LAPANGAN dan wantilan SMAN 1 Tejakula jadi tempat pertemuan yang hangat bagi anak muda masa depan yang berasal dari desa-desa di Kecamatan Tejakula, Buleleng.
Dua hari SMAN 1 Tejakula menjadi pusat perhelatan Tejavaganza 2025, mulai 15 November hingga Minggu malam, 16 November.
Selama dua hari itu, dan pada puncaknya Minggu malam, berderet stand-stand UMKM dari Pagi Motley, Lapak Buku Mahima, Bai Pure, Rumah Usaha Cerik, Mai Nongki, Yudha Trigona, dan Babi Samsam Mamak Rendi, menghadap ke panggung besar di lapangan utama dengan cahaya bohlam-bohlam menyala di tengah-tengahnya.
Para pengunjung yang notabene adalah anak muda siswa sekolah dan pemuda dari sekaa teruna, sedang melaksanakan satu pesta, juga tempat untuk menerka masa depan sebagaimana tema dari ajang itu: “Tumbuh Bergerak Menginspirasi”.
“Tejavaganza adalah festival pemuda di Kecamatan Tejakula sekaligus menjadi wadah atau ruang pemuda untuk bisa mengekspresikan dirinya,” kata Kadek Sudantara, ketua pelaksana.
Festival ini digelar untuk pertama kalinya, diinisasi oleh salah satu anggota DPRD Kabupaten Buleleng dapil Tejakula yaitu Dewa Komang Yudiastara, dengan tujuan mempererat hubungan antar pelajar dan pemuda, menggali potensi generasi muda, dan tentunya menjadi ruang pemuda untuk berkolaborasi selain mampu menjadi festival berkelanjutan di Kecamatan Tejakula yang menyenangkan.

Dan di malam terakhir ada pertunjukan macam-macam, sebelum paginya sudah digelar olahraga lari dengan tajuk Fun Run, bersama Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna bersama istrinya.
Menyoal lari, Supriatna memang punya hobi olahraga pagi-pagi di akhir pekan untuk sehat jasmaniah, ini bagian penting untuk dicontoh dari seorang wakil bupati. Olahraga sangat baik, dan lari baik untuk kesehatan jantung. Yang buruk adalah lari dari kenyataan.
Karena setelah lari pagi, dilanjutkan Talk Show sore dengan judul besar “Merajut Masa Depan”, bersama I Ketut Sumayana, seorang founder dan Komisaris PT. Langit Bali Sejahter), I Nengah Suarmanayasa yang Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Undiksha, dan I Made Andika Putra yang dikenal sebagai CEO Pagi Motley sebagai narasumber berpengalaman di dunia kerja.

Di talk show itulah titik temu masa muda kini untuk masa depan digelar, yang pesertanya juga masih sama dari siswa SMAN 1 Tejakula dan siswa sekolah lain di Tejakula —yang siap menyongsong masa depannya setelah tamat sekolah. Tapi siapa berani jawab masa depan itu mudah dijalani setelah lulus SMA?
Ketiga narasumber itu menceritakan kisahnya yang layak ditiru, bahwa hidup adalah perjuangan. Harus berjuang.
Seperti I Ketut Sumayana mengisahkan dirinya waktu muda di zaman dirinya masih kuliah, pernah jadi bartender dan waitress, dan siang sampai sore jadi tukang kebun.
Cerita itu kemudian di-notice pembicara I Nengah Suarmanayasa bahwa hidup memang harus merangkak lebih dulu, sabar dan berdarah-darah sebelum petik hasilnya kelak hari. Yang kesemuanya dibungkus dengan rasa sabar dan serius mau.

“Anak muda itu, harus sakit-sakit dahulu berenang ketepian [menuju kesuksesan]. Jadi, healing-nya nanti jangan hari ini. Hari ini itu harus menunda kesenangan [zona nyaman],” kata I Nengah Suarmanayasa, mengingatkan anak muda harus lebih keras lagi dalam mewujudkan cita-citanya, jangan mudah menyerah dan terlena.
Sebagaimana menu makanan di sebuah warung nasi padang (naspad), cita-cita juga beragam. Tapi cita-cita tidak saja tinggal touch screen pada sebuah layar hape atau etalase naspad, harus digapai dengan nyata dan lelah, letih, adalah wajar setelah memilih mau yang mana. Karena cita-cita tidak bisa diantar, ia harus dijemput.
Dan kalau memilih mau berwiraswasta, misalnya, setelah lulus sekolah atau lanjut kuliah sambil nyari cuan, setidaknya wajib punya mental kuat. Atau tempalah mental sendiri sekuat-kuatnya melalui pengalaman dan belajar masih muda.
“Adik-adik paling tidak harus punya mental tahan banting, itu satu. Kemudian yang kedua, harus konsisten, disiplin, dan komitmen,” lanjut I Ketut Sumayana.
Menyoal komitmen, Ketut Sumayana juga menekankan kembali komitmen ketika merintis usaha kecil-kecilan tidak boleh tergiur dengan rejeki nomplok ketika usaha sedang naik puncak.
Alih-alih uang usaha atau perusahaan sedang dirintis digunakan untuk keperluan pengembangan usaha lebih dahsyat, digunakan untuk keperluan tidak penting-penting amat, misalnya, beli mobil—atau hape terbaru demi gengsi, justru menjadi penyakit pengusaha muda.

Usaha jadi bangkrut atau merosot modal habis sudah digunakan di awal, lari ngutang di bank sebagai hari terakhir kere adalah buah hasil dari tidak kuatnya komitmen sebagai seorang perintis.
Jadi, komitmen dalam usaha itu, harus ditanamkan di dalam diri sebagai pondasi yang kuat untuk perjalanan panjang menghadapi rintangan—jalan meliuk dan ketidakpastian musim—menuju kesuksesan lebih besar tentunya, jangan tergoda oleh apapun karena keseriusan harus stabil.
“Dan titik kehancuran yang lain pada anak muda, adalah gengsi.” tegas Ketut Sumayana anak muda atau pengusaha muda tidak boleh gengsian.
Selain dua pembicara yang menunjukkan diri sudah menerapkan—gengsi itu harus dihapus dan komitmen itu harus dijaga, I Made Andika Putra, CEO Pagi Motley, juga sepil kisahnya mendirikan Pagi Motley adalah urusan panjang tanpa gengsi.
Salah satunya, tentang kecermatan dalam melihat peluang sebagai jangka panjang yang sehat itu penting, tidak saja melulu tentang keuntungan pribadi, tapi harus menguntungkan lingkungan sekitar dan masyarakat setempat.
Ia bergerak pada pewarna alam melalui kulit batang pohon dan daun-daun, menjadikannya warna alami fashion yang ramah. Hampir sembilan belas tahun Andika begulat dengan dunia kreatif fashion.

Mengapa Andika bergerak di ranah itu? Karena melihat peluang. Tidak banyak usaha yang dilakoninya itu orang-orang mau lakukan, atau memang tidak terfikirkan kebanyakan orang pada hal-hal kecil seperti kulit batang pohon dan daun-daun juga sabut kelapa, bisa menjadi suatu yang berarti dalam dunia seni.
Sembilan belas tahun bukan waktu sebentar. Pagi Motley dikenal banyak orang kini dan produknya biasa diekspor ke luar negeri itu, tidak jauh dari hasil komitmennya yang kuat sejak awal merintis.
Pula tidak saja soal uang yang hendak ia capai satu-satunya, ada prinsip yang ditanamkan Andika pada usahanya. Yaitu gerak Pagi Motley pada ingatan kolektif tentang kesehatan bumi akhir-akhir ini di tengah aktivitas manusia dalam bertahan hidup sambil merusak alam, bisa berujung krisis iklim.
“Alam mesti dipotek secukupnya,” kata Andika.
Itu juga mengapa Andika tidak memilih akar sebagai bahan dasar pada pewarnaan di setiap kainnya, agar pohon bisa terus hidup—bertunas—yang baru dari akar pada tanah. Dan di sanalah peluang yang lain; apa yang ditawarkan dari sebuah produk selain mengupayakan orang-orang sekitar agar bisa bekerja, juga adalah keramahan untuk lingkungan lebih regeneratif.
“Teman-teman [peserta], kan, masih muda, modalnya cuman dua sebenarnya; nekat dan percaya diri. Sisanya bisa dipelajarin sambil jalan,” lanjut Andika.
Dan ia menyarankan juga terkait bagusnya soal karir, alangkah bagusnya awal-awal ikut/bekerja ke orang terlebih dahulu, untuk memahami bagaimana cara produksi, sales, marketing, dan bagaimana sumber daya manusianya, dan merawat sumber daya manusianya itu seperti apa. Cara seperti itu penting untuk mendapatkan pengalaman belajar pada yang ahli untuk menjadi ahli di kemudian hari.
Apa-apa yang disampaikan Andika itu di-oke-kan I Ketut Sumayana. Ketut Sumayana menambahkan soal waktu juga penting untuk diperhatikan, yaitu belajar.
Dua puluh empat jam manusia punya waktu dalam sehari, tapi, bagaimana waktu digunakan itu menjadi perbedaan setiap orang sebagai tabungannya untuk masa depan.
Semisal dalam dua puluh empat jam, anak muda jika menggunakan waktu sekadar untuk scrolling Instagram like atau nge-tiktok sambil rebahan, adalah masalah yang bisa bikin otak tidak kreatif alias brain root. Malas.
Sehingga, action dalam waktu dua puluh empat jam itu perlu, dunia membutuhkan orang-orang bergerak, walaupun bekerja bisa melalui hape sambil rebahan.
“Waktu sekarang mumpung masih muda, gunakanlah untuk belajar dan mencari pengalaman sebanyaknya.” kata I Ketut Sumayana.

Menentukan langkah kaki mau ke mana dalam masa depan, penting ditentukan sekarang. Karena langkah dalam waktu akan menumbuhkan apa-apa yang bisa dipanen sebagai pencapaian.
Lantas, I Ketut Sumayana menyarankan ke pada peserta, kalau bisa setamat sekolah, kuliahlah sambil bekerja. Di sana kita bisa belajar manajamen waktu.
“Saya pernah kuliah sambil bekerja jadi bartender dan waiterss, siang-sore jadi tukang kebun.” tutup I Ketut Sumayana anak muda tidak boleh gengsidong. Terjang.
Titik Temu Bakat adalah Tejavaganza
Selang satu hari sebelum malam terakhir, Tejavaganza 2025 sudah menggelar beberapa mata lomba—yang mempertemukan para anak muda bertemu pada kreativitas positif.
Ada lomba english story telling contest, debat, konten kreatif, lomba baca puisi, dan karaoke. Yang kesemua pesertanya adalah siswa masih SMA. Dan di malam terakhir Minggu malam, tibalah siapa juaranya.
Untuk lomba english story telling contest dimenangkan oleh Ni Luh De Putri Pebriyanti sebagi juara 1, Ayu Kompyang Juliani juara 2, I Putu Gilang Divayana Putra sebagai juara 3.
Debat, dimenangkan oleh Kadek Angelika Melani Putri sebagai juara 1, Ketut Amylaura Franciska Putri juara 2, dan Komang Ringo Okakanggo juara 3.
Kemudian untuk baca puisi diraih oleh Kadek Sri Devi Adnyani sebagai juara 1, Luh Novita Aryanti juara 2, dan Kadek Ayu Lestariana juara 3.
Sementara karaoke, didendangkan oleh Putu Arin Kirani Putri juara 1, Kadek Ayu Lestari juara 2, dan Komang Wigrha Sriya Rastiarini juara 3. Selamat.
Dan malam pentas seni tiba. Radius dua puluh meter dari panggung, di satu ruang kelas, 22 anak-anak sedang bersiap mau tampil. Topeng di meja diambil, ekor dipasang di pantat—berperan jadi kera.
Mereka 22 anak-anak dari Komunitas Sisprilink (Siswa Pemerhati Lingkungan) Tejakula, akan pentas Wayang Wong Anak-Anak dengan kisah; Gugurnya Kumbakarna dalam evos Ramayana.
Waktu tampil lima menit lagi. Putu Ngurah Buwana Natha Narariya, berdiri di samping panggung utama, memanggul topeng seberat dua kilo, lalu dipasangkan oleh bapaknya Ketut Eta Swatara, sekaligus pelatih Wayang Wong Anak-Anak dari Sisprilink.
“Jadi Kumbakarna,” kata Natha tentang perannya itu.
Peperangan akan terjadi antara kerajaan Alengka dengan Rama di atas panggung. Di sini, Kumbakarna adalah seorang ksatria sejati dalam membela bangsanya sendiri, kerajaan Alengka, walaupun kakaknya, Rahwana, salah sudah menculik Dewi Sinta kekasih Rama. Dan dalam cerita ini, Wimbakarna rela gugur di medan pertempuran dirujak pasukan Rama, untuk membela bangsa sendiri, Alengka.

Dan Sugriwa yang diperankan Arsa ketika itu, juga bersiap mau naik panggung lebih dulu pada babak awal cerita. Begitu tetabuhan terdengar dengan tempo pelan, kencang, bahu Arsa dinaikkan seperti seorang ksatria, lalu naik ke atas panggung diikuti pasukannya. Sugriwa adalah raja kera sekutunya Rama bakal menyerang Alengka.
Sugriwa masuk dengan pasukan Hanoman dan keranya ke atas panggung, bersiap diri mau perang dengan pasukan Wimbakarna. Dan mula-mula mereka latihan perang dengan gerak tarian khas kera. Begitu selesai, mereka turun ke panggung setelah titah dalam peperangan sudah didengar semua pasukan kera.
Kumbakarna dan pasukannya kemudian masuk giliran melanjutkan cerita. Mereka juga demikian berlatih siap diri mau perang mempertahankan benteng harga diri Alengka. Dan puncak konflik meletus, peperangan terjadi ketika pasukan Sugriwa datang menyerang Alengka bersama pasukan keranya. Tetabuhan menjadi cepat.
Dan di akhir babak, tibalah Kumbakarna pada batas kematiannya di depan anak panah datang menancap tepat di dada. O, gugur Kumbakarna hujan kesedihan bangsa Alengka.
“Tarian topeng ini adalah tarian sakral tari Wayang Wong, Tejakula. Diperkirakan telah ada pada abad ke-17. Dan sampai sekarang topeng yang masih sakral masih tersimpan baik di istana Kandi Pura,” kata Ketut Eta Swatara usai pementasan.
Dan sekitar tahun 70-an, para seniman/tokoh Tejakula bersepakat untuk membuat tari Wayang Wong duplikat. Nah, pada pementasan inilah adalah wujud dari duplikatnya, digunakan sebagai rekreatif, dipentaskan anak-anak.
Adapun perbedaan pertunjukan Wayang Wong di panggung hiburan dengan yang di pura, adalah yang sakral tidak sakral. Yang di pura dipentaskan secara khusus dan sakral dengan menggunakan pakaian dan topeng yang ada di pura.


Sementara yang di luar pura, adalah imitasi dan tidak sakral, termasuk itu topeng dan pakaiannya. Dan dipentaskan kalau memang ada undangan atau sedang ada permintaan untuk pentas. Dan mengapa yang dipilih anak-anak untuk pentas, tujuannya untuk kaderisasi.
“Takutnya nanti itu (Wayang Wong) hilang tanpa penerus. Jadi, sejak dini anak-anak ini dilatih tarian-tarian dasarnya, agar budaya tetap lestari.” tutup Ketut Eta Swatara.
Dan usai Wayang Wong Anak-Anak tampil, beberapa penonton ada yang minum kopi/es teh/air mineral/es jeruk dan makannya Babi Samsam Mamak Rendi di bawah lampu-lampu pesta, sambil menonton; Zamzam Rock, Sky of Justice, Yudi Rajaphala, dan Harmonia tampil—setelah modern dance dan juggling and fire sudah pentas beberapa jam yang lalu. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























