti nada rendah tinggi, tempo cepat lambat, dan timbre instrumen dipakai secara simbolik untuk menggambarkan perjalanan batin manusia dari kegelapan menuju pencerahan.

Iringan Tari Kirana Rasmi dirancang untuk didesiminasikan melalui skema Penelitian, Penciptaan, Diseminasi, Seni – Desain (P2DSD) yang menafsirkan perjalanan manusia di tengah jagat raya – sebuah persembahan bagi dunia, dari jiwa-jiwa seni nusantara yang diharapkan dapat menambah khasanah seni Nusantara.
Karya ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan estetika karawitan Bali dengan menghadirkan bentuk iringan tari yang berakar pada tradisi namun terbuka terhadap eksplorasi bunyi dan bentuk. Secara akademik, penciptaan ini memperkaya kajian tentang hubungan musik dan tari dalam konteks penciptaan karya tradisi serta mempertegas peran musik sebagai media representasi nilai-nilai filosofis. [T]
Penulis: Ni Putu Hartini
Editor: Adnyana Ole



























