2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia (Media) yang Dipenuhi Badut

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 8, 2025
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

Dut badut badut badut badut badut badut, zaman sekarang
Mong omong omong omong omong omong omong omong sembarang,
Di televisi, di koran-koran, di dalam radio, di atas mimbar.
Nggut manggut manggut manggut manggut manggut manggut
Seperti badut, ya iya iya iya iya iya iya, ya iya iya.

(lirik lagu ”Badut”-Swami)

*

SATU lirik lagu “Badut”  karya Sawung Jabo dan Iwan Fals dalam album Swami, terasa sangat relevan dengan zaman sekarang: “Aku badut, badut yang bisa tertawa sedih…”  Baris sederhana itu bukan sekadar gambaran sosok pelawak panggung.

Ia adalah representasi manusia, yaitu kita semua, yang dalam tekanan realitas sosial, politik, dan media, dipaksa atau justru dengan sukarela tampil seperti badut: berbicara lantang tanpa kedalaman, menyampaikan pendapat tanpa dasar, dan menjadi tontonan massal tanpa menyadari bahwa diri sendiri telah kehilangan integritas. Artikel ini coba melihat ”parodi hidup dalam bingkai lirik lagu Badut”.

Seperti sekelompok orang yang ingin beraudiensi dengan Komisi Reformasi Polri, setelah gagal atau tidak jadi beraudiensi, karena tidak sesuai dengan daftar saat memohon bertemu, berbeda saat akan bertemu, seolah pihak komisioner menolak, dan ”menghukum”, satu contoh yang masih hangat. Masing-masing pihak sudah memberikan keterangan pada awak media, tinggal mata hati kita yang menilainya, siapa yang ”melucu”.

Media Sosial Menjadikan Semua Orang “Panggung”

Dulu, tidak semua orang punya mimbar. Untuk berbicara di ruang publik, seseorang harus melalui seleksi sosial, profesional, dan intelektual. Kini semuanya selesai dengan satu klik: gawai di tangan, kamera terbuka, dan unggahan meluncur tanpa refleksi.

Fenomena ini melahirkan apa yang semakin sering kita lihat: orang berbicara tanpa riset; opini dilempar seperti dagelan; fakta dikaburkan demi sensasi; argumentasi diganti drama; popularitas menjadi ukuran kebenaran.

Dalam situasi ini, kita seperti dikelilingi parade badut yang saling berebut perhatian. Mereka tertawa, marah, memaki, memprovokasi, tetapi sebenarnya rapuh dan kosong di dalam. Lirik lagu “Badut” menangkap perasaan itu: manusia yang menjadi pusat perhatian tetapi sekaligus bahan tontonan. Ia menampilkan diri dengan gagah, tetapi sesungguhnya tidak punya pijakan makna.

Politik, Komentar, dan Keriuhan Tanpa Isi

Fenomena “asal bicara” kini tidak hanya ada di media sosial. Di televisi, debat politik, dialog publik, bahkan rapat-rapat resmi negara pun sering berisi hujatan, sindiran, tanpa argumen yang berpihak pada publik.

Orang tak lagi sibuk membawa solusi. Yang mereka kejar adalah “narasi menang”, memojokan lawan bicara di mata penonton: siapa yang paling keras; siapa yang paling viral; siapa yang paling disorot kamera. Seperti seorang pengamat dengan bangga mengucapkan, ”bajingan tolol, dungu”, entah kata-kata kotor apa lagi, atau kelompok yang mengaku ilmuwan, peneliti dengan kata-kata berbagai hujatan pada yang dituduhkannya.

Seperti dalam sirkus, panggung media menuntut tontonan, bukan pemikiran. Banyak figur publik terjebak menjadi performer, bukan negarawan; menjadi komentator, bukan pemikir; menjadi badut, bukan pemimpin. Padahal, bangsa tidak berjalan oleh tepuk tangan dan celetukan, tetapi oleh kedewasaan intelektual dalam membaca persoalan.

Ketika Kecerdasan Publik Tergantikan Seni Menyerang

Setiap hari kita disuguhi ocehan: “Asal Viral, Maka Benar.”; “Asal Trending, Maka Penting.”; “Asal Nyambung dengan Emosi Massa, Maka Mendapat Pembenaran.”

Masyarakat pun ikut terbawa. Kita jadi bangsa yang ahli berkomentar tetapi miskin kehendak mempelajari sesuatu lebih dalam.

Dalam lagu “Badut”, kita merasakan kritik yang tajam terhadap manusia yang terjebak pencitraan: “Dunia tertawa melihat tingkahmu…”

Ini sindiran untuk zaman sekarang: kita bangga tampil di muka umum, tetapi tidak sadar menjadi obyek pergunjingan yang sebenarnya tidak membawa perubahan apa-apa.

Kita Juga Berpotensi Menjadi Badut

Kritik lagu ini justru paling tajam ketika diarahkan ke dalam diri kita sendiri. Kita semua pernah menjadi badut media: saat membagikan berita yang belum jelas kebenarannya; saat marah di kolom komentar tanpa membaca isi keseluruhan; saat merasa paling benar hanya karena mendengar dua menit potongan video; saat membela tokoh, kelompok, atau kepentingan tanpa pengetahuan memadai.

Media sosial memberi ruang bagi kita semua untuk unjuk bicara. Namun ruang itu juga membentuk kita menjadi: cepat bereaksi; lambat mencerna; rajin menilai; malas memahami.

Iwan Fals dan Sawung Jabo, lewat lagu ”Badut”, mengingatkan: manusia modern bisa tampil hebat di luar, tetapi di dalam hatinya tersisa kekosongan. Kita jadi pelawak bagi diri sendiri, karena pendapat yang kita keluarkan belum tentu memiliki pijakan nilai atau kebenaran.

Tontonan Menjadi Kebiasaan, Kebiasaan Menjadi Budaya

Gejala yang mengkhawatirkan adalah ketika “asal bicara” bukan lagi fenomena individu, tetapi berubah menjadi pola budaya.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu media: talkshow mendahulukan drama dibanding analisis; konten viral lebih dihargai daripada tulisan mendalam; pernyataan emosional lebih cepat dilirik daripada fakta.

Ketika itu berlangsung terus-menerus, kualitas ruang publik turun secara struktural. Ilmu kalah oleh meme. Solusi kalah oleh ejekan. Masa depan kalah oleh trending hari ini.

Kita mulai terbiasa dengan keseluruhan sirkus dagelan ini, dan lupa bahwa: bangsa besar tidak dibangun oleh orang yang cerewet, tetapi oleh mereka yang berpikir, meneliti, dan bergerak.

Perlukah Kita Kembali Belajar Diam?

Barangkali itulah pesan tersirat lagu “Badut”. Ia bukan sekadar kritik, tetapi ajakan refleksi.

Di era penuh kegaduhan ini, justru kemampuan paling penting adalah: berhenti sejenak sebelum bicara; memahami sebelum menilai; mengambil jarak sebelum berkomentar; menimbang sebelum menekan tombol “kirim”.

Diam bukan berarti tidak peduli. Diam justru menunjukkan kedewasaan mengambil sikap. Barangkali kita butuh kembali belajar menjadi manusia yang berbicara karena tahu, bukan karena ingin didengar. Akhir kata sudut pandang ini, jangan sampai kita dipaksa menjadi badut.

Lagu “Badut” terasa seperti pesan lintas zaman. Ketika diciptakan, mungkin menggambarkan situasi sosial tertentu pada masa itu. Namun hari ini, ia menjadi cermin tajam bagi era digital.

Di tengah dunia yang dibanjiri suara, opini, konten, dan komentar: kita perlu menjaga kewarasan berpikir; kita perlu memelihara etika bicara; kita perlu mengingat bahwa suara yang paling berharga bukan yang terdengar paling keras, tetapi yang disampaikan paling bermakna.

Sebab jika tidak, kita akan terjebak pada ironi abadi, yaitu menjadi badut dalam hidup sendiri, tertawa di luar, tetapi sedih dan kosong di dalam. Dan bukankah itu tragedi di balik komedi terbesar zaman ini? Semoga kita menjadi sang pemberi makna dalam dunia yang fana ini. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: media
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Next Post

“House of the Rising Sun”: Jeritan Luka dari Alam Bawah Sadar

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“House of the Rising Sun”: Jeritan Luka dari Alam Bawah Sadar

"House of the Rising Sun": Jeritan Luka dari Alam Bawah Sadar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co