3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Jaswanto by Jaswanto
December 6, 2025
in Esai
Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Ramon Tanque (depan) setelah mencetak gol penyama kedudukan | Foto: tangkapan layar

ADA malam-malam tertentu dalam sepak bola Indonesia yang terasa seperti cermin—ia memantulkan lebih banyak dari sekadar skor pertandingan. Laga Persib Bandung melawan Borneo FC pada 5 Desember 2025 adalah salah satunya. Di atas kertas, hasil akhirnya tercatat rapi: Persib menang 3–1 setelah sempat tertinggal oleh gol Joel Vinicius di menit ke-18, lalu membalik keadaan lewat Ramon Tanque, Federico Barba, dan Saddil Ramdani.

Namun, di luar angka dan nama pencetak gol itu, pertandingan ini bekerja seperti cerita pendek yang ditulis dengan ritme getir dan pulih, dan kita yang menonton menjadi pembaca yang perlahan menyadari pesan moral terselip di antara duel lini tengah dan gesekan sepatu di rumput.

Borneo datang dengan status pemuncak klasemen. Mereka tengah berada di fase percaya diri, sebuah posisi yang dalam dunia sepak bola mungkin digambarkan sebagai “masa ketika tim merasa dunia telah berpihak, padahal dunia sejatinya tak pernah benar-benar punya keberpihakan”. Gol cepat Vinicius—yang berawal dari kelengahan lini belekang Persib membaca pergerakan dan koordinasi bertahan yang terlambat sepersekian detik—seakan menegaskan bahwa tim tamu datang bukan untuk bertahan. Ada ketenangan pada cara Borneo bermain setelah unggul, seolah-olah mereka tahu benar bahwa Liga 1 musim ini sedang mengikuti garis besar naskah mereka.

Tapi sepak bola tidak membaca naskah. Ia hidup dari gangguan, dari ketidakterdugaan, dari arus liar yang membuat tim unggul harus memilih antara menggenggam keunggulan terlalu kuat atau membiarkannya lepas begitu saja. Persib berada dalam situasi itu—sebuah titik di mana sebuah tim besar diuji, bukan oleh lawan, melainkan oleh dirinya sendiri. Ketertinggalan di kandang sendiri mudah berubah menjadi kepanikan. Dan kepanikan bisa menular, seperti kabut yang turun perlahan tapi berkelanjutan.

Justru di area abu-abu itulah Persib menemukan kembali dirinya. Ramon Tanque menyamakan kedudukan di menit ke-40, gol yang tampak seperti pukulan kecil ke pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Gol itu tidak hanya menyelamatkan skor; ia menyelamatkan moral. Ia mengendurkan tegangnya syaraf para pemain, mengembalikan ritme, sekaligus mengganti suasana stadion: desah cemas berubah jadi sorak yang menggelegak.

Dalam narasi kesadaran diri, saat-saat seperti itu sering diterjemahkan sebagai momen ketika manusia menyadari batas kekuatannya, lalu memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Persib seakan berkata pada dirinya sendiri: “Kami belum selesai.”

***

Babak kedua menjadi demonstrasi paling telanjang tentang bagaimana momentum bekerja. Federico Barba mencetak gol kedua Persib di menit ke-50—awal yang ideal, penanda bahwa pertandingan kini telah berpindah tangan. Gol itu lahir dari kombinasi antara ketepatan posisi, konsistensi tekanan, serta keberuntungan kecil yang selalu diperlukan dalam sepak bola.

Pada saat itu, menjadi jelas bahwa Borneo tidak lagi berada dalam ruang bermain yang nyaman. Mereka sedikit terlambat menutup ruang, sedikit terlalu lambat dalam mengalirkan bola. Perubahan kecil semacam itu bisa berlipat ganda efeknya, seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau dan memicu gelombang yang membesar.

Jika ada satu momen yang merangkum seluruh pertandingan, barangkali itu adalah gol Saddil Ramdani di masa injury time. Ia datang sebagai penutup cerita, semacam kalimat terakhir yang membuat pembaca menutup buku dengan rasa puas. Gol itu bukan hanya memastikan kemenangan, melainkan mengukuhkan bahwa perjuangan pantang menyerah yang dibangun sejak tertinggal di menit ke-18 bukan sekadar ledakan sesaat. Ia konsisten, stabil, dan berpuncak dengan cantik. Saddil mencatatkan gol ke gawang Borneo, menyelipkan lapisan emosional yang tak bisa dibaca hanya dari papan skor.

Namun, esai ini bukan hendak memuja Persib sebagai pahlawan tunggal. Justru pertandingan semacam ini menarik karena memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, pihak yang kalah pun menyumbang makna yang sama pentingnya. Borneo datang sebagai pemuncak klasemen yang sedang mencari jarak aman. Dua kekalahan beruntun sekarang memaksa mereka berkaca. Di titik ini, sepak bola menunjukkan wataknya yang egaliter: bahkan yang di puncak bisa mengalami kerentanan.

Dan kerentanan bukanlah musuh, ia adalah pengingat bahwa tidak ada posisi yang aman jika kita berhenti berkembang. Pelatih Borneo memberi selamat kepada Persib dalam konferensi pers setelah pertandingan, sebuah gestur yang terdengar sederhana, tapi di sepak bola Indonesia—yang kerap terjebak dalam antagonisme—gestur seperti itu justru menjadi contoh sportifitas yang patut diapresiasi.

Liga 1 musim ini, dengan segala kejutannya, tampak seperti arena tempat tim-tim belajar menjadi dewasa. Persib yang membayang-bayangi, Borneo yang terpeleset, tim-tim lain yang menunggu peluang, semuanya bergerak dalam perjalanan kompetisi yang sehat. Sepak bola, jika dikelola dengan etika, bisa menjadi ruang belajar yang paling egaliter: pemain dari latar manapun bisa bersinar, suporter dari berbagai kelas sosial bisa duduk berdekatan, dan kemenangan selalu lahir dari kerja kolektif, bukan satu nama saja.

Malam itu, Persib memberi gambaran tentang bagaimana sebuah tim bisa berubah ketika bertemu keadaan yang tidak menguntungkan. Mereka memilih jalan yang tidak selalu dipilih. Alih-alih membiarkan tekanan memecah mereka, mereka menggunakannya sebagai alasan untuk menyusun ulang keberanian. Pertandingan itu menjadi metafora bagi hal-hal yang lebih luas, bahwa hidup pun sering menempatkan kita dalam posisi tertinggal, nyaris kalah, dan digempur keadaan.

Namun, seperti gol Ramon Tanque di menit ke-40, kadang kemenangan dimulai dari satu upaya kecil yang tidak terlihat heroik, tapi cukup untuk mengubah arah.

Sepak bola sering kali dijadikan alasan untuk ribut—suporter berselisih, klub saling sindir, media sosial menjadi arena panas. Tapi pertandingan seperti Persib vs Borneo ini menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi pembelajaran sosial, tentang bangkit, tentang merelakan, tentang menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan tentang merayakan kemenangan tanpa menginjak lawan.

Dan saat para pemain berjalan ke ruang ganti setelah peluit panjang, kita tahu bahwa apa yang tersisa bukan hanya angka. Yang tersisa adalah pengingat sederhana bahwa dalam hidup maupun sepak bola, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kesabaran, tidak ada kekalahan yang layak disesali berlebihan, dan tidak ada kompetisi yang benar-benar bermakna tanpa rasa saling menghormati.

Malam itu, Persib menang. Tapi lebih dari itu, sepak bola Indonesia—setidaknya untuk satu malam—menjadi tempat di mana kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik. Selamat, Sib.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: olahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Rush to Paradise”: Menuju Surga Kehancuran?

Next Post

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca 'Trocoh'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co