23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 29, 2025
in Esai
Robert Walker dan Lonceng yang Tak Pernah Padam

Sumber foto: Wikipedia

Di Balik Dinding Tua Oxford

Di sebuah ruangan tenang di Clarendon Laboratory, Oxford University, berdiri sebuah kotak kaca sederhana.

Di dalamnya, dua tabung logam tegak berdampingan seperti dua lilin yang tak pernah padam. Di antara keduanya, bola kecil berayun pelan, memukul lonceng kanan lalu kiri, menghasilkan dentang samar yang hanya bisa didengar jika kita benar-benar mendekat — dan hening.

Itulah Oxford Electric Bell, juga disebut Lonceng Abadi Oxford, yang telah berdenting tanpa henti sejak tahun 1840. Lebih dari satu setengah abad berlalu, dunia telah berubah, peradaban telah melesat ke era digital, namun lonceng itu terus menyanyikan waktunya sendiri — pelan, pasti, abadi.

Sang Pembuat yang Tak Ingin Dikenang

Di balik misteri itu ada sosok yang jarang disebut dalam buku besar sains: Robert Walker (1779–1852).

Ia bukan ilmuwan flamboyan seperti Faraday atau Newton. Ia adalah seorang pengajar fisika eksperimental yang sederhana di Universitas Oxford, pada masa ketika listrik masih dianggap permainan ajaib yang bisa memunculkan percikan petir di ruang kuliah.

Walker dikenal teliti dan sabar. Ia lebih sering terlihat di bengkel laboratoriumnya, memperbaiki tabung kaca, memotong pelat logam, atau mengajar mahasiswanya membuat alat sederhana untuk membuktikan hukum listrik dan magnet.

Ia tidak mengejar ketenaran ilmiah, hanya ingin memahami bagaimana alam bekerja dalam diam.

Sekitar tahun 1840, Walker merangkai dua baterai kering (dry piles) dengan dua lonceng kecil di bagian bawah dan menggantungkan bola perak mungil di antara keduanya. Ia bermaksud menunjukkan prinsip muatan listrik statis — bagaimana muatan negatif dan positif saling tarik dan tolak.

Tak ada yang istimewa pada hari itu. Namun alat kecil yang ia buat, ternyata menolak berhenti bekerja.

Lonceng yang Tak Mau Diam

Beberapa hari menjadi minggu, beberapa minggu menjadi bulan.

Para mahasiswa Clarendon Laboratory memperhatikan alat itu terus berdentang lembut, bola kecilnya berayun tanpa lelah dari satu lonceng ke lonceng lain.
Ketika Walker meninggal pada tahun 1852, alat itu masih berdentang.

Dan kini, setelah lebih dari 180 tahun, ia tetap melakukannya — tanpa henti, tanpa tenaga tambahan, tanpa pernah diperbaiki.

Misteri yang Tak Terjawab

Selama dua abad, para ilmuwan mencoba menyingkap rahasianya.

Apa yang membuat baterainya tak pernah habis?

Bagaimana mungkin energi listrik statis dapat bertahan lebih dari seratus tujuh puluh tahun?

Namun tak ada yang benar-benar tahu.

Baterai itu — dua silinder besar di atas lonceng — diduga berisi lapisan tipis seng, mangan dioksida, dan sulfur, seperti sel Volta kuno. Namun belum ada yang berani membukanya.

Karena jika dibuka, eksperimen itu akan berakhir selamanya. Dan mungkin, sebagian dari pesonanya akan ikut lenyap bersama dentang terakhirnya.

Para peneliti menyebut alat ini sebagai contoh dari “perangkat eksperimental terlama dalam sejarah sains” — sebuah percobaan yang berjalan terus tanpa intervensi manusia.

Sebagian menyebutnya “mesin abadi”, meski secara ilmiah itu mustahil.

Namun, sebagaimana misteri besar alam, mungkin bukan soal bagaimana ia bekerja, melainkan mengapa ia tetap bekerja.

Sains, Kesabaran, dan Keabadian

Dalam dunia yang serba cepat, Oxford Electric Bell seakan menertawakan ambisi manusia.
Ia bekerja tanpa henti, tanpa pamrih, tanpa ketenaran.

Seperti gurunya, Robert Walker, lonceng itu berfungsi karena kodratnya — bukan karena kehendak untuk dikenal.

Dari alat sederhana ini, kita belajar bahwa sains sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang kesetiaan terhadap proses.

Walker tidak tahu bahwa eksperimennya akan bertahan hampir dua abad. Ia hanya ingin menunjukkan prinsip dasar listrik. Tapi keikhlasan dan ketelitiannya melahirkan karya yang abadi.

Ketika Ilmu Bertemu Filsafat

Lonceng ini sering disebut sebagai “nyanyian waktu”.
Ia mengingatkan bahwa energi tidak pernah benar-benar hilang — hanya berubah bentuk, bertransformasi dalam ritme alam.

Dalam pandangan spiritual, lonceng ini seperti napas semesta, denyut energi kesadaran yang tak berhenti mengalir.

David R. Hawkins mungkin menyebutnya sebagai energi pada level keikhlasan dan kedamaian, energi yang tidak didorong oleh ego, melainkan oleh harmoni alami alam semesta.

Guruji Anand Krishna mungkin akan menyebutnya “tindakan tanpa pamrih” — karma yoga dalam bentuk benda.

Lonceng itu tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh, hanya menjadi.

Ia berdentang sebagaimana air mengalir dan matahari bersinar.

Misteri yang Menjaga Martabat Pengetahuan

Oxford University memilih tidak membongkar baterai misterius itu. Sebuah keputusan yang sarat makna etis: tidak semua misteri harus dipecahkan.
Kadang, membiarkan sesuatu tetap misterius justru memberi kita ruang untuk kagum, untuk rendah hati di hadapan alam.

Keputusan itu membuat lonceng Walker menjadi lebih dari sekadar alat sains — ia adalah monumen kebijaksanaan ilmiah, simbol bahwa pengetahuan sejati tidak selalu datang dari membedah segala sesuatu, tapi dari menghormati keajaiban yang masih belum kita pahami.

Pesan Abadi dari Seorang Guru yang Sunyi

Robert Walker mungkin tidak pernah menulis teori besar, tidak meninggalkan laboratorium megah, tidak memiliki murid terkenal. Namun satu ciptaannya terus bekerja, menentang waktu, dan mengajarkan makna kesabaran, keheningan, dan ketekunan.

Lonceng itu adalah perpanjangan dari jiwanya: tenang, presisi, dan terus bekerja bahkan setelah ia tiada. Mungkin ia tak tahu bahwa lewat alat kecil itu, ia mengajarkan manusia untuk mendengar kembali suara waktu — dentang halus yang kita abaikan di tengah kebisingan modern.

Epilog: Nyanyian Waktu

Kini, siapa pun yang datang ke Clarendon Laboratory bisa berdiri di depan kaca dan melihat dua tabung tua itu.
Tidak ada gerakan mencolok, tidak ada cahaya, hanya bola kecil yang berayun pelan — seperti meditasi yang tak berkesudahan.

Setiap dentangnya berkata pelan:

“Energi tidak mati. Waktu tidak berhenti. Pengetahuan sejati bukanlah rahasia yang dibuka, melainkan misteri yang dihormati.”

Di dalam kotak kaca itu, waktu bersenandung.

Dan Robert Walker, sang guru yang sederhana, terus berbicara kepada dunia — lewat dentang lembut yang tak pernah padam. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Oxford UniversityRobert Walkersains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

Next Post

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co