13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Kembali Persatu Tuban dengan Sedikit Kesinisan

Jaswanto by Jaswanto
December 8, 2025
in Esai
Menonton Kembali Persatu Tuban dengan Sedikit Kesinisan

Iryanto Wandik, nomor 7, berselebrasi seusai membobol gawang Bojonegoro FC | Foto: Instagram Persatu

LAGA pembuka Grup C Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026 antara Persatu Tuban dengan Bojonegoro FC di Stadion Tuban Sport Center (TSC) pada Minggu, 7 Desember 2025, di atas kertas dan di atas rumput stadion, seharusnya menjadi awal kebangkitan, bukan hanya bagi klub, tetapi bagi gairah sepak bola daerah yang sering kali diabaikan. Persatu, sebagai tuan rumah, sebelum laga bahkan memasang target tegas: poin penuh.

Dan itu bukan omong kosong. Begitu peluit kick-off ditiup, dalam lima menit saja, ketegangan itu berubah menjadi gol. Sosok Iryanto Wandik membuka skor dengan tenang— dan delapan menit kemudian, dia menggandakan keunggulan lewat tendangan voli keras. Dua gol cepat untuk Persatu.

Sore itu, bagi sebagian besar penonton, sudah bisa dihitung sebagai kemenangan moral. Stadion yang dipercaya sebagai tuan rumah, penonton pendukung, suasana kota yang sedikit bangkit, semuanya tampak ideal. Tapi seperti banyak hal indah dalam sepak bola amatir Indonesia, kenyataan setelah gol kedua menampakkan retak-retak sebagaimana rumput lapangan.

Setelah dua gol, Persatu tampak berhenti untuk benar-benar berkembang. Babak kedua berubah menjadi lemparan bola tanpa visi. Banyak peluang, pemain yang berlari cepat, sayap yang melebar dengan penyelesaian akhir yang mandul. Ketika Bojonegoro harus bermain dengan 10 pemain usai kartu merah, itu malah menjadi ironi tersendiri—semesta memberi keuntungan, tapi Persatu seperti kehilangan napsu untuk membunuh laga secepatnya.

Pertandingan Persatu Tuban melawan Bojonegoro FC, jika Anda lihat dari siaran langsung di YouTube PSSI Jatim yang gambarnya naik-turun seperti napas seseorang yang baru selesai berlari, tampak seperti pertandingan biasa―dua tim amatir, ribuan suporter, dan semangat yang lebih besar daripada kualitas lapangan. Namun seperti banyak hal di sepak bola akar rumput Jawa Timur, pertandingan semacam ini jarang benar-benar sederhana. Ada siasat, ada ekonomi, ada harga diri daerah, dan ada kegigihan ganjil yang hanya muncul dari klub yang hidupnya bergantung pada gotong-royong.

Pertandingan sore itu, jujur saja, tidak terlihat seperti laga sepak bola yang betul-betul ditata untuk dinikmati. Dari cara kamera bergoyang, sudut pengambilan gambar yang sering meleset dari bola, sampai kualitas audio yang lebih banyak menangkap hening ketimbang teriakan 4000 penonton yang hadir di stadion atau strategi permainan, semua terasa seperti laporan kegiatan karang taruna yang dipaksakan menjadi siaran resmi. Tapi justru karena itulah pertandingan ini menarik―ia memperlihatkan wajah asli sepak bola Jawa Timur yang keras kepala, tidak rapi, dan tetap saja berjalan meski semua alasan logis untuk berhenti sudah tersedia.

Persatu Tuban masuk ke lapangan TSC dengan beban yang tidak menampakkan dirinya secara terang, tetapi terasa dalam gerak para pemain. Bukan beban menjadi favorit, tetapi beban sejarah. Kegagalan beberapa tahun terakhir, keterpurukan finansial, degradasi identitas, dan rasa bahwa klub ini terlalu sering jatuh untuk ukuran klub yang punya massa pendukung cukup besar. Ketika manajemen berulang kali menegaskan target “poin penuh”, itu bukan hanya ambisi teknis; itu lebih seperti mantra untuk menenangkan kecemasan kolektif bahwa Persatu harus membuktikan dirinya tidak lagi sekadar serpihan dari masa lalu.

Di video pertandingan, dari menit awal Persatu mencoba membangun permainan lewat lini tengah dan sayap. Polanya tidak selalu rapi, tapi kelihatan bahwa mereka ingin memegang bola, ingin memaknai pertandingan sebagai proses menemukan kembali diri sendiri. Kadang, bola mereka hilang terlalu cepat, kadang penyelesaian mereka terburu-buru, tetapi ada usaha untuk menjaga ritme—meski sesekali ritme itu retak oleh tekanan Bojonegoro FC.

Sedangkan Bojonegoro FC datang dengan gaya yang bahkan terlihat lebih menyedihkan, hampir seperti tim futsal kampus yang dipaksa bermain di lapangan besar. Mereka menyerang dengan pola “lihat ruang-tendang-kejar-semoga beruntung” yang di level atas akan dirujak habis-habisan, tapi di pertandingan ini justru menjadi variasi yang membuat laga tidak sepenuhnya monoton. Ketika Persatu mencoba membangun serangan dengan alur yang rapi—atau setidaknya ingin terlihat rapi—Bojonegoro FC mematahkan semuanya dengan semacam ketidaksabaran agresif. Sinisnya begini, jika Persatu adalah tim yang berusaha tampil dewasa, Bojonegoro FC adalah anak kecil yang merusak permainan hanya karena ia bisa.

Dalam banyak momen, pertandingan ini terlihat seperti perlombaan siapa yang lebih mampu melakukan kesalahan lebih sedikit. Operan salah arah, kontrol bola lepas, crossing tanpa penerima, dan tembakan bebas yang melayang entah ke mana membuat pertandingan ini rasanya lebih dekat ke drama absurditas Samuel Beckett ketimbang laga sepak bola. Jika ada yang berharap menemukan pola permainan modern seperti inverted fullback atau high press rapi, ia pasti kecewa, sebab yang terjadi di lapangan lebih mirip permainan tug-of-war: tarik-ulur tenaga tanpa ide.

Namun, sebagai penikmat sepak bola, saya memaklumi semua itu dengan lapang dada. Tim Persatu musim ini benar-benar seperti baru terlahir kembali―dari mulai manajemen sampai pemain. Rasanya tak masuk akal memberi beban terlalu berat kepada bayi yang baru saja belajar merangkak. Ia lahir kembali saja saya sudah senang―dan memiliki harapan, tentu saja.

Sampai di sini, selain kelahiran dan kemenangan Persatu di laga awal, satu hal yang membuat saya senang berikutnya adalah bagaimana suporter tetap setia hadir di tribun. Tribun, tentu saja, menjadi satu-satunya hal yang tampak hidup. Saya kira, suporter Persatu bersorak bukan karena permainan indah, tetapi karena kebutuhan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa klub mereka masih berarti. Mereka tidak tiba untuk menyaksikan tontonan, tapi untuk mengaburkan kenyataan pahit, bahwa sejak bertahun-tahun lalu Persatu tidak pernah benar-benar berada pada jalur pembinaan yang jelas. Suporter sepak bola daerah memang punya kesetiaan yang luar biasa, tapi kesetiaan juga kadang merupakan bentuk penyangkalan massal.

Dan jika ada kritik paling sinis yang bisa diarahkan pada pertandingan ini, itu adalah kenyataan bahwa Liga 4 Jawa Timur selalu mengulang absurditas yang sama: kompetisi yang begitu ingin dianggap “serius”, tapi tidak pernah dibangun dengan keseriusan yang pantas. Pemain berlari sekeras mereka bisa, tetapi sistem tempat mereka berlari itu sendiri tidak pernah selesai dibangun. Wasit kadang tampak lebih bingung daripada pemain, dan atmosfer “resmi” dalam siaran terasa seperti usaha menambal kuali bocor dengan lakban.

Namun, di tengah segala ketidakberesan itu, rasa ironi terbesar justru lahir: pertandingan ini tetap penting. Tidak indah, tidak berkualitas, tapi penting. Persatu perlu pertandingan ini untuk mengingatkan bahwa mereka masih hidup. Bojonegoro FC perlu pertandingan ini untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar nama kabupaten di daftar peserta. Dan suporter—yang selalu menjadi korban pertama dari standar liga yang rendah—tetap datang karena di sini, di level paling bawah inilah, sepak bola masih menjadi satu-satunya hal yang bisa dipegang dengan jujur.

Dan pertandingan ini, dengan segala kekacauannya, mungkin justru contoh paling lengkap tentang bagaimana sepak bola daerah bertahan. Bukan dengan profesionalisme, bukan dengan dana, bahkan bukan dengan mutu, tetapi dengan keras kepala yang hampir konyol. Sebuah keras kepala yang entah perlu disyukuri atau dicemaskan.

Suporter Persatu sore itu mungkin bergembira—dua gol cepat, tiga poin di kandang, harapan kebangkitan selangkah lebih dekat. Tapi kemenangan begini, bila tidak diikuti perbaikan dari manajemen, pelatih, pemain, dan liga, bisa jadi hanya kilatan cahaya di malam gelap. Ingat, kegembiraan suporter tidak memberi gaji, tidak memberi pelatih tambahan pendapatan, tidak memperbaiki fasilitas, tidak menjamin kontinuitas. Semua fasilitas itu otomatis akan hadir lewat kualitas, prestasi, bukan rasa puas diri.

Saya ingat pepatah bahwa sepak bola daerah bukan soal hasil akhir saja, melainkan soal konsistensi struktur dan komunitas. Laga ini memberi tiga poin, memberi sorak, memberi harapan, tapi juga memberi pertanyaan besar: apakah setelah euforia ada kesungguhan untuk memperbaiki penyelesaian akhir, menjaga ritme, membenahi garis pertahanan, meningkatkan profesionalisme? Atau apakah semuanya kembali seperti biasa, dengan latihan seadanya, janji kosong, dan penonton yang cepat bosan ketika hasil tak lagi manis?

Sore itu, skor 2–0 memang cukup untuk membuka musim. Tapi di luar papan skor, pertandingan ini adalah cermi, betapa rapuhnya piramida sepak bola kita di level terendah; betapa mudahnya semangat dibakar untuk satu laga, lalu padam ketika lampu stadion mati dan suporter pulang. Sepak bola daerah sering dipuji dalam pidato, dibela dalam wacana, namun ketika tiba saat eksekusi—pendanaan, pembinaan, keberlanjutan—banyak yang lari tunggang-langgang.

Namun, saya tidak ingin terlalu sinis tanpa memberi ruang harapan. Karena justru dari laga seperti ini muncul urgensi bahwa kebangkitan Persatu atau klub-klub kecil lain tidak akan datang dari dua gol cepat, melainkan dari dua gol konsisten dalam membenahi fondasi—pelatih, fasilitas, disiplin latihan, manajemen keuangan, regenerasi pemain, dan yang paling penting: komunitas suporter yang menuntut tanggung jawab, bukan sekadar tepuk tangan.

Persatu menang di laga pembuka, tapi untuk memenangkan masa depan, mereka harus menang ulang, melawan ketidakpastian, melawan struktur yang rapuh, melawan budaya instan. Jika tidak, kemenangan itu hanya akan menjadi catatan statistik; dan sepak bola daerah kita tetap berjalan di atas retakan yang sama, generasi ke generasi, dengan mimpi besar yang selalu dimulai pada peluit pertama dan sering berakhir saat peluit panjang dibunyikan.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: olahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merindukan Kehidupan Berhala

Next Post

Transmigrasi Bali: Ulangi Sejarah, Abaikan Ekologi, Hilangkan Identitas

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Transmigrasi Bali: Ulangi Sejarah, Abaikan Ekologi, Hilangkan Identitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co