SEJUMLAH seniman di Desa Demulih, Bangli, punya tekad kuat menghidupkan seni pertunjukan wayang wong di desa itu. Tekad mereka menular mulai dari anak-anak SD hingga seniman-seniman dewasa, sehingga sekaa (sanggar/kelompok) seni wayang wong bisa berdiri kokoh.
Lihatlah penampilan mereka di sela ajang Utsawa Dharma Gita (UDG) XXXII 2025 yang berlangsung 24 – 29 Oktober 2025 di Taman Budaya Bali, Denpasar. Mereka tampil penuh energi dengan cerita klasik “Sadhu Sakti Sastra” yang diambil dari Cerita Arjuna Wiwaha.
I Nengah Darsana, S.Sn., pimpinan sanggar itu, mengatakan lakon “Sadhu Sakti Sastra” sarat nilai kebijaksanaan dan relevan dengan tema UDG tentang dharma dan pengetahuan spiritual.
“Cerita Arjuna Wiwaha ini menegaskan bahwa kepintaran tanpa kebijaksanaan tidak akan bermakna. Itulah nilai yang ingin kami sampaikan kepada penonton,” ujar Darsana usai penampilan.

Menurut Darsana, perjuangan menjaga eksistensi seni tradisi seperti wayang wong di Bangli bukan hal mudah. Sejak pulang dari kampus, ia menyadari minat generasi muda terhadap seni semakin menurun karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Namun, semangatnya untuk menumbuhkan kebanggaan berkesenian tak pernah surut.
“Saya dulu walau sebagai seniman bisa beli mobil bukan untuk gaya-gayaan, tapi biar anak-anak percaya, bahwa dengan berkesenian pun bisa hidup layak,” katanya sambil tersenyum.
Kini, upayanya mulai membuahkan hasil. Sekaa yang ia pimpin telah melibatkan lebih dari 40 anggota, mulai dari anak-anak SD hingga kalangan dewasa. Mereka rutin berlatih menari, menabuh, hingga mendalami vokal tradisional. “Saya ingin melahirkan generasi multi-talent — bukan hanya bisa menari, tapi juga menabuh dan memahami esensi seni itu sendiri,” tegasnya.
Meski di Desa Demulih tidak terdapat tradisi wayang wong secara turun-temurun, Darsana mengadopsi pakem dari Desa Sulahan, Bangli, yang memiliki sejarah panjang kesenian ini. “Kami mengembangkan iringan khas seperti Gending Pepeson Melem dan Gending Merdah, tapi dengan sentuhan gaya Bangli,” jelasnya.

Selain mempertahankan pakem klasik, Darsana juga berupaya menjadikan kesenian sebagai bagian dari kehidupan sosial dan adat. Di desanya, berbagai upacara adat kerap melibatkan pertunjukan seni tradisional sebagai wujud ngayah. “Seni dan adat itu saling mendukung. Kalau tidak mampu secara materi, kita ngayah dengan kemampuan yang kita punya,” ujar luluasan Pedalangan ISI Bali itu.
Sebagai sosok seniman sekaligus pendidik, Darsana berharap pemerintah dan masyarakat memberi perhatian lebih terhadap pelestarian seni tradisi. “Kita tidak bisa hanya berkata ‘lestarikan’, tapi juga harus memberi ruang dan kehidupan bagi senimannya. Harapan saya, kesenian Bali bisa menjadi rajanya di Bali sendiri, bukan hanya simbol ngayah,” pungkasnya.
Penampilan Sekaa Wayang Wong Demulih di UDG XXXII bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan — refleksi ketulusan dan perjuangan seorang seniman menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah arus modernitas. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























