24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tuhan Telah Mati di Ruang Psikiatri | Cerpen Angga Wijaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 16, 2025
in Cerpen
Tuhan Telah Mati di Ruang Psikiatri | Cerpen Angga Wijaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Denpasar, 2002.

Terminal Ubung ramai oleh bis-bis dan angkutan umum. Hari menjelang siang, saat aku tiba di sana, menjemput adik laki-lakiku yang datang dari kota kecil di ujung barat Bali. Dia baru saja menjalani ujian akhir. Aku agak gusar, mendengar kabar dan membaca koran lokal. Di situ tertulis bahwa adikku menjadi koordinator aksi protes di SMA tempat ia bersekolah.

Dia dikenal pendiam, sehingga guru-gurunya heran—ketika ia menggalang tanda tangan siswa-siswi kelas III, bentuk protes atas kebijakan sepihak kepala sekolah, memungut uang sumbangan. Aku juga lupa untuk apa para siswa di akhir studi mesti dimintai uang. Padahal, sejak lama bupati di sana menggratiskan uang sekolah, dari TK sampai SMA. Bahkan para mahasiswa miskin pun diberi beasiswa, asalkan nilai mereka memenuhi syarat.

Uang pungutan tidak banyak, hanya 25 ribu rupiah per siswa. Aku juga bisa membayarnya untuk adikku. Tidak perlu demonstrasi segala, apalagi sampai diberitakan di koran. Keterangan dari keluarga di kampung, adikku memang berteman dekat dengan para seniman juga wartawan. Saat pagi hari, di sebuah warung dekat sekolah, ia sering berbincang dengan seorang wartawan koran.

Mereka seperti dua kawan yang telah lama saling mengenal. Adikku, bisa jadi, karena rasa ingin tahu yang besar tentang jurnalisme, banyak bertanya soal itu. Apalagi, ia menunjukkan ketertarikan pada dunia wartawan sejak mengikuti pelatihan jurnalistik di sekolahnya, dari beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Denpasar. Katanya, dalam pelatihan itu, adikku dekat dengan seorang mahasiswa antropologi budaya. Dia sering berdiskusi dengannya.

Tapi bukan karena sejak ikut pelatihan jurnalistik itu, adikku menjadi berani dan kritis. Dari SD, ia memang dikenal cerdas, sering mendapat juara kelas. Kalau tidak juara I, pasti juara II atau III. Dia juga pernah menjadi ketua kelas, hingga suatu hari ia mengundurkan diri. Kepala sekolah heran, ada hal apa sehingga adikku memutuskan ingin berhenti menjadi ketua kelas. “Teman-teman susah diatur, sering ribut di kelas,” ujarnya singkat. Hingga kepala sekolah mesti mengumunkan pengunduran adikku di depan kelas. Anak sekecil itu sudah idealis, tak mau dipaksa-paksa, keras dengan pendiriannya. Biasanya jika ada siswa lain agak ribut, itu hal yang biasa. Tapi tidak bagi adikku. Ia bahkan beberapa kali berdebat dengan teman-temannya karena mereka tidak disiplin. Aku menganggap sikap adikku biasa saja, ternyata tidak

Di terminal Ubung, adikku keluar dari pintu bis antar kota dalam provinsi. Aku menyambutnya dengan senang. Sebelumnya aku bilang padanya ingin mengajaknya liburan di Denpasar. Tapi sebenarnya, atas diskusi keluarga yang tak ia tahu, keluargaku ingin aku memeriksakan adikku ke psikiater. Hampir tiga minggu ia baru tidur dini hari. Seperti ada beban yang ia rasakan, tapi tidak ia ceritakan kepada keluarga.

Denganku ia lebih terbuka sejak dulu. Aku memahami karakternya yang seperti seniman; tak mau dikekang, suka kebebasan, kritis dan tertarik pada puisi dan sastra. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal yang dikelola temanku semasa SMA. Ia punya komunitas sastra, dan adikku salah satu anggota di sana. Temanku pernah menyebut, adikku punya bakat yang bagus dalam menulis. “Sayang jika ia berakhir dengan gangguan mental,” katanya.

Setelah dua hari berada di Denpasar, aku mengajak adikku jalan-jalan ke obyek wisata Tanah Lot. Ia senang sekali saat tukang foto mengabadikan kebersamaan kami. Foto polaroid yang langsung jadi menjadi kenangan berharga baginya. Adikku sebenarnya pemuda tampan—hanya saja pakaiannya agak lusuh, rambutnya kurang rapi, dan sorot matanya kosong. Aku iba melihatnya. Dia kuajak ke toko buku di supermarket. Kubebaskan ia memilih buku-buku yang ia suka. Ia menyukai buku kumpulan puisi KOMPAS. Tanpa ragu aku membelikannya. Ia tampak senang.

Suatu sore, aku mengajaknya ke Jalan Batanta, di Denpasar bagian barat. Aku bilang padanya kita ke dokter. Ia tidak curiga. Aneh juga, bahkan hingga sampai di depan tempat praktik dokter, ia bisa membaca dalam plang bahwa itu dokter jiwa, psikiater. Adikku tidak bertanya soal itu. Dia seperti tahu, bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Kami menunggu sebentar di ruang tunggu, menunggu giliran Asisten psikiater lalu mempersilakan kami berdua masuk ruangan. Psikiater itu, laki-laki paruh baya, dengan tersenyum mengajakku berbincang, melakukan tanya-jawab di ruang psikatri itu.

Adikku lebih banyak diam, memandangi lukisan yang ada di sana, sambil mengamati tulisan yang ada di dinding. Aku menjawab dengan baik beberapa pertanyaan psikiater. Hingga adikku tiba-tiba berbicara pelan: “Tuhan telah mati, Tuhan telah mati….!”

Aku dan psikiater itu agak terkejut mendengarnya. Apa maksud adikku? Tampaknya psikiater itu paham, karena dia juga suka membaca buku. Ia kemudian meminta izin untuk berbicara di ruangan itu, berdua dengan adikku. Aku keluar dengan perasaan was-was. Jangan-jangan, adikku sudah “gila” betulan? Aku teringat kakak kami yang sejak muda juga mengidap sakit jiwa, sejak bersekolah di Yogyakarta. Pada satu waktu, ia bersama teman sekolahnya mengalami kecelakaan sepeda motor. Temannya meninggal, kakakku selamat. Tapi tidak dengan mentalnya. Ia sejak itu lebih suka mengurung diri di kamar, menangis, hingga akhirnya mengamuk. Ayahku kembali membawanya kembali ke Bali. Bolak-balik ke rumah sakit jiwa menunggui kakakku dirawat.

Setelah hampir tiga puluh menit, psikiater di Jalan Batanta, Denpasar itu mengajakku masuk ke kembali ke ruangannya. Diberinya aku tiga jenis obat berikut keterangan dosisnya. Kami meninggalkan ruang psikiatri itu setelah melunasi pembayaran. Tidak lupa aku dan psikiater itu bertukar nomor telepon, untuk komunikasi selanjutnya. Aku memacu sepeda motorku dengan pelan. Adikku tampak biasa-biasa saja. Dia lebih banyak diam. Aku tak bertanya.

Malam harinya, sekitar pukul 8 teleponku berdering. Dari psikiater itu. Aku mengangkat telepon dengan cepat. Ia menceritakan apa yang dialami adikku. “Depresi berat,” katanya. Buku-buku, terutama buku sastra dan filsafat, hanyalah bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang dirasakan adikku. Semenjak bayi, adikku memang dirawat dan diasuh oleh kakak dari ayahku beserta istri dan anak-anaknya. Adopsi setengah hati. Kami merasa bersalah, karena ia tahu bahwa ia bukan anak kandung bukan dari keluarga kandung atau juga keluarga angkat. Dari ejekan dan bercandaan tetangga. Itu membuat adikku syok. Hanya saja ia tak protes, memendam semuanya sendirian.

Saat ia mulai menunjukkan gelagat aneh, adikku baru saja pindah sekolah dari Singaraja. Diajak oleh salah seorang bibiku. Rencana itu tidak dibicarakan secara terbuka dengan keluarga kandung. Ibuku tahu, adikku tidak terbiasa dengan gaya mendidik yang kaku dan disiplin. Benar saja, adikku tak betah tinggal dengan bibiku yang besar dengan pendidikan ala zaman Belanda. Ia meminta pindah kembali ke kampung halaman, beberapa kali menelepon ibu angkatnya melalui Wartel.

Ia memang bisa pindah sekolah ke kota kecil kami di kampung halaman. Sejak itulah ia lebih banyak membaca buku-buku filsafat, yang ia pinjam dari komunitas. Suntuk bercengkrama dengan pemikiran Friedrich Nietzsche, filsuf dengan otak cemerlang yang menghabiskan masa-masa akhir hidupnya dengan tragis, mengidap gangguan mental.

Psikiater itu menceritakan, adikku dengan detail menceritakan apa yang ia baca dari salah satu buku karya Nietzche, saat mereka berada di ruang psikiatri. Bahkan, “mementaskannya”:

Pagi itu pasar sudah ramai. Suara pedagang menawar, lonceng berdentang, dan bau roti hangat bercampur dengan keringat orang banyak. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang lelaki berjaket lusuh berlari sambil membawa lentera yang masih menyala, meski matahari sudah tinggi.

“Aku mencari Tuhan!” teriaknya. “Di mana Tuhan?”

Orang-orang menatap heran, lalu tertawa. Ada yang menganggapnya gila, ada yang menggeleng sambil terus menakar harga daging. Tapi lelaki itu tidak berhenti. Ia berdiri di atas tong kayu dan menatap kerumunan dengan mata nyalang.

“Tuhan telah mati!” katanya lantang. “Tuhan tetap mati! Dan kitalah yang telah membunuh-Nya!”

Tawa perlahan reda. Lentera di tangannya bergetar. Ia menatap orang-orang di pasar, satu per satu, seolah hendak memastikan bahwa mereka mengerti apa yang baru saja ia katakan.

“Kita telah membunuh makna yang dulu menjaga kita,” ujarnya pelan. “Kini dunia ini tak lagi punya arah, karena cahaya yang dulu menerangi hati kita telah padam. Tapi kita harus belajar menyalakan cahaya kita sendiri.”

Ia menurunkan lentera itu, langkahnya gontai di antara kios sayur dan kain. Matahari makin tinggi, dan orang-orang kembali berjual-beli, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi di udara pasar itu, kata-katanya menggantung. Berat, ganjil, dan tak mudah dilupakan.

***

Bak pemain teater handal, adikku tampil dengan memukau, dengan gerak bibir, tangan, dan kaki yang sempurna. Ia juga berdiri di kursi, saat mengucapkan “Tuhan telah mati” dengan sempurna. Psikiater terpukau dengan aksi adikku. Ia menggenggam tangan adikku dan menyalaminya pada akhir pementasan itu. Bukan di halaman komunitas, atau gedung kesenian. Di ruang psikiatri! [T]

Denpasar, Oktober 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Cermin Bulan November

Next Post

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co