2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Jaswanto by Jaswanto
December 6, 2025
in Esai
Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Ramon Tanque (depan) setelah mencetak gol penyama kedudukan | Foto: tangkapan layar

ADA malam-malam tertentu dalam sepak bola Indonesia yang terasa seperti cermin—ia memantulkan lebih banyak dari sekadar skor pertandingan. Laga Persib Bandung melawan Borneo FC pada 5 Desember 2025 adalah salah satunya. Di atas kertas, hasil akhirnya tercatat rapi: Persib menang 3–1 setelah sempat tertinggal oleh gol Joel Vinicius di menit ke-18, lalu membalik keadaan lewat Ramon Tanque, Federico Barba, dan Saddil Ramdani.

Namun, di luar angka dan nama pencetak gol itu, pertandingan ini bekerja seperti cerita pendek yang ditulis dengan ritme getir dan pulih, dan kita yang menonton menjadi pembaca yang perlahan menyadari pesan moral terselip di antara duel lini tengah dan gesekan sepatu di rumput.

Borneo datang dengan status pemuncak klasemen. Mereka tengah berada di fase percaya diri, sebuah posisi yang dalam dunia sepak bola mungkin digambarkan sebagai “masa ketika tim merasa dunia telah berpihak, padahal dunia sejatinya tak pernah benar-benar punya keberpihakan”. Gol cepat Vinicius—yang berawal dari kelengahan lini belekang Persib membaca pergerakan dan koordinasi bertahan yang terlambat sepersekian detik—seakan menegaskan bahwa tim tamu datang bukan untuk bertahan. Ada ketenangan pada cara Borneo bermain setelah unggul, seolah-olah mereka tahu benar bahwa Liga 1 musim ini sedang mengikuti garis besar naskah mereka.

Tapi sepak bola tidak membaca naskah. Ia hidup dari gangguan, dari ketidakterdugaan, dari arus liar yang membuat tim unggul harus memilih antara menggenggam keunggulan terlalu kuat atau membiarkannya lepas begitu saja. Persib berada dalam situasi itu—sebuah titik di mana sebuah tim besar diuji, bukan oleh lawan, melainkan oleh dirinya sendiri. Ketertinggalan di kandang sendiri mudah berubah menjadi kepanikan. Dan kepanikan bisa menular, seperti kabut yang turun perlahan tapi berkelanjutan.

Justru di area abu-abu itulah Persib menemukan kembali dirinya. Ramon Tanque menyamakan kedudukan di menit ke-40, gol yang tampak seperti pukulan kecil ke pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Gol itu tidak hanya menyelamatkan skor; ia menyelamatkan moral. Ia mengendurkan tegangnya syaraf para pemain, mengembalikan ritme, sekaligus mengganti suasana stadion: desah cemas berubah jadi sorak yang menggelegak.

Dalam narasi kesadaran diri, saat-saat seperti itu sering diterjemahkan sebagai momen ketika manusia menyadari batas kekuatannya, lalu memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Persib seakan berkata pada dirinya sendiri: “Kami belum selesai.”

***

Babak kedua menjadi demonstrasi paling telanjang tentang bagaimana momentum bekerja. Federico Barba mencetak gol kedua Persib di menit ke-50—awal yang ideal, penanda bahwa pertandingan kini telah berpindah tangan. Gol itu lahir dari kombinasi antara ketepatan posisi, konsistensi tekanan, serta keberuntungan kecil yang selalu diperlukan dalam sepak bola.

Pada saat itu, menjadi jelas bahwa Borneo tidak lagi berada dalam ruang bermain yang nyaman. Mereka sedikit terlambat menutup ruang, sedikit terlalu lambat dalam mengalirkan bola. Perubahan kecil semacam itu bisa berlipat ganda efeknya, seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau dan memicu gelombang yang membesar.

Jika ada satu momen yang merangkum seluruh pertandingan, barangkali itu adalah gol Saddil Ramdani di masa injury time. Ia datang sebagai penutup cerita, semacam kalimat terakhir yang membuat pembaca menutup buku dengan rasa puas. Gol itu bukan hanya memastikan kemenangan, melainkan mengukuhkan bahwa perjuangan pantang menyerah yang dibangun sejak tertinggal di menit ke-18 bukan sekadar ledakan sesaat. Ia konsisten, stabil, dan berpuncak dengan cantik. Saddil mencatatkan gol ke gawang Borneo, menyelipkan lapisan emosional yang tak bisa dibaca hanya dari papan skor.

Namun, esai ini bukan hendak memuja Persib sebagai pahlawan tunggal. Justru pertandingan semacam ini menarik karena memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, pihak yang kalah pun menyumbang makna yang sama pentingnya. Borneo datang sebagai pemuncak klasemen yang sedang mencari jarak aman. Dua kekalahan beruntun sekarang memaksa mereka berkaca. Di titik ini, sepak bola menunjukkan wataknya yang egaliter: bahkan yang di puncak bisa mengalami kerentanan.

Dan kerentanan bukanlah musuh, ia adalah pengingat bahwa tidak ada posisi yang aman jika kita berhenti berkembang. Pelatih Borneo memberi selamat kepada Persib dalam konferensi pers setelah pertandingan, sebuah gestur yang terdengar sederhana, tapi di sepak bola Indonesia—yang kerap terjebak dalam antagonisme—gestur seperti itu justru menjadi contoh sportifitas yang patut diapresiasi.

Liga 1 musim ini, dengan segala kejutannya, tampak seperti arena tempat tim-tim belajar menjadi dewasa. Persib yang membayang-bayangi, Borneo yang terpeleset, tim-tim lain yang menunggu peluang, semuanya bergerak dalam perjalanan kompetisi yang sehat. Sepak bola, jika dikelola dengan etika, bisa menjadi ruang belajar yang paling egaliter: pemain dari latar manapun bisa bersinar, suporter dari berbagai kelas sosial bisa duduk berdekatan, dan kemenangan selalu lahir dari kerja kolektif, bukan satu nama saja.

Malam itu, Persib memberi gambaran tentang bagaimana sebuah tim bisa berubah ketika bertemu keadaan yang tidak menguntungkan. Mereka memilih jalan yang tidak selalu dipilih. Alih-alih membiarkan tekanan memecah mereka, mereka menggunakannya sebagai alasan untuk menyusun ulang keberanian. Pertandingan itu menjadi metafora bagi hal-hal yang lebih luas, bahwa hidup pun sering menempatkan kita dalam posisi tertinggal, nyaris kalah, dan digempur keadaan.

Namun, seperti gol Ramon Tanque di menit ke-40, kadang kemenangan dimulai dari satu upaya kecil yang tidak terlihat heroik, tapi cukup untuk mengubah arah.

Sepak bola sering kali dijadikan alasan untuk ribut—suporter berselisih, klub saling sindir, media sosial menjadi arena panas. Tapi pertandingan seperti Persib vs Borneo ini menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi pembelajaran sosial, tentang bangkit, tentang merelakan, tentang menerima kekalahan dengan kepala tegak, dan tentang merayakan kemenangan tanpa menginjak lawan.

Dan saat para pemain berjalan ke ruang ganti setelah peluit panjang, kita tahu bahwa apa yang tersisa bukan hanya angka. Yang tersisa adalah pengingat sederhana bahwa dalam hidup maupun sepak bola, tidak ada kemenangan yang datang tanpa kesabaran, tidak ada kekalahan yang layak disesali berlebihan, dan tidak ada kompetisi yang benar-benar bermakna tanpa rasa saling menghormati.

Malam itu, Persib menang. Tapi lebih dari itu, sepak bola Indonesia—setidaknya untuk satu malam—menjadi tempat di mana kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik. Selamat, Sib.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: olahragasepakbolaulasan sepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Rush to Paradise”: Menuju Surga Kehancuran?

Next Post

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca ‘Trocoh’

Menikmati Kepala Bocornya Budi Warsito Saat Membaca 'Trocoh'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co