6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Son Lomri by Son Lomri
December 6, 2025
in Ulas Buku
Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Buku Trocoh

Seperti dikatakan Budi Warsito dalam bukunya Trocoh (2021) yang diterbitkan baNANA, trocoh (dalam istilah Jawa) artinya atap bocor. Dihubungkan dengan Budi; trocoh adalah tentang apa-apa yang berkelindan di kepalanya, menetes satu persatu menjadi 41 esai. Hal itu seperti sesuatu yang lain, seperti ingatan yang bocor dengan kecepatan 288 halaman.

Budi Warsito adalah warga Bandung, namun lahirnya di Sukoharjo tahun 1980. Di Bandung, ia mengurus Kineruku, sebuah toko buku dan perpustakaan. Pengalamannya soal menulis banyak.

Budi pernah mendekam—menulis naskah lawak untuk sebuah variety show di salah satu stasiun televisi, dan pernah tidak mendekam—alias pendek waktu menjadi pimred majalah hanya terbit empat edisi. Di peruntungan yang lain, Budi Warsito juga pernah menulis skenario film tapi gagal produksi. Yang lebih agak—membuat kesal Budi soal karir, ia juga pernah (hampir) memproduseri album musik indie dan ditawari menjadi aktor layar lebar, tapi dua-duanya gagal jadi.

Yang jadi hanyalah trocoh, sebuah buku kumpulan esai yang dihasilkannya dari apa-apa yang berkelindan di kepala, menetes sebagai ingatan dirinya tentang sesuatu, seperti; Lagu Nostalgia Gebrak-gebrak Meja, Gantungkan Cita-citamu Setinggi Atap, Di Studio, Aku Incar Topi Kesayanganmu, Kuis Bola di Radio, Gamelan untuk Ndoro Alien, Autogeddon Blues, Berlari ke Bukit, Menyelamatkan Siapa?, Satu Mangkok Saja Dua Ratus Perak, “you’are as useless as a soda truck”, Mengingat Kau Penuh Seluruh, dan Jeruk Kok Makan Orange?

Esai-esainya nyaris semua tentang memori penting seorang Budi Warsito yang agaknya tidak tahan lagi untuk ditampung sebagai ingatan yang berkesan. Dari pada banjir—ngomong-ngomong sendiri, lebih baik dibuat tulisan, barangkali begitu pikir Budi sebelum buku Trocoh ini ada.

Lantas satu persatu ia keluarkan dalam bentuk esai. Semua tulisannya menarik, bergizi sebagai pengetahuan—teruatama tentang musik lawas dan perjumpaannya dengan sesuatu—seperti teman yang mengenalkannya pada Anton Maiden meng-cover Iron Maiden dengan MIDI, berujung pada jatuh suka Budi pada Iron Maiden versi Anton Maiden.

Catatan-catatan Budi tentang ingatannya pada sesuatu itu, menarik saya untuk mengingat pernah punya teman yang menarik juga seperti Budi punya teman. Esai-esainya dalam Trocoh ini, akhirnya memantik saya—sebagai pembaca—untuk melacak tetangga saya yang suka Charlie Van Houtten (vokalis ST12) hanya karena rambut panjang belah dua sekitar tahun 2009-an, selain suka pada lagu-lagunya yang ketika itu sedang laku keras Putri Iklan pada Album P.U.S.P.A. di pasaran.

Esai-esai Trocoh adalah Arsip Penting Musik Lawas dan Ingatan Saya Pergi ke Tetangga Saya

Budi Warsito adalah pengarsip yang baik soal musik. Ia mengumpulkan terkait artefak pop culture seperti majalah bekas, buku dan koran tua, aneka musik dari kaset, CD, piringan hitam, reel-to-reel tape, film-film seluloid dan kaset VHS, Betamax, dan laserdisc. Dan yang paling penting, Trocoh memuat ingatan kecil seorang Budi Warsito sewaktu SD berhenti bercita-cita menjadi seorang profesor bahasa dengan anggapan terakhir; betapa ribetnya dunia cita-cita itu. Maka, ia menuliskannya lebih sederhana; Gantungkan Cita-citamu Setinggi Atap.

Usai membaca Trocoh, dari kejauhan pula saya seperti dibelai halus tangan Budi melalui ingatannya tentang sesuatu yang begitu detail ditulisnya tentang dunia musik rock, ada cerita gelap di batas penggemar. Di sebuah toilet, bagaimana Budi merasa diri penting untuk membuka kembali buku tentang heavy metal—sebagai arsip,dan menemukan nama Iron Maiden lalu mengingat Anton Maiden. Siapa—dan dari mana ia tahu Anton Maiden dalam meng-cover lagu-lagunya Iron Maiden dan begitu cepat dirinya langsung suka?

Dari seorang temannya bernama Jo. Yang ketika itu Jo cerita pada Budi ketika sedang hunting lagu Iron Maiden untuk karaokean, di internet Jo justru menemukan Anton Maiden, atau bernama asli Anton Gustafsson—asal Sewedia itu, sangat unik dan segar hasil interpretasinya tentang rock.

Iron Maiden, sebuah grup musik heavy metal asal Inggris diera 70-an, berpengaruh besar terkait gaya bermusiknya kala itu sehingga menghasilkan fans yang fanatik. Dan beberapa band seperti Deep Purple, Rainbow, Judas Priest, Alice Cooper, Led Zeppelin, dan Jimi Hendrix, ikut terpengaruh oleh grup band yang diciptakan oleh Steve Harris itu. Dan ketika Anton Maiden membawakan lagu-lagunya Iron Maiden menggunakan MIDI (Musical Instrument Digital Interface), telah memberi nuansa yang lebih berbeda terkait musik rock seharusnya keras, justru dibawakannya dengan suara fals dan warna musik yang lebih cair dan medok.

“Iron Maiden dia [Anton Gustafsson] bawain pakai MIDI! Paraaahhh, lu pasti suka!” kata Jo, ditulis Budi dengan presisi—Jo mengatakannya sambil tersenyum tengil ketika sedang membeli bakso cuanki Mang Somad di bawah pohon papaya.

Cover-an Anton Maiden unik didengar menurut Jo karena warna musiknya seperti musik di sebuah game, dan Anton bernyanyi tidak peduli pada selera umum jika menyanyi harus bagus suaranya, boleh juga fals dengan iringan musik yang lain-lain.

Dan ketika Anton Maiden atau bernama asli Gustafsson itu ditemukan oleh label rekaman Lunacy Records, sekitar tahun 1999-an Anton kemudian merilis album (hasil coverannya sendiri) dengan nama Anton Gustafsson tolkar Iron Maiden. Yang membuat Anton terkenal di tahun itu dan melejit namanya di Swedia—bahkan dunia. Ia masuk di tivi-tivi diundang beberapa kali, dan dibicarakan di koran-koran terkait kreatifitasnya yang membuat guncang dunia musik rock di kalangan sesama para penggemar. Lagu-lagu covernya pun diunduh lebih dari 1800 kali dalam seminggu (termasuk Jo barangkali ada di dalamnya ikut mengunduh untuk karaokean).

Namun kreatifitasnya itu membuat fans fanatiknya Iron Maiden terusik, dan mengatakan tindakan Anton adalah aib bagi Iron Maiden itu sendiri. Dan selang satu tahun sebelum kematiannya, Anton pernah menyatakan sikap pada sebuah surat kabar di negaranya tentang penggemar Iron Maiden, “Berpikir bahwa interpretasi saya merupakan aib bagi Iron Maiden, tetapi itu tidak pernah menjadi niat saya.” aku Anton Maiden suatu hari, lalu ia mencabut nyawanya sendiri di tahun depannya, 2003.

Demikianlah titik mulanya bagaimana di toilet, Budi Warsito mengingat lagi tentang Iron Maiden, diabadikan Anton Maiden lebih melekat—nyeleneh. Tapi itu jadi satu pandangan yang lain versi Anton terkait musik adalah kebebasan; boleh juga kok fals, dan diiringi musik yang lain-lain di batas penggemar.

“Musik metal jelas bukan selera terbesar saya, namun interpretasi Antonlah yang sontak memikat hati saya, bagaimana suara fals dia itu melaju kencang dan terjun bebas di antara beat-beat videogame yang lucu.” tulis Budi Warsito tentang Anton Maiden memiliki interpretasi lain tentang musik rock melalui esainya Berlari ke Bukit, Menyelamatkan Siapa?

Saya sempat mencari tahu Anton Maiden di YouTube karena rasa penasaran juga, seperti apa coveran-nya Anton Maiden yang disebut-sebut Jo dan dikenang Budi Warsito itu di toilet? Hasilnyamemang tidak terduga. Pada judul Can I Play With Madnees, betul-betul suara falsnya Anton terbang-bebas berlabuh pada warna musik yang lebih cair dan unyuk ketika menggunakan MIDI, dan ingatan saya tiba-tiba pergi kepada tetangga saya bernama Kang Zenal. Yang suka betul ia dengan ST12 ketika tahun 2009. Band yang digawangi Charlie Van Houtten ini, sedang banyak diminati oleh kebanyakan lelaki di kampung saya memang, dan salah satunya Kang Zenal itu.

Dengan gaya rambut Charlie yang dibelah dua, cukup gaul sebagai vokalis band—yang ketika itu Ariel Peterpan (sekarang Noah) juga rambutnya dibelah dua, dan Andika Kangen band tetap dengan rambut menutup kedua matanya, namun lagu-lagunya sama lakunya di pasar Padarincang, atau 15 menit dari rumah saya.

Tapi saya tidak suka ST12 dan Kangen Band, saya sukanya Peterpan hanya karena lagu Bintang di Surga, vidio klipnya ada adegan tembak-tembakan. Beberapa lagu dari Peterpan yang lainnya saya suka, adalah Tak Ada Yang Abadi dan Semua Tentang Kita—hanya karena intro gitarnya yang menurut saya seperti mengoleskan slai rasa coklat pada roti tawar menjelang buka puasa di bulan Ramadhan, memberi kesan yang mewah dari pada gorengan sebagai hidangan pembuka.

Dan bagaimana Kang Zenal mengikuti ST12—tidak saja membeli kaset-kasetnya di pasar, tapi ia juga mengunduh versi MP3-nya di warnet dan yang lain-lain diikutinya juga. Seperti gaya bicara serak basah karakter Charlie Van Houtten dan cara berpakaiannya, termasuk itu gaya rambutnya dibelah dua menirukan Charlie.

Dulu itu di kampung saya ada buku (seperti majalah tapi bukan majalah) isinya hanya cord gitar (dari Dewa-19, Wali Band, Ungu, Hijau Daun, Peterpan, Kangen Band, dan ST12, ada di dalamnya). Dan yang jualan itu adalah Mamang Grandong (sebutan untuk Mang Sam’un; jual-beli rongsok keliling yang difitnah tetangga saya suka menculik anak-anak hanya karena anaknya si tetangga saya agar tidak ikutan beli majalah dewasa dan buku-buku isinya hanya cord gitar sebab anaknya masih kecil).

Yang sekarang saya tidak bisa melacak ke mana Mang Sam’un pergi dan bernasib apa sekarang. Tapi setelah diselidiki, ternyata Kang Zenal tidak mengidolakan sampe mati band ST12, ia justru memilih menjadi fans hidup-hidupnya Charlie Van Houtten, walaupun sebenarnya sudah mengumpulkan banyak buku-buku berisikan cord gitar nyaris di semua album ST12 yang dibelinya di Mang Sam’un.

Karena ketika ST12 yang digawangi Charlie itu pecah menjadi dua; yaitu Setia Band yang kita kenal sekarang dengan vokalisnya masih tetap Charlie, sementara ST12 bertahan dengan format baru; Ilham Febry (Pepep), Muh. Indra Gunawan (Indra), dan Firman Siagian menggantikan posisi Charlie.

Kang Zenal ketahuan berada di barisan Charlie Van Houtten dengan Setia Bandnya, dari pada di belakang Pepep dengan ST12-nya. Dan ia ada dibarisan Setiaku yang lainnya (sebutan fans Setia Band) berfoto bersama di satu konser. Jadi, bisa ditebak bagi Kang Zenal, Charlie adalah nyawa tidak saja di ST12, tetapi juga di setiap lagu-lagunya, termasuk lagu-lagu terbarunya dari Setia Band yang sekarang. Yang kemudian di tahun 2022, Kang Zenal, membuka usaha kecil-kecilan dengan nama “Zenal Setiaku Cell”—sembari pasang foto dirinya bersama Charlie lagi berduaan.

Sungguh setia. Seperti yang ditangkap dari esai-esainya Budi Warsito dalam Trocoh itu, musik membawa seseorang pada interpretasi yang tak mesti sama. Dan Kang Zenal, menyanyikan Putri Iklan dengan suara fals nyambi jualan pulsa, sungguh tidak apa-apa. Ia menghiraukan bulian orang-orang kampung terkait dirinya si paling Charlie.

Padahal, seharusnya, memang setiap fans pada musik jenis apapun itu, sekadar mencintai sosok si penyanyi atau lagu-lagunya dari sebuah grup band, cinta membawa seseorang untuk bergerak; seperti Anton Maiden yang terbang bebas suara falsnya di antara bite-bite musik game. Tapi sayang dibuli hanya karena dianggap aneh; mestikah dunia musik itu menyeramkan? [T]

Penulis: Son Lomri
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bukuesai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Next Post

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Empat Hari yang Mengikat Kebersamaan ─ Cerita Jeda Semester Ganjil di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co