2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transmigrasi Bali: Ulangi Sejarah, Abaikan Ekologi, Hilangkan Identitas

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 8, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

WACANA pemerintah untuk kembali mengaktifkan program transmigrasi, termasuk kemungkinan mengirim warga Bali ke luar pulau, kembali memunculkan perdebatan lama tentang bagaimana negara memandang penduduk, tanah, dan ruang hidup. Pernyataan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Reforma Agraria di Bali bahwa pemerintah akan membuka jutaan hektare lahan pertanian baru dan meminta warga Bali untuk “disiapkan mengikuti transmigrasi” menghadirkan gema yang kuat dari masa lalu. Namun kali ini, wacana lama dilahirkan kembali justru di tengah krisis ekologis yang semakin dalam serta dinamika identitas yang kian rapuh digilas zaman.

Menengok Sejenak ke Belakang

Transmigrasi bukanlah sebuah kebijakan yang netral, ini adalah produk sejarah panjang negara yang berupaya untuk mengatur ruang dan penduduk. Akar program ini dapat ditarik sejak era kolonial melalui program kolonisatie—ketika pemerintah Hindia Belanda memindahkan penduduk dari Jawa ke Sumatra untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja perkebunan. Kemudian, di masa Orde Baru, transmigrasi mengalami perluasan yang begitu masif. Di antara 1979-1984, lebih dari dua juta orang dipindahkan dari Jawa, Bali, dan Madura ke luar pulau dengan dukungan Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya. Tujuan resmi program tersebut adalah mengurangi “kepadatan” Jawa-Bali, membuka lahan baru, dan mengentaskan kemiskinan.

Namun sejumlah studi menunjukkan bahwa transmigrasi Orde Baru memiliki tujuan politik yang tidak kalah signifikan: integrasi nasional, kontrol teritorial, dan ekspansi sumber daya. Penelitian Christoper Duncan (2007) maupun Tania Li (2014) menunjukkan bagaimana transmigrasi berperan memperkuat dominasi negara di wilayah-wilayah yang dianggap “rawan” atau jatuh dari pusat kekuasaan. Program ini berdampak besar terhadap masyarakat adat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, yang tanah adatnya dipetakan sebagai “lahan kosong” guna pemukiman baru.

Evaluasi Bank Dunia sendiri pada akhir 1990-an menyimpulkan bahwa hasil program ini jauh dari ekspektasi—banyak kawasan gagal secara agronomis, terjadi kerawanan pangan, konflik etnis, dan kerusakan lingkungan yang parah. Pada akhirnya, transmigrasi bukan hanya sekadar kebijakan, tetapi menjadi sebuah instrumen rekayasa sosial teritorial yang meninggalkan jejak panjang ketidakadilan ekologis dan identitas.

Upaya memindahkan penduduk Bali dan membuka jutaan hektare lahan baru—beresonansi kuat dengan logika Orde Baru tersebut. Meski konteks politik telah berubah, pola pikirnya masih sama—pusat dianggap padat, pinggiran dianggap kosong. Penduduk dipandang sebagai variabel yang bisa dipindahkan, dan ruang ekologis di luar Jawa-Bali dilihat sebagai aspek terdepan untuk ekspansi negara.

Lampaui Daya Dukung Lingkungan

Wacana transmigrasi hari ini muncul di momen ketika Indonesia mengalami krisis ekologis yang paling berat dalam dua dekade terakhir. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat di penghujung bulan November lalu, kemudian disusul di pelbagai daerah lain di Jawa, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur menjelma sebagai peringatan keras bahwa manusia telah melebihi daya dukung lingkungan (carrying capacity). Para ahli hidrologi dari UGM dan organisasi lingkungan, seperti WALHI menegaskan bahwa bencana ini bukan sekadar bencana alam—ini adalah bencana ekologis yang diakibatkan oleh deforestasi, konversi hutan menjadi sawit dan tambang, serta tata kelola lahan yang buruk.

Dalam kerangka analisis survivalisme, seperti yang dikembangkan Meadows et al., dalam The Limits to Growth (1972)—ketika suatu sistem ekologis memasuki fase overshoot, ia kehilangan kapasitas untuk menyerap guncangan. Ketika tekanan terus bertambah, sistem tersebut dapat jatuh ke fase collapse. Banjir bandang Sumatra adalah contoh nyata dari hasil analisis ini—kawasan hulu yang rusak tidak lagi mampu menahan air, sehingga hujan ekstrem terkonversi menjadi bencana ekologis.

Dalam konteks ini, wacana membuka 3 juta hektare lahan baru untuk program transmigrasi dan ketahanan pangan menjadi kontradiktif. Konsep “membuka lahan baru” berpotensi mengulang pola deforestasi yang justru sedang menjadi penyebab utama bencana. Dengan kata lain, wacana transmigrasi hari ini beroperasi dalam logika ecological externalization—menyelamatkan atau “mengurangi tekanan” di satu wilayah dengan memindahkan beban ekologis ke wilayah lain. Risiko ekologis tidak akan hilang, hal ini hanya sekadar memindahkan risiko dari satu tempat ke tempat lainnya.

Di samping itu, narasi “Bali sudah padat” yang ditegaskan oleh Koster selaku Gubernur Bali tidak memotret akar masalah sesungguhnya. Kepadatan ekstrem memang terjadi di Bali selatan, tetapi tekanan lingkungan Bali justru berasal dari fenomena pariwisata massal, alih fungsi sawah menjadi infrastruktur pariwisata, dan krisis air yang semakin akut dirasakan warga. Dengan demikian, memindahkan penduduk menjadi solusi yang salah sasaran—bukan jumlah penduduk yang menjadi penyebab utama kerusakan ekologis, tetapi model ekonomi dan tata ruang yang eksploitatif.

Kerentanan Adat dan Budaya Bali

Dimensi lain yang seringkali terabaikan dari program transmigrasi adalah identitas. Dalam konteks hari ini, Bali bukanlah sekadar wilayah administratif belaka, melainkan sebuah ruang kultural dengan struktur sosial khas berbasis desa adat, banjar, pura, sistem subak, dan lainnya. Identitas manusia Bali tidak dapat dipisahkan dari keterikatan pada tanah leluhur dan ritus komunal yang bersifat teritori. Di saat pemerintah menyebut warga Bali sebagai kelompok yang siap mengikuti program transmigrasi, maka identitas diposisikan seolah dapat dipindahkan begitu saja dari ruang sosial budaya yang memberinya makna.

Program transmigrasi bukanlah sekadar mobilisasi penduduk, tetapi membuka potensi bagi mobilitas identitas, bahkan pemutusan dari akar budaya. Dan kelompok yang paling mungkin menjadi target transmigrasi adalah petani kecil dan warga kelas bawah—kelompok yang paling terikat pada struktur adat, tetapi di waktu bersamaan, kelompok inilah yang paling rentan terdorong keluar akibat tekanan ekonomi dan pariwisata. Sedangkan kelompok elite dan investor yang menyebabkan degradasi lingkungan justru tetap tinggal dan menikmati keuntungan. Ironis bukan?

Di sisi lain, daerah tujuan transmigrasi sejatinya bukanlah ruang kosong. Ia adalah wilayah dengan identitas dan masyarakat adat yang rentan mengalami marginalisasi ketika penduduk baru dalam jumlah yang besar. Studi-studi tentang konflik komunal di Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi menunjukkan bahwa transmigrasi dapat menggeser keseimbangan identitas lokal dan menciptakan gesekan sosial jangka panjang. Pada akhirnya, program transmigrasi memproduksi ketidakadilan identitas ganda: menggerus identitas komunitas yang pergi, sekaligus mengancam identitas komunitas yang menerima.

Pentingnya Belajar dari Masa Lalu

Transmigrasi adalah upaya mereproduksi cara berpikir lama dalam konteks yang sudah berubah drastis. Dalam dunia yang sedang menghadapi krisis iklim, deforestasi akut, dan bencana ekologis yang berulang, kebijakan memperluas alih fungsi lahan dan memindahkan penduduk adalah langkah mundur. Terlebih lagi, di saat identitas lokal, seperti Bali sangat bergantung pada keterikatan ruang, transmigrasi justru membuka risiko kerentanan budaya dan ketidakadilan sosial. Alih-alih memindahkan warga ke luar Bali, hal penting yang dapat dilakukan di antaranya: mengendalikan pariwisata, mereformasi tata ruang, serta memperkuat perlindungan subak dan tanah adat harus menjadi prioritas pemerintah hari ini. Negara perlu bergerak menjadi dari logika eksploitatif masa lalu dan menuju kebijakan yang berpijak pada keadilan ekologis, sosial, dan kultural. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang balitransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Kembali Persatu Tuban dengan Sedikit Kesinisan

Next Post

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co