2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Jaswanto by Jaswanto
December 6, 2025
in Esai
Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Ramon Tanque (depan) setelah mencetak gol penyama kedudukan | Foto: tangkapan layar

ADA malam-malam tertentu dalam sepak bola Indonesia yang terasa seperti cermin—ia memantulkan lebih banyak dari sekadar skor pertandingan. Laga Persib Bandung melawan Borneo FC pada 5 Desember 2025 adalah salah satunya. Di atas kertas, hasil akhirnya tercatat rapi: Persib menang 3–1 setelah sempat tertinggal oleh gol Joel Vinicius di menit ke-18, lalu membalik keadaan lewat Ramon Tanque, Federico Barba, dan Saddil Ramdani.

Namun, di luar angka dan nama pencetak gol itu, pertandingan ini bekerja seperti cerita pendek yang ditulis dengan ritme getir dan pulih, dan kita yang menonton menjadi pembaca yang perlahan menyadari pesan moral terselip di antara duel lini tengah dan gesekan sepatu di rumput.

Borneo datang dengan status pemuncak klasemen. Mereka tengah berada di fase percaya diri, sebuah posisi yang dalam dunia sepak bola mungkin digambarkan sebagai “masa ketika tim merasa dunia telah berpihak, padahal dunia sejatinya tak pernah benar-benar punya keberpihakan”. Gol cepat Vinicius—yang berawal dari kelengahan lini belekang Persib membaca pergerakan dan koordinasi bertahan yang terlambat sepersekian detik—seakan menegaskan bahwa tim tamu datang bukan untuk bertahan. Ada ketenangan pada cara Borneo bermain setelah unggul, seolah-olah mereka tahu benar bahwa Liga 1 musim ini sedang mengikuti garis besar naskah mereka.

Tapi sepak bola tidak membaca naskah. Ia hidup dari gangguan, dari ketidakterdugaan, dari arus liar yang membuat tim unggul harus memilih antara menggenggam keunggulan terlalu kuat atau membiarkannya lepas begitu saja. Persib berada dalam situasi itu—sebuah titik di mana sebuah tim besar diuji, bukan oleh lawan, melainkan oleh dirinya sendiri. Ketertinggalan di kandang sendiri mudah berubah menjadi kepanikan. Dan kepanikan bisa menular, seperti kabut yang turun perlahan tapi berkelanjutan.

Justru di area abu-abu itulah Persib menemukan kembali dirinya. Ramon Tanque menyamakan kedudukan di menit ke-40, gol yang tampak seperti pukulan kecil ke pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Gol itu tidak hanya menyelamatkan skor; ia menyelamatkan moral. Ia mengendurkan tegangnya syaraf para pemain, mengembalikan ritme, sekaligus mengganti suasana stadion: desah cemas berubah jadi sorak yang menggelegak.

Dalam narasi kesadaran diri, saat-saat seperti itu sering diterjemahkan sebagai momen ketika manusia menyadari batas kekuatannya, lalu memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Persib seakan berkata pada dirinya sendiri: “Kami belum selesai.”

***

Babak kedua menjadi demonstrasi paling telanjang tentang bagaimana momentum bekerja. Federico Barba mencetak gol kedua Persib di menit ke-50—awal yang ideal, penanda bahwa pertandingan kini telah berpindah tangan. Gol itu lahir dari kombinasi antara ketepatan posisi, konsistensi tekanan, serta keberuntungan kecil yang selalu diperlukan dalam sepak bola.

Pada saat itu, menjadi jelas bahwa Borneo tidak lagi berada dalam ruang bermain yang nyaman. Mereka sedikit terlambat menutup ruang, sedikit terlalu lambat dalam mengalirkan bola. Perubahan kecil semacam itu bisa berlipat ganda efeknya, seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau dan memicu gelombang yang membesar.

Jika ada satu momen yang merangkum seluruh pertandingan, barangkali itu adalah gol Saddil Ramdani di masa injury time. Ia datang sebagai penutup cerita, semacam kalimat terakhir yang membuat pembaca menutup buku dengan rasa puas. Gol itu bukan hanya memastikan kemenangan, melainkan mengukuhkan bahwa perjuangan pantang menyerah yang dibangun sejak tertinggal di menit ke-18 bukan sekadar ledakan sesaat. Ia konsisten, stabil, dan berpuncak dengan cantik. Saddil mencatatkan gol ke gawang Borneo, menyelipkan lapisan emosional yang tak bisa dibaca hanya dari papan skor.

Namun, esai ini bukan hendak memuja Persib sebagai pahlawan tunggal. Justru pertandingan semacam ini menarik karena memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, pihak yang kalah pun menyumbang makna yang sama pentingnya. Borneo datang sebagai pemuncak klasemen yang sedang mencari jarak aman. Dua kekalahan beruntun sekarang memaksa mereka berkaca. Di titik ini, sepak bola menunjukkan wataknya yang egaliter: bahkan yang di puncak bisa mengalami kerentanan.

Dan kerentanan bukanlah musuh, ia adalah pengingat bahwa tidak ada posisi yang aman jika kita berhenti berkembang. Pelatih Borneo memberi selamat kepada Persib dalam konferensi pers setelah pertandingan, sebuah gestur yang terdengar sederhana, tapi di sepak bola Indonesia—yang kerap terjebak dalam antagonisme—gestur seperti itu justru menjadi contoh sportifitas yang patut diapresiasi.

Liga 1 musim ini, dengan segala kejutannya, tampak seperti arena tempat tim-tim belajar menjadi dewasa. Persib yang membayang-bayangi, Borneo yang terpeleset, tim-tim lain yang menunggu peluang, semuanya bergerak dalam perjalanan kompetisi yang sehat. Sepak bola, jika dikelola dengan etika, bisa menjadi ruang belajar yang paling egaliter: pemain dari latar manapun bisa bersinar, suporter dari berbagai kelas sosial bisa duduk berdekatan, dan kemenangan selalu lahir dari kerja kolektif, bukan satu nama saja.

Malam itu, Persib memberi gambaran tentang bagaimana sebuah tim bisa berubah ketika bertemu keadaan yang tidak menguntungkan. Mereka memilih jalan yang tidak selalu dipilih. Alih-alih membiarkan tekanan memecah mereka, mereka menggunakannya sebagai alasan untuk menyusun ulang keberanian. Pertandingan itu menjadi metafora bagi hal-hal yang lebih luas, bahwa hidup pun sering menempatkan kita dalam posisi tertinggal, nyaris kalah, dan digempur keadaan.

Namun, seperti gol Ramon Tanque di menit ke-40, kadang kemenangan dimulai dari satu upaya kecil yang tidak terlihat heroik, tapi cukup untuk mengubah arah.

Sepak bola sering kali dijadikan alasan untuk ribut—suporter berselisih, klub saling sindir, media sosial menjadi arena panas. Tapi pertandingan seperti Persib vs Borneo ini menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi pembelajaran sosial, tentang bangkit, tentang merelakan, tentang menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan tentang merayakan kemenangan tanpa menginjak lawan.

Dan saat para pemain berjalan ke ruang ganti setelah peluit panjang, kita tahu bahwa apa yang tersisa bukan hanya angka. Yang tersisa adalah pengingat sederhana bahwa dalam hidup maupun sepak bola, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kesabaran, tidak ada kekalahan yang layak disesali berlebihan, dan tidak ada kompetisi yang benar-benar bermakna tanpa rasa saling menghormati.

Malam itu, Persib menang. Tapi lebih dari itu, sepak bola Indonesia—setidaknya untuk satu malam—menjadi tempat di mana kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik. Selamat, Sib.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: olahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Rush to Paradise”: Menuju Surga Kehancuran?

Next Post

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca 'Trocoh'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co