12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 29, 2025
in Esai
Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Sumber foto: Wikipedia

Di Balik Dinding Tua Oxford

Di sebuah ruangan tenang di Clarendon Laboratory, Oxford University, berdiri sebuah kotak kaca sederhana.

Di dalamnya, dua tabung logam tegak berdampingan seperti dua lilin yang tak pernah padam. Di antara keduanya, bola kecil berayun pelan, memukul lonceng kanan lalu kiri, menghasilkan dentang samar yang hanya bisa didengar jika kita benar-benar mendekat — dan hening.

Itulah Oxford Electric Bell, juga disebut Lonceng Abadi Oxford, yang telah berdenting tanpa henti sejak tahun 1840. Lebih dari satu setengah abad berlalu, dunia telah berubah, peradaban telah melesat ke era digital, namun lonceng itu terus menyanyikan waktunya sendiri — pelan, pasti, abadi.

Sang Pembuat yang Tak Ingin Dikenang

Di balik misteri itu ada sosok yang jarang disebut dalam buku besar sains: Robert Walker (1779–1852).

Ia bukan ilmuwan flamboyan seperti Faraday atau Newton. Ia adalah seorang pengajar fisika eksperimental yang sederhana di Universitas Oxford, pada masa ketika listrik masih dianggap permainan ajaib yang bisa memunculkan percikan petir di ruang kuliah.

Walker dikenal teliti dan sabar. Ia lebih sering terlihat di bengkel laboratoriumnya, memperbaiki tabung kaca, memotong pelat logam, atau mengajar mahasiswanya membuat alat sederhana untuk membuktikan hukum listrik dan magnet.

Ia tidak mengejar ketenaran ilmiah, hanya ingin memahami bagaimana alam bekerja dalam diam.

Sekitar tahun 1840, Walker merangkai dua baterai kering (dry piles) dengan dua lonceng kecil di bagian bawah dan menggantungkan bola perak mungil di antara keduanya. Ia bermaksud menunjukkan prinsip muatan listrik statis — bagaimana muatan negatif dan positif saling tarik dan tolak.

Tak ada yang istimewa pada hari itu. Namun alat kecil yang ia buat, ternyata menolak berhenti bekerja.

Lonceng yang Tak Mau Diam

Beberapa hari menjadi minggu, beberapa minggu menjadi bulan.

Para mahasiswa Clarendon Laboratory memperhatikan alat itu terus berdentang lembut, bola kecilnya berayun tanpa lelah dari satu lonceng ke lonceng lain.
Ketika Walker meninggal pada tahun 1852, alat itu masih berdentang.

Dan kini, setelah lebih dari 180 tahun, ia tetap melakukannya — tanpa henti, tanpa tenaga tambahan, tanpa pernah diperbaiki.

Misteri yang Tak Terjawab

Selama dua abad, para ilmuwan mencoba menyingkap rahasianya.

Apa yang membuat baterainya tak pernah habis?

Bagaimana mungkin energi listrik statis dapat bertahan lebih dari seratus tujuh puluh tahun?

Namun tak ada yang benar-benar tahu.

Baterai itu — dua silinder besar di atas lonceng — diduga berisi lapisan tipis seng, mangan dioksida, dan sulfur, seperti sel Volta kuno. Namun belum ada yang berani membukanya.

Karena jika dibuka, eksperimen itu akan berakhir selamanya. Dan mungkin, sebagian dari pesonanya akan ikut lenyap bersama dentang terakhirnya.

Para peneliti menyebut alat ini sebagai contoh dari “perangkat eksperimental terlama dalam sejarah sains” — sebuah percobaan yang berjalan terus tanpa intervensi manusia.

Sebagian menyebutnya “mesin abadi”, meski secara ilmiah itu mustahil.

Namun, sebagaimana misteri besar alam, mungkin bukan soal bagaimana ia bekerja, melainkan mengapa ia tetap bekerja.

Sains, Kesabaran, dan Keabadian

Dalam dunia yang serba cepat, Oxford Electric Bell seakan menertawakan ambisi manusia.
Ia bekerja tanpa henti, tanpa pamrih, tanpa ketenaran.

Seperti gurunya, Robert Walker, lonceng itu berfungsi karena kodratnya — bukan karena kehendak untuk dikenal.

Dari alat sederhana ini, kita belajar bahwa sains sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang kesetiaan terhadap proses.

Walker tidak tahu bahwa eksperimennya akan bertahan hampir dua abad. Ia hanya ingin menunjukkan prinsip dasar listrik. Tapi keikhlasan dan ketelitiannya melahirkan karya yang abadi.

Ketika Ilmu Bertemu Filsafat

Lonceng ini sering disebut sebagai “nyanyian waktu”.
Ia mengingatkan bahwa energi tidak pernah benar-benar hilang — hanya berubah bentuk, bertransformasi dalam ritme alam.

Dalam pandangan spiritual, lonceng ini seperti napas semesta, denyut energi kesadaran yang tak berhenti mengalir.

David R. Hawkins mungkin menyebutnya sebagai energi pada level keikhlasan dan kedamaian, energi yang tidak didorong oleh ego, melainkan oleh harmoni alami alam semesta.

Guruji Anand Krishna mungkin akan menyebutnya “tindakan tanpa pamrih” — karma yoga dalam bentuk benda.

Lonceng itu tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh, hanya menjadi.

Ia berdentang sebagaimana air mengalir dan matahari bersinar.

Misteri yang Menjaga Martabat Pengetahuan

Oxford University memilih tidak membongkar baterai misterius itu. Sebuah keputusan yang sarat makna etis: tidak semua misteri harus dipecahkan.
Kadang, membiarkan sesuatu tetap misterius justru memberi kita ruang untuk kagum, untuk rendah hati di hadapan alam.

Keputusan itu membuat lonceng Walker menjadi lebih dari sekadar alat sains — ia adalah monumen kebijaksanaan ilmiah, simbol bahwa pengetahuan sejati tidak selalu datang dari membedah segala sesuatu, tapi dari menghormati keajaiban yang masih belum kita pahami.

Pesan Abadi dari Seorang Guru yang Sunyi

Robert Walker mungkin tidak pernah menulis teori besar, tidak meninggalkan laboratorium megah, tidak memiliki murid terkenal. Namun satu ciptaannya terus bekerja, menentang waktu, dan mengajarkan makna kesabaran, keheningan, dan ketekunan.

Lonceng itu adalah perpanjangan dari jiwanya: tenang, presisi, dan terus bekerja bahkan setelah ia tiada. Mungkin ia tak tahu bahwa lewat alat kecil itu, ia mengajarkan manusia untuk mendengar kembali suara waktu — dentang halus yang kita abaikan di tengah kebisingan modern.

Epilog: Nyanyian Waktu

Kini, siapa pun yang datang ke Clarendon Laboratory bisa berdiri di depan kaca dan melihat dua tabung tua itu.
Tidak ada gerakan mencolok, tidak ada cahaya, hanya bola kecil yang berayun pelan — seperti meditasi yang tak berkesudahan.

Setiap dentangnya berkata pelan:

“Energi tidak mati. Waktu tidak berhenti. Pengetahuan sejati bukanlah rahasia yang dibuka, melainkan misteri yang dihormati.”

Di dalam kotak kaca itu, waktu bersenandung.

Dan Robert Walker, sang guru yang sederhana, terus berbicara kepada dunia — lewat dentang lembut yang tak pernah padam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Oxford UniversityRobert Walkersains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

Next Post

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co