14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia (Media) yang Dipenuhi Badut

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 8, 2025
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

Dut badut badut badut badut badut badut, zaman sekarang
Mong omong omong omong omong omong omong omong sembarang,
Di televisi, di koran-koran, di dalam radio, di atas mimbar.
Nggut manggut manggut manggut manggut manggut manggut
Seperti badut, ya iya iya iya iya iya iya, ya iya iya.

(lirik lagu ”Badut”-Swami)

*

SATU lirik lagu “Badut”  karya Sawung Jabo dan Iwan Fals dalam album Swami, terasa sangat relevan dengan zaman sekarang: “Aku badut, badut yang bisa tertawa sedih…”  Baris sederhana itu bukan sekadar gambaran sosok pelawak panggung.

Ia adalah representasi manusia, yaitu kita semua, yang dalam tekanan realitas sosial, politik, dan media, dipaksa atau justru dengan sukarela tampil seperti badut: berbicara lantang tanpa kedalaman, menyampaikan pendapat tanpa dasar, dan menjadi tontonan massal tanpa menyadari bahwa diri sendiri telah kehilangan integritas. Artikel ini coba melihat ”parodi hidup dalam bingkai lirik lagu Badut”.

Seperti sekelompok orang yang ingin beraudiensi dengan Komisi Reformasi Polri, setelah gagal atau tidak jadi beraudiensi, karena tidak sesuai dengan daftar saat memohon bertemu, berbeda saat akan bertemu, seolah pihak komisioner menolak, dan ”menghukum”, satu contoh yang masih hangat. Masing-masing pihak sudah memberikan keterangan pada awak media, tinggal mata hati kita yang menilainya, siapa yang ”melucu”.

Media Sosial Menjadikan Semua Orang “Panggung”

Dulu, tidak semua orang punya mimbar. Untuk berbicara di ruang publik, seseorang harus melalui seleksi sosial, profesional, dan intelektual. Kini semuanya selesai dengan satu klik: gawai di tangan, kamera terbuka, dan unggahan meluncur tanpa refleksi.

Fenomena ini melahirkan apa yang semakin sering kita lihat: orang berbicara tanpa riset; opini dilempar seperti dagelan; fakta dikaburkan demi sensasi; argumentasi diganti drama; popularitas menjadi ukuran kebenaran.

Dalam situasi ini, kita seperti dikelilingi parade badut yang saling berebut perhatian. Mereka tertawa, marah, memaki, memprovokasi, tetapi sebenarnya rapuh dan kosong di dalam. Lirik lagu “Badut” menangkap perasaan itu: manusia yang menjadi pusat perhatian tetapi sekaligus bahan tontonan. Ia menampilkan diri dengan gagah, tetapi sesungguhnya tidak punya pijakan makna.

Politik, Komentar, dan Keriuhan Tanpa Isi

Fenomena “asal bicara” kini tidak hanya ada di media sosial. Di televisi, debat politik, dialog publik, bahkan rapat-rapat resmi negara pun sering berisi hujatan, sindiran, tanpa argumen yang berpihak pada publik.

Orang tak lagi sibuk membawa solusi. Yang mereka kejar adalah “narasi menang”, memojokan lawan bicara di mata penonton: siapa yang paling keras; siapa yang paling viral; siapa yang paling disorot kamera. Seperti seorang pengamat dengan bangga mengucapkan, ”bajingan tolol, dungu”, entah kata-kata kotor apa lagi, atau kelompok yang mengaku ilmuwan, peneliti dengan kata-kata berbagai hujatan pada yang dituduhkannya.

Seperti dalam sirkus, panggung media menuntut tontonan, bukan pemikiran. Banyak figur publik terjebak menjadi performer, bukan negarawan; menjadi komentator, bukan pemikir; menjadi badut, bukan pemimpin. Padahal, bangsa tidak berjalan oleh tepuk tangan dan celetukan, tetapi oleh kedewasaan intelektual dalam membaca persoalan.

Ketika Kecerdasan Publik Tergantikan Seni Menyerang

Setiap hari kita disuguhi ocehan: “Asal Viral, Maka Benar.”; “Asal Trending, Maka Penting.”; “Asal Nyambung dengan Emosi Massa, Maka Mendapat Pembenaran.”

Masyarakat pun ikut terbawa. Kita jadi bangsa yang ahli berkomentar tetapi miskin kehendak mempelajari sesuatu lebih dalam.

Dalam lagu “Badut”, kita merasakan kritik yang tajam terhadap manusia yang terjebak pencitraan: “Dunia tertawa melihat tingkahmu…”

Ini sindiran untuk zaman sekarang: kita bangga tampil di muka umum, tetapi tidak sadar menjadi obyek pergunjingan yang sebenarnya tidak membawa perubahan apa-apa.

Kita Juga Berpotensi Menjadi Badut

Kritik lagu ini justru paling tajam ketika diarahkan ke dalam diri kita sendiri. Kita semua pernah menjadi badut media: saat membagikan berita yang belum jelas kebenarannya; saat marah di kolom komentar tanpa membaca isi keseluruhan; saat merasa paling benar hanya karena mendengar dua menit potongan video; saat membela tokoh, kelompok, atau kepentingan tanpa pengetahuan memadai.

Media sosial memberi ruang bagi kita semua untuk unjuk bicara. Namun ruang itu juga membentuk kita menjadi: cepat bereaksi; lambat mencerna; rajin menilai; malas memahami.

Iwan Fals dan Sawung Jabo, lewat lagu ”Badut”, mengingatkan: manusia modern bisa tampil hebat di luar, tetapi di dalam hatinya tersisa kekosongan. Kita jadi pelawak bagi diri sendiri, karena pendapat yang kita keluarkan belum tentu memiliki pijakan nilai atau kebenaran.

Tontonan Menjadi Kebiasaan, Kebiasaan Menjadi Budaya

Gejala yang mengkhawatirkan adalah ketika “asal bicara” bukan lagi fenomena individu, tetapi berubah menjadi pola budaya.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu media: talkshow mendahulukan drama dibanding analisis; konten viral lebih dihargai daripada tulisan mendalam; pernyataan emosional lebih cepat dilirik daripada fakta.

Ketika itu berlangsung terus-menerus, kualitas ruang publik turun secara struktural. Ilmu kalah oleh meme. Solusi kalah oleh ejekan. Masa depan kalah oleh trending hari ini.

Kita mulai terbiasa dengan keseluruhan sirkus dagelan ini, dan lupa bahwa: bangsa besar tidak dibangun oleh orang yang cerewet, tetapi oleh mereka yang berpikir, meneliti, dan bergerak.

Perlukah Kita Kembali Belajar Diam?

Barangkali itulah pesan tersirat lagu “Badut”. Ia bukan sekadar kritik, tetapi ajakan refleksi.

Di era penuh kegaduhan ini, justru kemampuan paling penting adalah: berhenti sejenak sebelum bicara; memahami sebelum menilai; mengambil jarak sebelum berkomentar; menimbang sebelum menekan tombol “kirim”.

Diam bukan berarti tidak peduli. Diam justru menunjukkan kedewasaan mengambil sikap. Barangkali kita butuh kembali belajar menjadi manusia yang berbicara karena tahu, bukan karena ingin didengar. Akhir kata sudut pandang ini, jangan sampai kita dipaksa menjadi badut.

Lagu “Badut” terasa seperti pesan lintas zaman. Ketika diciptakan, mungkin menggambarkan situasi sosial tertentu pada masa itu. Namun hari ini, ia menjadi cermin tajam bagi era digital.

Di tengah dunia yang dibanjiri suara, opini, konten, dan komentar: kita perlu menjaga kewarasan berpikir; kita perlu memelihara etika bicara; kita perlu mengingat bahwa suara yang paling berharga bukan yang terdengar paling keras, tetapi yang disampaikan paling bermakna.

Sebab jika tidak, kita akan terjebak pada ironi abadi, yaitu menjadi badut dalam hidup sendiri, tertawa di luar, tetapi sedih dan kosong di dalam. Dan bukankah itu tragedi di balik komedi terbesar zaman ini? Semoga kita menjadi sang pemberi makna dalam dunia yang fana ini. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: media
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Next Post

“House of the Rising Sun”: Jeritan Luka dari Alam Bawah Sadar

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
“House of the Rising Sun”: Jeritan Luka dari Alam Bawah Sadar

"House of the Rising Sun": Jeritan Luka dari Alam Bawah Sadar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co