14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transmigrasi Bali: Ulangi Sejarah, Abaikan Ekologi, Hilangkan Identitas

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 8, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

WACANA pemerintah untuk kembali mengaktifkan program transmigrasi, termasuk kemungkinan mengirim warga Bali ke luar pulau, kembali memunculkan perdebatan lama tentang bagaimana negara memandang penduduk, tanah, dan ruang hidup. Pernyataan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Reforma Agraria di Bali bahwa pemerintah akan membuka jutaan hektare lahan pertanian baru dan meminta warga Bali untuk “disiapkan mengikuti transmigrasi” menghadirkan gema yang kuat dari masa lalu. Namun kali ini, wacana lama dilahirkan kembali justru di tengah krisis ekologis yang semakin dalam serta dinamika identitas yang kian rapuh digilas zaman.

Menengok Sejenak ke Belakang

Transmigrasi bukanlah sebuah kebijakan yang netral, ini adalah produk sejarah panjang negara yang berupaya untuk mengatur ruang dan penduduk. Akar program ini dapat ditarik sejak era kolonial melalui program kolonisatie—ketika pemerintah Hindia Belanda memindahkan penduduk dari Jawa ke Sumatra untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja perkebunan. Kemudian, di masa Orde Baru, transmigrasi mengalami perluasan yang begitu masif. Di antara 1979-1984, lebih dari dua juta orang dipindahkan dari Jawa, Bali, dan Madura ke luar pulau dengan dukungan Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya. Tujuan resmi program tersebut adalah mengurangi “kepadatan” Jawa-Bali, membuka lahan baru, dan mengentaskan kemiskinan.

Namun sejumlah studi menunjukkan bahwa transmigrasi Orde Baru memiliki tujuan politik yang tidak kalah signifikan: integrasi nasional, kontrol teritorial, dan ekspansi sumber daya. Penelitian Christoper Duncan (2007) maupun Tania Li (2014) menunjukkan bagaimana transmigrasi berperan memperkuat dominasi negara di wilayah-wilayah yang dianggap “rawan” atau jatuh dari pusat kekuasaan. Program ini berdampak besar terhadap masyarakat adat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, yang tanah adatnya dipetakan sebagai “lahan kosong” guna pemukiman baru.

Evaluasi Bank Dunia sendiri pada akhir 1990-an menyimpulkan bahwa hasil program ini jauh dari ekspektasi—banyak kawasan gagal secara agronomis, terjadi kerawanan pangan, konflik etnis, dan kerusakan lingkungan yang parah. Pada akhirnya, transmigrasi bukan hanya sekadar kebijakan, tetapi menjadi sebuah instrumen rekayasa sosial teritorial yang meninggalkan jejak panjang ketidakadilan ekologis dan identitas.

Upaya memindahkan penduduk Bali dan membuka jutaan hektare lahan baru—beresonansi kuat dengan logika Orde Baru tersebut. Meski konteks politik telah berubah, pola pikirnya masih sama—pusat dianggap padat, pinggiran dianggap kosong. Penduduk dipandang sebagai variabel yang bisa dipindahkan, dan ruang ekologis di luar Jawa-Bali dilihat sebagai aspek terdepan untuk ekspansi negara.

Lampaui Daya Dukung Lingkungan

Wacana transmigrasi hari ini muncul di momen ketika Indonesia mengalami krisis ekologis yang paling berat dalam dua dekade terakhir. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat di penghujung bulan November lalu, kemudian disusul di pelbagai daerah lain di Jawa, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur menjelma sebagai peringatan keras bahwa manusia telah melebihi daya dukung lingkungan (carrying capacity). Para ahli hidrologi dari UGM dan organisasi lingkungan, seperti WALHI menegaskan bahwa bencana ini bukan sekadar bencana alam—ini adalah bencana ekologis yang diakibatkan oleh deforestasi, konversi hutan menjadi sawit dan tambang, serta tata kelola lahan yang buruk.

Dalam kerangka analisis survivalisme, seperti yang dikembangkan Meadows et al., dalam The Limits to Growth (1972)—ketika suatu sistem ekologis memasuki fase overshoot, ia kehilangan kapasitas untuk menyerap guncangan. Ketika tekanan terus bertambah, sistem tersebut dapat jatuh ke fase collapse. Banjir bandang Sumatra adalah contoh nyata dari hasil analisis ini—kawasan hulu yang rusak tidak lagi mampu menahan air, sehingga hujan ekstrem terkonversi menjadi bencana ekologis.

Dalam konteks ini, wacana membuka 3 juta hektare lahan baru untuk program transmigrasi dan ketahanan pangan menjadi kontradiktif. Konsep “membuka lahan baru” berpotensi mengulang pola deforestasi yang justru sedang menjadi penyebab utama bencana. Dengan kata lain, wacana transmigrasi hari ini beroperasi dalam logika ecological externalization—menyelamatkan atau “mengurangi tekanan” di satu wilayah dengan memindahkan beban ekologis ke wilayah lain. Risiko ekologis tidak akan hilang, hal ini hanya sekadar memindahkan risiko dari satu tempat ke tempat lainnya.

Di samping itu, narasi “Bali sudah padat” yang ditegaskan oleh Koster selaku Gubernur Bali tidak memotret akar masalah sesungguhnya. Kepadatan ekstrem memang terjadi di Bali selatan, tetapi tekanan lingkungan Bali justru berasal dari fenomena pariwisata massal, alih fungsi sawah menjadi infrastruktur pariwisata, dan krisis air yang semakin akut dirasakan warga. Dengan demikian, memindahkan penduduk menjadi solusi yang salah sasaran—bukan jumlah penduduk yang menjadi penyebab utama kerusakan ekologis, tetapi model ekonomi dan tata ruang yang eksploitatif.

Kerentanan Adat dan Budaya Bali

Dimensi lain yang seringkali terabaikan dari program transmigrasi adalah identitas. Dalam konteks hari ini, Bali bukanlah sekadar wilayah administratif belaka, melainkan sebuah ruang kultural dengan struktur sosial khas berbasis desa adat, banjar, pura, sistem subak, dan lainnya. Identitas manusia Bali tidak dapat dipisahkan dari keterikatan pada tanah leluhur dan ritus komunal yang bersifat teritori. Di saat pemerintah menyebut warga Bali sebagai kelompok yang siap mengikuti program transmigrasi, maka identitas diposisikan seolah dapat dipindahkan begitu saja dari ruang sosial budaya yang memberinya makna.

Program transmigrasi bukanlah sekadar mobilisasi penduduk, tetapi membuka potensi bagi mobilitas identitas, bahkan pemutusan dari akar budaya. Dan kelompok yang paling mungkin menjadi target transmigrasi adalah petani kecil dan warga kelas bawah—kelompok yang paling terikat pada struktur adat, tetapi di waktu bersamaan, kelompok inilah yang paling rentan terdorong keluar akibat tekanan ekonomi dan pariwisata. Sedangkan kelompok elite dan investor yang menyebabkan degradasi lingkungan justru tetap tinggal dan menikmati keuntungan. Ironis bukan?

Di sisi lain, daerah tujuan transmigrasi sejatinya bukanlah ruang kosong. Ia adalah wilayah dengan identitas dan masyarakat adat yang rentan mengalami marginalisasi ketika penduduk baru dalam jumlah yang besar. Studi-studi tentang konflik komunal di Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi menunjukkan bahwa transmigrasi dapat menggeser keseimbangan identitas lokal dan menciptakan gesekan sosial jangka panjang. Pada akhirnya, program transmigrasi memproduksi ketidakadilan identitas ganda: menggerus identitas komunitas yang pergi, sekaligus mengancam identitas komunitas yang menerima.

Pentingnya Belajar dari Masa Lalu

Transmigrasi adalah upaya mereproduksi cara berpikir lama dalam konteks yang sudah berubah drastis. Dalam dunia yang sedang menghadapi krisis iklim, deforestasi akut, dan bencana ekologis yang berulang, kebijakan memperluas alih fungsi lahan dan memindahkan penduduk adalah langkah mundur. Terlebih lagi, di saat identitas lokal, seperti Bali sangat bergantung pada keterikatan ruang, transmigrasi justru membuka risiko kerentanan budaya dan ketidakadilan sosial. Alih-alih memindahkan warga ke luar Bali, hal penting yang dapat dilakukan di antaranya: mengendalikan pariwisata, mereformasi tata ruang, serta memperkuat perlindungan subak dan tanah adat harus menjadi prioritas pemerintah hari ini. Negara perlu bergerak menjadi dari logika eksploitatif masa lalu dan menuju kebijakan yang berpijak pada keadilan ekologis, sosial, dan kultural. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang balitransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Kembali Persatu Tuban dengan Sedikit Kesinisan

Next Post

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co