3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rush to Paradise”: Menuju Surga Kehancuran?

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
December 6, 2025
in Ulas Rupa
“Rush to Paradise”: Menuju Surga Kehancuran?

“Rush to Paradise” karya pematung I Ketut Putrayasa pada pameran seni rupa bertajuk “Liana Riverie: Vivid Colours” di Labyrinth Art Gallery Nuanu Creative City, Tabanan, Bali.

SALAH satu karya yang menyita perhatian saya pada pameran seni rupa bertajuk “Liana Riverie: Vivid Colours” adalah “Rush to Paradise” karya pematung I Ketut Putrayasa. Karya nyeleneh tersebut dipajang bersama karya para perupa lainnya sejak 8 November 2025 hingga 20 Januari 2026 di Labyrinth Art Gallery Nuanu Creative City, Tabanan, Bali.

“Rush to Paradise” (Wood and Stainless Steels, 196 x 61 cm, 2025) adalah satu-satunya karya patung dalam pameran bersama yang kebanyakan menampilkan lukisan berwarna cerah dan memikat mata tersebut. Patung atau pajangan kayu itu berbentuk mobil balap Formula 1, atau lebih tepatnya menyerupai Ferrari F2012. Moncong “mobil” itu dilapisi logam dan pada beberapa bagian bodinya ditumbuhi paku-paku baja runcing. Apa yang ingin disampaikan Putrayasa lewat karyanya ini?

Selama ini, Putrayasa dikenal sebagai pematung yang kerap menyampaikan kritik lewat karya-karyanya. Seniman ini lahir di Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali, 15 Mei 1981. Ia lulusan Program Pascasarjana Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI)-Bali. Ia telah banyak membuat patung dan seni instalasi bernada satir. Di antaranya adalah The Giant Octopus (2019), Pandora Paradise (2020), Ubud is Winter – 10 Degree Celcius (2021), The Golden Toilet in Winter (2022), The Last Stronghold (2022), Proyek Mengeringkan Air (2023), Warring Images (2023), Selilit (2025), Vanitas (2025), Oryzamorgana (2025), The Octopus Queen (2025). Karya-karya patungnya juga terpajang di beberapa lokasi di Bali, Jakarta, Singapura, Belgia, Perancis, Turkey.

Dalam pameran bersama kali ini, Putrayasa menyampaikan kritik lewat karya “Rush to Paradise”. Karya itu sendiri menyuguhkan paradoks antara bentuk, material, dan makna. Ferrari adalah ikon kemewahan, kecepatan, dan kemajuan teknologi modern. Namun, dalam konteks karya itu, Ferrari terbuat dari potongan kayu yang kasar, penuh serat, bertekstur alami. Kontras antara bahan, bentuk, dan detail itulah yang menjadi inti pesan karya tersebut. Dengan kata lain, karya itu adalah kritik terhadap modernitas yang menghancurkan alam.

“Rush to Paradise” karya pematung I Ketut Putrayasa pada pameran seni rupa bertajuk “Liana Riverie: Vivid Colours” di Labyrinth Art Gallery Nuanu Creative City, Tabanan, Bali.

Material kayu dan baja tahan karat yang digunakan Putrayasa untuk membuat patungnya adalah simbol dari dua kekuatan yang bertentangan. Meski bertentangan, dua kekuatan itu seharusnya bisa saling melengkapi, yakni kekuatan maskulin dan feminim. “Rush to Paradise” menjadi metafora dari dua kekuatan itu, yakni potensi menyatunya energi maskulin dan feminin. Namun, jika salah satu kekuatan mendominasi, maka keseimbangan terganggu, kehancuran bisa terjadi.

Pada “Rush to Paradise”, kayu mewakili alam, kehidupan, kelembutan, dan kesinambungan ekologis. Ia adalah material yang “hidup,” memiliki aroma, tekstur, dan warna yang selalu berubah. Dalam konteks budaya Bali, kayu juga sarat makna spiritual, digunakan dalam upacara, arsitektur tradisional, dan seni ukir yang menyimbolkan hubungan harmonis manusia dengan alam semesta. Sebaliknya, stainless steels atau baja tahan karat yang menjadi aksen pada beberapa bagian tubuh mobil menampilkan citra modernitas: keras, mengilap, dan tahan lama. Dalam konteks karya itu, logam dan paku-paku baja runcing yang menembus kayu adalah simbol dominasi dari hasrat manusia untuk menguasai alam.

Bagi banyak orang, Ferrari adalah lambang kemajuan teknologi otomotif. Ferrari dikenal sebagai mobil yang cepat, efisien, elegan, dan maskulin. Karena itu, menjadi ironis ketika bentuk mobil super mewah itu dibuat dari kayu. Material kayu yang tadinya merupakan bagian dari pohon yang hidup kini berubah menjadi sebuah mobil, benda yang sering dikaitkan dengan pemborosan energi dan kerusakan lingkungan. Mobil yang sering menyebabkan polusi udara alias “merusak alam” justru dibuat dari materi alam yang sudah mati (kayu).

“Rush to Paradise” karya pematung I Ketut Putrayasa pada pameran seni rupa bertajuk “Liana Riverie: Vivid Colours” di Labyrinth Art Gallery Nuanu Creative City, Tabanan, Bali.

“Rush to Paradise” tidak hanya membahas tentang kemajuan teknologi, tetapi juga ironi di baliknya. Karya tersebut menggambarkan bahwa modernitas sering memakai simbol alam untuk menegaskan kekuasaan alih-alih menghormati. Kayu (alam) hanya menjadi hiasan bagi ambisi manusia yang merasa dirinya modern. Kita lihat bentuk mobil balap itu memukau, tetapi menyimpan paradoks tragis. Dengan kata lain, karya itu ingin mengatakan bahwa peradaban melaju cepat menuju “surga” kehancuran.

Melalui judul Rush to Paradise, Putrayasa memberikan tafsir ganda. “Rush” berarti bergegas, tergesa-gesa, terburu untuk mencapai tujuan. Namun “paradise” di sini bukanlah surga yang murni dan damai, melainkan surga yang dijanjikan oleh industri dan kapitalisme global. Sebuah “surga turistik” atau “surga modernitas” yang dibangun di atas eksploitasi alam dan budaya lokal, seperti yang terjadi di Bali. Pulau yang dahulu dikenal karena konsep harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas, kini dipacu menjadi destinasi wisata internasional yang mengedepankan citra kemewahan dan modernitas.

Dalam konteks ini, Ferrari menjadi simbol “mesin kolonial” baru yang melaju di atas jalan globalisasi. Ia menabrak batas-batas tradisi, menggusur nilai-nilai lokal, dan menggantinya dengan citra kemajuan yang semu. Kecepatan mobil ini melambangkan percepatan pembangunan, pariwisata, dan konsumerisme. Proses yang seolah tak terhindarkan, tetapi diam-diam menelan alam dan spiritualitas Bali itu sendiri. “Rush to Paradise” menjadi sindiran tajam bahwa di balik janji “surga modernitas” terdapat kehancuran alam dan budaya yang tak terelakkan.

Jika diperhatikan dengan cermat, permukaan patung kayu Ferrari itu tidak halus. Ia dibiarkan kasar, penuh torehan, berserat, dan bahkan goresan tajam yang menggambarkan penderitaan materialnya. Paku-paku baja runcing yang mencuat dari kayu tampak seperti duri atau ranjau yang bisa dibaca sebagai simbol atas jebakan modernitas yang rakus mengeksploitasi alam. Elemen-elemen itu menguatkan kesan kekerasan modernitas dan penderitaan alam.

Dalam konteks yang lebih luas, patung “Rush to Paradise” bisa dibaca sebagai tubuh alam yang dikorbankan. Mobil Ferrari menjadi simbol modernitas yang melesat menembus jantung alam. Setiap paku runcing yang mencuat dari kayu adalah representasi dari proyek pembangunan yang menghancurkan alam. Lihatlah betapa banyak hotel, villa, resort yang berdiri di atas tanah sawah di Bali. Betapa banyak hutan-hutan di Indonesia digunduli atas nama pembangunan.

“Rush to Paradise” karya pematung I Ketut Putrayasa pada pameran seni rupa bertajuk “Liana Riverie: Vivid Colours” di Labyrinth Art Gallery Nuanu Creative City, Tabanan, Bali.

Dalam filosofi Bali, keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual dikenal melalui konsep Tri Hita Karana. Namun, “Rush to Paradise” menggambarkan ketimpangan yang semakin menganga. Energi maskulin yang agresif (diwakili oleh logam) terlalu mendominasi energi feminin yang lembut (diwakili oleh kayu) sehingga terjadi ketidakseimbangan di berbagai lini kehidupan. Dengan kata lain, alam tidak lagi dipandang sebagai ibu, melainkan “sumber daya” yang terus menerus dieksploitasi oleh manusia-manusia rakus dan serakah. Manusia telah mendurhakai alam. Dan, alam yang sabar pun menjadi murka dan mengamuk sehingga terjadi bencana di mana-mana.

Ferrari kayu itu menjadi simbol dunia yang kehilangan arah. Ia melaju tergesa tanpa menyadari bahwa bahan bakarnya berasal dari alam. Ia melaju menuju “paradise”, surga modernitas yang dibangun dari puing-puing alam yang telah hancur. Karya itu juga mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukanlah tentang seberapa cepat kita bergerak, tetapi seberapa dalam kita memahami arah gerak kita.

Dari sisi visual, “Rush to Paradise” berhasil menghadirkan komposisi yang kuat melalui kontras material dan tekstur. Perpaduan kayu yang organik dengan logam yang industrial menciptakan ketegangan visual yang sekaligus menggoda dan mengganggu. Garis-garis tajam, lekukan tubuh mobil, dan tonjolan paku-paku runcing membentuk irama visual yang dinamis, seolah-olah mobil ini siap melesat menuju surga yang diidamkan. Namun di saat yang sama, bobot kayu dan luka-luka pada permukaan kayu menahannya untuk bergerak. Mobil itu tidak pernah benar-benar bisa melaju cepat. Ia dimatikan dalam paradoksnya sendiri.

Selain kritik ekologis, “Rush to Paradise” mengandung renungan yang dalam. Ia mengajak kita untuk memikirkan kembali hubungan antara penciptaan dan penghancuran. Dalam hal ini, “Rush to Paradise” tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga ajakan untuk rekonsiliasi, untuk mengembalikan harmoni antara kekuatan penciptaan (alam) dan kekuatan transformasi (teknologi). Sebab peradaban yang mengabaikan penghormatan pada alam adalah peradaban yang menghancurkan dirinya sendiri. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: Ketut PutrayasaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Game’ dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Next Post

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Malam Ketika Persib Mengajari Kita tentang Kegigihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co