“Habis nulis novel ini, saya langsung tipes dua minggu.”
Begitulah celetuk Ridwan Malik di tengah-tengah diskusi, disambut tawa hangat audiens yang memenuhi Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, Sabtu pagi, 1 November 2025. Kalimat yang ringan namun jujur itu mencairkan suasana peluncuran novel Ajengan Anjing dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025. Acara yang dimoderatori oleh Dewi Setiawan itu menghadirkan suasana akrab dan reflektif ─ seperti buku Ridwan sendiri.
Ridwan Malik adalah penulis muda asal Garut, Jawa Barat. Lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini kini aktif sebagai editor di media daring Hanya Wacana, sekaligus mengelola penerbit kecil Maliré. Ia merupakan salah satu dari sepuluh emerging writers terpilih UWRF 2025. Ajengan Anjing, novel perdananya, telah masuk dalam daftar panjang penerima Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 dan baru saja meraih penghargaan sastra dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kategori novel.
Sebelum sesi peluncuran dimulai, audiens diajak menonton sebuah video dokumenter pendek tentang Hesti Sutrisno ─ seorang perempuan Muslimah bercadar yang membuka tempat penampungan anjing di belakang rumahnya. Aksi Hesti sempat menuai kontroversi dan penggerebekan oleh ormas serta aparat, karena dianggap melanggar norma agama.

“Salah satunya, karena kejadian itu saya menulis novel ini,” ungkap Ridwan.
“Selain itu, saya memang suka anjing. Saya juga melihara anjing. Suatu waktu saya pulang kuliah, anjing saya nggak ada dua hari. Tiba-tiba ada orang bilang melihat anjing saya di kebun cengkeh, dan sudah mati karena diracun. Jadi, rasanya pengen marah-marah, dan akhirnya tersampaikan lewat buku ini,” jelasnya.
Novel Ajengan Anjing sendiri mengisahkan tentang Harak, seekor anjing kampung milik buruh tani yang di detik-detik terakhir hidupnya menyaksikan kembali perjalanan hidupnya. Melalui ingatan Harak, pembaca diajak menelusuri kehidupan di pesantren Bahrul Ulum, sosok Mama Aleh yang disegani, hari-hari di kebun milik Haji Adung bersama Madsahdi, hingga sore-sore tenang di pematang sawah. Dari kehidupan seekor anjing, Ridwan menyingkap gagasan besar tentang kasih, kemanusiaan, dan keberkahan hidup yang sederhana.
“Ajengan itu kata dalam Bahasa Sunda, artinya sepadan dengan ‘kyai’,” terang Ridwan.
“Dalam buku ini, saya mau memposisikan anjing sebagai pembanding realitas kehidupan. Dikisahkan ada seorang kyai yang memelihara anjing, di saat banyak orang menganggap anjing kotor dan najis. ‘Masak ahli ibadah melihara anjing?’ Dari situ saya ingin menguji cara kita memandang kesucian dan kasih,” tambahnya.

Sebelum menulis, Ridwan sempat meminta izin kepada tokoh agama di daerahnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. “Kyai saya mendukung. Katanya, orang Muslim itu harus progresif, seperti Gus Dur, Gus Mus, dan yang lainnya. Nggak ada batasan,” ujarnya.
Novel ini juga menarik karena menggunakan sudut pandang Harak, si anjing. Dewi Setiawan, sang moderator, mengaku terkesan dengan pilihan tersebut. “Waktu baca buku ini, saya sedikit merasa seperti Nabi Sulaiman. Jadi bisa mengerti bahasa hewan. Seolah-olah cerita ini memang disampaikan langsung oleh Harak,” katanya.
“Bagi saya, anjing itu nggak pernah berkhianat,” ujar Ridwan singkat, menegaskan simpati mendalam yang menjadi inti novelnya.
Ridwan sendiri mengakui, proses penulisan novel Ajengan Anjing cukup panjang dan melelahkan.
“Kejadian Hesti Sutrisno itu Maret 2021, sementara anjing saya mati sekitar Januari atau Februari 2021. Setelah itu, saya menulis selama enam bulan sampai akhir tahun. Lalu saya biarkan saja selama 2022, nggak saya sentuh sama sekali. Suatu waktu, ada sayembara novel DKJ 2023, akhirnya saya buka lagi naskahnya, saya edit ulang, dan banyak yang dibenerin. Tapi waktu itu belum berhasil,” kenang Ridwan.
Kesempatan baru datang pada November 2024. Seorang teman di penerbit Maliré mengusulkan agar naskah tersebut diterbitkan. “Akhirnya kami putuskan untuk terbitkan buku ini. Waktu itu juga kebetulan sedang banyak acara penghargaan, jadi sekalian kami ikutkan. Dan, nggak nyangka bisa sampai sejauh ini,” jelasnya.
“Habis nulis novel ini, saya langsung tipes, dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Karena saya tidur hanya setelah salat subuh, zuhur bangun terus nulis. Gitu aja terus selama enam bulan,” kata Ridwan, disambut tawa penonton.

Di penghujung acara, Ridwan turut menyampaikan harapannya untuk Ajengan Anjing. “Harapan saya, semoga Harak bisa bercerita ke lebih banyak orang lagi. Mungkin melintasi pulau dulu, berkeliling membawa kisahnya.”
Tak hanya itu, ia juga mengabarkan bahwa kini tengah menyusun draf novel keduanya. “Ditunggu saja kelanjutannya, belum boleh di-spill-spill, haha” ujarnya sembari tertawa ringan.
Acara peluncuran pun ditutup dengan sesi diskusi dan penandatanganan buku. Banyak anak muda tampak antusias membeli Ajengan Anjing dan mengantre untuk mendapatkan tanda tangan Ridwan, barangkali tertarik oleh topik yang berani dan tak biasa ─ tentang seekor anjing yang mengajarkan manusia arti kasih, keyakinan, dan keberanian untuk berpikir melampaui batas-batas yang diwariskan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























