9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjelajahi Akar Tradisi dari Lukisan Wayang Kaca Bali Utara

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 29, 2025
in Khas
Menjelajahi Akar Tradisi dari Lukisan Wayang Kaca Bali Utara

“Workshop Bertemu Maestro Bali Utara yang Dirangkai dengan Pentas Budaya”

SIANG itu, 25 Oktober 2025, langit di atas Gedung Sasana Budaya, Singaraja, di Kabupaten Buleleng, diselimuti mendung. Seolah alam ikut merayakan kedalaman seni Bali Utara.

Cuaca mendung tak sedikit pun menyurutkan semangat mahasiswa peserta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dari yang hadir untuk mengikuti acara bertajuk “Workshop Bertemu Maestro Bali Utara yang Dirangkai dengan Pentas Budaya”.

Acara ini tak hanya sekadar pertemuan, tapi juga dirangkai dengan pentas budaya yang memukau, menghubungkan masa lalu dengan napas kontemporer. Di antara para peserta, tiga maestro ternama menjadi pusat perhatian, yaitu Putu Satria Kusuma yang telah mendalami dunia teater sejak tahun 1981; I Made Tegeh Okta Maheri, atau yang lebih akrab disapa Dekgeh, seorang koreografer legendaris yang gerak tarinya selalu sarat makna; serta Bapak I Made Wijana, seorang perupa yang mewarisi tradisi seni rupa Bali Utara.

Mereka ditemani mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali serta Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan, menciptakan suasana yang penuh inspirasi dan dialog antargenerasi.

Workshop “Jelajah Seni Rupa Bali Utara melalui Seni Lukis Kaca”

I Made Wijana, lahir di Nagasepaha pada 8 Agustus 1994, tepatnya di Banjar Delod Margi, Desa Nagasepaha, Singaraja, bukanlah nama asing di dunia seni rupa Bali. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat rajin mengikuti berbagai workshop seni rupa, selalu haus akan pengetahuan baru untuk memperkaya karyanya. Ia anak kedua dari almarhum Ketut Santosa yang merupakan seorang seniman pelukis kaca terkemuka. Wijana mewarisi darah seni yang mengalir kuat dari keluarganya.

Pada Sabtu, 25 Oktober itu, ia menjadi narasumber, berbagi tips dan trik tentang bagaimana menghadirkan karya seni rupa di era digital yang serba cepat ini. Pembicaraan dimulai dengan nuansa hangat, mengangkat tradisi yang terinspirasi dari karakteristik unik Bali Utara, sebuah wilayah yang kaya akan cerita rakyat, ritual, dan alam yang memengaruhi karya-karya  Wijana.

Saat sorotan beralih ke bidang seni rupa, pertanyaan mengalir, yaitu bagaimana seniman masa kini memanfaatkan simbol-simbol, tradisi, atau nilai-nilai tradisional sebagai sumber inspirasi untuk karya kontemporer?

Dengan rendah hati, Wijana menceritakan pengalamannya tahun lalu mengikuti program profesi guru di UPMI Bali, di mana ia semakin mendalami perpaduan antara pendidikan dan seni. Ia juga menyebut almarhum Bapak Ketut Santosa, ayahnya sendiri, yang berhubungan dekat dengan Pak Putu Satria.

“Saya merasa sangat bangga bisa duduk bersama Pak Putu Satria dan Pak Dekgeh di Sasana Budaya Kabupaten Buleleng ini,” ujarnya dengan senyum tulus, “untuk berbagi sedikit pengetahuan dengan adik-adik mahasiswa. Ini bukan hanya tentang seni, tapi juga tentang melestarikan jiwa Bali.”

Bagi Bapak Wijana, segalanya bermula dari tradisi. Karya seni yang ia ciptakan berupa lukisan kaca, sebuah bentuk seni yang telah menjadi warisan budaya tak benda sejak tahun 1927. Seni ini pertama kali dipelopori oleh Jero Dalang Diah, seorang maestro pemahat wayang kulit yang menggabungkan teknik lukis pada kaca untuk menciptakan efek transparan dan bercahaya yang unik.

Wijana sendiri adalah generasi keempat yang melanjutkan tradisi ini di Nagasepaha, sebuah desa kecil di Buleleng yang dikenal sebagai pusat seni lukis kaca Bali Utara. Lukisan kaca Nagasepaha bukan sekadar gambar tapi juga ia lahir dari cerita wayang, namun kini berevolusi dengan sentuhan modern, menggabungkan elemen kontemporer seperti isu sosial dan kehidupan sehari-hari. Sejarahnya yang panjang, dimulai pada masa penjajahan Belanda, membuat seni ini semakin berharga sebagai simbol ketahanan budaya Bali.

Tradisi, menurut Wijana, adalah akar yang tak boleh diputus. “Sangat penting untuk kita kolaborasikan menjadi karya seni,” katanya, selaras dengan pandangan Putu Satria yang menekankan betapa kentalnya tradisi di Buleleng mulai dari ritual keagamaan hingga cerita rakyat yang bisa ‘dibaca ulang’ menjadi inspirasi baru.

Beberapa hari sebelum workshop, Wijana sempat berdiskusi panjang dengan seorang dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Dari obrolan itu, ia menegaskan bahwa menciptakan karya seni memerlukan wacana-wacana masa kini yang ditangkap dengan sensitif, tanpa pernah melupakan tradisi. “Kita lahir dari tradisi itu sendiri,” tegasnya, mengingatkan bahwa seni bukanlah vakum, tapi dialog antara masa lalu dan sekarang.

Mengenai pengembangan, Wijana menekankan pentingnya inovasi teknik. “Kita harus membaca wacana masa kini dan mengaitkannya dengan tradisi yang ada,” jelasnya.

Begitulah ia menciptakan karya-karyanya memulai dari sketsa wayang klasik hingga eksplorasi gambar kekinian yang berani menyentuh tema sosial. Putu Satria menambahkan nuansa pribadi, menceritakan kedekatannya dengan ayah Pak Wijana dari Nagasepaha.

“Mahasiswa harus tahu ini untuk memicu diskusi di benak mereka,” katanya.

Lukisan kaca bukan hanya tentang tradisi seperti wayang kulit atau figur Hanoman, namun ia menjadi spirit yang mengalir ke karier teaternya sendiri. Di Nagasepaha, seniman dikenal berani tak hanya berkarya wayang, tapi juga menggambarkan realita seperti orang korupsi atau seseorang yang naik sepeda motor.

“Itulah keberanian yang kita butuhkan, supaya ada gambaran baru,” tambah Putu Satria dengan semangat.

Namun, di balik semangat itu, ada kekhawatiran yang disuarakan Wijana saat ditanya tentang spirit keberanian seniman muda. “Saya khawatir sebagai bagian dari generasi muda,” aku Wijana.

Lukisan kaca ini sangat unik, proses pembuatannya rumit, melibatkan lukis di balik kaca untuk efek cermin yang hidup tapi generasi sekarang masih kurang berani berinovasi. “Karya mereka cenderung monoton, hanya sketsa wayang dasar,” kata Wijana.

Ia berharap generasi muda, khususnya di Nagasepaha dan dari institusi seperti Institut Mpu Kuturan, bisa melestarikan dan mengembangkan seni ini. “Salah satu mahasiswa di sini mungkin bisa turut mengembangkan serta mempertahankannya,” pintanya. Ini krusial untuk memastikan lukisan kaca tetap eksis, mengingat ancaman kepunahan di era globalisasi.

“Setelah diciptakan, seni ini harus dipertahankan dan dikembangkan ke generasi selanjutnya,” tegasnya. Generasi saat ini, menurutnya, masih ragu mengembangkan wacana dari ajaran Hindu atau level tradisi yang lebih dalam, padahal potensinya luar biasa.

Tari Kreasi berjudul “Pratima” oleh Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali

Penampilan Musik Eksperimental “Ancak-Ancak Alis” dari Institut Mpu Kuturan

Makros, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali

Usai sesi diskusi yang menghangatkan hati dan pikiran, acara mengalir mulus ke pentas budaya. Kolaborasi antara mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali dan Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan menyuguhkan tema “Jejak Tradisi, Napas Masa Kini” sebuah perayaan yang sempurna.

Mahasiswa Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) UPMI Bali membuka dengan tari kreasi bertajuk “Pratima”, diikuti penampilan musik eksperimental “Ancak-Ancak Alis” dari Institut Mpu Kuturan. Tak ketinggalan, Makros mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali menyanyikan lagu pop Indonesia yang energetik, sebelum ditutup dengan joged bumbung yang ditarikan langsung oleh mahasiswa Institut Mpu Kuturan.

Pentas ini bukan hanya hiburan, tapi bukti nyata bagaimana tradisi Bali Utara bisa bernafas segar di tangan generasi muda, menggabungkan akar klasik dengan hembusan kontemporer. Workshop ini tak hanya meninggalkan pengetahuan, tapi juga panggilan untuk bertindak: melestarikan seni lukisan kaca Nagasepaha sebagai warisan budaya yang hidup.

Di tengah mendung yang perlahan hilang, harapan baru muncul, bahwa seni Bali Utara akan terus bersinar, mewarnai masa depan dengan warna-warna tradisi yang tak lekang waktu.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: IAHN Mpu KuturanIMK BaliUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jiwa-jiwa Muda dalam Wayang Wong dari Desa Demulih, Bangli

Next Post

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails
Next Post
Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Beda Cara, Satu Tujuan: Cerita Healing Versi Gen Z

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co