15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjelajahi Akar Tradisi dari Lukisan Wayang Kaca Bali Utara

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 29, 2025
in Khas
Menjelajahi Akar Tradisi dari Lukisan Wayang Kaca Bali Utara

“Workshop Bertemu Maestro Bali Utara yang Dirangkai dengan Pentas Budaya”

SIANG itu, 25 Oktober 2025, langit di atas Gedung Sasana Budaya, Singaraja, di Kabupaten Buleleng, diselimuti mendung. Seolah alam ikut merayakan kedalaman seni Bali Utara.

Cuaca mendung tak sedikit pun menyurutkan semangat mahasiswa peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari yang hadir untuk mengikuti acara bertajuk “Workshop Bertemu Maestro Bali Utara yang Dirangkai dengan Pentas Budaya”.

Acara ini tak hanya sekadar pertemuan, tapi juga dirangkai dengan pentas budaya yang memukau, menghubungkan masa lalu dengan napas kontemporer. Di antara para peserta, tiga maestro ternama menjadi pusat perhatian, yaitu Putu Satria Kusuma yang telah mendalami dunia teater sejak tahun 1981; I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang lebih akrab disapa Dekgeh, seorang koreografer legendaris yang gerak tarinya selalu sarat makna; serta Bapak I Made Wijana, seorang perupa yang mewarisi tradisi seni rupa Bali Utara.

Mereka ditemani mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali serta Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, menciptakan suasana yang penuh inspirasi dan dialog antargenerasi.

Workshop “Jelajah Seni Rupa Bali Utara melalui Seni Lukis Kaca”

I Made Wijana, lahir di Nagasepaha pada 8 Agustus 1994, tepatnya di Banjar Delod Margi, Desa Nagasepaha, Singaraja, bukanlah nama asing di dunia seni rupa Bali. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat rajin mengikuti berbagai workshop seni rupa, selalu haus akan pengetahuan baru untuk memperkaya karyanya. Ia anak kedua dari almarhum Ketut Santosa yang merupakan seorang seniman pelukis kaca terkemuka. Wijana mewarisi darah seni yang mengalir kuat dari keluarganya.

Pada Sabtu, 25 Oktober itu, ia menjadi narasumber, berbagi tips dan trik tentang bagaimana menghadirkan karya seni rupa di era digital yang serba cepat ini. Pembicaraan dimulai dengan nuansa hangat, mengangkat tradisi yang terinspirasi dari karakteristik unik Bali Utara, sebuah wilayah yang kaya akan cerita rakyat, ritual, dan alam yang memengaruhi karya-karya  Wijana.

Saat sorotan beralih ke bidang seni rupa, pertanyaan mengalir, yaitu bagaimana seniman masa kini memanfaatkan simbol-simbol, tradisi, atau nilai-nilai tradisional sebagai sumber inspirasi untuk karya kontemporer?

Dengan rendah hati, Wijana menceritakan pengalamannya tahun lalu mengikuti program profesi guru di UPMI Bali, di mana ia semakin mendalami perpaduan antara pendidikan dan seni. Ia juga menyebut almarhum Bapak Ketut Santosa, ayahnya sendiri, yang berhubungan dekat dengan Pak Putu Satria.

“Saya merasa sangat bangga bisa duduk bersama Pak Putu Satria dan Pak Dekgeh di Sasana Budaya Kabupaten Buleleng ini,” ujarnya dengan senyum tulus, “untuk berbagi sedikit pengetahuan dengan adik-adik mahasiswa. Ini bukan hanya tentang seni, tapi juga tentang melestarikan jiwa Bali.”

Bagi Bapak Wijana, segalanya bermula dari tradisi. Karya seni yang ia ciptakan berupa lukisan kaca, sebuah bentuk seni yang telah menjadi warisan budaya tak benda sejak tahun 1927. Seni ini pertama kali dipelopori oleh Jero Dalang Diah, seorang maestro pemahat wayang kulit yang menggabungkan teknik lukis pada kaca untuk menciptakan efek transparan dan bercahaya yang unik.

Wijana sendiri adalah generasi keempat yang melanjutkan tradisi ini di Nagasepaha, sebuah desa kecil di Buleleng yang dikenal sebagai pusat seni lukis kaca Bali Utara. Lukisan kaca Nagasepaha bukan sekadar gambar tapi juga ia lahir dari cerita wayang, namun kini berevolusi dengan sentuhan modern, menggabungkan elemen kontemporer seperti isu sosial dan kehidupan sehari-hari. Sejarahnya yang panjang, dimulai pada masa penjajahan Belanda, membuat seni ini semakin berharga sebagai simbol ketahanan budaya Bali.

Tradisi, menurut Wijana, adalah akar yang tak boleh diputus. “Sangat penting untuk kita kolaborasikan menjadi karya seni,” katanya, selaras dengan pandangan Putu Satria yang menekankan betapa kentalnya tradisi di Buleleng mulai dari ritual keagamaan hingga cerita rakyat yang bisa ‘dibaca ulang’ menjadi inspirasi baru.

Beberapa hari sebelum workshop, Wijana sempat berdiskusi panjang dengan seorang dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Dari obrolan itu, ia menegaskan bahwa menciptakan karya seni memerlukan wacana-wacana masa kini yang ditangkap dengan sensitif, tanpa pernah melupakan tradisi. “Kita lahir dari tradisi itu sendiri,” tegasnya, mengingatkan bahwa seni bukanlah vakum, tapi dialog antara masa lalu dan sekarang.

Mengenai pengembangan, Wijana menekankan pentingnya inovasi teknik. “Kita harus membaca wacana masa kini dan mengaitkannya dengan tradisi yang ada,” jelasnya.

Begitulah ia menciptakan karya-karyanya memulai dari sketsa wayang klasik hingga eksplorasi gambar kekinian yang berani menyentuh tema sosial. Putu Satria menambahkan nuansa pribadi, menceritakan kedekatannya dengan ayah Pak Wijana dari Nagasepaha.

“Mahasiswa harus tahu ini untuk memicu diskusi di benak mereka,” katanya.

Lukisan kaca bukan hanya tentang tradisi seperti wayang kulit atau figur Hanoman, namun ia menjadi spirit yang mengalir ke karier teaternya sendiri. Di Nagasepaha, seniman dikenal berani tak hanya berkarya wayang, tapi juga menggambarkan realita seperti orang korupsi atau seseorang yang naik sepeda motor.

“Itulah keberanian yang kita butuhkan, supaya ada gambaran baru,” tambah Putu Satria dengan semangat.

Namun, di balik semangat itu, ada kekhawatiran yang disuarakan Wijana saat ditanya tentang spirit keberanian seniman muda. “Saya khawatir sebagai bagian dari generasi muda,” aku Wijana.

Lukisan kaca ini sangat unik, proses pembuatannya rumit, melibatkan lukis di balik kaca untuk efek cermin yang hidup tapi generasi sekarang masih kurang berani berinovasi. “Karya mereka cenderung monoton, hanya sketsa wayang dasar,” kata Wijana.

Ia berharap generasi muda, khususnya di Nagasepaha dan dari institusi seperti Institut Mpu Kuturan, bisa melestarikan dan mengembangkan seni ini. “Salah satu mahasiswa di sini mungkin bisa turut mengembangkan serta mempertahankannya,” pintanya. Ini krusial untuk memastikan lukisan kaca tetap eksis, mengingat ancaman kepunahan di era globalisasi.

“Setelah diciptakan, seni ini harus dipertahankan dan dikembangkan ke generasi selanjutnya,” tegasnya. Generasi saat ini, menurutnya, masih ragu mengembangkan wacana dari ajaran Hindu atau level tradisi yang lebih dalam, padahal potensinya luar biasa.

Tari Kreasi berjudul “Pratima” oleh Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali

Penampilan Musik Eksperimental “Ancak-Ancak Alis” dari Institut Mpu Kuturan

Makros, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali

Usai sesi diskusi yang menghangatkan hati dan pikiran, acara mengalir mulus ke pentas budaya. Kolaborasi antara mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali dan Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan menyuguhkan tema “Jejak Tradisi, Napas Masa Kini” sebuah perayaan yang sempurna.

Mahasiswa Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) UPMI Bali membuka dengan tari kreasi bertajuk “Pratima”, diikuti penampilan musik eksperimental “Ancak-Ancak Alis” dari Institut Mpu Kuturan. Tak ketinggalan, Makros mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali menyanyikan lagu pop Indonesia yang energetik, sebelum ditutup dengan joged bumbung yang ditarikan langsung oleh mahasiswa Institut Mpu Kuturan.

Pentas ini bukan hanya hiburan, tapi bukti nyata bagaimana tradisi Bali Utara bisa bernafas segar di tangan generasi muda, menggabungkan akar klasik dengan hembusan kontemporer. Workshop ini tak hanya meninggalkan pengetahuan, tapi juga panggilan untuk bertindak: melestarikan seni lukisan kaca Nagasepaha sebagai warisan budaya yang hidup.

Di tengah mendung yang perlahan hilang, harapan baru muncul, bahwa seni Bali Utara akan terus bersinar, mewarnai masa depan dengan warna-warna tradisi yang tak lekang waktu.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: IAHN Mpu KuturanIMK BaliUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Next Post

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co